"Masih kepikiran ?" Tanya bobby di sela - sela kegiatan menyetirnya. Sejak masuk ke dalam mobil tadi, dee memang memilih menutup mulutnya rapat - rapat. Rasa dongkol di hatinya karena perbuatan bastian membuatnya kesal setengah mati.
Sejak awal bukan dia yang memulai kisah bersama bastian, semua berjalan begitu saja seperti air. Dan bukan dee juga yang memutuskan untuk mundur dan pergi dari kisah itu. Justru dialah yang menjadi korban dari kisah itu. Memang seharusnya dee sadar, bahwa sejak awal bastian tidak akan memilihnya.
Perasaan yang entah apa itu namanya membutakannya.
Dee menggelengkan kepalanya.
"Lalu, kenapa hanya diam ?" Tanya bobby lagi.
"Cuma sebel aja." Jawab dee dengan memonyongkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya di d**a.
Setelah itu terdengar suara renyah keluar dari mulut bobby. Pria itu tertawa melihat sikap dee yang biasanya galak dan bawel tiba - tiba menunjukkan sikap kekanakan seperti ini. Sangat menggemaskan.
"Lain kali kita balas perbuatannya, saat dia sedang bersama istrinya." Kata bobby tiba - tiba. Seketika setelah mendengar hal itu dee menolehkan kepalanya.
"Lain kali ???? Enggak…enggak…. Nggak ada lain kali, bang. Baru begini aja udah kesel banget, gimana lain kali. Aku nggak janji sih kalo tiba - tiba tangan aku narik rambut istrinya." jawab dee dengan tegas sambil kembali mengarahkan pandangannya ke depan sambil terus menggelengkan kepala.
"Kau masih menyimpan perasaan padanya, ya ?" Pertanyaan bobby lagi - lagi membuat dee menolehkan kepalanya sambil sedikit melotot tanda tidak setujunya.
"ENGGAK!!! SIAPA YANG BILANG!!!" Dengan sedikit berteriak dee menjawab pertanyaan bobby itu. Sampai - sampai bobby menutup kedua telinganya yang baru saja mendapatkan serangan suara melengking dee.
"Kalo enggak sih harusnya kamu nggak marah." Kata bobby lagi dengan sikap tenangnya sepertia biasa.
"Tapi….aku… Aku beneran udah nggak ada perasaan sama dia." Dengan suara yang lebih tenang dee menjawab pernyataan bobby tadi.
"Tanpa harus kamu jelaskan panjang lebar seharusnya semua itu sudah terlihat dari sikap kamu. Tapi nggak masalah, semua butuh proses. Dan setiap orang punya proses menyembuhkan lukanya masing - masing." Kalimat menyejukkan nan terdengar penuh pengertian itu kembali menyadarkan dee, bahwa ada orang yang jauh lebih baik daripada bastian.
Tiba - tiba tubuh dee terasa hangat dan sangat nyaman. Dia seperti terhipnotis dengan sikap tak terduga bobby. Seperti sikapnya yang barusan ini menarik dee dengan lembut ke dalam pelukannya. Tidak berhenti disitu, bahkan rambut dee merasakan belaian penuh kasih sayang.
"Kau akan baik - baik aja, walaupun butuh waktu yang panjang untuk sembuh dari sebuah luka. Tapi, kau harus ingat bahwa kau tidak sendirian." Kata bobby lirih tepat di sebelah telinga dee.
Rasanya tubuh dee melayang dengan kenyamanan ini. Dan seakan tak ingin melepaskannya lagi. Hingga tanpa sadar dia mengangguk sambil membalas pelukan bobby.
**
Sambil menyandarkan dirinya di balik pintu kamarnya, dee memegangi dadanya yang berdegup dengan kencangnya. Ditambah nafasnya yang terengah - engah efek dari sikap diluar kendalinya yang tiba - tiba saja berlari setelah masuk di pintu utama rumahnya. Padahal setelah turun dari mobil bobby, dee mengatur sikapnya sedemikian rupa agar tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan perlakuan bobby tadi.
Tapi kenyataannya, hati dee mulai berkhianat.
'Sial!!! Kenapa jadi gini sih!!' Maki dee dalam hati.
Lama kelamaan kaki dee melemas, hingga tubuhnya merosot ke lantai.
Drrt… drrt…
Getaran dari ponselnya menyadarkan dee dari lamunannya. Setelah melihat siapa orang yang mengirimkan pesan membuatnya menarik ujung bibirnya, lalu detik kemudian dia merasakan merinding.
Sebuah pesan yang berisikan 'beristirahatlah dengan nyaman, lupakan kejadian tadi. Selamat malam, dee.' yang ternyata dikirimkan bobby berhasil menggetarkan hati dee.
"Double sial!!!" Maki dee lagi sambil membuang asal tas dan ponselnya ke ranjang empuknya. Lalu dia pergi ke kamar mandi di dalam kamarnya.
30 menit kemudian, dee keluar dari kamar mandinya dengan tubuh yang lebih segar. Rambut basahnya digulung menggunakan handuk dan masih mengenakan kimono mandinya dee kembali membaca pesan bobby tadi.
"Dasar gila !!!"
"Enggak…. Enggak…. Gue yang gila !!!" dee mulai berbicara dan memaki dirinya sendiri, sambil sesekali menggelengkan kepalanya.
"Dia pasti pernah ngirim pesan kayak gini juga ke olivia, gua nggak boleh baper. Enggak…. Enggak…. Dia punya gadis lain yang dia puja - puja."
"Lagian siapa gua, cuma partner kerja aja. Cuma temen, T-E-M-E-N." Dee kembali menyakinkan dirinya sambil terus menekankan kata "Teman" di dalam otaknya.
Padahal di seberang sana ada seseorang yang menunggu balasan pesan yang dikirimnya tadi, karena sebenarnya dia sangat khawatir.
Dua kubu yang berbeda, bukan ?
Perasaan yang membingungkan.
**
Bobby memainkan ponselnya dengan memutar - mutarnya sambil duduk di sofa basecamp tempat favoritnya. Dia sedang menunggu kedatangan yoyo. Dulu biasanya masih ada juna yang biasa memainkan gitarnya sambil menyanyikan lagu dengan suara keras dan menurut bobby hal itu sedikit mengganggunya.
Tapi sekarang dia justru merindukan juna yang sudah jarang datang ke basecamp setelah menikah. Mungkin suara petikan gitar dan nyanyian juna bisa menghiburnya dari perasaannya yang aneh ini.
"Ada apa ?" Tiba - tiba yoyo sudah berdiri di depannya sambil membenarkan rambutnya yang sudah rapi.
Bobby hanya mendongakkan kepalanya dengan wajah bingung.
Yoyo yang melihat hal itu hanya merasa heran, sahabatnya itu memang melihat ke arahnya. Tapi tatapannya itu kosong, seakan otak dan tubuhnya sedang berada ditempat yang berbeda.
"Woy, bang!!!" Tegur yoyo sambil melambai - lambaikan tangannya di depan bobby.
"Hah ? Ada apa ?" Kata bobby dengan sikap seperti orang linglung.
"Lu telepon gua kan ? Kenapa ? Ada apa ?" Tanya yoyo yang mulai tidak sabaran.
"...." bobby seperti berfikir, membuat yoyo ingin meninggalkan bobby yang mulai aneh ini.
Menyadari hal itu, bobby langsung tersadar. "Yo!!! Gua laper!!" Katanya. Padahal baru satu jam yang lalu dia makan malam bersama dee.
Yoyo yang mendengar hal itu langsung memutar matanya kesal. Jauh - jauh dia datang padahal yoyo sendiri sedang menjalankan misinya, tapi karena mendapatkan panggilan.dari bobby yang mengatakan ada hal penting membuatnya meninggalkan misinya sejenak.
"Bang, lu kan kaya raya tuh. Nggak bisa apa lu beli makanan ?"
"Tapi… gua kangen masakan lu, yo." hanya itu alasan yang terlintas di otak bobby.
"Apa nanti kalo lu nikah, gua juga bakalan lu telfon buat masakin lu sama istri lu ?" Gerutu yoyo yang sangat kesal tapi tetap berjalan menuju dapur untuk membuatkan bobby makanan.
Sahabat yang baik, bukan ?
"Hahaha…. Masakan istri gua pasti lebih enak."
"Cih!!! Kita liat aja nanti." Akhirnya ruangan luas yang berisikan dua orang pria itu terdengar suara tawa renyah dan ejekan khas mereka.
Malam pun ditutup dengan obrolan dan kegiatan mengunyah diantara yoyo dan bobby.
Sedangkan jauh disana, ada seorang gadis yang tertidur sambil tersenyum dan memeluk ponselnya.
**
Pagi ini terasa indah bagi dee. Dia bangun lebih pagi dari biasanya, dengan mood yang sangat… sangat… baik. Bahkan senyuman selalu tercetak di wajahnya.
Dee menyapa semua orang yang berpapasan dengannya dengan senyuman terbaiknya. Sampai - sampai hal itu membuat mama dan papanya heran. Apalagi adik laki - laki yang biasanya menjadi teman adu mulutnya setiap hari, dia bukan heran lagi bahkan sepertinya sangat shock melihat sikap ajaib kakaknya.
Pagi ini dee sangat siap memulai harinya. Pekerjaan apapun rasanya sanggup dia kerjakan. Hingga dia tidak menyadari bahwa sejak tadi meja kerja miliknya sudah dihiasi buket mawar putih.
"Aroma ruangan ini entah kenapa sangat menenangkan." Kata dee sambil membolak - balik laporan di mejanya.
Drrt…. Drrt…
'Jangan lupa, kita ada final meeting nanti siang.' Sebuah pesan yang membuat jantung dee kembali berdetak tak karuan.
Kalian pasti tau siapa pengirim pesan itu.
Rasanya dee tidak sabar menunggu waktu makan siang nanti. Tapi hal itu seketika berganti dengan wajah mengerasnya saat matanya tidak sengaja melihat sebuah buket mawar dengan sebuah pesan 'Semoga harimu menyenangkan' dari pengirim yang sama dengan ice cream kemarin.
"Apa sih maunya dia ?!!" Dengan kesal dee langsung bangkit dari duduknya dan mengangkat buket bunga itu menuju keluar ruangannya.
Paginya yang sangat indah itu tiba - tiba mengubah suasana hati dee menjadi kekesalan.
Dalam waktu berdekatan dia menerima 2 pesan dari orang yang berbeda dan hal itu sukses membuat dee terlihat seperti orang yang memiliki kelainan psikologi. Sebentar terlihat bahagia beberapa menit kemudian terlihat seperti ingin menelan orang hidup - hidup.
Semua itu terjadi karena dua pria. Bobby dan bastian.
Mungkin hal ini akan sering terjadi sampai dee siap menyelesaikan masa lalunya.
**