BAB 4 - Ice cream dari si perusak suasana

1513 Kata
Setelah sempat terpesona dengan senyuman di wajah bobby, dee mengalihkan pandangannya ke arah luar. Dia sadar bahwa seharusnya hal ini tidak terjadi kepadanya. Bagaimana bisa secara tiba - tiba dia tertarik pada bobby hanya karena pria itu menolongnya saat di pernikahan bastian dan juga kiriman bunga serta es krim hari ini ? Semudah itu kah mengalihkan pikiran atau bahkan melupakan bastian ? Sepertinya beberapa bulan yang lalu dee adalah seorang gadis yang terlihat kesulitan melupakan pria itu. Terbukti dengan berbagai macam omelan yang keluar dari mulut olivia setiap hari hanya untuk menyadarkannya. "Kau sudah makan malam ?" Pertanyaan bobby memecahkan lamunan dee. "Haa ?" "Kau sudah makan malam belum ?" Bobby mengulang pertanyannya. “Eh, itu… hmm… belum.” jawab dee dengan terbata, dengan detak jantung yang memompa terlampau cepat dari biasanya. Secara refleks dee menyentuh dadanya, rasanya sedikit sesak karena kinerja jantungnya yang cepat. ‘Ada apa ini ? Padahal biasanya bobby memang melakukan hal yang sama sejak dulu.’ “Baiklah, kebetulan aku juga belum makan. Kita makan dulu ya.” sebuah keputusan yang tak sempat dee bantah keluar dari mulut bobby begitu saja. Rasanya malam ini dia ingin segera pulang saja. Tapi suaranya terlalu sulit keluar untuk menolak. Lagipula sebenarnya pun perut dee memang lapar. Sepanjang perjalanan menuju sebuah restoran makanan italia membungkam mulut dee. Dia yang biasanya bisa sangat bawel karena kelaparan, malam ini berubah menjadi gadis yang pendiam. Di dalam hatinya sedang terjadi perubahan emosi yang dia sendiri tidak pahami. Seakan di satu sisi ingin menolak, tapi disisi lain ingin sekali meraih bobby. Ini juga bukan pertama kalinya untuk mereka makan malam bersama. Kegiatan makan bersama mereka sudah terlalu sering terjadi, alasan pertama karena mereka memang bekerja bersama. Selain itu, kali ini dee juga merupakan partner bisnis bobby. Jadi tidak ada alasan untuk membuat mereka tidak menghabiskan waktu bersama. Terlalu banyak alasan malah untuk membuat mereka selalu berdua kemana saja. Tapi hal itu dan pemikiran itu hanya dee yang merasakannya, dia tidak tau apakah bobby juga merasakan hal yang sama. Dee kembali menggeleng - gelengkan kepalanya. ‘Nggak, nggak, nggak bolek mikir begini!!’ Tanpa disadari hal itu tak luput dari mata bobby. “Kenapa ?” tanya bobby. “Haa ? Nggak papa.” jawab dee cepat. “Mau pindah tempat makan ?” dee kembali menggeleng. “Nggak…. Nggak usah, bang.” setelah itu tak terduga bobby mengulurkan tangannya mengusap puncak kepala dee. Dalam sekejap tubuh dee diam membeku, detak jantungnya kembali melakukan yang membuat dadanya merasakan nyeri. ‘Kenapa dia begini sih ?’ ** Sesampainya di tempat yang mereka tuju, bobby dan dee memilih meja yang berada di pojok dekat tempat gelato berada. Mata dee terlihat berbinar melihatnya, karena makanan manis dan dingin itu adalah salah satu dalam list wajibnya. Dan tentu saja hal ini tidak luput dari perhatian bobby, sambil tersenyum pria itu berjalan menuju meja. Sambil membolak - baliknya buku menu, bobby terlihat mendapatkan sebuah panggilan. Hingga akhirnya dia memberikan kode pada dee dengan mengarahkan layar ponselnya. Setelah dee menganggukan kepalanya, bobby segera pergi menjauh. Dee terlihat serius memilih, karena jujur saja rasa lapar yang sedang memberontak itu membuatnya menjadi lapar mata. Semua pilihan menu makanan yang tertulis terlihat sangat menggoda. Hingga akhirnya dee memutuskan untuk memesan sebuah steak dan juga salad. Bobby kembali lalu langsung membuka buku menu, dee sengaja langsung menyodorkan karena dia sudah selesai memesan untuk dirinya. Selesai memesan makanan, dee dan bobby mengobrol sembari menunggu pesanan mereka datang. Tidak ada yang aneh, semua berjalan seperti biasanya. Seperti obrolan mereka kali ini yang sebenarnya tidak jauh - jauh dari urusan pekerjaan. Hanya di waktu tertentu saja bobby dan dee bisa saling bercerita lebih mendalam tentang diri mereka. Satu per satu pesanan mereka datang. Awalnya hanya minuman yang mereka pesan saja yang datang, tapi tiba - tiba seorang pelayang datang sambil membawa satu gelas lagi minuman jus buah dan sayuran. Saat gelas itu di letakkan di meja, raut wajah dee terlihat sangat bingung. “Ada apa ?” tanya bobby yang menyadari perubahan wajah wanita yang duduk di depannya. Dee menggeleng sambil berbisik, “aku nggak pesen minuman ini, lagian minuman yang kita pesan sudah keluar.” “Maaf, apa pesanan ini milik meja lain ?” tanya bobby sopan pada pelayan. Pelayan itu pun terlihat kebingungan, saat meneliti struk itu lagi nomor meja memang terlihat berbeda. Tapi, dia mendapatkan pesan untuk mengirimkan ke meja ini. “Oh, maaf. Saya akan periksa lagi.” kata pelayan itu dengan wajah yang terlihat salah tingkah, lalu mengambil kembali gelas tadi. Setelah agak lama berselang, makanan yang dee dan bobby pesan sudah sampai di meja mereka. Dengan wajah antusias seperti biasanya dee mulai mengambil peralatan makan untuknya dan untuk bobby. “Bang.” kata dee sambil menyodorkan sendok dan garpu yang masih terbungkus tisu ke arah bobby. Dengan senyuman yang mempesona bobby menerimanya dan hal itu juga sukses membuat dee kembali gugup. Dia berdehem sebentar untuk mengembalikan suasananya hatinya. Dalam kondisi tenang, mereka berdua mulai makan. Beberapa kali bobby menyendok salad milik dee ke dalam mulutnya. Hal ini pun sangat wajar bagi dee, biasanya mereka memang sering berbagi karena menghindari jika salah satu dari mereka kekenyangan. Ya… meskipun hal itu sangat jarang terjadi sih. Kebanyakan makanan mereka selalu habis tak bersisa. Bobby sedikit memberikan komentar tentang salad yang disajikan di restoran itu, dia berulang kali membandingkan dengan salad buatan dee yang nanti akan menjadi menu utama dan konsep usaha mereka. Tentu saja hal itu membuat hati dee berbunga - bunga. Biasanya pujian itu hanya datang dari mulut olivia saja. Tapi bobby sekarang menjadi salah satu komentator terbaik menurut dee. Walaupun bobby memang bukanlah pria pertama yang mencoba makanan itu. Lalu siapa pria yang pertama mencobanya ? Pasti kalian tau jawabannya. Bastian, siapa lagi. Tiba - tiba pelayan yang tadi salah mengantarkan minuman datang ke meja dee dan bobby. Kali ini dia tidak membawa segelas minuman. Melainkan sebuah tulisan di catatan kecil. “Permisi, ini ada pesan untuk anda.” kata pelayan itu sopan. Wajah dee terlihat ragu - ragu, membuat acara makan bobby berhenti sejenak sambil mengamati. “Apa itu ?” tanya bobby, dee hanya mengangkat bahunya tanda tidak tau. Setelah di buka dan di baca, seketika membuat mata dee melotot. Lalu dia mencari dalang dari pengirim catatan itu kepadanya. Dan tak jauh disana, ada seorang pria yang sedang tersenyum kepadanya sambil mengangkat gelas wine miliknya. Seakan ingin mengajak dee bersulang dari jauh. Bobby yang melihat hal itu langsung mengambil kertas berwarna pink itu dari tangan dee. Dia membaca setiap kata baik - baik, tapi berusaha tidak menoleh kan kepalanya. Cukup dengan ekspresi wajah dee saja, bobby tau apa yang sedang terjadi. “Habiskan makananmu.” kata bobby datar. Dee kembali menghadap ke arah pria yang berada di hadapannya sambil mengangguk, lalu memotong daging steak miliknya dengan sedikit kasar. “Kepikiran ? Bahkan kau seharusnya merasa beruntung mengetahui bahwa dia tidak sebaik itu.” kata bobby lagi - lagi dengan nada datar dan tetap fokus ke makanannya. “Apa ?” “Kau pasti bisa menilainya, bahwa di hadapan istrinya saja dia berani mengirimkan surat itu padamu. Padahal kau tau siapa yang meninggalkan siapa ?” dee terdiam. Dia mencerna semua perkataan bobby yang sial memang benar adanya. “Aku nggak pernah menyangka bahwa bastian akan seberani itu ?” “Memangnya sejauh apa hubungan kalian ?” “Biasa saja.” kata dee malas. “Yakin ? Menurut penilaianku, hubungan kalian pasti sangat dekat.” “Begitukah menurutmu ?” “Hanya saja kau kalah di garis finish.” lanjut bobby. “Sudahlah, bang. Aku nggak pengen bahas dia, membuat selera makanku hilang.” rajuk dee. Bobby hanya tersenyum menyetujuinya sambil kembali mengusap kepala dee. Lagi…. Dan lagi…. Dalam satu hari ini bobby berhasil membuat dee panas dingin. Setelah menyelesaikan makannya, bobby pamit ke kamar mandi. Dan tinggallah dee duduk sendiri dengan pemandangan tak jauh disana membuatnya ingin menjadi pembunuh dalam sekejap. Dia merasa tidak suka saat melihat bastian menggenggam tangan istrinya, apalagi sepertinya pria itu terlihat dengan sengaja melakukannya. Tiba - tiba pandangan bastian dan dee kembali bertemu, pria masa lalu dee itu kembali menyunggingkan senyuman ke arahnya. Tapi dee tidak membalas senyuman itu. Untung saja saat itu bertepatan dengan bobby yang kembali duduk di hadapannya, dengan begini dia bisa bersembunyi dari pria itu. “Makanlah.” kata bobby sambil meletakkan semangkuk kecil berisikan gelato dengan rasa buah kesukaan dee. “Kapan kau memesannya, bang ?” “Tadi, saat kembali dari kamar mandi.” “Makasih.” senyuman akhirnya menghiasi wajah dee. Bobby membawa penghibur lara dee karena orang di masa lalunya itu tepat waktu. “Ayo, makan juga. Ini kan ada banyak.” ajak dee sambil menyodorkan sendok kecil lain yang ada di meja ke arah bobby. Tentu tanpa penolakan bobby akan dengan senang hati melakukannya. Lalu, ditengah - tengah obrolan santai mereka berdua yang sedang menikmati dessert datang lagi semangkuk kecil gelato dengan rasa belgium coklat. Dee dan bobby saling memandang. Tanpa berlama - lama dee melihat meja milik bastian dan istrinya sudah kosong, lalu siapa yang memberikan gelato ini ? Saat dee mencari, pria itu tersenyum sambil menggandeng tangan istrinya ke arah dee. Mereka terlihat akan segera meninggalkan restoran. Tapi sebelum melewati pintu keluar, bastian mengedipkan sebelah matanya pada dee. “b******k!!” gerutu dee pelan. Lalu dia melanjutkan acara makan gelatonya yang sudah bobby pesankan tadi. “Kau tau dia b******k, lalu kenapa marah ?” “Ini bukan rasa yang aku suka, ini adalah rasa yang dia suka bang!! Mangkanya tadi aku langsung paham siapa pengirimnya.” bobby terdiam. Suasana menjadi kaku dan canggung antara dee dan bobby. Entah kenapa rasanya bastian memang dengan sengaja melakukan hal ini. Terlebih dia tau bahwa dee disana bersama dengan bobby. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN