Ubab, Katanya

1602 Kata
Pagi harinya, mereka berkumpul kembali di lab bahasa. Arisha memainkan kuku yang mulai memanjang. Dia bingung harus melakukan apa. Kerjaannya untuk mengantarkan surat sudah selesai kemarin siang—saat istirahat kedua. Pemateri semuanya sudah beres dan bisa hadir. Sedangkan untuk PMR, bisa langsung dia kasih ke Adinda, karena kebetulan dia juga anggota PMR. Ralat, ketuanya. Sepertinya, hampir semua panitia mengikuti ekskul lebih dari satu. "Kalau panitia mau makan apa?" Kepalanya mendongak spontan mendengar pertanyaan Rani—Sie. Konsumsi. "Nasi remes enak kayaknya," jawab Ikhwan mangut-mangut. Sedangkan Rani, sebenarnya punya pemikiran lain. Hanya, dia mencoba untuk menanyakan lebih dulu pada yang lain agar terbuka. "Bagus juga, sih, tapi kalau disamain sama peserta aja gimana? Biar pesennya nggak bolak-balik gitu, lho." Ikhwan mendengus mendengarnya. Untuk apa bertanya! Padahal, dia sudah sangat ingin memakan nasi remes. Daripada berharap pada yang gratisan, lebih baik dia beli sendiri kalau seperti ini ceritanya. "Nah, setuju. RFC, kan?" tanya Arisha tersenyum lebar. Kapan lagi, bisa makan RFC dibayar sekolah. "Eh, setuju-setuju apaan?" Dengan tiba-tiba, Hadwan yang baru datang dengan wakilnya—Anida—menyahut dengan sinis. Dia duduk di samping Arisha, agak jauh sedikit. Disusul oleh Anida yang duduk di tengah-tengah keduanya dengan sengaja. Huh, sangat posesif sekali. "Makanan panitia mau disamain sama peserta, biar nggak ribet. Kasihan Rani," katanya menoleh pada Hadwan. Lelaki itu tampak berpikir, sembari menatapnya seperti orang curiga. Padahal, Arisha tidak melakukan kesalahan apa-apa hari ini, mungkin. "Hooh, bener!" Rani pun menyetujui perkataan Arisha barusan. Namun, memang dasarnya Hadwan selalu ingin menang sendiri. Egois dan ingin sekali diceburkan ke got, mempunyai pilihan lain. Ya meskipun alasannya cukup masuk akal. "Jangan, kemahalan. Buat panitia, lebih baik pesen makanan di si Mpok aja. Biar sisanya bisa dimasukin ke uang KAS buat lomba nanti. Anggarannya ubah lagi, sekarang." Selepas mengatakan itu pada Rani, Hadwan tersenyum menjengkelkan sambil menatap Arisha. Gadis itu sontak menatapnya tajam, menaikan kedua alis, bertanya. "Arisan, nanti lo ketik, ubah lagi." Perasaan, dia tidak mengajukan untuk pindah menjadi sekretaris. Lalu, gunanya sekretaris apaan? Cuma bisa bolos doang? "Gue kerja apa?" Nah, kan. Reva sampai planga-plongo. Harusnya Reva yang kerja, bukan dia. "Temenin gue menghadap Kepsek, sama nyusun proposal. Yang ngetik biar ubab gue." Ubab? Haha. Gigi Arisha bergemulutuk kesal. Mentang-mentang ketua. Seenak jidat menyuruh-menyuruh. Dia sangat berharap kalau keduanya tidak akan bertemu lagi di ekskul yang lain. Apalagi harus satu tugas. Semoga tidak! Di bawah meja, tangan Anida mengepal. Dia melirik Arisha sekilas. Biasa saja. Lebih cantik dirinya. Namun, kenapa Hadwan lebih sering dekat dengan anak baru itu? Setelah menuliskan list harga, Rani memberikan buku catatannya pada Arisha. Seiring dengan Hadwan yang duduk di mejanya—terhalang satu meja—sembari menyerahkan laptop. Hadwan kembali tersenyum jahil. "Yang serius, ya Ubab ngerjainnya. Semangat!" Mendengar itu, bola mata Arisha berotasi. Dengan teramat kesal, dia mengganti setiap angka dengan yang ada di buku Rani. "Semangat!" cibir Arisha merasa kesal tak terbendungkan. Lelaki itu hanya tertawa mendengar nada jengkel dari orang di depannya. Anida memalingkan muka, menghela napas. Dia harus mencari cara agar atensi Hadwan kembali padanya. "Wan, perut gue sakit." Hadwan lekas menoleh ke arah Anida yang memegang perutnya sembari meringis. "Ya udah, ke UKS." Sungguh, Arisha ingin tertawa mendengar balasan Hadwan. "Jangan gitu, lo, sama pacar!" tekan Arisha di akhir kalimat. Hadwan kembali mengerling, tersenyum jahil, menundukan kepala, dan memiringkannya. Melihat wajah Arisha yang terkikik dengan tangan masih sibuk. "Cie, cemburu. Biasanya, kalau cewek ngomong gitu tuh, cemburu. Ya, nggak, Bang?" Hadwan melirik Babang yang bicara berdua dengan Intan di depan papan tulis. "Yoi." Dan meskipun tidak tahu ucapan Hadwan sebelumnya apa, Babang tetap mengiyakan. Arisha menghentikan sejenak kegiatannya. Dia ikut menatap Hadwan. "Gue?" Arisha terkekeh, "gue cemburu sama lo? Halusinasi!" Di sisi lain, Anida kembali mengepalkan tangannya. Arisha telah bermain-main dengan Anida. Apa yang dia miliki sebelumnya, harus hilang oleh gadis itu. "Kalau gengsi tuh jangan dipelihara, Arisan. Nggak baiiiik." "Najis banget gue sama lo." Di lab bahasa pagi itu, sepanjang pekerjaan mereka, pasti dikocehkan dengan keributan Arisha dan Hadwan. Kalau mereka dipersatukan, berisik. ••• Sudah pernah Arisha bilang, bukan, kalau dia tidak mau bertemu dengan Hadwan lagi di ekskul yang lain!? Namun, Allah berkehendak lain. Saat istirahat pertama, anggota KIR dikumpulkan di lab kimia. Katanya, ada pengumuman penting mengenai baju ekskul. Dia baru tahu kalau Hadwan ikutan KIR juga. Sedangkan biasanya, Karya Ilmiah Remaja, didominasi oleh anak IPA. Dia melirik Hadwan yang pura-pura membaca buku. Ingin sekali bilang kalau Hadwan bodoh untuk cari perhatian. Bukunya kebalik! Kelihatan sekali hanya cari sensasi. "Eh?" Arian yang semula ingin masuk lab langsung kaget. Arisha ikut menoleh mendengar suara tersebut. Di sana ada Arian yang berdiri di ambang pintu, lelaki itu kelihatan bingung. "Salah ruangan lagi, pasti. Kasihan. Ganteng-ganteng pikun." Itu bisikan dari Intan. "Hus!" Tentu Arisha memperingatkannya. Takut kalau Arian mendengar ucapan Intan tadi. "Nggak akan didenger atuh, ih!" Intan merengut masam. Dia hanya menyayangkan sikap Arian. Dia tuh cool, ganteng, pintar—meskipun pergaulannya bad boy semua—tapi sayang, pelupa. Yang Arisha tangkap, Arian ini orang yang ceroboh. "Nggak papa kali, Tan. Orang ganteng, kan, bebas." Novi yang duduk di belakang Intan ikutan membicarakan pria itu. "Sorry-sorry!" Setelah menyadari kalau salah ruangan, Arian beranjak tanpa ekspresi. Huh, sangat dingin. "Mirip banget sama tempat nyimpan es krim di mini market. Dingin, tapi sebenarnya hangat." Mendengar gumaman Intan, Arisha menoleh. Dia jadi penasaran sebenarnya. Dingin, tetapi sebenarnya hangat? Kenapa Intan bisa tahu? Hm, kehiupan Arian sepertinya penuh misteri. "Arian terkenal banget tahu di sekolah. Cuma orang no life doang yang nggak tahu dia. Lo misalnya," kata Novi melihat Arisha yang berbalik menatapnya. Padahal, dia lebih tahu Arian lebih dulu, sebelum dia mengenal yang lain. Em, bertemu maksudnya. "Lah, gimana, sih? Arisha kan yang deket sama Arian. Buset, ya kali nggak kenal." Arisha melotot pada Intan yang bicara tidak benar. Dia dekat dengan Arian? Itu adalah contoh fitnah terbesar dari mulut Intan. Novi langsung menatapnya curiga, menyelidik. "Ah, serius?" Arisha mengangkat bahu. Dia lebih memilih melihat ketua ekskul yang sudah berdiri di depan, di balik meja pajang—di atas tempat yang lebih tinggi. Hadwan menoleh, saat bersamaan dengan itu, Arisha pun melakukan hal serupa. "Apa?" tanya Hadwan melotot tanpa suara. Dih, padahal dia hanya tidak sengaja melihat Hadwan. Salahkan saja matanya yang melihat ke arah kiri. Memutar bola mata malas, Arisha kembali menoleh ke depan. Memperhatikan ketua yang bicara panjang lebar. Ngantuk sebenarnya, tetapi masa dia tidur di sini. Hingga di penutup, kepala Arisha beberapa kali hari terjatuh ke meja. Dia kuat, kok. Yuk, bisa, yuk. "Jadi, untuk pembayaran baju, bisa dicicil ke Wanda. Kelasnya ada di sebelas IPS satu. Bisa juga kontan, terserah kalian. Batasnya hanya sampai bulan Desember. Kurang lebih ... tiga bulanan kurang dikit lah." Kenapa harus kelas Hadwan lagi!? Dia bisa depresi kalau habis dari kelas itu. "Cuma ini aja yang mau gue omongin. Makasih atas waktunya, kalian bisa sambung istirahat." Bertepatan dengan itu, kepala Arisha akan terjatuh ke meja, tetapi Hadwan yang duduk di seberangnya melangkah cepat dan menahan dagu Arisha agar tidak terpentok. Harusnya Arisha berterima kasih pada Hadwan, kan? Intan menggaruk kepala. Kenapa jadi dia yang kaku, ya? Bagaimana kalau Arisha tahu, jika Hadwan menyentuh kulitnya? Sepertinya akan ada perang lagi. Dan dia akan kena imbas, yakni mendengar kegalauan Arisha terus. Bersentuhan tak sengaja dengan Babang waktu itu saja, gadis ini langsung ketar-ketir. Bahkan, minta maaf pada Babang. Padahal, keduanya pun memang tidak sengaja. Intan menunduk, tangannya menjadi tumpuan, dia menyentuh kening hingga sebagian wajahnya terhalang. Di lab ini, hanya menyisakan mereka bertiga. Novi sudah ngacir duluan ke kantin. Hadwan melepaskan tangannya pelan-pelan saat pipi Arisha telah menempel ke meja. Berdeham sejenak, dia menarik napas. "Gue duluan, Tan." Hadwan mulai beranjak. Intan hanya mampu mengangguk. Beberapa kali dia menekan pinggang Arisha dengan telunjuknya, agar gadis itu terbangun. Menit selanjutnya, mata Arisha terbuka perlahan. "Mereka ke mana?" tanyanya linglung saat tak melihat satupun orang di dalam. Arisha mengucek mata sampai kesadarannya kembali penuh. "Istirahat. Ngantin, yuuuk. Laper tahu." Mendengar rengekan Intan, Arisha mengangguk. Keduanya mulai berjalan berdampingan ke arah kantin, dengan tangan Intan yang tidak bisa diam untuk mengayunkan lengannya. "Abaaaah," sapa Intan pada penjual minuman yang terlihat sudah tua. Kadang, Arisha berpikir. Kenapa sudah se tua ini masih kerja? Ke mana anaknya, memang? Dan jawabannya: Abah bosan kalau diam di rumah. Dia lebih senang berbaur dengan anak-anak. "Eh, Berliaaaan. Mau Abah bikinin apa?" Dan Abah selalu menyambut Intan dengan sangat baik. Pria itu telah menganggap Intan sebagai cucunya sendiri. Terkadang—ralat, setiap hari—Intan selalu diberi minuman gratis. "Pengen s**u cokelat dingin, supaya makin pinter. Terus, Lian bisa banggain Abah." Sangat mirip dengan cucu dan kakek sungguhan. "Aku nyeduh sendiri, ya, Bah?" "Iya, sok-sok!" balasnya sambil menggunting s**u sasetan yang Intan inginkan. Sedangkan Arisha menggunting minuman bersoda berwarna biru. Setelah menyeduhnya dan diwadahi cup, sedikit lagi kena bibir, ada orang yang mengambilnya. Siapa lagi ini!? Dengan lelah, Arisha menoleh. Sangat menyebalkan. Hadwan lagi, Hadwan lagi. Maunya apa, sih? "Ini pesenan gue. Ya, kan, Bah? Tadi saya pesen duluan, lho." Hadwan mengeluarkan alasannya. Karena memang benar, dia pun memesan minuman yang sama dengan yang Arisha pegang. "Abah lupa." "Gue beneran pesan ini dan sekarang, minuman ini punya gue." Hadwan memajukan kepalanya sedikit. "Berhubung lo ORANG BAIK, bikin lagi aja sendiri. Hitung-hitung sedekah tenaga sama Abah." Hadwan tersenyum miring. Lelaki itu sudah tahu sekarang, kalau username orang baik, adalah Arisha. Tatapan lamatnya membuat Hadwan ingin tertawa sangat keras. Duh, dia jadi malu. Kenapa kepikiran itu coba username saat menge-chat cowok sengklek satu ini!? "Dan berhubung lo orang nggak baik, gue ngalah." Arisha mengangkat kedua tangan, seakan ingin ditangkap polisi. Kemudian, menyeduh minumannya kembali. "Minuman soda permen karet itu kesukaan gue." Arisha menoleh sejak. "Maaf, nggak nanya." "Si Alan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN