09. Kenyataan Memilukan

1885 Kata
Aletha memandangi bayangan dirinya yang tampak ‘berantakan’ melalui pantulan cermin di kamarnya. Dia menyentuh bibirnya yang berdarah karena gigitan Kafka yang brutal, kemudian tangannya beralih pada lehernya yang penuh tanda merah. “Berengsek,” gumamnya dengan wajah dingin. Akhir-akhir ini dia sering mengumpat karena kelakuan pria tidak bermoral itu. “Itu terlihat cantik.” Kafka berdiri di belakangnya sambil mengamati leher putih Aletha yang dipenuhi hasil karyanya. Aletha buru-buru menutupi ‘tanda’ itu menggunakan rambutnya. Dia menatap tajam Kafka melalui cermin dengan tatapan penuh kebencian. “Kamu terlihat cantik dengan wajah marah seperti itu,” ucap Kafka yang sengaja menggoda gadis itu. “Dan kamu terlihat berengsek,” balas Aletha seraya mendorong Kafka menjauh darinya. Gadis itu buru-buru keluar dari kamar, berada satu ruangan dengan pria itu membuat kemarahannya semakin meledak-ledak. Kafka masih berdiri di depan cermin. Matanya menangkap tissue bekas darah di atas meja. Sepertinya Aletha baru saja menggunakan tissue itu untuk menyeka darah di bibirnya. Mau tidak mau Kafka jadi kembali teringat kejadian panas yang terjadi beberapa saat lalu. Dia mencium istrinya dengan liar dan panas seolah tidak ada hari esok. Jika bukan karena tangis Aletha yang terdengar semakin memilukan, mungkin tanpa sadar Kafka sudah menyeret Aletha ke ranjang dan memaksa gadis itu memuaskan hasratnya. Kenapa aku bisa sebuas itu? Apa ini karena kemarahan? Atau karena hasrat yang terpendam? Kafka menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. “Hasrat apanya!” elak pria itu. Dari dulu, Kafka tidak pernah melihat Aletha sebagai ‘perempuan’. Sejak di panti asuhan, Kafka selalu melihat Aletha sebagai ‘teman’ yang usianya jauh di bawahnya. Itu saja, tidak lebih. Namun, kejadian beberapa hari ini membuat Kafka kembali mempertanyakan apakah Aletha hanya sosok ‘teman’ di matanya? Jika memang hanya teman, kenapa Kafka harus meniduri gadis itu dalam keadaan sadar? Kenapa dia harus menciumnya dengan brutal seperti beberapa saat lalu? Apa ini perasaan yang wajar dirasakan oleh seorang ‘teman’? *** “Aku sudah lihat hasil pemeriksaan dari tim audit. Sayangnya, aku masih belum menemukan sesuatu yang janggal. Tapi masih ada beberapa dokumen yang tersisa, mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk dari sana.” Irene menjelaskan isi laporan yang diterimanya pagi tadi. Namun, Kafka tidak juga merespons. Pria itu hanya diam dengan tatapan kosong. “Kafka? Kamu dengar aku?” Kafka langsung tersadar dari lamunannya. Pria itu tampak linglung. “Maaf, tadi kamu bilang apa?” Irene menghela napas kasar. Gadis itu kesal karena lagi-lagi Kafka tidak fokus padanya. Akhir-akhir ini Kafka memang sering terlihat melamun. Pria itu juga sering hilang fokus ketika sedang bekerja, contohnya seperti sekarang ini. “Kamu kenapa? Ada masalah? Aku lihat akhir-akhir ini kamu sering melamun,” ujar Irene khawatir. “Aku baik-baik aja. Sampai dimana kita tadi?” “Jadi kamu nggak mau cerita? Kamu udah nggak percaya lagi sama aku? Udah nggak mau nganggep aku teman lagi?” ujar Irene dengan wajah tersinggung. Kafka menghela napas panjang. Sejujurnya dia sedang tidak ingin meladeni drama semacam ini. Masalahnya sudah cukup banyak tanpa harus ditambah dengan drama tidak penting semacam ini. “Apa ini tentang Aletha?” tebak Irene. Kafka tidak menyangkal maupun membenarkan, namun ekspresi wajahnya yang sempat berubah membuat Irene yakin bahwa Aletha lah penyebab sikap Kafka yang berubah akhir-akhir ini. Kenyataan itu semakin membuat Irene kesal. “Kafka.” Irene memanggil nama pria itu dengan nada serius. “Kapan kamu akan menceraikan gadis itu?” Irene menangkap ekspresi kaget di wajah Kafka. “Kamu nggak berencana untuk hidup bersama gadis itu selamanya, kan?” Memang tidak. Membayangkannya saja Kafka tidak mau. Tapi sejujurnya, Kafka belum pernah sekalipun memikirkan soal perceraian. “Arnold Adhitama cuma minta kamu menikahi cucu perempuannya, beliau nggak pernah bilang untuk tidak menceraikan cucunya. Itu artinya kamu masih bisa menceraikan dia tanpa melanggar janji kamu ke beliau,” ujar Irene. Ucapan Irene memang ada benarnya. Arnold hanya memintanya untuk menikahi Aletha, pria itu tidak pernah memintanya untuk hidup bersama cucunya selamanya. Kini, Kafka sudah menikahi Aletha seperti permintaan Arnold, itu artinya dia sudah memenuhi tugasnya. Setelah itu terserah apakah Kafka mau menceraikan Aletha atau memilih mempertahankan pernikahan. Itu sepenuhnya haknya. “Kafka…” Irene mulai memanfaatkan situasi begitu dilihatnya Kafka yang mulai lengah. Dengan perlahan, tangannya menyentuh sebelah pundak Kafka. Wajahnya semakin mendekat ke arah Kafka seraya membisikkan sesuatu dengan nada menggoda. “Kalau kamu mau, kita bisa melanjutkan hubungan kita yang dulu sempat kandas di tengah jalan. Aku nggak masalah menjalin hubungan dengan pria beristri…” “Asalkan itu kamu,” lanjut Irene lagi. Wajahnya semakin dekat dengan wajah Kafka. Gadis itu memberi tatapan menggoda, namun di otak Kafka justru terlintas bayangan wajah perempuan lain. “Sial!” makinya, entah pada siapa. Sedetik kemudian, Kafka sudah menarik leher Irene dan mencium bibir gadis itu dengan membabi buta yang tentu saja disambut Irene dengan senang hati. Setelah bertahun-tahun berpacaran, baru kali ini Kafka menciumnya dengan penuh gairah seperti sekarang ini. Ciuman Kafka membuat Irene semakin yakin bahwa keputusannya untuk mendapatkan pria itu kembali adalah keputusan yang tepat. *** Aletha berjalan memasuki gedung bertuliskan Adhitama Group dengan jantung yang berdetak tidak keruan. Meski ini perusahaan milik kakeknya, namun belum pernah sekalipun Aletha menginjakkan kakinya di tempat ini. Kakeknya selalu menjaganya untuk tidak terlibat dalam urusan bisnis. Menurut kakeknya, bisnis terlalu berbahaya untuknya, itu sebabnya Aletha tidak dibiarkan terlibat sedikitpun dalam urusan bisnis. Bahkan identitasnya saja disembunyikan dari para kolega dan pegawai di sini. Hanya segelintir orang saja yang mengetahui statusnya sebagai cucu perempuan Arnold Adhitama. “Saya mau ketemu CEO perusahaan ini,” ujar Aletha pada resepsionis cantik di depannya. “Ada perlu apa?” tanya perempuan itu sopan. “Ada berkas penting yang harus saya antar.” Siang tadi, Kafka meneleponnya. Pria itu memintanya mengantar berkas penting yang akan pria itu gunakan untuk bahan meeting sore nanti. Awalnya Aletha menolak, tapi pria itu terus memaksa. Karena malas berdebat, Aletha akhirnya mengiyakan permintaan itu. Aletha segera bergegas ke perusahaan—berharap bisa mengantar berkas itu dengan cepat dan pulang secepat mungkin. “Saya coba hubungi Pak Kafka dulu ya, Mbak. Mohon ditunggu sebentar.” Perempuan itu meninggalkannya untuk menghubungi atasannya terlebih dahulu. Aletha menghela napas panjang—kecewa, karena niatnya untuk pulang cepat harus tertunda. Aletha menunggu dengan bosan, sesekali matanya mengamati suasana lobby yang tampak ramai—wajar, karena sekarang sudah memasuki jam makan siang. “Apa sekarang Mas Kafka juga lagi makan siang?” batin Aletha penasaran. Aletha mengamati orang-orang yang tampak sibuk di sekitarnya dengan pandangan iri. Mereka tampak hebat dengan pakaian rapi dan lanyard yang terpasang di leher mereka. Bagaimana rasanya hidup normal seperti itu? Aletha tidak pernah merasakan kehidupan normal seperti sekolah di sekolah umum, kuliah secara offline, dan melakukan pekerjaan kantoran seperti yang dilakukan orang-orang normal lainnya. Selama ini, hidupnya hanya berputar di sekitar rumah. Sejak SD, dia sudah homeschooling. Kuliah juga mengambil kelas online. Dia tidak bekerja karena kakeknya selalu melarangnya. Menurut beliau, dunia luar itu berbahaya, jadi Aletha hanya bisa menurut untuk tetap di rumah sepanjang waktu. Pernah dengar kisah rapunzel? Putri yang terjebak di istana indah dan tidak bisa kemana-mana? Ya, seperti itulah hidupnya. Tapi Aletha sama sekali tidak membenci hidupnya. Dia juga setuju dengan pendapat kakeknya. Dunia luar memang menyeramkan. Setiap kali keluar rumah seperti sekarang ini, Aletha selalu merasakan ketakutan yang tidak bisa dia jelaskan. Rasanya seolah bahaya sedang mengancamnya. Aletha tahu pemikirannya ini konyol, tapi memang begitulah yang dia rasakan. Mungkin bagi sebagian orang, keluar rumah itu hal yang mudah dan menyenangkan, namun bagi Aletha, itu adalah hal yang sulit dilakukan. “Maaf, saat ini Pak Kafka sedang tidak bisa dihubungi.” Aletha menghela napas kasar. Tidak mudah baginya untuk datang ke sini. Dia harus melawan rasa takutnya untuk bisa sampai ke tempat ini. Dia tidak mungkin kembali ke rumah begitu saja setelah susah payah melawan rasa takut itu. “Bisa saya titipkan berkasnya di sini?” Wajah perempuan itu tampak ragu. “Saya tidak berani menerima berkas penting seperti ini,” ujar perempuan itu gamang. “Begini saja, apa Mbak punya bukti yang jelas bahwa Pak Kafka sendiri yang meminta Anda mengantarkan berkas ini?” Otak Aletha berpikir cepat. “Ini… saya punya bukti chat-nya.” Aletha menunjukkan pesan terakhirnya dengan Kafka. Untungnya, selain menelepon, Kafka juga sempat mengiriminya pesan singkat. “Saya juga punya kartu namanya. Nomor ponselnya sama, kan?” Aletha menunjukkan kartu nama Kafka yang tadi sempat dia ambil dari meja kerjanya. “Nomornya cocok. Kalau begitu Mbak boleh langsung ke ruangan Pak Kafka. Ruangannya ada di lantai tujuh, tepatnya di bagian paling ujung,” ujar resepsionis tersebut. Aletha mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum bergegas menuju tempat yang diinformasikan resepsionis tadi. Aletha berjalan cepat menuju lift, dan tidak lama kemudian, dia pun sampai di lantai yang dimaksud. Suasana di lantai tujuh terlihat sepi. Hanya ada sedikit ruangan di lantai ini. Sepertinya lantai tujuh ini khusus ditempati para petinggi saja. Setelah mencari-cari ruangan yang dimaksud si resepsionis tadi, Aletha pun sampai di depan pintu yang sepertinya memang ruangan milik Kafka. Tangannya mengetuk pintu dengan hati-hati, namun tidak ada jawaban yang terdengar. Kesal menunggu, Aletha pun langsung membuka pintu tersebut. Namun, pemandangan di depannya membuatnya tanpa sadar menjatuhkan berkas dokumen di tangannya. Aletha berdiri kaku di ambang pintu, air matanya mulai mengalir saat menyaksikan Kafka dan Irene berciuman tanpa sedikit pun rasa sungkan. Tubuhnya terasa gemetar. Perasaan marah, sedih, dan sakit, bercampur menjadi satu. Irene adalah orang pertama yang menyadari kehadirannya. Namun, alih-alih panik atau merasa bersalah, Irene malah tersenyum kecil. Wanita itu menampilan senyum penuh kemenangan yang sukses membuat luka di hati Aletha semakin menganga. “Oh, kita kedatangan tamu di sini,” ujar Irene dengan nada manis yang terdengar dibuat-buat. Ia melirik Kafka sekilas sebelum melanjutkan, “Sepertinya aku harus pergi dari sini. Aku nggak mau ‘kegiatan panas’ kita menjadi tontonan orang lain.” Aletha mengepalkan tangannya erat, berusaha menahan tangis dan amarah yang bercampur menjadi satu. Kata-kata Irene begitu menusuk hingga membuatnya tak mampu berkata-kata. Ketika Irene akhirnya meninggalkan ruangan dengan langkah ringan, Kafka hanya berdiri di tempatnya, memandang Aletha tanpa ekspresi. Sikap dinginnya membuat Aletha merasa semakin kecil. “Jadi, ini yang selama ini kamu lakukan di kantor? Kamu bilang kamu sedang berusaha keras memulihkan perusahaan yang hampir bangkrut. Apa ini ‘usaha’ yang kamu maksud?” sindir Aletha dengan amarah yang jelas terlihat di wajahnya. Kafka menghela napas seraya melipat kedua tangannya di depan dadaa. “Nggak ada yang perlu aku jelaskan. Kamu tahu sendiri, pernikahan ini hanya sebuah kesepakatan.” “Aku tahu!” teriak Aletha. Tangisnya mulai pecah. “Aku tahu kamu nggak pernah mencintai aku. Aku juga tahu kamu membenci pernikahan ini. Tapi apa menghormati pernikahan kita terlalu sulit buat kamu?” ujar Aletha dengan wajah penuh air mata. Meski dia tidak mencintai Kafka, namun hatinya tetap sakit saat mendapati suaminya berciuman dengan wanita lain tepat di depan matanya. Dia merasa posisinya disepelekan. “Aku nggak minta kamu untuk mencintai aku, Mas. Aku cuma mau kamu memperlakukan aku dengan baik. Cukup hargai posisiku sebagai istri, sebagaimana aku juga menghormati kamu sebagai suami. Apa itu terlalu sulit buat kamu?!” “Ya, itu sulit buatku. Aku nggak bisa dipaksa bersikap baik ke orang yang jelas-jelas aku benci.” Ucapan telak itu membuat hati Aletha semakin hancur. Hati siapa yang tidak hancur ketika suaminya terang-terangan mengatakan kalau dia membencinya? Sampai saat ini, Aletha masih bingung, sebenarnya apa yang membuat Kafka membencinya? Apa salahnya sampai harus diperlakukan seperti ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN