Aletha tahu siapa gadis yang saat ini berada di ruang kerja suaminya. Gadis itu adalah Irene, sekretaris suaminya. Meski Irene adalah bawahan Kafka, namun Aletha merasa hubungan keduanya cukup dekat karena dulu Kafka lumayan sering membawa Irene ke rumah ini untuk membahas pekerjaan bersama kakeknya.
Aletha juga menyadari cara bicara Kafka kepada Irene yang terdengar lebih santai, tidak seperti hubungan atasan dan bawahan pada umumnya.
Mungkin mereka berteman.
Setidaknya, itulah yang dulu dipikirkan Aletha. Namun, kejadian demi kejadian membuatnya mulai meragukan pikirannya sendiri.
Akhir-akhir ini, Irene semakin sering datang ke rumahnya. Dalihnya karena ingin membahas pekerjaan, tapi apa perlu datang hampir setiap hari, bahkan sampai larut malam? Orang yang melihat pasti menganggap hal ini tidak wajar.
Namun di rumah ini, sepertinya hanya Aletha yang menganggap hal ini tidak wajar. Anehnya, para pelayan di sini seolah mewajarkan tindakan mereka. Para pelayan di rumah ini bahkan terkesan memihak Irene.
“Apa Mbak Irene datang lagi?” Aletha bertanya pada pelayan yang saat ini sedang membersihkan kamarnya.
“Ya, Non.”
Aletha menghela napas kasar sambil memasang wajah tidak suka. “Dimana dia sekarang? Sedang berduaan di ruang kerja suamiku lagi?” ujar Aletha mulai kesal.
Dia sudah cukup bersabar membiarkan perempuan itu keluar masuk rumahnya hampir seminggu ini, dia juga sudah membiarkan perempuan itu bebas keluar masuk ke tempat pribadi Kafka yang bahkan dirinya yang sebagai istri saja jarang memasukinya. Aletha juga mulai jengah melihat tingkah Irene yang bertingkah seolah ini rumahnya.
“Mbak Irene lagi makan siang sama Tuan Kafka,” jawab pelayan itu.
“Makan siang?” Wajah Aletha semakin berang. Kenapa perempuan itu bisa makan seenaknya bersama suaminya sedangkan Aletha yang jelas-jelas pemilik rumah justru tidak diberi tahu kalau sudah waktunya makan siang. Semua ini membuatnya muak!
Sikap para pelayan di sini juga aneh dan membuatnya semakin kesal. Entah hanya perasaan Aletha saja, atau memang para pelayan di sini bersekongkol mendukung hubungan ‘aneh’ di antara Kafka dengan sekretarisnya?
***
“Kenapa Mas Kafka nggak bilang kalau sekarang sudah waktunya makan siang?” Aletha yang baru saja turun dari lantai atas langsung menodong suaminya yang saat ini sedang asyik makan ‘berdua’ bersama sekretarisnya.
“Kamu bukan anak kecil yang harus diberi tahu kapan waktunya makan siang,” balas pria itu dingin.
Aletha mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha keras menahan rasa kesal yang bercokol di dadanya, terlebih saat perempuan yang duduk di samping Kafka tersenyum miring ‘lagi’, seolah sengaja menertawakan ketidakberdayaannya.
“Kenapa cuma berdiri di situ? Nggak makan?” Kafka kembali menoleh ke arah Aletha yang masih tidak bergerak dari posisinya.
Aletha menatap dingin Kafka dan Irene secara bergantian. Melihat dua orang yang tak tahu malu itu benar-benar membuatnya hilang selera. “Silakan nikmati makanannya. Melihat kalian makan dengan lahapnya di ‘rumah orang’, membuat selera makanku hilang.”
Kafka menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong daging dan beralih menatap Aletha dengan sorot mata dingin.
“Kalau begitu aku permisi dulu, silakan habiskan makanannya. Saya sebagai ‘tuan rumah’ tentu senang kalau ‘tamu’ saya makan dengan lahap.”
Setelah melemparkan kalimat sindiran itu, Aletha pun berjalan kembali menuju kamarnya. Dia tidak sudi berlama-lama berhadapan dengan dua orang tidak malu itu.
“Dia masih angkuh seperti dulu,” komentar Irene sambil tersenyum miring.
“Aku masih heran gimana bisa kamu mutusin aku demi perempuan angkuh yang nggak bisa apa-apa itu,” ujar Irene sambil menatap dalam Kafka.
Namun yang ditatap justru memusatkan perhatiannya pada sosok gadis yang baru saja meninggalkan ruang makan. Senyum di wajah Irene hilang, digantikan wajah kesal.
Kenapa Kafka terus memperhatikan Aletha bahkan saat gadis itu sudah hilang dari pandangannya?
Pria itu memundurkan kursinya lalu berdiri dari duduknya. “Mau kemana?” Irene menahan lengan Kafka yang sudah berniat mengejar Aletha.
“Menemui Aletha. ‘Kucing liar’ itu perlu diberi pelajaran.”
Akhir-akhir ini, sebutan ‘kucing liar’ memang sering Kafka sematkan pada Althea, terutama ketika gadis itu sedang sulit diatur, contohnya seperti sekarang ini.
“Terus aku gimana? Masa aku harus makan sendirian?” rengek Irene.
“Bi!”
Pelayan yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka mulai berlari mendekat dengan wajah panik. “Ya, Tuan?”
“Temani Irene makan, ada sesuatu yang perlu saya urus.” Setelah mengatakan hal itu, Kafka langsung melepas paksa tangan Irene dari lengannya dan bergegas menyusul Aletha ke kamarnya.
Irene menatap kepergian Kafka dengan wajah kesal. Lagi-lagi gadis itu kembali merebut Kafka darinya.
“Mbak Irene yang sabar, ya…”
Irene menoleh ke arah pelayan di sampingnya dengan raut wajah bingung. Wajah kesalnya tadi langsung diubahnya menjadi wajah penuh senyum. “Sabar kenapa, Bi?” tanyanya dengan seramah mungkin.
Di rumah ini dia harus menjaga image ‘anak baik’-nya, dia mau semua orang di rumah ini memihaknya, termasuk para pelayan di sini.
“Pasti sakit banget ngeliat laki-laki yang seharusnya jadi milik Mbak Irene tapi justru direbut sama perempuan lain.”
Diam-diam Irene memasang senyum kemenangan. Akhirnya, misinya untuk menarik simpati para pelayan di sini dengan cerita sedihnya membuahkan hasil. Usahanya untuk membuat citra Aletha menjadi buruk akhirnya berhasil juga.
“Beginilah cara dunia bekerja, Bi. Dunia memang cuma berpihak ke orang-orang kaya yang punya kuasa. Saya yang harus memperjuangkan semuanya sendiri nggak akan pernah bisa menang melawan mereka,” ujar Irene sambil memasang wajah sedih.
“Iya, saya juga ngerasain kok, Mbak. Pacar saya juga pernah mutusin saya gara-gara kepincut cewek yang lebih kaya dari saya. Dari situ saya benci banget sama anak-anak orang kaya yang suka ngambil punya orang seenaknya.” Pelayan itu menanggapi ucapan Irene dengan berapi-api.
“Tapi Mbak Irene tenang aja. Saya sama para pelayan di sini bakal jadi pendukung Mbak Irene kok. Nggak selamanya dunia milik ‘si kaya’, orang miskin kayak kita juga berhak bahagia!”
Irene kembali tersenyum miring. Mempengaruhi orang miskin yang minim ilmu memang sangat mudah. Tidak perlu memikirkan strategi yang rumit, cukup berikan cerita yang ‘relate’ maka mereka akan mendukung kita dengan sendirinya.
“Makasih ya, Bi.”
Perlahan, senyum puas Irene berubah menjadi senyum penuh ambisi. Aletha mungkin berhasil menjadikan Kafka suaminya, tapi Irene akan memastikan gadis itu hanya mendapatkan status 'istri Kafka', sementara hati pria itu akan tetap menjadi miliknya.
Kali ini, Irene tidak akan membiarkan gadis itu ‘kembali’ merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya. Irene pastikan kali ini bukan dirinya yang akan hancur, melainkan gadis itu.
***
Kafka bergegas naik ke lantai atas. Tanpa berlama-lama, pria itu langsung membuka pintu kamarnya dengan kasar, membuat Aletha yang sedang berada di dalam kamar berjingkat kaget.
Aletha yang mendapati Kafka menatapnya dengan sorot mata marah, langsung memasang sikap waspada.
“Coba ulangi apa yang kamu bilang di meja makan tadi,” ujar Kafka dengan wajah yang diliputi kemarahan.
Sejujurnya Aletha merasa sangat takut saat ini, namun dia berusaha terlihat berani. “Aku pikir ucapanku tadi sudah cukup jelas. Kenapa? Apa jangan-jangan telinga kamu mulai bermasalah?”
Dengan sorot mata marah, Kafka berjalan cepat menuju ke arahnya. Aletha yang panik langsung berjalan mundur hingga tanpa sadar punggungnya sudah bertemu dengan dinding dingin di belakangnya. Kini, sudah tidak ada lagi ruang untuk mundur. Aletha sudah terpojok!
Tangan Kafka meraih dagu Aletha dan memaksanya untuk mendongak ke arahnya. Ini sudah seperti kebiasaan Kafka setiap kali marah pada istrinya. Pria itu pasti akan meraih dagu Aletha dan memaksanya untuk menatap ke arahnya. Pria itu selalu tampak mendominasi, dan Aletha benci itu!
“Bukannya aku sudah pernah minta kamu untuk menjaga sikap di rumah ini?” desis Kafka menahan kesal. Saat ini Kafka sedang berusaha keras menahan amarahnya. Jika tidak, mungkin saat ini rahang Aletha sudah remuk di tangannya.
“Ini rumahku, kenapa harus aku yang jaga sikap?! Kalian yang tamu di sini! Jadi kalian yang harusnya jaga sikap, bukan aku!” sentak Aletha tanpa takut.
Sikap memberontak Aletha membuat genggaman Kafka di dagunya semakin mengetat. Gadis itu meringis kesakitan, namun Kafka tidak peduli. “Kenapa kamu selalu begini, Aletha? Kenapa kamu selalu angkuh?” ujar Kafka yang lebih terdengar seperti gumaman lirih.
“Kamu nggak seperti Aletha yang dulu aku kenal,” ujar pria itu lagi. Aletha tidak paham dengan maksud ucapan Kafka, tapi Aletha tidak ambil pusing, karena pria itu memang sering mengatakan hal-hal yang tidak Aletha mengerti.
“Lepas!” Gadis itu berusaha melepaskan diri. Dia tidak mau dikendalikan oleh Kafka, sesekali dia ingin melawan!
“Aku akan melepaskan kamu, asal kamu mau berjanji untuk menjaga sikap.”
Aletha melirik pria itu kesal. “Jangan harap!”
“Kalian yang harusnya jaga sikap! Kalian pikir berduaan di rumah yang bukan milik kalian itu hal yang pantas?! Enggak! Itu sama sekali nggak pantas! Sebaliknya, kalian menjijikkan! Kalian bikin aku—”
Kafka sudah tidak tahan lagi. Pria itu segera membungkam bibir Aletha menggunakan bibirnya, berharap hal itu bisa menghentikan ocehan gadis di depannya.
Gadis itu terus melawan, namun Kafka semakin mendorong dan menahan tubuh Aletha ke dinding agar gadis itu tidak bisa lagi bergerak. Tidak cukup mencium, Kafka mulai menghisap, bahkan menggigit bibir ranum Aletha hingga membuat gadis itu menangis tersedu-sedu. Pria itu menghimpitnya, memaksanya, tidak peduli sepilu apa tangisan yang keluar dari bibir Aletha.
Pria berengsek!
Sampai mati, Aletha tidak akan pernah melupakan perlakuan menjijikkan Kafka padanya! Aletha tidak akan pernah melupakan kejadian hari ini dan akan terus mengingatnya sampai mati!