bc

Beast of Panstone City

book_age16+
148
IKUTI
1.3K
BACA
alpha
dark
dominant
beast
bxg
werewolves
pack
another world
supernatural
weak to strong
like
intro-logo
Uraian

Rydian Lockwood, remaja miskin berusia 15 tahun menemukan ramuan keabadian milik Jake seorang ilmuwan dan juga vampir murni berusia 500 tahun. Dipaksa meminum ramuan tersebut, Rydian berubah menjadi Beast. Abadi dalam wujud setengah serigala, setengah vampir dan setengah drakula.

Adapula segerombolan pemburu makhluk abnormal yang tidak menginginkan adanya makhluk-makhluk tersebut di kota mereka. Kesulitan Rydian sebagai Beast tidak sampai disitu saja, dia memiliki pasangan abadi dari salah satu keluarga pemburu yaitu Michelle Avyarg, seorang gadis berusia 17 tahun. Rydian pun harus menyembunyikan jati dirinya pada ibunya. Akan tetapi ada rahasia besar yang disimpan oleh wanita yang selama ini dipanggilnya sebagai ibu.

Apakah rahasia besar itu? Mampukah Rydian menerima kenyataan yang disembunyikan oleh ibunya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Asal Muasal
“Hanya ini yang kutemukan.” Seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun bersama dengan gadis berusia 13 tahun dan wanita paruh baya berusia 50 tahun berdiri di depan gudang usang yang tidak terpakai. “Tidak apa-apa.” Wanita paruh baya itu mengusap punggung remaja laki-laki itu, “Lebih baik daripada kita kedinginan di luar sana. Gudang ini lebih dari cukup untuk kita bertiga.” Gadis muda menghela napas lalu menunduk, “Jika bukan karena dad yang b******k seperti itu, kita tidak akan tinggal di tempat kotor seperti ini.” “Elena,” wanita paruh baya itu menegur gadis yang bernama Elena. Gadis muda mendongak, “Mom tidak pernah mengajarkanmu untuk seperti itu. Walau bagaimanapun, dia adalah ayahmu.” Elena mencebik lalu menunduk, “Ya, Mom.” Remaja laki-laki berdehem, “aku akan mengecek dulu ke dalam. “ Katanya. Tanpa menunggu jawaban, dia segera memasuki gudang tua yang hanya ditutup oleh kayu-kayu yang sudah lapuk. Remaja bertubuh kurus itu masuk ke dalam gudang yang tidak terkunci. Debu menutupi seluruh ruangan bahkan kakinya yang memakai sepatu pun tercetak jelas debu-debu tebal itu. Matanya memindai sekitar. Dirasa aman, dia berbalik lalu melambaikan tangannya pada ibu dan adiknya. “Cepat!” teriaknya. Dia tidak ingin ada orang yang tahu di mana dia dan keluarganya tinggal. Segera ibu dan adiknya menyusul remaja itu dengan tergesa-gesa. Beberapa buntalan selimut berisi pakaian dibawa oleh mereka berdua susah payah. Remaja itu segera masuk untuk mencari tempat yang sekiranya hangat sebab sebentar lagi akan musim dingin. “Di mana kita tidur?” tanya Elena pada kakaknya. “Sini.” Remaja laki-laki itu menunjuk sudut ruangan, “akan kucarikan lilin. Semoga ada lilin yang masih disimpan di gudang ini.” Dia segera berjalan lagi mengitari gudang. “Rydian?” ibunya memanggil remaja itu. Remaja yang bernama Rydian menoleh, “ya, Mom?” “Tidak perlu. Mom membawa beberapa lilin dari rumah itu.” Rydian mengangguk. Tiba-tiba saja perutnya lapar. Dia menggigit bibirnya pelan. Dia tidak ingin meminta makanan lagi pada ibunya. Stok roti yang dibawa ibunya mulai menipis. “Kau lapar?” tanya ibunya. Rydian menggeleng, “aku sakit perut.” Katanya berbohong. “Nah, coba kau cari kamar mandinya. Apakah masih ada. Semoga ada sumur air bersih juga di sini.” Rydian mengangguk menuruti perintah ibunya. Dia berbalik bermaksud mencari saat mendengar suara adiknya yang merengek meminta makan karena lapar. Didengarnya ibunya memeringatkan Elena untuk tidak menghabiskan sisa roti itu. Rydian menghela napas. Dia harus mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Alisnya berkerut mengingat bahwa usianya tidak mencukupi untuk mendapatkan pekerjaan. Di kota Panstone, usia seseorang diperbolehkan bekerja adalah 17 tahun, dan dia baru berusia 15 tahun. Kembali dia menghela napas seraya membuka salah satu ruangan dengan pintu kayu. Lalu senyumnya terbit, toiletnya ada. Dilongokkan kepalanya pada sumur air, dan memiliki air yang bersih. Bisa untuk mandi. Setidaknya demikian. “Toiletnya ada.” Katanya pada ibu dan adiknya, “aku akan keluar sebentar.” “Ke mana?” Ibunya bertanya sedangkan Elena menatap kakaknya bingung. “Bertemu teman. Siapa tahu ada yang akan memberiku pekerjaan.” Rydian berkata seraya mengangkat bahu. Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, dia segera keluar dari gudang tersebut. *** Dia menelan ludah menatap toko roti yang mengeluarkan bau harum. Dia teringat ibunya yang senang sekali membuat roti dengan bentuk dan rasa apa pun. Seketika air liurnya terbit. Sejak tadi dia berkeliling mengemis pekerjaan namun tidak ada satu orang pun yang mau menolongnya. Hal pertama yang orang-orang katakan adalah; berapa umurmu? Kau kecil sekali. Dia memang memiliki tubuh kecil dan kurus dan banyak orang yang tidak mau mempekerjakan anak bertubuh kecil. Dia pun tidak bisa berbohong mengenai usianya disebabkan karena tubuh kurusnya. Akhinya, matanya tertuju pada tempat sampah yang ada di samping toko roti. Dia menghela napas. Dia mau tidak mau mencari makanan sisa di sana. Dia melihat seekor kucing dengan makan sebuah ikan dan membayangkan dirinya sekarang sama seperti binatang itu. Dia melongokkan kepalanya pada tempat sampah lalu mengernyit hidung mencium bau busuk dari tempat sampah itu. Tangannya terulur membuka satu persatu bungkusan yang sudah dirubungi lalat. Saat dia membuka bungkusan berisi roti berjamur, seseorang menarik tangannya. Seorang pria bertubuh tinggi memberikannya sepotong roti lalu berlari dengan cepat. Dia menatap pria itu heran lalu menunduk memerhatikan bongkahan besar roti yang masih hangat. “Pencuri!” teriakan beberapa orang yang datang entah dari mana mengejutkan Rydian dan dia menjatuhkan roti tadi saking terkejutnya. Beberapa orang pria menunjuknya, “itu pencurinya!” “Tangkap dia!” “Hajar dia!” Rydian yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mematung saat orang-orang mendatanginya lalu menariknya paksa. Tubuh kecil remaja itu diseret-seret sepanjang jalan menuju alun-alun kota Panstone. Segera saja orang-orang mengerubungi alun-alun. Rydian hanya bisa diam sebab dia tidak tahu harus berkata apa. Dia masih terkejut melihat banyak orang menontonnya.  Keterkejutannya tidak sampai disitu saja, sebuah bogeman melayang menuju perutnya hingga membuat dia terjerembab. Rambutnya ditarik paksa yang membuatnya menatap orang yang menariknya. Seorang pria bertubuh jangkung dengan lintingan rokok terselip di gigi kuning itu menatapnya garang, “Jadi kau yang selama ini mencuri rotiku?” Mata Rydian melebar, “Tuan, saya tidak mencuri.” “Alah!” pemilik toko roti itu berdecak. Dia menepuk keras pipi Rydian. “Tidak ada pencuri yang akan mengaku!” Tangan pemilik toko roti itu terkepal di udara. Rydian sudah tahu apa yang selanjutnya terjadi dengan wajahnya atau tubuhnya. Jika sudah seperti itu, dia tidak berani untuk pulang. Dia tidak mau ibu dan adiknya khawatir melihatnya. *** Tubuhnya lebam. Luka robek di dahi. Mata kirinya bengkak dan membiru. Dia tidak dapat melihat dengan jelas dengan sebelah mata kanannya. Jalan tertatih-tatih menahan sakit. Kedua tangannya gemetar menahan rasa lapar yang mendera. Sudah hampir dua hari dia tidak makan. Baru saja dia dipukuli lagi orang hanya karena mengais tempat sampah demi mencari sisa-sisa makanan. Dia dituduh sedang menyembunyikan barang curian. Dia bahkan tidak tahu bagaimana bentuk barang curian itu. Orang-orang tidak peduli padanya. Kota yang ditinggalinya adalah kota yang tidak begitu besar namun padat penduduk. Kota Panstone sudah menjadi rumahnya. Itu ketika dia masih mempunyai rumah dengan keluarga yang utuh. Setelah Ayahnya pergi entah ke mana dan rumah yang ditinggalinya menjadi jaminan hutang Ayahnya, Kota Panstone menjadi neraka baginya. Kekayaan yang dia punya seketika habis dan orang-orang tidak ada yang menghargainya saat sudah jatuh miskin. Dia mendorong pintu dengan tangannya yang masih gemetar. Suasana gelap dalam ruangan yang luas, dipenuhi barang-barang tua. Tidak ada pencahayaan sama sekali, hanya ada sebuah lilin menyala dari sudut ruangan. Ibunya dan Adiknya sudah tidur. Itu mudah baginya untuk menyelinap masuk tanpa harus bertemu Ibunya. Ibunya pasti akan khawatir setengah mati melihatnya tidak pulang, namun ketika pulang seluruh tubuhnya terluka. Rambut merah Ibunya tampak tidak terurus. Begitu pula rambut pirang Adiknya, sangat kusut. Adiknya lebih mirip Ayahnya yang memiliki rambut pirang. Sedangkan dia memiliki rambut cokelat. Tidak seperti ibunya. Menurut ibunya, rambutnya seperti rambut kakeknya. Dia bersyukur karena itu. Sudah satu minggu mereka menempati gudang itu, dan dia datang selalu malam hari kemudian meletakkan beberapa makanan untuk ibu dan adiknya. Makanan yang dia dapatkan dari hasil mengemis di pinggir jalan atau menolong wanita tua membawakan barang. Dia tidak peduli jika ada keamanan kota yang menangkapnya. Yang penting ibu dan adiknya bisa makan. Dia malu pada ibu dan adiknya jika pulang tidak membawa apa pun dan dengan wajah penuh luka. Dia melihat ada beberapa bungkus makanan di samping Ibunya tidur. Lalu, ada beberapa bekas bungkus lain di sudut ruangan. Dia menghela napas, setidaknya mereka berdua masih bisa makan. Pasti Ibunya atau Adiknya mendapatkan makanan itu dari orang atau mengemis. Dia menelan ludah lalu memegangi perutnya. Hari ini dia tidak mendapatkan apa pun di jalan. Dia belum makan dari pagi dan belum memberikan apa pun pada ibu dan adiknya. Kembali dia menelan ludah, ingin mengambil satu bungkus makanan berisi roti namun ditahannya. Dia bisa menahan lapar sehari lagi. Dia menghembuskan nafasnya. Berdoa semoga dia kuat menahan lapar sehari lagi. 'Kruk! Kruk!' Perutnya berbunyi. Dia melirik Ibunya dan Adiknya yang masih tertidur pulas. Menelan ludah sekali lagi melihat roti yang nampaknya sangat lezat lalu berjalan menjauh. Dia ingin mencari tempat yang aman agar tidak dapat terlihat oleh mereka ketika mereka terbangun nanti. Dia berjalan semakin masuk ke dalam gudang yang luas itu. Diambilnya sebuah lilin lagi kemudian menyalakannya dengan sebatang korek api. Cahaya lilin berpendar-pendar. Kondisi tubuhnya yang sakit dan terluka, dia memilih untuk mencari tempat aman hanya sekedar berbaring. Ada beberapa ruangan yang tidak terpakai. Salah satu ruangan terdapat beberapa meja yang sudah rusak. Terdapat beberapa cakaran binatang buas di meja dan dinding tersebut. Ada sebuah meja panjang di tengah ruangan. Ditatapnya berkeliling ruangan itu lalu pikirannya seketika mengarah pada sebuah ruangan penelitian. Ruangan itu mirip ruangan penelitian sederhana yang pernah dilihatnya. Entah penelitian apa. Dia mengangkat bahu. Dia membuka-buka lemari usang, mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk mengobati lukanya. Terdapat banyak sekali kertas-kertas yang dia tidak tahu. Dia sedang malas untuk membacanya. Matanya tertuju pada sebuah kotak berukuran sedang. Dia memperkirakan kotak perak itu berukuran tiga puluh sentimeter di setiap sisinya. Kotak tersebut tidak berdebu, dia berpikir karena kotak tersebut berada dalam lemari. Kotak tersebut tidak memiliki pembuka. Dia membolak-balik kotak tersebut lalu menggoyang-goyangkannya. Tidak ada suara apapun di dalamnya. Alisnya berkerut. Karena penasaran, didekatkan kotak tersebut pada lilin yang dia letakkan di meja rusak. Dalam cahaya lilin, dia dapat melihat jelas ukiran transparan di kotak tersebut. Disentuhnya ukiran tersebut namun tidak dirasakan apapun di jarinya. Jarinya menelusuri ukiran itu hingga dilihatnya tombol kecil yang hampir tidak terlihat di bagian pinggiran kotak perak. Dia menekan tombol kecil itu, kemudian muncul suara mendesis pelan yang membuat dia meletakkan kotak itu di meja. Dia mundur beberapa langkah. Matanya menatap sekeliling, dia khawatir jika ibu dan adiknya akan melihat.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.0K
bc

Rise from the Darkness

read
8.6K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.7K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

TERNODA

read
199.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook