Bab 2. Kencan Buta

1200 Kata
Enzo — POV "Pokoknya, nenek mau kamu segera menikah, Enzo." Kalimat itu sudah entah untuk keberapa kalinya kudengar dari mulut nenekku tercinta. Rasanya telingaku bisa tuli kalau harus mendengarnya lagi. "Nenek tahu sendiri, 'kan? Aku sudah berkali-kali ikut kencan buta, tapi hasilnya selalu sama ... tidak ada satu pun yang tertarik padaku. Tolong, hentikan semua rencana kencan buta itu, Nek. Aku sudah capek bertemu perempuan-perempuan yang cuma lihat harta," ucapku kesal sambil menggenggam tongkatku erat-erat. Ya, benar. Aku buta. Tapi meski begitu, nenek masih bersikeras ingin aku menikah. Padahal, perempuan mana sih yang mau menikah dengan laki-laki buta seperti aku? Kadang, keinginan nenek memang terdengar tidak masuk akal. Aku bisa merasakan tangan nenek menggenggam tanganku dengan lembut. Sentuhan hangat itu adalah jurus andalannya setiap kali ingin menenangkanku. "Nenek melakukan semua ini demi kamu, Enzo. Nenek ingin kamu punya istri yang bisa merawatmu dan meneruskan keturunan keluarga Blythe. Lagi pula, usiamu juga sudah cukup matang. Dulu, nenek menikah dengan kakekmu di usia dua puluh tahun. Sekarang kamu bahkan sudah lima tahun lebih tua dari kakekmu waktu itu." Ucapan nenek tentu saja membuatku mendengus pelan. "Ya ampun, Nek. Jaman dulu dan sekarang jelas beda. Lagian, waktu itu kakek nggak cacat, sedangkan aku—" Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, nenek buru-buru menutup mulutku. Beberapa detik kemudian, dia melepaskannya kembali. "Jangan pernah bilang begitu lagi. Kamu bukan cacat, Enzo. Nenek yakin kamu akan sembuh. Nenek rela membiayai pengobatanmu berapa pun biayanya. Dan satu hal lagi, nenek tahu kenapa semua perempuan itu menolakmu. Karena kamu selalu pakai kacamata hitam itu, sampai wajah tampanmu nggak kelihatan, dan kamu juga selalu berpu—" "Oke, oke. Aku akan ikut kencan buta lagi. Tapi ini terakhir kalinya, Nek. Setelah ini, jangan paksa aku lagi." Akhirnya, aku kembali menuruti keinginan nenek. Tapi kali ini, aku memberi batas. Jika kencan buta berikutnya gagal, aku ingin nenek berhenti berharap. Nenek memelukku erat, penuh kasih. Aku tahu semua ini karena cinta dan kekhawatirannya padaku. Tapi bagiku, menikah sudah lama tak ada dalam rencana hidupku sejak perempuan yang kucintai dulu memilih pergi dan meninggalkanku. *** “Sudah jam berapa, Gabriel?” tanyaku setelah menunggu cukup lama. Aku bukan tipe orang yang sabar, tapi kali ini aku menahan diri semata-mata demi nenekku. Dia adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki sekarang. Ibu dan kakek sudah lama meninggal, sementara ayah ... sudahlah, aku tak ingin membahasnya. Bagiku, hanya ibu yang pantas kusebut orang tua. Aku tumbuh tanpa sosok ayah. “Sudah jam sepuluh lewat lima puluh, Tuan,” jawab Gabriel tenang. Tak lama setelah itu, terdengar langkah kaki mendekat. Bersamaan dengan suara itu, Gabriel membisikkan sesuatu di telingaku. Aku mengangguk pelan, lalu menyuruhnya pergi. “Katakan, apa tujuan Anda mengikuti kencan buta ini?” tanyaku datar tanpa basa-basi seperti biasanya. Beberapa detik berlalu sebelum perempuan itu akhirnya berbicara. “Terus terang, Tuan. Saya ikut kencan buta ini karena ingin menikah dengan warga lokal di sini. Mungkin alasan saya terdengar aneh, tapi saya butuh izin tinggal permanen di negara ini.” Jawaban itu membuatku terdiam sejenak. Dari sekian banyak perempuan yang pernah kukencani, baru kali ini ada yang mengungkapkan alasan sejujur itu. “Jadi, Anda bukan orang sini?” tanyaku dingin. “Dari kata-kata Anda, sepertinya Anda siap menikah dengan siapa saja.” “Benar,” jawabnya tanpa ragu. “Saya siap menikah dengan siapa pun, asalkan dia asli warga negara ini. Saya punya alasan yang tidak bisa saya ceritakan. Jika Anda bersedia, Saya akan segera menikah dengan Anda.” Aku hampir tersedak mendengar kata-katanya yang begitu lugas. Meski tidak bisa melihat ekspresinya, aku bisa menangkap nada sedih di suaranya. Entah apa yang pernah terjadi padanya, aku tidak tahu, dan sebenarnya tidak ingin tahu. Tapi aku tidak menyangka, perempuan ini dengan mudah mengucapkan keinginan menikah sebelum tahu siapa aku sebenarnya. “Nona, Anda yakin mau menikah dengan saya? Saya buta dan miskin. Sudah berkali-kali saya ikut kencan buta, tapi tak satu pun perempuan mau dengan laki-laki seperti saya.” Seperti biasa, aku mengungkapkan sebagian kebenaran dan dengan sedikit kebohongan di dalamnya. Perempuan itu terdiam. Yang kudengar hanya suara cangkir beradu dengan sendok. Mungkin dia baru saja meneguk kopi yang kupesan untuknya. Sepertinya dia sedang mencerna ucapanku dan berpikir untuk menarik kata-katanya kembali. “Anda buta?” tanyanya akhirnya, terdengar terkejut. “Dari awal saya tidak sadar. Begitu masuk, pandangan saya langsung tertuju pada Anda. Anda pria paling tampan di sini. Saya kira Anda memakai kacamata hitam hanya karena gaya. Maaf, kalau boleh tahu ... apa penyebab Anda buta?” Mendengar ucapannya, aku hampir tertawa. Untung saja aku bisa menahannya. Dia terdengar begitu polos, tapi entah kenapa terasa menyenangkan. Perlahan, aku meraba meja, mencari cangkir kopiku. Namun sebelum sempat menemukannya, cangkir itu menyentuh tanganku terlebih dulu, dia yang menyerahkannya padaku. Setelah menyesap kopi hangat itu dan meletakkannya kembali, aku menjawab tenang, “Saya buta karena kecelakaan kerja dua tahun lalu. Saat itu, saya bekerja sebagai sopir truk.” Bohong. Tentu saja itu kebohongan. Aku akan mengatakan yang sebenarnya jika suatu saat aku yakin pada ketulusannya. “Maaf, Tuan,” ucapnya pelan. “Saya malah membuat Anda mengingat masa lalu yang berat. Tapi Anda hebat, bisa bertahan selama dua tahun ini.” Entah kenapa, mendengar suaranya membuat dadaku terasa hangat. Ada ketenangan yang sudah lama tak kurasakan dari perempuan mana pun. “Ehem,” aku berdeham kecil. “Jadi, Anda masih ingin menikah dengan saya? Saya buta dan miskin. Sekarang saya hanya bekerja sebagai penjual bunga di pinggir jalan.” Kalimat itu meluncur begitu saja, terdengar meyakinkan padahal hanya sandiwara. Aku sendiri hampir tertawa mendengarnya. “Kenapa tidak?” jawabnya tanpa ragu. “Menjual bunga itu pekerjaan yang baik. Kebetulan saya sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan ternama di sini. Saya bisa menafkahi Anda nanti. Anda tidak perlu menjual bunga lagi. Yang penting, saya bisa menikah agar mendapatkan izin tinggal.” Aku terpaku mendengar jawaban itu. Benar-benar berbeda dari semua perempuan yang pernah kutemui. Seandainya saja dia tidak menyebut soal tujuan pernikahan itu, mungkin aku sudah benar-benar jatuh hati. Tapi meski alasannya bukan cinta, aku tetap bisa menerimanya, karena dia menerima kekuranganku tanpa berpura-pura. Perempuan seperti ini langka. Dan kalau aku melepaskannya sekarang, mungkin aku tak akan pernah menemukan yang seperti dia lagi. “Baiklah. Saya setuju menikah dengan Anda. Tapi jangan salah paham dulu,” ucapku tegas. “Saya menyetujuinya bukan karena saya menyukai Anda, melainkan karena permintaan nenek saya. Dan ... saya ingin pernikahan kita bersifat kontrak saja. Setelah mataku sembuh dan kamu sudah mendapatkan izin tinggal permanen di negara ini, kita akan bercerai.” Setiap kata yang keluar dari mulutku benar-benar sadar dan terukur. Aku memang bersedia menikahinya, tapi tidak ingin ada perasaan yang tumbuh di antara kami. Dengan adanya perjanjian kontrak, semuanya bisa berjalan jelas dan terarah tanpa melibatkan hati. “Baiklah. Apa Anda sudah menyiapkan surat kontraknya?” tanyanya tenang. Aku tertegun sejenak, perempuan ini benar-benar berbeda. Tanpa banyak tanya, dia langsung menerima syaratku. Aku pun meraba meja, menemukan map yang sebelumnya diletakkan Gabriel, lalu mendorongnya perlahan ke arahnya. Tak lama kemudian, kudengar suara kertas dibuka. Dia membaca kontrak itu dengan tenang, sementara aku menyesap kopi pelan, menunggu reaksinya. “Saya sudah menandatanganinya,” katanya akhirnya, suaranya terdengar mantap. “Sekarang ... bolehkah kita langsung ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN