Matanya menatap kembali kotak yang kini membuka sendiri. Dia tidak pernah melihat kotak yang dapat membuka otomatis seperti itu. Saat orang tuanya masih kaya pun dia tidak pernah melihat kotak seperti itu. Menurutnya, kotak itu seperti datang dari masa depan. Matanya berkedip melihat sebuah tabung kecil yang memiliki isi berwarna perak. Sama seperti warna kotaknya.
“Aku tidak akan menyentuh itu jika aku menjadimu.”
Suara itu membuatnya terkejut bukan main. Jantungnya berdetak tidak karuan karena terkejut. Di pintu masuk ruangan itu terdapat seorang pria tinggi besar. Otot-otot menyembul dari pakaian biasa yang dipakai pria itu. Wajah pria itu tegas dengan tulang pipi tinggi. Pria itu memiliki rambut hitam yang diikat menggunakan karet di batas lehernya. Diperkirakan rambutnya sebatas bahu.
“Aku yang punya kotak itu,” Ucap pria itu lagi padanya seraya menunjuk kotak itu dengan dagunya. “Namaku Jake Romano, siapa namamu?”
“Rydian Lockwood.” Jawabnya setengah berbisik. Dia menatap Jake, berpikir bagaimana bisa pria bernama Jake itu datang tiba-tiba.
“Ada yang ingin kau tanyakan?” tanya Jake. Pria itu memiringkan kepalanya.
“Kau datang dari mana?”
“Dari pintu.” Jake menjawab seraya menunjuk pintu dengan dagunya. Diperhatikannya Rydian dengan alis berkerut. “Kau unik.” Gumam Jake lagi.
Rydian tidak mau ambil pusing dengan apa yang dikatakan Jake. Dia kembali menatap kotak perak itu. Dia ingin menyentuhnya namun ucapan Jake membuatnya tidak jadi. Takut jika disentuh, dia akan menjadi debu. Lalu matanya tertuju pada adik dan ibunya yang tidur.
Jake tertawa yang membuat Rydian takut mereka berdua terbangun. Jake berhenti tertawa kemudian melangkah masuk.
“Mereka tidak akan bangun jika itu yang kau pikirkan.” Ucap Jake yang membuat Rydian menyipitkan matanya pada Jake.
“Apa yang kau berikan pada mereka?” tanya Rydian menahan marah. Dia tidak ingin memukul Jake karena dia sadar, tubuhnya yang kecil, akan remuk di tangan Jake yang kekar berotot. Anak usia lima belas tahun melawan pria dewasa tidak akan menang.
“Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku pelakunya?”
Rydian menggertakkan giginya, “aku punya insting bahwa kaulah pelakunya.”
Jari Jake mengetukkan dagunya. Ditatapnya Rydian, “menarik sekali.” Kemudian tatapannya tertuju pada wajah remaja itu, “apa yang terjadi padamu?” tanya Jake, alih-alih menjawab pertanyaan Rydian. Mata Rydian berkedip dan terkejut ketika Jake sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Apa yang terjadi?” tanya Jake lagi.
Rydian mengangkat bahu. “Biasa, aku dipukuli karena dituduh mencuri.”
“Kau mencuri?”
Rydian menggeleng cepat. “Tidak. Aku mencari makanan untuk ibu dan adikku.”
Alis Jake naik. “Kulihat mereka punya makanan tadi.”
Rydian mengangguk lalu menelan ludah membayangkan roti itu. “Ya, mungkin diberikan seseorang.”
“Aku yang memberikannya.”
Ucapan Jake membuat Rydian menatapnya. Instingnya benar. Jake lah yang memberikannya. Pikiran buruk berkecamuk di dalam kepalanya. “Apa yang kau berikan pada mereka?”
Jake mengangkat bahu. “Hanya obat tidur.”
Mendengar itu Rydian berusaha menyerang Jake. Namun dengan mudah pria itu membaca gerak Rydian. Seketika remaja itu sudah dipiting oleh Jake. Pria berotot itu tertawa.
“Tenang, anak muda,” Jake masih tertawa, “Kau tidak perlu takut. Obat tidur aman. Kuberikan dosis kecil saja.”
“Kau mau apa?” Rydian yakin, Jake memiliki maksud tersembunyi. Mengenai kotak perak itu, dia pun yakin, pria berotot itu sengaja meletakkannya di dalam lemari itu. Tidak mungkin hanya kotak itu saja yang tidak berdebu sedangkan barang yang lain berdebu walau dalam lemari.
Jake tertawa keras. Rydian memutar matanya. “Kau pintar, Rydian. Tidak salah aku memilihmu.”
Rydian meronta. Memilih katanya? Apa maksudnya? Apakah akan dibunuh?
“Lepaskan aku, kau sialan!”
Jake semakin mempererat pitingannya hingga membuat Rydian berteriak meronta. Tangannya sakit luar biasa hingga menjalar ke seluruh tubuhnya. Mata kirinya semakin berdenyut menyakitkan.
“Hidupmu akan menyenangkan. Ibu dan adikmu akan tinggal di tempat yang lebih baik. Akan memakan makanan layak. Bukan makanan sampah. Kau mau?”
Rydian menahan geramannya. “Apa maumu?”
“Kau sudah kuawasi sejak lama. Kau sudah kupilih, akan kubuat kau sembuh dari segala lukamu dengan cepat. Kau mau?”
“Tidak!” Geram Rydian.
“Walau kau menolak, aku akan memaksa.” Jake terkekeh menarik dengan mudah Rydian yang masih meronta-ronta. Pria itu manrik Rydian menuju meja di mana letak kotak perak itu berada. Dia mengambil tabung kecil itu menggunakan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya masih memiting Rydian. Alis Jake berkerut. “Kau pintar sekali membuka kotak ini. Kukira tidak akan ada yang bisa membukanya selain aku. Kau tahu apa ini?”
“Aku tidak mau tahu, kau sialan!” maki Rydian.
“Akan kuberitahukan walau kau tidak ingin tahu.” Gumam Jake. Dibukanya penutup tabung itu dengan giginya yang tajam. Bunyi 'plop' memenuhi ruangan ketika tabung sudah terbuka. “Ini adalah ramuan keabadian untuk bangsa kami. Terbuat dari racun vampir murni, racun raja drakula dan racun lycan yang merupakan tetua bangsa manusa serigala. Bagi manusia, ini dapat membunuh. Tubuh manusia akan meledak … buumm!”
Pikiran Rydian berkeliaran. Siapa pria itu? Apakah vampir? Manusia serigala? Atau drakula?
“Hah!” Jake mendengkus, “kau mau mencobanya?”
Mata Rydian melebar ketika Jake dengan mudahnya mendekatkan tabung berisi cairan perak itu di depan wajahnya.
“Lepaskan aku!” Rydian memaki. Berusaha menendang kesegala arah agar cairan itu tidak mengenai wajahnya atau anggota tubuhnya yang lain.
Jake tertawa. Dia memiringkan tabung itu di atas kepala Rydian yang membuat pria bertubuh kecil itu mendongak. Sebelah mata Rydian yang tidak terluka melebar melihat tetesan perak keluar dari tabung.
Rydian berusaha menggerakkan badannya dalam pitingan Jake yang sangat kuat. Pria itu tertawa terbahak tatkala tetesan itu mengenai mata Rydian yang terluka. Seketika matanya terasa terbakar. Dia berteriak kesakitan. Bunyi mendesis disertai asap tipis mengepul dari sebelah matanya yang terkena tetesan cairan itu.
Jake tertawa-tawa kemudian melepaskan Rydian. Remaja itu menutup sebelah matanya.
“Sakit!” teriak Rydian. Dia tidak tahan dengan sakit yang teramat sangat.
“Bayangkan ini mengenai organ dalammu.”
Suara Jake itu membuat Rydian beringsut menjauh. Sebelah matanya mengeluarkan darah bercampur nanah. Bau anyir menguar dari sebelah matanya yang rusak.
“Aku tidak butuh!” Teriak Rydian.
Jake menatap tabung yang ada di genggamannya. “Aku pun tidak butuh, Rydian.” Katanya kemudian menatap Rydian dengan senyum mengerikan. “Karena aku sudah abadi.”
Jantung Rydian berdetak lebih cepat. Dia dapat melihat gigi taring Jake yang tajam. Dia yakin, Jake adalah vampir. Mata pria itu bersinar dengan warna kuning keemasan. Dalam gerakan cepat, sudah berada di hadapannya. Kuku jari memanjang yang membuat Rydian melotot. Dia semakin beringsut menjauh hingga tubuhnya membentur dinding di belakangnya.
Mata Jake yang bersinar keemasan itu, giginya yang bertaring, tubuhnya yang pucat dan dingin, dia yakin, pria yang ada di hadapannya makhluk sejenis vampir. Mahkluk yang selalu di desas-desuskan penduduk kota.
Jake menarik tangan Rydian lalu mendekatkan tangan itu di bibirnya yang membuat jantungnya berdetak menggila. Dia akan mati. Pria itu akan menggigitnya dan dia akan mati. Dia mendengar desas-desus itu dan sekarang dia percaya.
Mata Jake menatapnya. “Tidak akan sakit.” Kata pria itu kemudian tertawa lalu mengigit cepat pergelangan tangan Rydian yang membuat remaja itu berusaha berteriak namun tidak ada suara yang keluar. Jake mengulurkan tangannya dan membuka mulut Rydian lalu menuangkan cairan perak itu.
Kesakitan menjalari seluruh tubuh Rydian lalu berganti terbakar. Darah dalam tubuhnya menggelegak, mendidih. Dia tidak dapat berkata-kata. Malam semakin mencekam. Seluruh tubuhnya berderak berubah. Terdengar tawa Jake yang membahana lalu kata-kata terakhir yang membuat Rydian membenci pria itu dan ingin sekali membunuhnya. Itupun jika dia selamat.
“Kau akan menjadi makhluk abnormal yang kuat dan abadi!”
***
Dikedipkan matanya. Dia merasa sangat lelah. Tenggorokannya terasa sangat sakit karena berteriak semalaman. Teringat sesuatu, dia berkedip lagi. Dia menyentuh mata kirinya yang terluka lalu ditatapnya tangannya. Tidak ada darah. Matanya tidak sakit. Diperhatikan lengannya, tidak luka. Tidak terbakar. Dia merasa lebih bugar dari sebelumnya. Dia berusaha bangkit ketika suara Ibunya terdengar,
“Rydian belum pulang?”
Itu suara ibunya.
“Aku tidak tahu, Bu. Aku baru saja bangun.”
Itu suara adiknya.
Suara ibunya dan adiknya terdengar sangat jelas di telinganya. Dia sudah tidak berada di tempatnya semalam sekarat. Dia tidak ingat sudah berpindah tempat. Kali ini dia berada di area belakang gudang yang ditumbuhi rimbunnya rumput.
“Rotinya masih utuh. Dia belum pulang.” Suara Ibunya lagi.
“Bu, boleh kumakan rotinya?”
“Jangan! Ini untuk kakakmu.”
Rydian tidak mengingat jelas wajah Jake semalam. Dia hanya mengingat pria itu sangat tinggi. Rydian bangkit berdiri. Digerakkan bahunya kemudian menunduk ketika dirasakannya pakaiannya yang menjadi sempit daripada kemarin. Alis Rydian naik tatkala kaus dan celana yang dipakainya kekecilan. Dia mengepalkan kedua tangannya. Dipercepat langkahnya menuju gudang dan dalam satu menit, Rydian sudah berdiri di depan gudang.
“Wow.” Gumamnya takjub. Suaranya pun berubah menjadi berat. Dia berdehem lalu mengulai katanya lagi. Bahkan suaranya berubah tegas. Dia menoleh pada tempatnya tadi. Jarak antara gudang dan bagian belakang gudang lumayan jauh. Ditempuh berjalan kaki sekitar sepuluh menit.
“Rydian?”
Pertanyaan ibunya itu membuat dia mendongak. Ibunya dan adiknya menatapnya heran. Mereka menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Kau ….” Adiknya tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia terkesima melihat kakaknya yang berdiri di ambang pintu. Kakaknya bertubuh tinggi, besar dengan otot menyembul dari pakaian yang kekecilan. Matanya berkedip melihat betapa gagah kakaknya.
“Kau Rydian?” kali ini ibunya memastikan.
Rydian mengangguk. “Ya, ini aku, Bu.”
“Apa yang terjadi padamu?” tanya Ibunya lalu mendekatinya.
Rydian gugup. Dia tertawa kikuk. “Aku tidak apa-apa, Bu. Apa maksud Ibu?”
Ibunya berdiri di depannya dan dia baru sadar, Ibunya lebih pendek darinya. Sebelumnya, dia lebih pendek dari Ibunya. Kini, Ibunya hanya sebatas bahunya.
“Kau pergi semingguan dan kau berubah? Kau makan apa?”
Pertanyaan itu membuat Rydian berusaha tertawa demi menutupi kegugupannya yang menjadi. Ingin sekali dia mengatakan bahwa dia semalam dipaksa meminum cairan aneh berwarna perak oleh seorang yang dia yakin adalah vampir.
“Aku tidak tahu. Kurasa aku tidak berubah, Bu.” Matanya menatap Adiknya, dia melihat Adiknya sangat manis sekali. Rambutnya sudah disisir. “Elena, kau tidak kulihat beberapa hari, kau sudah berubah. Kau tambah manis.”
Ibunya menoleh melihat Elena yang berdiri di belakangnya. “Iyakah?” gumam Ibunya yang sangat didengar jelas oleh Rydian.
Dia hanya berdoa semoga ibunya tidak menyadari perubahan bentuknya yang menggila dalam semalam.