"Siapa pun perempuan itu nanti, aku yakin dia akan menjadi seseorang yang amat beruntung. Sebab kau, pasti akan membuatnya bahagia." ~Valerie Genneth.
***
[Kediaman Genneth, Heidelberg]
Senyuman Versaline mengembang. Tidak perlu mempertimbangkan apa-apa lagi mengenai perjodohan ini, sebab kini visual Gosse yang hadir di kediaman keluarga mereka telah berhasil menyihir perempuan itu.
Putri tertua Genneth bahkan tidak mampu melepas pandangan malu-malu pada Gosse, yang siang itu hadir amat tampan. Mengenakan tuxedo berwarna cokelat muda dengan dasi kecil yang berada di pangkal leher, senyum tertua keluarga Armour itu berhasil menyihir Versaline dalam percobaan pertama.
Singkat kata, tidak ada hambatan atau kendala dalam perkenalan dua keluarga besar berdarah bangsawan ini. Jamuan minum teh yang disediakan oleh Lady Genneth disambut dengan amat baik, saat beberapa parsel berisi bahan makanan seperti daging domba segar, s**u perahan, dan buah-buah beraneka ragam yang dibawa oleh Lady Armour, juga diterima dengan baik oleh keluarga Versaline.
Penentuan tanggal pernikahan juga tidak menjadi sesuatu yang sulit untuk diputuskan, bahkan pembicaraan tentang mahar pernikahan juga terjadi amat lancar. Hingga jamuan makan siang itu usai, disusul dengan acara berbincang-bincang santai antara para tamu dan tuan rumah sekarang.
Gosse meminta izin untuk berjalan-jalan di taman belakang kediaman Genneth, dan tentu saja itu disanggupi oleh Versaline. Kini melangkah bersisian, Gosse menautkan jemari persis di belakang pinggang.
"Ibuku tadinya hobi menanam bunga," suara Versaline terdengar amat lembut. "Namun karena beberapa hal, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti sementara waktu. Kesehatannya menurun, dan tidak satu pun dari kami menyukai aktivitas bercocok tanam seperti dia."
Gosse dapat menghidu aroma mawar segar yang menyeruak dari tubuh Versaline. Entah apakah itu adalah aroma yang berasal dari parfum perempuan itu, atau mungkin berasal dari surai indahnya yang kini tertata dengan amat rapi.
"Benarkah?" Gosse melebarkan senyum. "Aku ingat Valerie memang pernah berkata dia tidak suka bercocok tanam. Tetapi aku tidak menyangka ternyata kau juga demikian."
Versaline tertawa kecil. Nama Valerie yang kini mengudara di sekitar mereka membuat perempuan itu tiba-tiba saja mengingat adiknya.
"Ah, Valerie," gumam Versa. "Aku berusaha untuk memintanya tetap tinggal, tetapi ternyata dia memiliki sesuatu yang harus dia lakukan bertepatan dengan pertemuan keluarga hari ini."
Gosse melirik ke arah kanan, memperhatikan bagaimana kini Versa berbicara dengan senyum yang masih menggantung di sudut bibir.
"Adikku itu, kadang kala tidak bisa dibantah," sambung Versa lagi. Membicarakan Valerie selalu membuat hatinya bahagia, dan dia tidak keberatan menjadikan sang adik sebagai objek yang dibahas bersama Gosse. "Tadinya aku khawatir karena dia akan menempuh tiga jam perjalanan menuju Muenchen. Tetapi karena dia pergi bersama Pedro, maka semuanya pasti akan baik-baik saja."
Gosse tampak mengangguk samar. Pikiran lelaki itu menerawang, bertanya-tanya dalam hati mengapa Valerie tidak sama sekali membalas pesan yang ia kirimkan beberapa puluh menit yang lalu.
Biasanya, Valerie akan membalas pesannya dengan amat cepat. Namun hari ini, perempuan itu tidak di sana sekaligus tidak membalas pesannya. Dan entah mengapa, itu cukup mengganggu Gosse.
"Pedro?" beo Gosse pelan. "Apakah dia adalah lelaki yang sering bersama Valerie? Lelaki dengan tato di kedua tangannya itu?"
Versaline kembali tersenyum.
"Itu benar," sahutnya cepat. "Pedro Viscout adalah sahabat dari adikku, yang mana keluarga kami juga sudah sangat dekat. Mereka tumbuh bersama-sama, bahkan Valerie pernah merengek untuk bersekolah di tempat yang sama dengan Pedro saat mereka di sekolah menengah."
Gosse memiringkan kepala. Tertarik dengan apa yang dikatakan Versa, lelaki itu juga menarik sudut bibirnya.
"Dia melakukan itu?"
Anggukan Versa terlihat amat anggun. Tidak perlu dipungkiri, sebab memang Versaline Genneth adalah representatif dari seorang lady.
"Dia melakukannya," jawab Versa senang. "Akhirnya, ayah kami memindahkan Valerie di tahun kedua dan itu membuatnya bersemangat pergi ke sekolah."
Diam-diam Gosse berpikir, bahwa ada banyak hal yang dia belum ketahui dari sosok Valerie. Menghabiskan hampir dua tahun mengenal perempuan itu, Gosse tahu sosok Valerie adalah sesosok gadis yang kuat dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
"Astaga, Valerie," gumam lelaki itu tidak sadar. "Adikmu itu benar-benar...."
Versaline tersenyum. Lagi-lagi menampilkan perilaku yang gemulai, perempuan itu bahkan menahan tawanya dengan amat baik.
"Maukah kita kembali ke dalam, Lord Armour?" ajak perempuan itu. "Matahari semakin bersinar terik di sini."
Gosse mengangguk cepat. Jika biasanya Valerie tidak mempermasalahkan terik mentari, maka Versaline mungkin berbeda.
"Baiklah, ayo," balas Gosse akhirnya. Berbalik badan sekaligus mengakhiri pembicaraan singkat mereka, lelaki itu mengikuti langkah kaki Versa yang telah berjalan lebih dulu.
Dari pertemuan ini, Gosse mau tidak mau sudah mampu mengambil seutas kesimpulan. Betapa Versaline dan Valerie adalah dua orang yang berbeda, yang juga terpisahkan dengan karakter yang amat berbanding terbalik.
***
Tidak memiliki waktu cukup lama untuk dihabiskan mengelilingi Muenchen, akhirnya Valerie dan Pedro kembali ke Heidelberg saat hari hampir menggelap.
Menghabiskan beberapa jam untuk mengelilingi Marienplatz dan alun-alun sekitarnya, akhirnya Pedro membawa Valerie mengunjungi beberapa wisata lain yang berlokasi tidak terlalu jauh dari sana.
Hingga tidak terasa langit Muenchen telah mulai menuju jingga berpendar.
Berulang kali Pedro menawarkan apakah sebaiknya mereka tinggal hingga besok pagi di Muenchen, tetapi Valerie memberikan penolakan sebab tidak ingin membuat ibunya kebingungan atas tidak pulangnya dia hari itu.
Valerie juga mengingatkan agar Pedro tidak lagi-lagi mencari masalah dengan Armando, dan sebaiknya lelaki itu membangun hubungan yang baik antara anggota tim dan kapten tim mereka.
"Suatu saat aku pasti akan kembali ke sini lagi," tutur Valerie ketika mereka kembali duduk berhadapan di kereta malam yang membawa mereka kembali. "Kalau saja aku bisa pindah di tahun depan, mungkin akan kulakukan."
Pedro memandangi sahabatnya itu lekat-lekat. Mencoba mengidentifikasi apa yang membuat Valerie begitu ingin pindah ke Muenchen, sebab dia tidak percaya alasan perempuan itu hanya karena keindahan yang mereka temui tadi. Pastilah ada alasan lebih besar yang mendorong Valerie untuk hidup jauh dari kota mereka.
"Kau yakin?" Pedro bertanya datar. "Apa kau yakin kau tidak akan menyesali keputusanmu jika kau pindah nanti?"
Valerie tersenyum. Hampir hambar, namun syukurnya dapat ditutupi dengan kekehan kecil yang menyamarkan kehambaran itu.
"Bukankah aku sudah memutuskan?" Ia malah balik bertanya. Merapatkan jaket yang kembali dikenakannya untuk menutupi tubuh, perempuan itu bersandar pada kursi. "Keindahan Muenchen telah menyihirku, dan sepertinya hidup di kota besar seperti itu akan memberi tantangan tersendiri. Bukan begitu menurutmu?"
Jika Valerie memilih untuk bersandar dengan santai, maka Pedro masih tampak duduk tegak dengan bahu kokoh yang tidak mengendur sama sekali. Kedua tangannya terlipat, menyilang dan otomatis memamerkan seni ukir kulit yang ia miliki.
"Kau benar," sahut lelaki itu menggerakkan kepala. "Hanya saja, ada begitu banyak hal yang harus kau persiapkan sebelum memutuskan untuk benar-benar pindah. Kau harus mencari tempat yang nyaman dan aman, dan memastikan kau bisa hidup dengan baik di tempat yang baru."
Kali ini Valerie yang menggerakkan kepala. Setuju dengan apa yang dikatakan Pedro.
"Akan kulakukan setelah aku siap," sahut Valerie kemudian. "Pernahkah kau berpikir, Pedro? Apa yang akan menunggu kita di depan sana nanti?"
Pedro mengambil jeda beberapa detik. Mencoba untuk berpikir, tapi suara Valerie sudah lebih dulu terdengar.
"Setelah pernikahan Versa nanti dan kepindahannya dari kediaman Genneth, apa yang kira-kira akan terjadi padaku?" sambung perempuan itu setengah bergumam. "Bukankah akan menjadi giliranku untuk menerima perjodohan?"
Pedro masih hening.
"Entah dengan keluarga yang mana yang kira-kira akan dijodohkan denganku nanti, apakah kau berpikir aku memiliki kesempatan untuk menolak?"
Valerie mengerjap samar. Hatinya dipenuhi kegundahan akan masa depan yang belum pasti, saat ia pun tidak dapat membayangkan bagaimana jika ia kelak dijodohkan dengan seseorang yang sama sekali dia tidak kenal.
"Kau bisa menolaknya," akhirnya Pedro bersuara. "Tetapi kurasa, kau harus memiliki alasan kuat mengapa kau menolak perjodohan itu. Bisa saja kau telah memiliki calon sendiri, atau mungkin kau memiliki hal yang membuatmu tidak bisa menikah untuk beberapa waktu."
Valerie mendengarkan jawaban sahabatnya dengan seksama. Mencoba menganalisis, hingga mendapati kesimpulan bahwa jawaban Pedro tadi memang ada benarnya.
"Tetapi kau kan tidak tahu akan dijodohkan dengan siapa," sambung lelaki itu. "Bisa saja ia adalah Lord yang amat terkenal, dan syukur-syukur juga memiliki kekayaan berlimpah dengan wajah yang tampan rupawan. Bukankah itu sebuah deal yang tidak buruk?"
Valerie tidak tahu harus membalas seperti apa. Rasanya tidak pernah dia memikirkan akan hidup dengan lelaki lain selain Gosse, saat lelaki itulah yang terasa amat 'suami-able'.
Tidak pernah Valerie membayangkan akan terbangun di ranjang bersama lelaki lain selain Gosse, dan entah mengapa memikirkan hal itu kini menyentil hatinya.
"Entahlah," lirih Valerie. "Tak pernah bisa aku bayangkan akan membangun rumah tangga bersama lelaki asing."
Pedro terkekeh. Bagaimana Valerie menampilkan ekspresi serius namun sekaligus sedih di wajahnya kini, membuat lelaki itu merasa amat terhibur.
"Hei, kau tidak perlu merasa tertekan seperti itu!" Pedro setengah berseru. "Astaga, Val! Wajahmu itu lihatlah!"
Valerie mengerutkan kening. Memonyongkan bibirnya, saat kali ini yang keluar dari sela bibir itu adalah gerutuan kesal.
"Kau akan merasakannya juga nanti, Pedro, lihat saja!" seru perempuan itu dengan manik memicing. "Apalagi kau tidak pernah berhasil dalam urusan wanita, hah! Aku yakin Lady Viscout hanya tinggal menunggu waktu sebelum menyodorkan daftar gadis yang bisa kau persunting menjadi istri."
Mendapati bahwa mereka memiliki nasib yang tidak jauh berbeda, kini Pedro hanya bisa tertawa lemah. Menertawakan dirinya sendiri, sekaligus menertawakan Valerie yang kini juga ikut tertawa bersamanya.
"Astaga, Mengapa kita berdua memiliki nasib buruk seperti ini, sih, Val?"
Valerie masih menggantung tawa. Mengganti ekspresi wajah yang tadinya serius, kini perempuan itu membiarkan suasana mencair dengan tawa yang memenuhi.
"Bisa jadi buruk," balas perempuan itu setuju. "Namun mungkin, bisa jadi amat baik ketika calon kita nanti adalah orang yang tepat, bukan begitu?"
'Setidaknya untuk Versa, perjodohan bukanlah sesuatu yang buruk,' sambung Valerie dalam hati.
Andai saja dia yang ... ah, sudahlah.
"Semoga kita dipertemukan dengan orang yang tepat, Viscout," ucap Valerie akhirnya. Menyudahi pembicaraan mengenai masa depan yang belum dapat tertebak itu, Valerie kini bangkit untuk mengambil posisi persis di sebelah Pedro.
"Pinjam bahumu lagi," sambungnya. Duduk persis di sebelah Pedro, perempuan itu menguap dua kali. "Kakiku sakit, dan sepertinya AC kereta ini menambah keinginan untuk terlelap."
Pedro tidak perlu waktu lama untuk menggeser posisi. Merapat ke dinding kereta api untuk memberi Valerie cukup ruang, ia lagi-lagi memelorotkan bahu agar cukup untuk menjadi sandaran nyaman untuk sahabatnya.
"Tidurlah," bisik lelaki itu. Menyambut kepala Valerie yang mulai tersandar, Pedro memastikan sahabatnya akan dapat terlelap selama sisa dua jam lebih perjalanan yang akan mereka tempuh. "Kubangunkan kau setelah kita sampai."
Menaikkan kedua kakinya ke atas bangku, Valerie mengangguk samar. Menutup kelopak mata, perempuan itu membiarkan dirinya mulai tenggelam dalam ketidaksadaran.
Sempat bergumam kecil sebelum benar-benar terlelap, Valerie membuat Pedro kehilangan kata-kata.
"Perempuan yang nanti kau nikahi pastilah perempuan beruntung, Pedro," bisik Valerie dengan manik tertutup. "Sebab kau pasti ... akan membuatnya bahagia."
~Bersambung