"Sebagian orang mungkin tidak percaya bahwa ada persahabatan yang mampu terjadi antara pria dan wanita. Tetapi untuk kami, kami percaya. ~Pedro Viscout.
***
Valerie melepaskan kaus basah yang melekat di tubuh. Masuk ke bilik nomor empat seperti yang diperintahkan Pedro, ia memutar keran untuk mengalirkan air hangat dari sana.
Hujan di luar belum ingin reda tampaknya, sebab kini langit pun tidak berencana untuk kembali terang. Semakin banyak detik yang terlewati, maka semakin gelap pula awan mengumpul di cakrawala.
Segelap hati Valerie yang kini kosong.
Rapuh dan patah.
Tanpa bersisa.
Membasuh rambutnya dengan air hangat, perempuan itu tidak menghabiskan waktu berlama-lama di dalam bilik. Meski pikirannya masih berpusat dan berputar pada seseorang yang mungkin kini entah berada di mana, namun Valerie tahu mereka memiliki waktu terbatas berada di ruang basket itu.
Sepuluh menit. Waktu yang dibisikkan salah seorang anggota tim basket itu pada Pedro tadi, dan Valerie bisa mendengarnya meski samar-samar.
Pouch berwarna bening yang berisi beberapa perlengkapan mandi milik Pedro tampaknya cukup berguna saat ini. Sebab Valerie menggunakan sabun wajah lelaki itu untuk kini membasuh wajahnya.
Tidak ada perasaan-perasaan aneh atau gelanyar yang muncul, meski jelas bahwa kini Valerie sedang menggunakan sesuatu yang biasa digunakan oleh Pedro.
Tiba-tiba saja perempuan itu berpikir.
"Jika saja perlengkapan mandi ini adalah milik Gosse, apakah rasanya akan berbeda?"
Pikirannya membumbung jauh, membayangkan visual Gosse yang pastilah terlihat gagah dan kokoh sekali, ketika lelaki itu melakukan rutinitas membersihkan diri.
"Jika saja kaos yang melekat di tubuhku ini adalah milik Gosse, apakah kira-kira aku akan berdebar atau berbunga-bunga?"
Kali ini Valerie memikirkan bagaimana jika dialah yang berada di dalam kaos milik Gosse, yang lantas membuatnya akan menghirup aroma parfum lelaki itu dengan leluasa.
Sungguh tidak mampu menyingkirkan wajah tampan Gosse dari pelupuk matanya, kini Valerie menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Sadarlah, Valerie!" bisiknya pada dirinya sendiri. "Kau sudah tahu akan berakhir luka, tapi lihatlah bagaimana kau bahkan kerap kali memunculkannya di matamu."
Orang-orang berkata, cinta yang tumbuh diam-diam memang memiliki kekuatan yang lebih luar biasa daripada cinta yang mampu diungkapkan. Dan selama bertahun ini memuja Gosse dalam keheningan, Valerie menyadari dia telah jatuh terlalu dalam untuk lelaki itu.
Hampir saja Valerie kembali tenggelam dalam kesedihan, namun syukurnya ketukan di pintu bilik menyadarkan lamunannya.
"Val? Kalau sudah selesai?"
Ketukan itu menarik atensi Valerie yang kini menolehkan kepalanya ke arah pintu, menyadari suara Pedro merayap dari luar sana.
"Y-ya," sahut Valerie cepat. Terbata karena sedikit kaget, namun ia cepat-cepat memakai jaket yang juga dibawanya bersamaan tadi. "Sebentar lagi, aku hampir selesai."
"Aku membawa plastik," Pedro setengah berseru. "Mungkin kau membutuhkannya untuk menaruh baju basahmu, Val."
Ah, benar. Valerie hampir saja lupa bahwa dia harus memungut baju basahnya yang kini teronggok di lantai.
"Ya, letakkan di sana!"
"Kulemparkan dari atas," sahut Pedro memberikan alternatif yang lain. "Nah!"
Berjinjit sedikit, lelaki bertato itu membuang sebuah plastik kresek ke dalam bilik yang sedang dihuni Valerie. Bilik ganti mereka memang tidak sepenuhnya tertutup, sebab ada celah di atas pintu seperti bilik berganti umumnya.
"Lemparan yang bagus, Pedro!" seru Valerie membalas. "Tepat mengenai kepalaku!"
Pedro terkekeh, membiarkan suaranya menggema dan mengisi kekosongan ruang basket itu.
Tidak lagi memperpanjang pembicaraan mereka, Pedro menyadari Valerie yang juga memilih hening.
"Kutunggu kau di depan," ujar lelaki itu setelah beberapa detik.
"Oke!"
Sahutan Valerie disusul dengan kepala Pedro yang kini memandangi pintu itu, sebelum kemudian berbalik badan dan melangkah menjauh dari sana.
Kembali ke ruangan depan, lelaki itu tampak sudah mengganti baju dan melepaskan outfitnya yang basah kuyup tadi.
Sebagai seorang laki-laki, Pedro mungkin tidak memerlukan bilik jika hanya untuk mengganti baju. Menunggu dengan sebelah kaki yang dinaikkan ke atas kursi panjang, beberapa saat kemudian barulah ia menolehkan kepala karena mendengar derap langkah Valerie dari arah belakang.
Mendapati sahabatnya itu telah berganti pakaian dengan jaket dan kaos miliknya, Pedro menarik sudut bibir untuk melengkungkan senyuman.
Meski masih mengenakan celana jeans yang Pedro yakini masih basah, tetapi setidaknya kini Valerie tidak lagi sepenuhnya basah kuyup.
"Kau tampak lebih baik dengan itu," komentar Pedro seraya bangkit dari tempat duduknya. "Masih kedinginan?"
Valerie mendekat. Mengangkat bahu dengan malas-malasan, namun kemudian ia menggeleng perlahan.
"Air panas di bilik itu membuatku merasa lebih baik," balasnya jujur. "Apa kalian sering bertengkar untuk memperebutkan bilik itu, Pedro?"
Pedro mengayun tungkai kakinya untuk menuju ke sebuah meja, lantas mengambil dua cangkir berbeda warna yang telah dipersiapkannya selama Valerie berganti pakaian.
"Tidak sering," jawab Pedro di sela tawa kecil yang mengudara. "Hanya beberapa dari kami yang tidak menyukai air dingin, jadi itu tidak terlalu membuat kami ribut."
Valerie sendiri sudah duduk di kursi panjang yang ditempati Pedro tadi, kali ini mengangkat sebelah kakinya juga ke atas.
"Teh untukmu." Menyodorkan sebuah cangkir yang ia genggam di tangan kanan, Pedro mengambil posisi persis di sebelah Valerie.
"Beberapa dari kalian tidak menyukai air dingin, dan bisa kutebak kau adalah salah satunya?" Valerie menyisip teh hangat yang diseduh oleh Pedro, menikmati rasa manis dan kehangatan dari cairan kecoklatan itu.
Entah sudah berapa kali Pedro terkekeh dan tertawa belakangan ini.
"Kau berbakat menjadi detekfif, Val," sahutnya. "Yang tidak menyukai air dingin itu, memang termasuk aku di dalamnya. Bukankah itu yang menyebabkan aku mengetahui di mana shower air panas berada?"
Kali ini Valerie yang menggumam tawa. Hangatnya teh itu menjalar ke seluruh tubuh, membuatnya kini merasa mulai lebih baik tanpa ia sadari.
"Sudah kuduga," ujar Valerie enteng. Kembali berfokus pada gelasnya, ia tidak memedulikan tatapan lurus Pedro yang kini terarah untuknya.
Jelas sekali lelaki itu menyimpan rasa penasaran yang amat dalam, yang kini dia sampaikan melalui satu kalimat tanya.
"Jadi, kau ini kenapa sebenarnya?" Bola mata Pedro mengawasi sekitar. "Katakan padaku alasan masuk akal kenapa kau berhujan-hujanan, saat aku tahu kau sebenarnya tidak terlalu menyukai hujan."
Valerie terdiam.
Kedua lengannya masih memegangi cangkir, berupaya penuh untuk menghindari pandangan Pedro tetapi tampaknya itu semua hanya sia-sia. Perempuan itu tahu rasa penasaran Pedro hanyalah didasari karena rasa peduli lelaki itu terhadapnya, tanpa ada embel-embel yang lain.
Mengenal Pedro sejak dia masih usia belia, Valerie telah terbiasa dengan kehadiran lelaki itu di kehidupannya.
"Sebenarnya ... sesuatu terjadi," ungkap Valerie perlahan.
Dia telah memutuskan untuk tidak menyinggung perihal Gosse, sebab dia tidak ingin seorang pun di dunia ini tahu bahwa dia mencintai lelaki yang akan menjadi abang iparnya tidak lama lagi.
Bukankah itu amat memalukan?
"Sesuatu seperti apa?" tuntut Pedro masih tidak puas. "Katakan yang jelas, jangan membuatku pusing, Val!"
Valerie tersenyum. Pedro sudah meletakkan kembali cangkir teh miliknya, yang isinya kini telah kandas tidak bersisa.
"Sesuatu yang ... membuatku menyadari bahwa tidak semua cinta di dunia ini akan menjadi hal yang indah, Pedro."
Sang lelaki bertato tampak mengerutkan kening. Jelas sekali ia sedang mencoba untuk mencerna apa yang Valerie katakan, disusul dengan garukan di kepalanya yang sebenarnya tidak terlalu gatal.
"Kau...," Pedro memiringkan kepala. "Baru saja putus cinta?!"
Memilih untuk menganggukkan kepala, Valerie tahu sudah saatnya ia berhenti berbicara.
"Jangan tanyakan apa pun padaku," katanya kini. Mencoba membuat nada suaranya sesedih mungkin. "Aku tidak ingin membahasnya lagi. Tidak ingin mengingatnya lagi, karena aku baru saja menyadari ini hanyalah perasaan dangkal yang seharusnya tidak aku rasakan sejak awal."
Pedro bergeming. Menghela napas, belum bersuara hingga Valerie melanjutkan kalimatnya.
"Sungguh! Aku baik-baik saja sekarang," seru perempuan itu meyakinkan. Sebab Pedro masih tampak memicing ragu padanya. "Kau tahu, dia hanyalah seorang senior yang kini tidak lagi menarik."
Meski mengutarakan kebohongan, setidaknya Valerie berpikir bahwa dia tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang putus cinta, merasa kecewa dan sedih atas perasaannya yang tidak berbalas pada Gosse.
Hanya saja, sebagiannya memang dusta karena perasaannya pada Gosse tidak pernah sedangkal itu. Bahkan Valerie tidak tahu sedalam apa dia telah memberikan hatinya untuk Gosse.
"Benarkah?" Hanya satu kata itu yang mampu dikeluarkan Pedro dari sela bibirnya.
"Percayalah padaku!"
Kini menyilangkan kedua tangan di depan d**a, Pedro akhirnya manggut-manggut.
"Kalau memang begitu, aku turut senang mendengarnya," komentar lelaki itu pada akhirnya. "Seorang pria seperti dia pastilah tidak pantas untuk berada di sampingmu, Val. Bukan, bahkan di belakangmu pun dia tidak pantas."
Valerie membiarkan hatinya berdenyut nyeri, sebab lagi-lagi kenangan tentang Gosse kini hanya akan tinggal dan bersemayam di dalam sana.
Tidak ada lagi harapan, meski hanya sepersekian persennya. Mungkin apa yang dikatakan Pedro memang benar, bahwa lelaki seperti Gosse memang tidak berhak berada di sampingnya.
Lagi pula, lelaki itu akan berada di pelukan kakaknya, Versaline Genneth, tidak lama lagi.
"Terima kasih, Ped," tutur Valerie kemudian. "Karena kau sudah--"
Berhenti kalimat Valerie tiba-tiba saja, sebab kini dering ponsel mengalihkan atensi sepasang sahabat yang masih berada di ruang basket kampus mereka itu.
Menyadari nada dering itu adalah nada dering miliknya, Pedro melompat cepat untuk turun dari kursi. Menyambar ponsel yang berada di atas meja tempat ia menyeduh teh tadi, lelaki itu buru-buru menggeser layar untuk menjawab panggilan masuk.
"Kapten menuju ke ruangan!" seru seseorang di seberang sana. Membuat darah Pedro terpompa kencang tanpa sadar, dengan manik yang kini kian melebar.
"Okay!"
"Bersedialah untuk hukumanmu, Ped," ucap lelaki yang menelepon itu tadi. "Jika kau melarikan diri lagi, aku berani bertaruh Armando akan memenggal kepalamu!"
Namun, bukan Pedro Viscout namanya jika lelaki itu mudah terintimidasi hanya karena omongan yang belum tentu terjadi.
Bukannya takut, Pedro malah tersenyum kini.
"Terima kasih telah menakut-nakutiku, Evander sialan!" balasnya. "Tetapi kau pasti tahu, itu takkan pernah terjadi."
Tidak lagi menunggu Evander Scott yang juga merupakan teman satu timnya memberikan balasan, Pedro sudah lebih dulu mematikan sambungan telepon itu.
Tidak peduli dengan u*****n yang pastilah dilayangkan Evander di seberang sana, kini Pedro berbalik untuk menghampiri Valerie.
"Kita harus pergi, Val," ajaknya. "Ambil semua barang-barangmu sekarang juga."
Sebaiknya mereka pergi tanpa meninggalkan jejak. Sebab Pedro sedang tidak mood untuk meladeni ocehan Armando. Setidaknya, tidak untuk hari ini.
Menurut, Valerie begitu saja beranjak dari kursi dan memasukkan plastik berisi baju basahnya ke dalam tas. Bergabung dengan Pedro yang kini menarik handle pintu, perempuan itu membiarkan Pedro sekali lagi meraih lengannya untuk ia gandeng.
Tidak bertanya ke mana kali ini mereka akan pergi, Valerie tiba-tiba menyadari bahwa dia tidak peduli dengan tempat yang akan mereka tuju.
Mengikuti langkah besar-besar Pedro di depan sana, Valerie menarik sebaris senyum.
Sebab kini ia mulai merasa jauh lebih baik, dan itu semua pastilah berkat keberadaan sahabatnya, Pedro Viscout.
~Bersambung
[Sambil nunggu up, mampir ke novelku sebelumnya, Second Chance, yuk! Sudah tamat]