10. Syarat Bercerai

1459 Kata
Pemandangan menjijikkan yang dilihatnya siang tadi di kantor, membuat hati Aletha hancur. Tangisannya masih belum reda meski kejadian itu sudah terjadi berjam-jam yang lalu. Bahkan saat Kafka pulang dari kantor, tangisan Aletha masih juga belum reda, menandakan betapa sakitnya luka yang ditorehkan Kafka padanya. “Kamu masih menangisi kejadian siang tadi?” tanya Kafka dengan nada mengejek. Ejekan itu bagaikan garam yang sengaja pria itu taburkan pada luka Aletha yang masih basah. Ekspresi mengejek Kafka membuat Aletha sedih, seolah rasa sakit Aletha pantas untuk ditertawakan. Aletha masih duduk di tepi ranjang dengan wajah bersimbah air mata. Dia memilih untuk tidak mempedulikan pertanyaan kejam itu. Dibandingkan memikirkan ucapan Genta, Aletha lebih memilih memikirkan nasib pernikahannya yang masih seumur jagung. Usia pernikahannya dengan Kafka memang belum lama, namun Aletha sudah merasa lelah dan ingin menyerah. Kafka terus membuat Aletha menderita, seolah pernikahan mereka adalah hukuman baginya. Aletha sudah berusaha bersabar menahan setiap perlakuan dingin dan sikap buruk Kafka yang jelas-jelas menunjukkan bahwa pria itu tidak menginginkan kehadirannya. Namun kini, kesabarannya sudah habis. Kini, dia menyerah… “Aku mau kita cerai.” Aletha mengucapkan kata ‘keramat’ itu dengan susah payah. Dia berusaha mengatakannya dengan jelas di sela-sela tangisannya. Hari ini Aletha melihat Kafka berciuman dengan sekretarisnya dengan mata kepalanya sendiri. Aletha mungkin bisa memaklumi sikap dingin Kafka selama ini padanya, namun Aletha tidak bisa mentolerir perselingkuhan. “Nggak akan ada perceraian di pernikahan kita,” balas Kafka dingin. “Kenapa? Bukannya kamu nggak pernah mencintai aku?” Kafka justru terkekeh. “Memang.” “Lalu untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini?” ujar Aletha frustasi. “Untuk membuat kamu menderita. Aku suka melihat kamu menangis. Air mata kamu seperti tetesan air hujan yang membuatku tenang. Menangislah, dengan begitu aku akan bahagia,” ucap Kafka dengan senyum miring di bibirnya. Aletha menatap nanar wajah suaminya—tampak tidak percaya dengan alasan tidak masuk akal yang baru saja dia dengar dari mulut Kafka. Pria itu benar-benar sudah gila! “Kenapa? Kenapa kamu sebegitu bencinya sama aku? Salahku apa, Mas?” Selama ini Aletha selalu bertanya-tanya kenapa suaminya begitu membencinya. Kenapa pria itu memperlakukannya seburuk ini? Apa salahnya? Namun Kafka justru memberikan balasan misterius. “Cari tahu sendiri. Renungkan dengan otak kamu yang nggak seberapa itu, kenapa aku bisa berbuat sejauh ini.” Setelah itu, Kafka meninggalkan Aletha seorang diri di kamar. Gadis itu kembali menangis terisak-isak. Dia sangat ingin terbebas dari ‘neraka’ ini. Dia ingin mengakhiri semuanya. Namun sepertinya Kafka tidak akan melepasnya semudah itu. Entah harus sehancur apa lagi baru Kafka mau melepasnya. Apa Kafka ingin melihatnya mati dulu baru pria itu mau melepasnya? *** Kafka memasuki ruang kerjanya dengan emosi yang meluap-luap. Dia melempar apapun yang dilihatnya untuk menyalurkan rasa marahnya. “Sial!” makinya dengan napas terengah-engah. Setelah puas menjadikan ruang kerjanya seperti kapal pecah, pria itu mendudukkan tubuhnya dengan kasar di sofa panjang yang berada di pojok ruangan. Pria itu membaringkan tubuh lelahnya di sana. Matanya menatap langit-langit ruangan, sambil memikirkan alasan kemarahannya hari ini. Kenapa tiba-tiba dia jadi segila ini? “Aku mau kita cerai.” Kalimat itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Benar, dia mulai ‘menggila’ saat mendengar kalimat sialan itu. Tapi, kenapa dia marah hanya karena permintaan cerai itu? Bukankah ini yang dia mau? Dia juga sadar pernikahan ini tidak akan berlangsung selamanya. Jadi, kenapa dia harus marah? Kenapa dia tidak rela ketika Aletha menyebut kata ‘cerai’? Entahlah. Kafka juga bingung dengan dirinya sendiri. *** Sejak kejadian hari itu, sikap Aletha berubah menjadi lebih 'dingin' dari biasanya. Biasanya, gadis itu hanya bersikap dingin lewat ucapannya, tapi kali ini sikapnya benar-benar dingin. Bahkan, untuk menatap wajah Kafka saja, dia enggan. Kafka merindukan ‘kucing liar’-nya yang suka marah-marah dan membantah ucapannya dibandingkan kucing yang pendiam seperti ini. Saat ini mereka sedang makan malam, dan sikap Aletha lagi-lagi membuat Kafka tidak nyaman. Sikap diam gadis itu membuatnya jengah. Kafka pikir, gadis itu hanya akan melancarkan aksi mogok bicara selama 1-3 hari seperti sebelum-sebelumnya, namun sudah hampir dua minggu, dan gadis itu masih betah dengan sikap diamnya. “Setelah ini, temui aku di ruang kerjaku. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan.” Seperti biasa, Aletha hanya diam. “Aletha!” tegur Kafka. Namun Aletha tampak tidak terusik dengan bentakan itu. “Kamu mau kita bercerai, kan?” Satu kalimat itu berhasil menarik perhatian Aletha sepenuhnya. Jadi, gadis itu hanya mau mendengarkan jika itu berhubungan dengan perceraian? Kafka mendengus dalam hati. Kenyataan itu membuatnya kesal. “Aku akan menceraikan kamu, tapi dengan satu syarat.” Aletha terlihat semakin tertarik. “Apa syaratnya?” tanya gadis itu penasaran. Wajah antusias Aletha membuat Kafka kesal. Siapa sangka, iming-iming cerai bisa membuat Aletha menghentikan aksi mogok bicaranya semudah itu! “Aku akan memberitahu syarat cerainya di ruang kerjaku. Jadi, pastikan kamu menemuiku di sana,” ujar Kafka dengan tampang dinginnya. Aletha tidak mengiyakan, namun tidak juga membantah. Meski begitu, Kafka yakin gadis itu akan menuruti ucapannya, karena Kafka tahu sebesar apa keinginan Aletha untuk bercerai darinya. Kafka yakin gadis itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. *** Seperti dugaannya, gadis itu benar-benar datang menemuinya di ruang kerja setelah makan malam. Wajahnya masih angkuh, seolah tidak ingin menunjukkan bahwa ia membutuhkan sesuatu darinya. Namun, sorot matanya tak bisa berbohong—ada tekad dan keinginan kuat yang terpancar. Kafka menatap Aletha dengan senyum tipis, seraya menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai. “Jadi apa syaratnya?” tanya gadis itu tidak sabar. Aletha sudah seperti anak kucing yang tidak sabar diberi ikan. Ya, ‘kucing’-nya ini memang selucu itu. “Sabar dulu, Aletha. Kenapa buru-buru?” “Aku nggak mau lama-lama di sini! Tempat ini membuatku jijik.” Kafka menaikkan sebelah alisnya bingung. “Jijik? Jijik kenapa?” “Setiap malam kamu selalu berada di sini bareng sekretarismu itu. Aku udah bisa nebak apa aja yang udah kalian lakukan di ruangan ini,” ujar Aletha, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik yang tidak bisa disembunyikan. Bukannya tersinggung, Kafka justru memasang senyum miring di bibirnya. “Oh, ya? Coba jelaskan, kegiatan apa yang kamu bayangkan sekarang? Aku mau tahu, hal kotor apa yang saat ini sedang kamu pikirkan,” balasnya dengan nada menggoda. Namun Aletha sedang tidak ingin meladeni basa-basi ‘kotor’ itu. “Langsung aja, Mas. Kasih tahu aku apa syaratnya!” Kafka mengangkat alisnya, menikmati ketegangan di wajah Aletha. Ia menyandarkan tubuh ke kursi, sengaja mengambil waktu lebih lama sebelum menjawab. “Syaratnya? Hmm... sebenarnya, aku nggak yakin kamu bisa memenuhi syarat ini,” ujarnya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu. Aletha mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba menahan amarah yang hampir meledak. “Aku nggak punya waktu untuk main-main, Mas. Sebutkan syaratnya sekarang!” sentak Aletha yang tidak bisa lagi menjaga nada suaranya. Senyum Kafka semakin lebar. Selain tangisannya, dia juga sangat menikmati ekspresi marah gadis itu. “Akan aku sebutkan syaratnya, jadi dengarkan baik-baik.” Kali ini sudah tidak ada lagi senyum di wajah Kafka. Ekspresinya berubah tajam dan serius. “Syaratnya cuma satu, kamu harus bisa memimpin perusahaan menggantikan aku. Bagaimana? Apa kamu sanggup?” tanya Kafka dengan wajah menantang. Sial! Kenapa pria itu memberikan syarat yang mustahil bisa aku lakukan?! “Kamu sengaja, kan?” “Apa?” tanya Kafka, pura-pura bodoh. “Kamu tahu aku nggak mungkin bisa melakukan itu! Makanya kamu sengaja membuat syarat nggak masuk akal seperti ini!” ujar Aletha marah. Kafka menatapnya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada tenang, “Kenapa kamu selalu berpikiran negatif? Aku nggak mungkin memperumit hidup istriku sendiri.” Aletha menatap Kafka dengan kemarahan yang semakin membuncah. Dia merasa seperti sedang dipermainkan. “Tenang, Aletha. Aku yang akan membimbing kamu secara langsung. Aku akan mengajari kamu bagaimana cara memimpin perusahaan,” ujar Kafka dengan senyum menenangkan. “Aku tahu ini bukan hal yang mudah, tapi ini syarat yang harus kamu penuhi untuk bisa lepas dari pernikahan ini. Saat ini, aku sudah terikat janji dengan kakek kamu. Aku sudah berjanji untuk menjaga perusahaan sampai akhir. Jadi, aku harus memastikan penerusnya mampu meneruskan perusahaan dengan cara yang tepat. Aku nggak bisa mempercayakan perusahaan pada orang yang salah.” Arnold Adhitama adalah sosok yang sangat Kafka hormati. Beliau sangat berjasa dalam hidupnya, jadi Kafka tidak bisa mengkhianati harapan terakhir yang diberikan Arnold padanya. Jika harus meninggalkan perusahaan, maka dia harus memastikan perusahaan sudah berada di tangan orang yang tepat. “Baik, aku terima syaratnya. Aku pastikan, aku akan menjadi penerus yang layak,” ujar Aletha dengan penuh tekad. Aletha tahu ini tidak akan mudah, tapi jika ini satu-satunya cara untuk bercerai dari Kafka, maka dia akan melakukannya. Kafka tersenyum melihat ekspresi Aletha yang penuh tekad. Mari kita lihat, sejauh mana Tuan Putri ini bisa bertahan… Tiba-tiba, Kafka merasa tidak sabar menantikan hari dimana dia akan menjadi mentor bagi gadis di depannya ini. Sepertinya, hari-harinya akan seru. Kafka semakin menantikan momen itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN