Bagian 4 - Basket Room

1502 Kata
"Aku tidak tahu apa yang menjadi alasanmu hingga kau menangis tersedu seperti ini. Tetapi percayalah, aku amat tidak nyaman melihatnya." ~Pedro Viscout. *** Pedro tentu tahu apa konsekuensi yang menunggunya di belakang sana. Teriakan Armando menggema, hampir saja memekakkan telinga saat Pedro berani bertaruh bahwa kapten tim basketnya itu pastilah mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit untuk mencaci makinya sekarang. Bahkan suara derasnya hujan tidak mampu meredam frekuensi teriakan lelaki itu, yang Pedro yakini pastilah dipenuhi oleh amarah. Namun keadaan Valerie yang tidak baik-baik saja, juga sungguh tidak bisa dibiarkan berlalu. "Apa yang terjadi?" Pedro berbisik pelan, masih mengusap punggung Valerie yang terbalut dengan kaos yang basah. "Kenapa kau hujan-hujanan seperti ini, Val? Kau dari mana sih, sebenarnya?" Menarik ingus yang kini bercampur dengan air mata kesedihan, Valerie begitu saja yang mendorong tubuh Pedro yang beberapa saat lalu memberi kehangatan untuk tubuhnya yang mulai kedinginan. Kabar yang dibawa Gosse membuat hatinya remuk redam, dan tidak ada satu hal lain yang dapat dipikirkan Valerie selain menerobos hujan deras ini. Berharap lukanya akan luruh terbawa air yang mengalir, namun ternyata kenyataan yang dia dapatkan hanyalah tubuh yang mulai menggigil. "Sesuatu terjadi," Valerie membuka suara yang mulai gemetar. "Lagian kau mau ngapain sih mengejarku? Kau kan sedang dihukum!" Pedro menyeringai. Seakan tidak peduli dengan fakta itu, dia memilih untuk tidak menaruh perhatian penuh. Lagipula kakinya juga sudah mulai keram karena terlalu lama mendengarkan ocehan Armando yang masuk kanan keluar kiri dari telinga. "Jangan mengalihkan pembicaraan." Pedro menatap Valerie dalam-dalam. Punggung perempuan itu masih bersandar lekat di salah satu dinding kampus, dan Pedro bersyukur tidak banyak mahasiswa yang melintas saat ini. Masih berdiri tepat di hadapan Valerie, Pedro muda menyilangkan kedua tangan di depan d**a. Mengamati kondisi sahabatnya yang tampak cukup menyedihkan. Kaos yang dikenakan perempuan itu sudah terlalu basah, hingga kini membuat lekukan tubuh Valerie dapat jelas terlihat. Valerie mengusap wajah. Berusaha berdamai dengan keadaan, meski perempuan itu masih menyisakan sedikit tangis yang belum usai. Menggeser tubuh, Pedro menutupi tubuh Valerie dari pandangan para mahasiswa lain yang satu-satu melintas di belakang punggungnya. "Sudah tidak usah menangis lagi," perintah lelaki itu kini. "Lihat ini, kau basah dan sudah mulai kedinginan, kan? Apa yang membuatmu seperti ini, Val?" Lengan kanan Pedro bergerak untuk mengusap bahu basah Valerie, membuat perempuan itu dengan tidak sengaja mematrikan maniknya pada tato yang berada di sepanjang lengan sahabatnya. Tidak sekali dua kali Valerie bertanya-tanya, mengapa seorang Pedro Viscout amat begitu mencintai seni ukir tubuh seperti tato. Meski awalnya Valerie kerap mengomel setiap kali Pedro menambah tato semenjak mereka duduk di sekolah menengah atas, namun kini perempuan itu tidak lagi melakukannya. Sadar bahwa ocehannya tidak akan mengubah kecintaan Pedro atas seni di atas kulit, Valerie memilih untuk ikhlas dan membiarkan Pedro berkembang dengan apa yang diinginkan lelaki itu. "Lepaskan," pinta Valerie pelan. "Kembalilah ke lapangan sekarang juga. Armando pasti akan menghukummu lebih berat jika kau tidak segera mengakui kesalahanmu." Manik Valerie melebar, yang kini mulai menyisakan bengkak di sudut matanya. "Bukankah sudah kukatakan seharusnya kau sejak dulu bertaubat dalam menambah tato, Viscout?!" Pedro terkekeh. Sahabat kecilnya ini selalu hadir dan mengomelinya tentang apa pun, tetapi sungguh Pedro tidak pernah keberatan untuk mendengarkan apa yang Valerie katakan. Hanya ada satu perempuan selain ibunya yang terus merongrong Pedro, dan Valerie Genneth lah orangnya. "Kau kedinginan." Pedro kembali mengusap pelan dengan Valerie. Kulit perempuan itu mulai terasa dingin, saat rambutnya pun sudah basah keseluruhan. "Bukan saatnya untuk memikirkan kelanjutan nasibku akan seperti apa, Val," sambung Pedro lagi. "Kini keadaanmu lebih penting untuk dipikirkan." "Aku baik-baik saja," sanggah Valerie cepat. Menangis di bawah hujan dan mengeluarkan kesedihannya sudah cukup membuatnya lega, meski ia tidak bisa memastikan tangis ini tidak akan terulang lagi ketika malam menyapa nanti. "Tidak usah kau pikirkan aku, aku bisa mengurus diriku sendiri." Berdesis pelan, Pedro tahu keras kepala adalah nama tengah dari seorang Valerie. Merasa tidak perlu memperpanjang pembicaraan ini sebab Pedro tahu ini semua hanya akan berakhir sia-sia, lelaki itu memilih untuk meraih pergelangan tangan kanan Valerie. "Sudah, ayo ikut aku," katanya tegas. Valerie memaksakan diri untuk mengikuti langkah besar Pedro yang menggenggam erat tangannya, meski bibir perempuan itu berulang kali mengucapkan hal serupa. "Lepaskan, Pedro!" Namun Pedro tidak berhenti. Tetap memacu langkah, lelaki itu bahkan mengeratkan sekali lagi pegangan tangannya pada tangan Valerie. Mengunci perempuan itu, hingga membuat Valerie berpikir tidak ada gunanya ia berusaha melarikan diri. "Hei, kita akan ke mana?!" "Berisik." Pedro bahkan tidak memutar wajah. "Sudah, ikuti saja aku. Dan berjanjilah, setelah ini kau akan bercerita tentang apa yang terjadi." Valerie memilih untuk mengatupkan bibir rapat-rapat. Membiarkan Pedro masih memegang kendali atas tubuhnya yang kini seirama dengan langkah lelaki bertato itu, Valerie hanya bisa menghela napas pasrah. Tidak ada seorang pun yang mengetahui perihal perasaannya terhadap Gosse selama ini, tidak juga Pedro. Dan kini, perempuan itu sedang menimbang apakah sebaiknya ia jujur atau tidak pada sahabatnya. Berbelok di ujung lorong, Pedro tidak membiarkan dirinya terintimidasi pada tatapan-tatapan yang dilayangkan beberapa mahasiswa yang melewati mereka. Langkah-langkahnya memelan perlahan, tepat ketika sebelah lengannya kini terangkat untuk meraih gagang pintu berwarna coklat tua di depan sana. Memahami ke mana mereka akan masuk, Valerie sontak saja melebarkan manik. "Hei! Kita tidak bisa masuk ke sana!" Perempuan itu setengah memekik. "Kau sudah gila, ya?! Pedro!" Menengadahkan kepala untuk memastikan dugaannya tidak salah, Valerie mendapati tulisan yang menggantung persis di bagian depan pintu itu. 'Basket Room' Ruangan khusus yang diperuntukkan bagi para anggota tim basket kampus mereka, dan yang pasti berisi laki-laki di dalamnya. "Akan kuatur untukmu," ujar Pedro tanpa keraguan. "Tenang saja kenapa sih? Kau berisik sekali, tahu tidak?!" Menggertakkan gigi, Valerie ingin sekali berteriak. Namun lengan kokoh Pedro sudah lebih dulu mendorong pintu itu, tanpa melonggarkan gandengan tangan keduanya. Beberapa pasang mata sontak terarah bersamaan ke arah Pedro dan Valerie yang kini muncul di ambang pintu, mungkin kebingungan akan kehadiran perempuan di ruang mereka. "Ped!" "Hukumanmu sudah berakhir?" "Mana yang lain?" "Kenapa kau sudah kembali?" Rentetan pertanyaan mengudara di ruangan yang tidak terlalu besar itu, namun ketahuilah bahwa Pedro tidak sama sekali berniat untuk memberikan jawaban. "Sesuatu terjadi," ujar lelaki itu dengan nada tegas. "Aku ingin meminjam ruangan beberapa saat, bisa kalian keluar sebentar?" Valerie hanya bisa menundukkan kepala, terlalu malu dengan situasi dan kondisi yang sedang berlangsung sekarang. Dia bersumpah dalam hati bahwa dia akan memaki dan menghajar Pedro habis-habisan setelah ini, sebab berapapun usahanya untuk melepaskan diri dari cengkraman lelaki itu, semua hanya tampak sia-sia. Pedro tidak akan membiarkannya pergi. Setidaknya, tidak sebelum niat yang disimpan lelaki itu terwujud. Seringaian dan kekehan memenuhi ruangan, saat beberapa lelaki itu tampaknya mulai mengolok-olok Pedro atas permintaannya yang terdengar absurd. Menggeser tubuh Valerie untuk kini bersembunyi di belakang punggung lebarnya, Pedro memastikan teman-temannya tidak melihat sesuatu yang tidak pantas. "Jangan di sini, please," celetuk salah satunya, yang memiliki rambut bermodel cepat berwarna krim terang. "Segera!" Pedro kembali meminta. Tidak, lebih tepatnya memerintah. "Pergi atau aku akan...." "Baiklah, baiklah," sahut salah seorang lagi, yang kini tampak bangkit dengan ponsel di genggaman. Lebih dulu berdiri, ia mengajak para lelaki yang lain untuk mengabulkan permintaan Pedro. Meski bersungut-sungut, beberapa lelaki itu akhirnya mengikuti arahan teman mereka tadi. Berhenti persis di samping Pedro, lelaki itu memajukan wajah untuk mengejek rekan satu timnya itu. "Sepuluh menit," katanya berbisik. "Cukupkah untukmu sepuluh menit? Atau kami harus keluar lebih lama?" Pedro ingin sekali melayangkan tinju ke arah temannya tadi, namun kondisi Valerie sungguh lebih membutuhkan perhatiannya. "Akan lebih cepat daripada itu," balas Pedro tidak mau kalah. "Sekarang keluarlah." Para lelaki yang tergabung dalam tim basket itu lalu berlalu satu persatu, meninggalkan suara debum saat yang terakhir sengaja menutup pintu untuk menciptakan suara cukup keras. Meninggalkan Pedro dan Valerie yang kini terkurung di dalam ruang basket itu, saat tak lama kemudian Pedro perlahan-lahan melonggarkan cengkramannya di lengan Valerie. "Pedro, kau!" Valerie baru saja ingin mengumpat, namun gerakan Pedro lagi-lagi membuatnya terhenti. "Tunggu di sini," katanya memerintah. Lelaki itu mengayun tungkai kaki untuk menuju deretan lemari yang berada di sebelah kiri, lantas membuka salah satu loker yang bertuliskan nama lengkapnya. Mengeluarkan sepasang jaket dan kaos dari dalam sana, Pedro berbalik dan mengulurkannya pada Valerie. "Pakailah," ujarnya. "Kau basah sekali, dan bisa saja flu karena bibirmu sudah bergetar sejak tadi. Lihat, matamu bahkan bengkak seperti ini." Tampak ragu sesaat, namun kini jarak yang terbentang antara keduanya memaksa Valerie untuk menundukkan kepala guna memeriksa keadaan. Kausnya memang basah kuyup, dan itu membuat pakaian dalam yang dikenakannya tercetak jelas sekali. Mendapati dia tidak punya pilihan lain, Valerie menyambar sodoran tangan Pedro. "Ruang gantinya di belakang," Pedro memberi informasi. "Sebelah kiri, bilik keempat yang shower air panasnya menyala. Yang lain rusak." Demi apa pun, ini adalah pertama kalinya Valerie benar-benar berada di ruangan tim basket kampus mereka. Meski dihuni oleh sekumpulan pria, namun harus Valerie akui bahwa ruangan itu tampak cukup rapi dan terorganisir. "Baiklah," akhirnya Valerie membalas. Pedro mengulurkan sebuah pouch bening yang berisi beberapa perlengkapan mandi, mengangkat bahu saat Valerie kembali menerima ulurannya. "Mungkin kau butuh," kata lelaki itu. "Ada sabun muka dan sikat gigi, juga deodoran khas laki-laki. Bawa sajalah, mana tahu kau akan membutuhkan itu." Valerie menarik senyum, sudah memahami bagaimana perilaku Pedro. "Oke," sahut perempuan itu akhirnya. Kini beranjak untuk menyusuri ruangan tim basket itu, Valerie menciptakan jarak yang semakin lama semakin luas antara dirinya dan Pedro. Meninggalkan lelaki itu di belakang sana yang juga masih berbaju basah, namun sungguh Pedro tidak peduli dengan dirinya sendiri. Valerie masih berada di ambang jalan ketika ia berbalik badan, tidak sengaja melihat pemandangan persis ketika Pedro melepaskan baju trainingnya dari tubuh. Menampakkan otot liatnya yang mulai terukir gagah, Pedro tidak menyadari bahwa sepasang mata sedang memperhatikannya dari sisi yang lain. ~Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN