Masa lalu memang sudah berlalu dalam hidup seseorang. Masa lalu juga bisa memberikan banyak hal, entah itu sebuah hikmah ataupun sebuah trauma. Semua itu tergantung bagaimana sikap seseorang saat menghadapinya dulu.
Banyak orang yang bisa berdamai dengan masa lalunya, tapi banyak juga yang memilih pergi tanpa sempat menyelesaikannya. Dan pilihan terakhir itu adalah pilihan yang dee pilih. Dia lebih memilih pergi dari masa lalunya bersama bastian tanpa menyelesaikannya.
Itu juga bukan sepenuhnya kesalahan dee. Wanita itu sudah berusaha keras untuk menyelesaikan permasalahannya bersama bastian. Tapi pria itu justru memilih untuk menghindar tanpa alasan yang pasti. Padahal dee sudah mengusahakan segala cara untuk bisa bertemu ataupun berbicara secara pribadi dengan bastian.
Hasilnya ?
Tentu saja nihil.
Jika dee berhasil mungkin pagi indahnya tidak akan menjadi mendung gelap seperti sekarang. Semua angan - angan bahwa hari ini akan sangat menyenangkan karena dia akan memiliki banyak waktu bersama bobby menjadi lenyap begitu saja. Seakan tertelan kembali dibalik gelapnya masa lalu dee.
Bohong jika bastian tidak lagi mempengaruhi dee. Kenyataan membuktikannya sendiri.
Andai saja bastian mengirimkan bunga itu dulu…
Mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
Bagaimana bisa dia yang sudah berstatus sebagai suami bisa melakukan hal seperti ini ?
Orang luar yang tidak tau tentang apapun pasti mengira dee adalah benih - benih perebut suami orang, atau lebih parahnya mungkin dia akan dianggap sebagai simpanan bastian.
Padahal itu tidak akan mungkin terjadi. Dee sudah menutup rapat - rapat hatinya, bahkan untuk bastian.
Walaupun bobby sempat berhasil mengetuk hati dee dan mengatakan ‘permisi’ tapi itu juga tidak berarti banyak.
Semua pikiran dan aura negatif sedang berada di sekeliling dee. Wanita itu sedang memainkan pulpennya dengan kedua tangan yang menopang dagunya. Dan lebih mengerikannya lagi adalah tatapan kosong dan tak bersahabat yang dee tunjukan.
Tok…. tok…
Dee masih tidak bergeming sama sekali.
Sampai akhirnya si tamu yang mengetuk pintu kantor dee tadi menyandarkan tubuhnya di daun pintu sambil melipat kedua tangannya didada.
“Beginikan yang kau kerjakan selama ini ?”
“....” dee masih tidak bergeming. Bahkan dia memainkan pulpennya dengan kasarnya untuk menyalurkan kekesalannya.
“Dia nggak bersalah, kenapa harus kena hukuman juga ?”
“Kata siapa, justru dia itu ujung permasalahannya.” jawab dee lirih atau nyaris seperti sumpah serapah karena terlalu pelannya.
Tok…. tok…
“Baiklah kita hukum dia kalau begitu.” katanya setelah mengetuk meja dee. Akhirnya dee sadar bahwa di depannya sekarang sudah berdiri seorang pria dengan cengiran khasnya yang semalam berhasil membuat dee akhirnya merasakan getaran ‘itu’ lagi.
“E… eh… bang… kapan datengnya ?” tanya dee sambil tergagap.
Bobby langsung menarik pergelangan tangan kirinya untuk melihat kira - kira sudah berapa lama dia melihat dee seperti orang kerasukan.
“Mungkin setengah jam.” jawab bobby tanpa rasa bersalah. Sedangkan dee hanya melongo saja. Tidak mungkin dia menghabiskan setengah jamnya yang berharga hanya untuk memikirkan bastian dan bunga mawar sialannya itu.
“Kau pasti bercanda kan ?”
“Cek aja di cctv kira - kira jam berapa aku datang, atau tanyakan pada semua orang di tempat ini.” lidah dee kelu mendengar ini semua.
‘Sialan!!! Ini benar - benar memalukan.’ dee merutuki dirinya sendiri sambil memejamkan matanya.
“Apa ponselmu sudah nggak berguna ?” tanya bobby dengan wajah santainya. Tapi mendengar hal itu dee seketika mencari keberadaan ponselnya dengan paniknya. Dan benar saja disana sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dari bobby dan juga beberapa pesan.
“Maaf bang, ponselnya aku silent.”
“....” bobby hanya diam saja sambil memainkan ponselnya.
*Sebuah nada dering berbunyi*
“Silent ya ?” tanya bobby lagi, mengulang kata - kata yang dee ucapkan.
Dan ternyata sejak tadi bobby tidak memainkan ponselnya, tapi pria itu berusaha menghubungi ponsel dee yang katanya dia “silent”.
Habis sudah dee hari ini. Dia mendapatkan bunga yang tidak dia inginkan, disisi lain dia ketahuan berbohong pada bobby. Hari ini benar - benar diliputi aura negatif.
“Maaf.” hanya satu kata itu yang keluar dari mulut dee.
Bobby berjalan menuju ke arah dee, dia memutar kursi wanita itu agar menghadapnya.
“Aku nggak akan mempermasalahkan tentang kau yang berbohong, aku hanya ingin kau mengatakan sejujurnya alasan mengapa kau seperti ini.”
“A…. aku…”
“Cobalah untuk jujur, jangan biasakan memendamnya sendiri.”
“....”
“Apa penyebabnya sama dengan yang kemarin ?”
“Hmm… itu… iya.” akhirnya dee mengaku, sambil menatap nasib bunga mawar tak bersalah itu.
“Kali ini bunga itu yang jad korbannya ?” dee mengangguk dengan ragu.
“Coba aja baca notenya.” kata dee sambil mendongakkan dagunya ke arah bunga itu.
Bobby membacanya dengan seksama, dia mengerutkan alisnya.
“Kenapa ?”
“Kau nggak bakalan paham, bang.” kata dee dengan wajah kesal, kali ini dia berdiri dan beranjak keluar dari kantornya.
Bobby langsung mencekal tangan dee sebelum membiarkan wanita itu keluar bersama rasa kesalnya.
“Sebenarnya bukan bunga atau note itu masalahnya. Tapi pengirimnya.”
“....” dee hanya terdiam. Pemikiran bobby memang sangat logis, tapi hati dan otaknya sedang tidak sejalan.
“Apa kau akan memperlakukan sesuatu yang aku kirim padamu ?” pertanyaan bobby membuat dee membeku, dia seketika menjadi tegang mendengar pertanyaan itu.
“Te….tergantung kamu kirim aku apa.” kata dee terbata.
“Mengirimkan bunga dengan note atau mungkin semangkuk ice cream. Bayangkan saja semua yang kau terima itu dariku. Apa kau akan seperti ini ?” tanya bobby lagi. Dee masih diam, dia tidak bisa menjawab jika dia akan sangat bahagia menerima semua itu.
“Aku…. tidak mungkin seperti ini jika kau yang mengirimkannya, bang. Kita nggak pernah ada masalah sebelumnya.”
“Jadi kau tau kan siapa yang seharusnya dihukum atas semua yang terjadi, bukan barang - barang itu.”
‘Apa maksudnya ?’ batin dee, sejujurnya dia tidak bisa mencerna maksud bobby. Dia sedang dalam mode tidak peka sekarang ini.
“Kau nggak paham ?” tebakan bobby sukses membuat dee hanya mengedipkan matanya berulang kali lalu menggelengkan kepalanya.
“Dasar!!” bobby tertawa ringan sambil mengacak rambut dee.
“Baiklah, aku akan menjelaskannya nanti. Sebaiknya sekarang kita makan. Aura hitam sepertinya menguras energimu.” goda bobby lagi. Tapi kali ini pria itu mengatakannya sambil berjalan menuju ke arah pintu.
Senyum simpul pertama dee setelah kekesalan pagi ini langsung menghiasi wajahnya. Memang bobby ini sepertinya cocok menjadi mood booster dee.
“Ayo!!!” ajak bobby lagi.
Dee langsung buru - buru mengambil tas dan ponselnya lalu berlari menyusul bobby.
**
Dee dan bobby memutuskan untuk minum kopi di cafe yang berada di salah satu mall. Setelah memesan mereka berdua duduk berhadapan di tempat yang memang menyuguhkan pemandangan luar.
“Makanlah dulu, sepertinya gula darahmu rendah sampai otakmu tidak berfungsi dengan baik.” kata bobby sambil mendorong sepotong cake ke hadapan dee.
Saat dee mulai menyendok kue itu, tiba - tiba saja bobby memegang sebelah tangannya yang tergeletak begitu saja diatas meja. Dee seketika membulatkan matanya karena terkejut dengan sikap tiba - tiba bobby.
“Kau ingin melihat sebuah pertunjukan seru ?” tanya bobby.
Bobby tidak tau dee benar - benar tidak bisa mencerna kue yang berada di dalam mulutnya dan juga kata - kata yang barusan bobby katakan. Dia terlalu kaget dengan semua yang baru saja terjadi hingga dia hanya bisa mengedipkan matanya saja berulang kali dengan cepat. Cukup dengan itu saja bobby menganggap bahwa dee menyetujuinya.
“Biarkan aku melakukan semuanya, percayalah padaku.” mau tidak mau dee hanya mengangguk.
Bobby melancarkan aksinya mulai dari mengusap pipi dee lembut, membersihkan bekas kue yang ada di ujung bibirnya, bahkan sesekali merapikan anak rambut dee yang sebenarnya masih rapi.
“Teruslah tersenyum, dee. Karena senyuman itu membuat orang lain kesal.” kata bobby.
Sungguh dee tidak memahami situasi ini, dia hanya menuruti saja perkataan bobby. Bahkan mereka tidak mengobrol sesuatu yang penting sejak tadi. Padahal dee mati - matian mengatur detak jantungnya yang sejak tadi seperti mendapatkan kejutan.
“Bang, ada apa sih ?” tanya dee pada akhirnya karena dia tidak bisa bertahan seperti ini terus.
Tiba - tiba bobby berdiri dan memilih duduk disebelah dee. Lalu yang mengejutkan lagi bobby memeluk punggung dee dengan lembut layaknya seseorang yang memang memiliki hubungan yang sangat dekat.
Bobby mendekatkan dirinya untuk membisikkan sesuatu pada dee. “Di belakang sana ada pria yang kemarin memberimu ice cream dan memberimu bunga pagi ini.” katanya lirih.
Dee mulai memahami semua situasi yang sedang terjadi di sekitarnya.
“Kau melakukan ini untuk memancingnya ?” bobby mengangguk.
Tidak lama kemudian seorang pelayan cafe mengantarkan sebuah jus sayuran dan buah, dan itu semua dikhususkan untuk dee. Jangan lupakan sebuah note kecil yang bertuliskan ‘kopi dan cake tidak baik dimakan di pagi hari, minumlah jus ini.”
“Lihatkan ?” kata dee sesaat setelah membaca note itu. Pelayan itu langsung meletakkan segelas jus di meja bobby dan dee.
“Kau tau apa artinya ?” tanya bobby.
“Dia pasti merasa lebih mengenal diriku.”
“Bukan.”
“Lalu, apa maksudmu bang ?”
“Dia cemburu.”
Badan dee melemas mendengar kata cemburu keluar dari bibir bobby.
“Nggak mungkin.” dee menolak pendapat bobby tadi. Tidak mungkin bastian cemburu pada bobby. Dulu hubungan mereka terlalu rumit, bahkan untuk sebuah perasaan cemburu sepertinya tidak akan mungkin terjadi.
“Kau tau kita memesan apa ? Dan kau tau apa yang dia pesan untukmu. Bukannya ini memang kebiasaanmu ?” tanya bobby lagi.
“Memang, lalu apa hubungannya ?”
“Kau melakukan hal yang tidak seharusnya kau lakukan. Dan semua itu kau lakukan bersamaku.”
“Aku nggak ngerti, bang.”
“Ya…. intinya kau tau dia cemburu.”
“Tapi dia punya istri, buat apa dia cemburu padamu ? Aku bahkan bukan siapa - siapanya.”
“Karena seseorang yang dulu pernah mengejarnya akhirnya memiliki pria lain dalam hidupnya.” satu kalimat bobby yang membuat dee terdiam seribu bahasa.
“Kau tau, dia takut kehilangan pengagum. Padahal jelas - jelas dia memiliki pasangan. Hal yang wajar terjadi pada diri seorang pria dengan masa lalu yang belum terselesaikan.” lanjut bobby lagi.
“Apa itu juga berlaku padamu, bang ?”
“Apa maksudmu ? Aku sedang membahas mu, kenapa tiba - tiba kau ungkit tentang aku ?”
“Kau kan pria yang belum menyelesaikan permasalahan masa lalumu juga.” sindir dee.
Perdebatan diantara dee dan bobby ini justru semakin membuat bastian kesal. Padahal dia tidak tau apa yang sedang dibahas kedua orang yang membuatnya kesal itu.
“Mungkin sebentar lagi akan berakhir.” kata bobby tanpa ekspresi apapun hingga membuat dee bertanya - tanya.
“Benarkah ?”
“Sudahlah, kau sudah melihat pertunjukkan hari ini. Lain kali kau harus membayarku.” kata bobby sambil berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan dee.
Walaupun semua ini memang sebuah sandiwara yang bobby dan dee lakukan, tapi semua ini terlihat sangat natural di mata bastian.
Pria di masa lalu dee itu kesal saat melihat dee yang hanya melihatnya sekilas sebelum pergi meninggalkan cafe. Dan yang membuatnya kesal adalah jus yang dia pesankan khusus untuk dee tak tersentuh sama sekali.
Hari ini rasanya dee dan bastian sudah impas berkat bobby.
**