Kafka : Maaf ganggu waktu liburmu, tapi bisa kamu datang ke rumahku sekarang? Aku mau membahas tentang laporan kemarin.
Irene membaca pesan singkat dari Kafka dengan senyum mengembang. Hari ini Minggu, seharusnya dia libur dan menjauh dari hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Tapi jika itu tentang Kafka, Irene tentu tidak akan menolak.
“Aku ke sana sekarang,” balas Irene dengan senang hati. Bertemu dengan Kafka selalu menjadi momen yang selalu dia nantikan, meski harus membahas tentang pekerjaan sekalipun. Irene sama sekali tidak keberatan.
Gadis itu segera bergegas menuju kamar mandi. Setelahnya membuka lemari dan memilih pakaian terbaiknya di sana.
Irene tinggal di apartemen seorang diri. Orang pikir, hidup Irene menyedihkan. Tinggal seorang diri pasti membuat gadis itu kesepian. Tapi percayalah, hidup seperti ini adalah impiannya sejak dulu. Tinggal seorang diri nyatanya lebih menyenangkan dibanding harus hidup dengan ‘benalu’ seperti yang dirasakannya dulu.
“Irene! Buka pintunya! Jangan pura-pura nggak denger, Bibi tahu kamu ada di dalem. Buka pintunya sekarang!!”
Irene yang tadinya sibuk memoles lipstick di bibirnya, langsung menghentikan gerakannya seketika. Wajahnya berubah dingin.
Benalu itu datang ‘lagi’...
Gedoran di pintu apartemennya yang semakin memekakkan telinga membuat Irene tidak tahan lagi! Gadis itu meletakkan lipstick di tangannya kasar dan bergegas menuju pintu. Dia tidak mau para tetangganya mengeluh tentang keributan yang lagi-lagi terjadi di depan unit apartemennya.
“Ada perlu apa?” Irene membuka pintu dan menyambut wanita paruh baya di depannya dengan wajah dingin.
Wanita itu tampak tersinggung dengan sapaan tidak sopan keponakannya. “Apa ini cara kamu menyambut kedatangan Bibi? Kerja di tempat bagus bikin kamu makin sombong, ya? Berasa udah sukses jadi lupa sama yang namanya sopan santun?”
Irene memutar bola matanya malas. Lucu sekali mendengar nasihat ‘sopan santun’ dari orang yang tidak punya sopan santun.
Sungguh menggelikan!
“Langsung aja, Bi. Ada perlu apa? Aku nggak punya banyak waktu. Setelah ini, aku mau pergi karena ada pekerjaan di luar,” ujar Irene tidak sabar.
Wajah Weni, Bibi Irene, tampak semakin kesal. “Sok sibuk banget kamu! Baru kerja gitu aja lagaknya udah kayak pejabat penting yang sibuk sana-sini,” sindirnya lagi.
Irene sungguh malas meladeni wanita bermulut pedas ini. “Kalau nggak ada yang penting, mending Bibi pulang aja.”
Irene sudah akan menutup pintu apartemennya, namun tangan Weni buru-buru menahan pintu tersebut. “Bibi butuh uang!” ucap wanita itu langsung.
Wajah Irene langsung lemas. Helaan napas lelah keluar dari bibirnya. “Lagi?” ujarnya tidak habis pikir. Minggu lalu bibinya baru saja meminta uang 5 juta, dan Irene juga sudah mentransfernya langsung. Dan sekarang, bibinya sudah meminta uang lagi?
“Bibi butuh 3 juta lagi buat keperluan sekolahnya Rinda. Kemarin itu buat biaya study tour, kalau yang sekarang buat uang sakunya selama study tour.”
Irene menatap wajah bibinya dengan wajah tidak percaya. Bibinya yang punya anak, tapi kenapa jadi Irene yang harus membiayai kebutuhan sekolah anaknya?
“Nggak ada. Kemarin kan udah Irene transfer 5 juta, sekarang Irene udah nggak megang uang lagi,” bohong Irene. Sebenarnya dia masih punya uang, hanya saja dia tidak mau terus-terusan dijadikan ATM berjalan oleh bibi beserta keluarganya.
“Jangan bohong kamu. Bibi tahu gaji kamu besar, masa ngasih 3 juta aja nggak bisa. Percuma kerja di tempat bagus kalau dimintain uang segitu aja nggak mampu!”
Irene berusaha sabar. Namun ucapan bibinya semakin lama terdengar semakin menyebalkan. “Mau gajinya sebesar apapun, kalau tiap minggu dimintain buat bayar ini itu ya bakal abis juga!” balasnya tanpa takut. Jangan dikira dia akan diam saja!
“Uang yang kamu keluarkan itu nggak ada apa-apanya dengan uang yang Bibi keluarkan buat kamu dulu! Dari bayi, kamu Bibi rawat, giliran udah gede malah itung-itungan!”
Irene tersenyum miring. Ucapan bibinya kali ini terdengar begitu menggelikan. “Bibi merawat aku sejak bayi? Nggak salah?”
“Nenek yang merawat aku sejak kecil, bukan Bibi. Begitu Nenek meninggal, Bibi langsung bawa aku ke panti asuhan. Itu yang Bibi sebut ‘merawat’?” sarkas Irene.
Ayah Irene meninggal sejak Irene masih di kandungan, kemudian ibunya meninggal setelah melahirkan Irene. Sejak saat itu Irene dirawat oleh neneknya. Kebetulan rumah neneknya merupakan rumah bersama, dimana di sana juga tinggal keluarga bibinya.
Neneknya yang berjuang menghidupi Irene. Begitu Irene berusia 10 tahun, neneknya meninggal dan Irene dibawa oleh bibi dan pamannya ke panti asuhan.
Begitu Irene dewasa dan sudah memiliki pekerjaan yang bagus, tiba-tiba bibinya datang dan menawarkan untuk tinggal kembali di rumahnya yang dulu. Awalnya Irene menerima permintaan itu, karena bagaimanapun rumah itu menyimpan banyak kenangan indah bersama mendiang neneknya.
Namun setelah beberapa bulan tinggal di sana, Irene baru sadar kalau dia dimanfaatkan. Bibinya sering meminta uang untuk biaya listrik, belanja, bahkan uang saku sampai biaya sekolah anaknya. Irene mulai jengah hingga memutuskan menyewa apartemen sendiri. Namun sayangnya, hal itu masih belum membuatnya benar-benar lepas dari keluarga ‘benalu’-nya ini.
“Kamu pikir nenek kamu bisa menghidupi kamu seorang diri? Tetap ada campur tangan bibi sama paman kamu! Jadi jangan sombong! Kalau bukan karena kami, kamu nggak akan bisa hidup dan sukses seperti sekarang ini!”
Irene menatap bibinya dengan wajah nelangsa. Dunia ini penuh dengan orang-orang tidak tahu malu. Saat Irene sedang berada di ‘bawah’, tidak ada yang mau dekat-dekat dengannya. Jangankan mendekat, orang-orang ini justru membuangnya.
Namun, saat Irene berhasil meraih mimpinya berkat kerja kerasnya sendiri, orang-orang yang tadi membuangnya kembali mendekat dan bersikap seolah keberhasilan ini juga berkat campur tangan mereka.
Bukankah itu lucu?
“Bibi butuh tiga juta?” Irene meraih ponsel di sakunya dan mulai mengotak-atik layar ponselnya. “Sudah aku transfer,” katanya, sambil menunjukkan bukti transfer pada wanita di depannya.
“Sudah, kan? Sekarang tolong pergi dari sini,” pinta Irene dengan wajah dinginnya.
Weni sudah tidak peduli lagi dengan pengusiran secara halus itu, yang terpenting dia sudah berhasil mendapatkan uang dari keponakannya. “Makasih, Irene. Bibi doain karir kamu makin sukses. Bibi pulang, ya? Semangat kerjanya.”
Wanita itu akhirnya pergi dari hadapannya. Begitulah bibinya. Saat tidak mendapatkan apa yang dia mau, bibinya akan menghujaninya dengan kata-kata jahat. Namun, saat Irene mau memberinya uang, orang itu akan berubah menjadi ibu peri.
Dasar wanita munafik!
Irene kembali merutuki kehidupannya yang menyedihkan. Kenapa takdir harus menjadikan wanita munafik itu sebagai keluarganya?
Pikirannya melayang jauh pada hari dimana dia ‘hampir’ diadopsi oleh keluarga kaya raya. Andai hari itu dia benar-benar diadopsi, mungkin kehidupannya tidak akan semenyedihkan sekarang.
“Kalau saja gadis itu nggak merebut posisi yang seharusnya menjadi milikku, mungkin sekarang hidupku sudah bahagia,” gumam Irene dengan wajah penuh dendam.
***
Irene memasuki kediaman Arnold Adhitama dengan hati ringan. Mood-nya yang tadinya buruk, kini sudah hilang digantikan perasaan penuh semangat. Dia tidak sabar bertemu dengan Kafka, terlebih pertemuan terakhir mereka meninggalkan kesan yang ‘luar biasa.’
Ya, ciuman yang ditinggalkan Kafka di bibirnya hari itu masih meninggalkan kesan yang luar biasa bagi Irene.
“Pagi.” Irene menyapa para pelayan yang tidak sengaja berpapasan dengannya.
Mereka menyambut sapaan Irene dengan ramah. Irene memang sudah memiliki ikatan khusus dengan para pelayan di sini. Bisa dibilang, kini mereka berteman. Ini adalah cara Irene untuk menarik mereka ke pihaknya, dan sejauh ini rencananya berjalan mulus.
“Mbak Irene nyari Tuan Kafka, ya?” tanya pelayan itu ramah.
“Iya, Bi. Dia ada di rumah, kan?”
“Ada, Mbak. Lagi di ruang kerjanya. Kayaknya lagi nungguin Mbak Irene deh,” kata pelayan itu sambil memberinya tatapan menggoda.
“Mau pacaran sambil kerja ya, Mbak?” bisik pelayan itu pada Irene.
Irene hanya menanggapi godaan itu dengan tersenyum kecil. “Beneran kerja ini, Bi. Aku duluan, ya. Takutnya Kafka udah nungguin.”
“Iya, Mbak. Semangat kerjanya,” kata pelayan itu sambil mengerlingkan matanya menggoda.
“Bibi juga,” kata Irene sambil tersenyum tipis.
Gadis itu berjalan menuju ruang Kafka di lantai dua. Senyum di wajahnya perlahan mengembang. Dia senang karena para pelayan di rumah ini semakin sadar akan ‘hubungannya’ dengan Kafka.
Mereka juga tidak memandang hal ini sebagai sesuatu yang tabu—sebaliknya, mereka justru mendukungnya secara penuh. Hal ini tentu membuat Irene senang karena jalannya untuk bisa kembali dengan Kafka akan semakin mudah. Kesempatannya untuk menyingkirkan Aletha, tentunya juga semakin terbuka lebar.
Irene sama sekali tidak merasa tindakannya ini salah. Lagipula, dia tidak merebut apapun dari Aletha. Sebaliknya, dia hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya.