07. Haruskah Bertahan?

1591 Kata
Pagi ini Aletha sudah selesai mandi dengan dibantu Maureen. Benar. Dia mandi dengan ‘dibantu’ Maureen, dan itu karena Kafka! Karena pria itu, Aletha jadi tidak bisa bergerak dengan leluasa. Pria itu yang membuat tubuhnya nyeri luar biasa, terutama di pusat tubuhnya. Bahkan untuk mandi saja dia butuh bantuan. “Bibi Maureen…” Aletha sudah selesai mandi dan sudah berpakaian rapi berkat bantuan Maureen lagi tentunya. Saat ini dia sedang bersantai di atas ranjang sambil menonton acara TV kesukaannya. “Ya, Non?” “Bisa tolong belikan aku sesuatu?” cicit Aletha takut-takut. Sejujurnya, dia tidak pernah berinteraksi dengan para pelayan di sini selain Mira. Orang mungkin berpikir dia sombong, namun nyatanya dia hanya terlalu malu untuk memulai pembicaraan dengan orang baru. “Bisa, Non. Memangnya Non Aletha mau dibelikan apa?” tanya Maureen penuh perhatian. Aletha terlihat semakin gelisah di tempatnya. Tangannya sibuk memilin ujung bajunya dan matanya berkelana ke seluruh penjuru ruangan—berusaha menghindari tatapan Maureen. “Belikan aku… pil pencegah kehamilan,” bisiknya sepelan mungkin. Kini Aletha sudah menundukkan kepalanya dalam. Dia malu karena harus minta dibelikan obat semacam itu pada orang yang tidak dikenalnya dekat. Bahkan saking malunya, untuk melihat wajah Maureen saja dia tidak sanggup. Maureen agak terkejut, namun dia berusaha menormalkan kembali ekspresi wajahnya. Sebagai kepala pelayan, dia dituntut untuk profesional. “Maaf Non, tapi apa Tuan Kafka sudah tahu mengenai hal ini? Obat semacam itu harus atas persetujuan kedua belah pihak, kan?” tanya Maureen hati-hati. “Kenapa dia harus tahu?” balas Aletha tidak suka. Nama itu sukses membuat suasana hatinya buruk seketika. “Tuan Kafka kan suaminya Non Aletha. Jadi Non Aletha harus dapat izin dari Tuan Kafka dulu sebelum mengonsumsi obat semacam itu.” Maureen berusaha menasihati Aletha yang mungkin awam mengenai hal-hal semacam ini. Usia majikannya masih 22 tahun, masih sangat muda untuk mengerti hal-hal tabu semacam ini. Apalagi Aletha tumbuh tanpa sosok ibu, jadi sudah sepantasnya Maureen memberikan nasihat terbaik untuk majikannya. Dia hanya tidak ingin majikannya mengambil langkah yang salah. “Jadi Bibi nggak mau beliin aku obat itu?” “Bukannya nggak mau, Non. Cuma—” “Ya udah! Nanti biar aku beli sendiri. Bibi keluar aja!” Aletha membaringkan tubuhnya dan langsung membelakangi Maureen yang tampak bingung di tempatnya. Aletha jadi merindukan pelayan pribadinya—Mira. Gadis itu selalu melakukan apapun yang diperintahkannya tanpa banyak bertanya, berbeda dengan Maureen yang apa-apa harus bertanya pada Kafka dulu. Padahal ini kan rumah kakeknya, yang otomatis akan menjadi rumah Aletha juga. Rumah ini bukan milik Kafka! Tapi kenapa pelayan di rumah ini menganggap seolah Kafka adalah tuan rumahnya?! *** Kafka baru saja sampai di rumah setelah melakukan serangkaian pekerjaan melelahkan di kantor. Urusan di kantor benar-benar menguras pikirannya. Razman Adhitama, anak pertama dari adik Arnold Adhitama kembali membuat masalah. Tidak cukup dengan menggelapkan uang perusahaan, pria berusia 40-an itu juga mulai menyabotase proyek perusahaan demi keuntungan pribadi. Kafka harus mulai memikirkan cara untuk menyingkirkan orang itu dari perusahaan. Orang seperti itu tidak pantas berada di perusahaan. Keberadaannya hanya akan membuat perusahaan hancur. “Kembalikan Mira ke rumah ini!” Kafka baru saja memasuki kamar. Namun dia sudah disambut dengan teriakan istrinya. “Jangan buat gara-gara, Aletha. Sekarang aku lagi nggak mau berdebat sama kamu.” Kafka mengabaikan delikan tajam istrinya, dan berjalan santai menuju walk in closet di kamarnya. Dia melepas kemejanya dan melemparnya asal, lalu kembali ke kamar dengan tubuh telanjang. Dia baru akan berjalan ke arah kamar mandi namun langkahnya terhenti karena bentakan istrinya yang cukup memekakkan telinga. “Kamu pikir, kamu siapa? Mas Kafka itu cuma cucu angkat yang nggak punya hak apa-apa! Mas Kafka juga nggak berhak memecat pelayan pribadiku!” Kata-kata itu cukup menyentil ego Kafka hingga membuat pria itu menoleh ke arah istrinya yang masih duduk di atas ranjang. “Cucu angkat kamu bilang?” Perlahan, pria itu berjalan mendekati ranjang. Matanya menatap gadis itu tajam, hingga membuat Aletha tanpa sadar mundur hingga punggungnya menyentuh kepala ranjang. “Kamu menyebut aku cucu angkat, lalu kamu sendiri apa?” ujar Kafka sambil menatap gadis itu tajam. “A-apa maksudnya?” “Lagi-lagi gadis itu berpura-pura bodoh,” batin Kafka kesal. Aletha selalu bersikap seolah dia ini cucu kandung Arnold. Padahal nyatanya, gadis itu tidak ada bedanya dengan Kafka. Mereka sama-sama cucu angkat. Namun gadis itu berlagak seolah dia memiliki darah Adhitama, dan itu membuat Kafka muak. “Aku anggap aku nggak pernah mendengar kalimat menggelikan itu, dan jangan coba-coba mengatakan hal semacam ini lagi, atau kamu akan merasakan penderitaan seperti yang kamu rasakan semalam. Apa rasa sakit yang aku timbulkan semalam masih belum cukup?” Tanpa sadar, Aletha menyentuh kerah piyamanya dan menggenggamnya erat-erat. Wajahnya mulai memucat. Wajah pucat Aletha membuat bibir Kafka tertarik membentuk senyum miring. Lagi-lagi dia merasa terhibur dengan wajah ketakutan itu. “Kalau kamu masih mau hidup nyaman di rumah ini, perhatikan tingkah lakumu. Jangan sekali-sekali membuatku marah, karena aku ini bukan orang yang sabar,” ucapnya lagi sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi. “Dasar berengsek,” desis Aletha menahan marah. Air mata mulai turun membasahi pipinya. Kakeknya menyuruh Kafka menikahinya bukan agar pria itu bisa memperlakukannya dengan cara yang tidak pantas seperti ini. Kakeknya menaruh harapan besar pada pernikahan ini. Kakeknya berharap Kafka bisa menjadi sosok yang bisa melindungi Aletha. Namun, kenyataannya justru berbeda. Kafka—pria yang seharusnya melindunginya—justru memperlakukannya dengan cara yang jauh dari harapan. Kini, Aletha mulai ragu dengan keberlanjutan pernikahannya dengan Kafka. Jika Kafka terus memperlakukannya seperti ini, masih adakah alasan bagi Aletha untuk bertahan? *** Hari sudah larut, namun bukannya tidur, Kafka justru berkutat dengan tumpukan pekerjaan di ruang kerjanya. Dia juga terpaksa menghubungi Irene untuk datang ke rumahnya demi menyelesaikan pekerjaan urgent ini. “Maaf, kamu jadi harus ke sini malam-malam begini,” ujar Kafka tidak enak. “Nggak apa-apa, asal jangan lupa bayaran lemburku,” canda Irene. Kafka tersenyum kecil. “Kamu nggak perlu khawatir soal itu. Bulan ini kamu bakal kaget begitu lihat isi rekening.” Kafka menimpali ucapan Irene dengan candaan. Keduanya saling tersenyum, menikmati momen kecil yang penuh kehangatan. Selera humor yang ‘sefrekuensi’ menjadi alasan persahabatan keduanya bertahan lama. Bahkan, hubungan itu sempat berkembang menjadi sesuatu yang lebih—meski pada akhirnya harus kandas di tengah jalan. “Jadi ini soal Razman Adhitama?” Irene sudah kembali ke mode serius. Hal yang disukai Kafka dari Irene adalah gadis itu pandai menempatkan diri. Jika sedang di suasana santai, gadis itu akan melempar candaan yang menyenangkan, namun jika sudah menyangkut pekerjaan, Irene akan berubah menjadi sosok yang serius. “Ya, ini soal Razman.” Kafka menjawab dengan nada serius seraya memijit pelipisnya yang mulai terasa pening. “Dia memanfaatkan proyek pengembangan perumahan baru untuk keuntungan pribadi. Aku baru dapat laporan rinciannya tadi sore,” ucapnya sambil mengeluarkan laporan yang didapatkannya tadi sore. Irene mengernyit. “Proyek pengembangan yang mana? Bukannya proyek besar seperti ini selalu diawasi tim manajemen risiko?” Kafka menghela napas panjang. “Proyek perumahan di Green Vista. Anggarannya dimanipulasi, terutama pada pembelian lahan dan material. Dia sengaja menggelembungkan harga pembelian tanah dan menggandeng supplier fiktif untuk mengambil keuntungan pribadi. Jumlahnya sudah sangat signifikan.” “Gimana bisa hal janggal semacam ini nggak terdeteksi sejak awal?” tanya Irene, sambil mulai memeriksa dokumen yang ada di meja. “Dia tahu celahnya. Razman mengandalkan koneksi lama dan bermain di wilayah administrasi lapangan, di mana pengawasan kurang ketat. Laporan proyek terlihat bersih, tapi beberapa pengembang lokal mulai mengeluhkan keterlambatan pembayarann—itu yang membuatku curiga.” Irene mengetuk-ngetuk pulpen ke meja, kebiasaan kecilnya saat berpikir. “Jadi, apa langkah selanjutnya?” Kafka menatap Irene. “Aku sudah meminta tim audit khusus untuk menyisir transaksi dari awal. Tapi untuk menindaklanjuti hal ini ke jalur hukum, aku butuh bukti yang lebih kuat. Kita harus bisa membuktikan keterlibatan langsung Razman, dan siapa saja yang membantunya.” Irene mengangguk pelan. “Kalau begitu, aku akan mulai dari kontrak dan catatan pembayarann proyek. Kalau aku menemukan sesuatu yang aneh, aku akan langsung memberitahu kamu.” Kafka tersenyum, merasa senang dengan Irene yang bisa berpikir cepat. Gadis itu punya inisiatif tinggi tanpa perlu disuruh. “Makasih, Ren. Kamu memang selalu bisa diandalkan,” puji Kafka. “Cukup naikkan gajiku saja.” Irene melempar tatapan menggoda, yang dibalas Kafka dengan tawa menggema. Mereka saling tertawa, sampai pintu ruang kerja Kafka terbuka dan menampilkan sosok gadis yang membuat tawa mereka berhenti seketika. “Maaf, aku kira Mas Kafka lagi sendirian.” Itu Aletha, gadis itu berdiri di ambang pintu dengan gaun tidur serba panjang, dengan kerah berendanya. Tampilannya sudah seperti tuan putri di cerita dongeng. Saat awal menikah, Kafka merasa cukup terganggu dengan gaun kuno itu. Gaun itu membuatnya sakit mata! Namun sekarang dia sudah mulai terbiasa. “Ada apa?” tanya Kafka dengan nada dingin. Ada perasaan kecewa di sudut hati Aletha. Beberapa detik yang lalu, Kafka bisa tertawa dengan begitu lepasnya bersama wanita itu, namun begitu berbicara dengannya, pria itu sudah kembali memasang wajah dingin. “Aku... masih mau melanjutkan obrolan soal Mira.” Aletha memberanikan diri menyampaikan niatnya datang kemari. Tatapan Kafka semakin tajam mengarah kepadanya. “Aku nggak punya waktu untuk itu, Aletha. Sekarang aku punya hal yang lebih penting untuk diselesaikan.” “Tapi—” “Keluar. Kembali ke kamarmu, dan jangan ganggu aku dulu.” Aletha tidak pernah merasa sekecewa ini. Suaminya memperlakukan dirinya dengan begitu dingin di depan wanita yang sepertinya adalah sekretarisnya. Harga dirinya terluka. Aletha memejamkan matanya sejenak, merasakan dadanya yang semakin sesak. Ia sedih, kecewa, dan merasa terbuang, terlebih saat mendapati sosok di samping Kafka tersenyum miring seolah sedang menertawakan ketidakberdayaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN