Bab 1. Rencana Kabur Sang Putri
Eleanor — POV
“Dasar cowok nggak tahu diri!” desisku pelan, menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. Tanpa pikir panjang, aku meninggalkan depan ruang kerja tunanganku dengan langkah cepat. Siapa yang nggak murka? Baru saja aku mengintip laki-laki yang dijodohkan denganku berciuman dengan perempuan lain di kantornya sendiri. Aku memang tidak punya perasaan apa-apa padanya, tapi setidaknya dia bisa menghargai statusku sebagai tunangannya.
Dengan kepala panas, aku keluar dari gedung perusahaan milik keluarga Marlowe, keluarga terpandang di Asteria, sama seperti keluargaku. Dan dia, calonku yang “terhormat”, pewaris mereka, rupanya hanya seorang laki-laki b******k.
Begitu sampai di rumah, aku langsung mencari orangtuaku. Lunch box yang tadi kubawa khusus untuknya, kini kuletakkan begitu saja di meja ruang keluarga. Aku duduk di samping Mama yang sedang asyik menelusuri katalog perhiasan mewah.
“Ma, El mau batalin pertunangan dengan Asher. El nggak mau nikah sama laki-laki b******k itu,” ucapku mantap.
Mama langsung menatapku tajam, seperti baru melihat anaknya kesurupan.
“Kamu kenapa sih, El? Baru pulang tiba-tiba ngomong begitu. Apa kamu lupa etiket yang pernah kamu pelajari sejak kecil? Dan ... kenapa lunch box yang Mama kasih malah ada di sini? Kamu belum kasih ke Asher?” tanya Mama penuh kebingungan campur amarah, matanya melirik tajam pada lunch box yang teronggok tak bersalah di atas meja.
Aku menarik napas panjang sebelum menjawab Mama. “Ma, Asher itu sudah punya pacar. El lihat sendiri mereka berciuman di kantornya. El nggak mau menikah dengan laki-laki kayak gitu. Cuma perempuan yang nggak punya akal sehat yang mau,” kataku penuh amarah, berharap Mama langsung mengerti dan berdiri di pihakku.
Namun jawaban Mama justru seperti tamparan.
“El, dengar Mama baik-baik. Itu hal biasa kalau Asher punya perempuan lain. Tapi tetap kamu yang akan jadi istrinya. Biarkan saja, setelah menikah dia pasti meninggalkan perempuan itu. Kamu harus sabar. Sebulan lagi kamu akan menjadi nyonya muda keluarga Marlowe. Mama dan Papa bangga sama kamu,” ujar Mama sambil memelukku. Pelukan yang biasanya hangat kini terasa dingin. Bukan pelukan seorang ibu, tapi pelukan seseorang yang sedang menjaga asetnya.
Sejak kecil aku sudah diajarkan untuk taat tanpa bertanya. Putri dari orang nomor satu di Asteria harus sempurna. Itu yang selalu kutelan sejak usia tiga tahun, ketika aku mulai homeschooling. Pada usia enam tahun, aku sudah sibuk belajar etika bangsawan dan cara bersikap anggun. Dulu aku kira semua itu untuk masa depanku sendiri. Tapi semakin dewasa, semakin aku sadar: semua didikan itu bukan untuk kebahagiaanku, melainkan untuk ambisi kedua orangtuaku.
Demi bertahan di puncak kekuasaan, Papa rela “menjualku” pada keluarga Marlowe, keluarga terkaya yang menopang pemerintahannya. Dengan dukungan mereka, Papa bisa mempertahankan jabatannya selama-lamanya. Di Asteria, seorang Presiden bisa berkuasa seumur hidup selama tidak punya skandal dan mampu memajukan negara. Dan Papa memang mencintai rakyatnya, bekerja keras untuk kemajuan negara ini. Tapi tetap saja, semua itu tidak menghapus kenyataan bahwa hidupku dijadikan bagian dari permainannya.
Mama memelukku makin erat, tangannya mengusap rambutku lembut seolah ingin menenangkanku. Aku tahu, itu bukan pelukan kasih sayang, itu cara halus agar aku diam dan patuh. Tapi kali ini aku sudah punya tekad. Kalau mereka pikir aku akan menyerah begitu saja, mereka salah. Untuk saat ini, aku akan berpura-pura menurut.
“Maaf ya, Ma. Tadi El terlalu terbawa emosi sampai ngomong kasar. El ingat posisi, kok. El akan menikah dengan Asher. Selama Mama dan Papa bahagia, El juga bahagia.” Aku tersenyum, senyum yang terasa lebih pahit daripada obat paling busuk.
Mama langsung tampak lega, bahkan tersenyum bahagia. Begitu mudah membuatnya puas. Sayang sekali, kebahagiaanku sendiri tidak pernah masuk dalam daftar prioritasnya.
Pikiran tentang kakak laki-lakiku tiba-tiba muncul. Dia pergi dari rumah karena tidak tahan hidup seperti boneka di tangan orangtua kami, dan sekarang aku benar-benar mengerti alasannya. Andai dulu aku lebih cepat sadar, mungkin aku akan ikut kabur bersamanya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Meski begitu, bukan berarti aku tidak punya jalan keluar. Mungkin terlambat untuk lari bersama kakakku, tapi tidak terlambat untuk menemukan kebebasanku sendiri.
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku melihat Mama dan Papa di lantai dasar sedang bersiap. Dua pengawal membawa koper di belakang mereka. Sepertinya mereka hendak bepergian, meski aku sama sekali tidak diberi tahu ke mana.
Seorang pembantu mendekatiku dengan sopan. “Permisi, Nona. Tuan dan Nyonya memanggil Anda untuk turun.”
Aku hanya mengangguk ringan. Langkahku menuruni tangga terasa berat meski cuaca di luar terang benderang. Sayangnya, hatiku tidak secerah itu.
Begitu tiba di bawah, Mama dan Papa menyambutku dengan senyum hangat, senyum palsu yang bagi orang luar pasti terlihat penuh cinta. Aku hampir tertawa sinis.
“Papamu ada kunjungan kenegaraan selama seminggu, jadi Mama ikut mendampinginya. Kamu jaga diri baik-baik di rumah, ya. Kalau butuh apa-apa, bilang ke kepala pelayan,” ujar Mama lembut.
Papa mendekat dan memelukku. “Maaf Papa sibuk belakangan ini. Papa tahu kamu mengerti. Nanti Papa belikan banyak oleh-oleh, ya.”
Aku tersenyum, tipis dan tidak sepenuh hati. “El ngerti, Pa. Semoga perjalanannya lancar dan selamat sampai kembali.” Doaku tulus, mereka tetap orangtuaku meski mereka jarang bertindak layaknya itu.
Papa mengecup keningku sebelum menjauh. Mama kemudian memelukku juga, lalu berbisik, “Ingat janji kamu, ya. Jangan kemana-mana kecuali Asher yang mengajak. Jangan kecewakan Mama, El.”
Aku mengangguk patuh, meski di dalam kepalaku rencana lain mulai terbentuk.
Begitu mobil mereka bergerak pergi, aku langsung kembali ke kamar. Ini saat yang tepat untuk kabur. Tanpa mereka di rumah, kesempatanku lebih besar. Aku mondar-mandir, menyusun rencana, tapi semakin kupikirkan, semakin terlihat jelas. Kabur tidak mudah. Papa memasang terlalu banyak pengawal. Pasti mereka sedang berjaga di luar.
“Aku harus kabur ke mana? Selama masih di Asteria, mereka akan menemukanku,” gumamku gelisah.
Kak Eryx terlintas di pikiranku. Andai aku masih punya kontak dengannya. Tapi sudah dua tahun sejak dia kabur dan putus hubungan dengan keluarga, bahkan orangnya Papa tidak bisa melacak keberadaannya.
Aku menjatuhkan tubuh ke kasur, menatap langit-langit. Lelah. Lalu sebuah nama muncul di kepalaku, Alea. Teman dekat yang kini tinggal di luar negeri. Aku langsung bangkit, mengambil ponsel, dan mengetik pesan.
Hai, Lea. Aku perlu bantuanmu.
Kirim.
Aku menatap layar ponsel sambil menarik napas dalam. Semoga dia membalas. Semoga dia mau membantuku keluar dari “rumah mewah” yang lebih mirip penjara ini.
Sambil menunggu balasan dari Alea, aku mulai bergerak cepat. Aku membuka laci rahasia tempat menyimpan paspor dan menarik brankas kecilku keluar. Aku harus membawa uang tunai sebanyak mungkin. Aku tidak bisa memakai black card pemberian Papa, itu sama saja mengizinkan mereka melacak setiap langkahku. Untungnya, sejak dulu aku suka menyimpan uang tunai sendiri, jauh dari jangkauan siapa pun.
Ting!
Suara notifikasi membuatku tersentak. Aku langsung menaruh paspor dan brankas di atas kasur lalu berlari kecil ke meja untuk mengambil ponselku. Senyum otomatis muncul di wajahku saat membaca pesan itu.
Apa pun yang kamu butuhkan, selama aku bisa, aku akan bantu, El.
Tanpa pikir panjang, aku menekan tombol panggilan. Lebih cepat bicara langsung daripada menunggu balasan pesan berikutnya.
“Halo, Lea. Gimana kabarmu?” sapaku begitu telepon tersambung.
“Halo, El! Aku baik. Kamu sendiri gimana?” jawabnya ceria.
Aku menarik napas panjang. “Sejujurnya ... aku nggak baik-baik aja. Aku mau kabur dari rumah, Lea.” Tidak ada pemanis kata, aku terlalu mepet waktu. “Tolong bantu aku urus visa dan beli tiket pesawat online ke Meredia. Aku nggak bisa pesan sendiri, aku takut transaksi elektronikku langsung terlacak.”
Suara Alea berubah panik. “Hah? El, kamu serius? Kalau orangtuamu tahu, kamu bisa kena masalah besar.”
“Nanti aku jelasin semuanya setelah aku sampai Meredia. Maksimal dalam tiga hari ini, aku harus pergi, Lea. Aku nggak punya pilihan lain,” ucapku tegas, suara sedikit bergetar tapi pasti.