"Sudah fix, no debat. Muenchen berhasil mencuri hatiku karena bangunan estetika ini, dan aku pastinya akan kembali suatu saat nanti." ~Valerie Genneth.
***
Pedro tentunya tahu ke mana dia membawa Valerie.
Sahabatnya itu begitu mengagumi keindahan bangunan-bangunan kuno, dengan sejarah yang membalut seni estetika dan histori yang tak pernah mati.
Dan tentu saja untuk Munchen, Marienplatz-lah tempatnya. Merupakan alun-alun yang telah berdiri sejak tahun 1158, Marienplatz sering disebut juga dengan nama lain Saint Marie Square.
Tidak hanya menyajikan bangunan kuno yang memanjakan mata yang sarat akan sejarah, tetapi tempat ini juga merupakan salah satu objek wisata yang paling mudah dicapai oleh para wisatawan.
Terletak persis di tengah-tengah kota Muenchen, Marienplatz tidak pernah sepi pengunjung. Ditambah lagi, adanya pasar tradisional yang kerap kali menjajakan barang-barang seperti souvenir khas Muenchen, menjadikan tempat wisata ini sebagai tempat yang wajib sekali dikunjungi ketika kita menginjakkan kaki di sini.
"Astaga...." Valerie bahkan tidak tahu bagaimana untuk mendeskripsikan keindahan yang terpampang nyata di hadapannya, diam-diam memuji betapa pilihan Pedro tidak pernah salah. Lelaki itu tahu apa yang harus dia lakukan, dan tentu saja tempat ini berhasil membuat Valerie bahkan tidak ingin mengedipkan mata.
"Welcome to Munchen," ujar Pedro dengan senyum merekah. "Ini adalah Marienplatz, yang akan menjadi titik utama dalam perjalanan kita yang singkat ini."
Valerie melirik sang sahabat yang tampak masih tersenyum, saat ia pun menyunggingkan senyuman yang hampir selebar wajah.
"Bersamamu tidak pernah fail, Ped," puji perempuan itu sumringah. "Aku sungguh tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa, ketika kau yang menjadi tour guide-ku. Benar, kan?"
Pedro tentu saja boleh berbangga diri. Bukan kemarin sore ia mengenal Valerie, tetapi sudah menghabiskan bertahun-tahun untuk mengetahui apa sebenarnya yang disukai perempuan itu. Kecondongan Valerie, kesukaan Valerie, dan apa yang mungkin saja Valerie benci, setidaknya sudah terpetakan di pikiran Pedro.
"Tentu saja!" sahut Pedro bangga. "Kau tidak akan menyesali perjalanan ini, Val. Justru jika kau menolak ajakanku, kau akan menyesalinya seumur hidup."
Valerie menganggukkan kepala. Tidak hanya mereka yang berada di Marienplatz siang ini, tetapi alun-alun itu juga telah dipenuhi oleh para wisatawan.
"Kita akan masuk ke dalam?" tanya Valerie tidak sabar. Maniknya melebar, menandakan bahwa ia sedang diliputi semangat yang luar biasa.
"Tentu saja, ayo!" Tidak ingin membuang waktu, Pedro tahu tidak banyak waktu yang tersisa untuk keduanya mengeksplor Muenchen yang luas ini.
Berjalan bersisian, kedua sahabat itu menyeberangi jalan untuk berbaur dengan orang-orang yang tampak sibuk dengan kamera mereka. Mengabadikan potret gedung kuno Marienplatz yang luar biasa cantiknya, dan tentu saja Valerie tidak ingin melewatkan momen itu.
"Ambilkan fotoku!" pinta Valerie seraya merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah gawai tipis berwarna hitam legam. "Yang bagus ya, jangan sampai blur!"
Pedro tentunya tidak menolak. Mengulurkan tangan untuk menerima ponsel sahabatnya, lelaki itu dengan gampang membuka lock layar.
"Berdirilah di sana!" Tunjuk sang lelaki bertato pada salah satu spot yang dirasa cukup baik. "Berdiri yang tegak dan tersenyum yang lebar!"
Valerie berlari kecil untuk memosisikan dirinya di tempat yang ditunjuk oleh Pedro, lantas menaikkan kedua tangannya ke udara untuk membentuk pose bahagia. Seakan dia ingin merangkul keindahan Marienplatz di tangannya, perempuan itu tersenyum amat lebar.
Pedro sendiri juga telah siap untuk mengabadikan potret Valerie, berupaya untuk mengambil gambar terbaik.
"Oke satu ... dua ... tiga!"
Jempol Pedro baru saja hendak menekan tombol bulat yang ada di layar, saat kini satu pop up pesan tiba-tiba saja masuk ke ponsel Valerie.
Tidak sengaja membaca nama yang tertera sebagai pengirim, Pedro juga menangkap beberapa kata yang menjadi isi pesan tersebut.
'Gosse: Mengapa kau tidak di sini, Val? Jangan katakan kau menghindariku...'
Kening lelaki itu refleks berkerut, saat kini ia berupaya untuk berpikir tentang apa yang mungkin terjadi.
"Pedro, sudah belum?!"
Namun suara Valerie dari depan sana membuyarkan lamunan lelaki itu, membuatnya lantas menyingkirkan pikiran-pikiran yang sempat menguasai benak.
Bagaimanapun, tentulah Valerie memiliki privasi yang mungkin tidak dibagi perempuan itu dengannya. Namun satu hal yang pasti, Pedro sungguh tidak menduga hubungan antara Valerie dan Gosse ternyata sedekat ini.
Mengalihkan perhatian pada potret Valerie yang kini terpampang di layar, Pedro maju beberapa langkah untuk menghampiri sahabatnya itu.
Berhenti persis di depan Valerie, Pedro menampilkan ekspresi wajah datar saat dia berbisik samar. "Kau benar baik-baik saja, Val?"
Mendongak untuk membalas tatapan Pedro yang terarah lurus padanya, Valerie sempat kebingungan untuk mengidentifikasi kira-kira hal mengenai apa yang membuat Pedro bertanya seperti itu.
"Aku baik-baik saja," balas Valerie terbata. "Ada apa?"
Pedro mengambil jeda beberapa detik, saat deru napasnya pun tampak naik turun dengan teratur. Iris hitamnya mencoba mencari kejujuran dari iris kehijauan milik Valerie, namun lagi-lagi lelaki itu tidak menemukan apa-apa sebab Valerie memang sungguh baik dalam hal menyembunyikan sesuatu dari orang lain.
"Tidak ada," kilah Pedro akhirnya. Belum memberikan ponsel milik Valerie, lelaki itu masih memegangi gawai di tangan.
"Nah, sebelah sana lagi." Tunjuknya pada bagian lain sekarang. "Kuambil fotomu lagi, oke?"
"Oke! Yang bagus, ya! Awas kalau kau mengambilnya asal-asalan!" Valerie telah berpindah posisi, mencoba mencari tempat terbaik lainnya untuk potret yang kelak ingin dia upload di feed Instagramnya.
Persis ketika tubuh Valerie berbalik badan, entah apa yang merasuki Pedro, namun kini jemarinya bergerak cepat untuk menghapus pesan dari Gosse itu.
Entah apa yang mendorong sang lelaki bertato melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan, hanya saja ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara logika.
Menghapus pesan itu tanpa jejak sama sekali, Pedro diam-diam berpikir mungkin sebaiknya Valerie dan Gosse tidak memiliki hubungan selain adik ipar dan abang ipar nantinya.
Terutama, dia tidak ingin pesan dari Gosse mengganggu Valerie hari ini.
***
"Kau benar-benar tidak akan membuat akun i********:?"
Valerie bertanya, dengan tangan yang sibuk memotong steak domba di atas sebuah piring datar berwarna putih cerah.
"Bukankah kau memiliki popularitas yang cukup baik?" sambungnya lagi. "Kuyakin followers-mu pasti lebih dari dua ribu orang nanti. Zaman sekarang, siapa sih, yang tidak punya akun i********:?"
"Aku," sahut Pedro enteng. Lelaki itu baru saja mengarahkan sepotong daging ke dalam mulut, lantas membiarkan sausnya melumer di dalam sana. Menikmati cita rasa yang menurutnya sungguh lezat, Pedro bersuara memuji. "Daging ini luar biasa enaknya, Val!"
Valerie manggut-manggut. Setuju dengan apa yang dikatakan sahabatnya, ia harus mengakui betapa steak domba di hadapannya sungguh menggugah selera. Setelah mengelilingi Marienplatz dan berjalan di pasar tradisional yang berada persis di belakang gedung, kini keduanya sedang menikmati makan siang mereka yang cukup terlambat.
"Aku tahu kau tidak tertarik untuk membuat akun i********:," balas Valerie. "Hanya saja, jadinya kan aku tidak bisa menandai akunmu di feed-ku."
Pedro hanya menganggap perkataan Valerie itu angin lalu. Tidak begitu menaruh perhatian, sebab dia memang tidak pernah berpikir untuk eksis di media sosial. Berbanding terbalik dengan Valerie yang amat tipikal perempuan muda zaman now, yang cukup rajin mengirim postingan dan story di i********: itu sendiri.
"Aku sudah cukup pusing dengan Armando dan tim basketku yang ntah apa-apa itu," gerutu Pedro jujur. "Tidak ada waktu untuk mengambil selfie dan mempostingnya di i********:, Val."
Valerie terkekeh kini. Sahabatnya itu memang tipikal yang tidak ingin repot, terlebih untuk urusan-urusan tidak penting seperti siapa saja yang memberi like di unggahanmu, atau berapa banyak yang melihat story Instagrammu. Dan diam-diam, Valerie memuji betapa Pedro menyimpan dengan amat baik kehidupan pribadinya.
Jika saja mereka tidak tumbuh besar bersama-sama, maka dapat Valerie pastikan dia tidak akan mengenal Pedro sebaik ini.
"Ya, ya, baiklah," sahut Valerie akhirnya. Menghabiskan steak domba hingga kini hanya menyisakan sedikit saus di piring, Valerie meletakkan garpu dan pisau di tempatnya. Meraih ponsel, ia membuka ulang galeri yang menampilkan foto-foto di Marienplatz tadi.
"Bagaimana menurutmu Muenchen?" Pedro juga tampak selesai dengan makan siangnya, kini meraih potongan kentang dengan saus salad. "Apa kau menyukai kota ini?"
Jemari Valerie berhenti tepat di salah satu foto selfie yang menampilkan potret dirinya dan Pedro. Berlatar gedung kuno yang luar biasa indah untuknya, perempuan itu tersenyum.
"Aku tidak bisa membayangkan lebih daripada ini," ungkapnya jujur. "Kurasa aku harus berterima kasih padamu, karena kau dengan keras kepala memaksaku untuk ikut hari ini. Apakah kau sudah lebih dulu jatuh cinta pada Muenchen, Pedro?"
Lelaki bertato itu memajukan tangan untuk meraih gelas minumannya. Mengangguk tanpa ragu, tentu saja itu benar.
"Sama sepertimu, aku jatuh cinta pada Muenchen saat pertama kali aku menginjakkan kaki ke sini beberapa tahun silam," ujarnya. "Keluarga kami memiliki jamuan yang harus dihadiri. Namun tahu sendiri, aku diam-diam menyelinap dan melarikan diri untuk mengeksplor kota."
Valerie tidak perlu heran lagi. Karena memang seperti itulah tipikal sahabatnya.
"Sudah kuduga," ejek perempuan itu sekarang. Jemarinya bergerak cepat untuk mengunggah potret dirinya dan Pedro itu ke laman i********:, lantas membubuhi caption yang cukup singkat namun berarti.
'With my best friend forever (emot hati)'
Meletakkan gawai itu di atas meja, Valerie ikut menyeruput minumannya.
"Muenchen adalah tempat yang amat indah," tuturnya kini. "Meski kesan pertamaku tidak baik karena harus berurusan dengan pencopet ulung tadi, tetapi aku tahu ada banyak hal-hal indah yang menungguku di sini. Seperti Marienplatz misalnya, yang begitu saja membuatku jatuh cinta. Kau merasa tidak, Ped? Cuaca dan angin di sini terasa lebih segar daripada di Heidelberg."
"Sudah pasti," Pedro setuju. "Kau belum melihat keseluruhan kota ini, namun sudah terkesima dengan apa yang mereka miliki. Jika saja kita punya waktu cukup lama, akan kuajak kau berjalan-jalan dan menikmati wisata yang lain."
"Apa stadion sepak bola itu jauh dari sini?" tany Valerie tiba-tiba. "Bayern Muenchen?"
"Cukup jauh." Pedro menautkan kedua tangan di atas meja. "Perlu beberapa jam ke sana. Ngomong-ngomong, kau tahu sepak bola? Kupikir kau hanya tahu panahan saja."
"Enak saja!" Valerie menggerutu. "Ayahku selalu berada di depan televisi setiap kali tim itu bermain. Lagi pula, meski tidak ikut berada di ruang nonton, teriakan ayahku terlalu keras, kau tahu? Dan tak jarang, memekakkan telinga."
Dapat Pedro bayangkan bagaimana kira-kira Lord Genneth saat bersorak sorai menonton pertandingan sepak bola. Tentulah tak jauh beda dengan laki-laki paruh baya lainnya, yang terlalu bersemangat dengan energi berlebihan.
"Akan kubawa kau suatu saat nanti," Pedro berujar. "Nanti, ketika kita punya cukup waktu untuk kembali."
Valerie tampak menerawang samar. Tidak bisa dipungkiri bahwa kini pikirannya melayang menuju rumah, bertanya-tanya bagaimana kira-kira pertemuan antara keluarganya dan keluarga Gosse berlangsung.
Apakah Gosse menyukai Versa? Atau apakah, Versa telah terbius oleh ketampanan dan baik hatinya Gosse?
Tidak ingin mengakui, tetapi ada denyutan yang begitu saja terasa di hati Valerie. Dia tidak ingin bermuram durja, dia tidak ingin kembali tenggelam dalam kesedihan. Rasanya tidak cukup sekali dua kali ia mengucapkan terima kasih pada Pedro, sahabatnya yang telah bersedia berada di sisinya bahkan di saat-saat tersedih seperti ini.
"Aku telah memutuskan, Ped," ucap Valerie setelah jeda beberapa menit. Membuat Pedro kembali menaikkan kepala untuk menatap perempuan itu.
"Memutuskan apa?" Pedro penasaran.
Valerie tampak mengangguk yakin, menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Aku akan hidup di Muenchen," katanya. "Kelak setelah kuliah kita berakhir, aku akan menetap di sini."
Setidaknya dia memiliki alasan bagus untuk mencoba pengalaman baru, terlebih seorang Valerie tidak ingin Heidelberg mempertemukan dia dan Gosse lagi.
~Bersambung