Bab 4. Malam Pertama yang Tak Direncanakan

1329 Kata
Suasana di ruang tengah rumah sederhana dengan perabotan mahal itu terasa agak canggung ketika Odette Vivienne Blythe, nenek Enzo, duduk di antara Enzo dan Eleanor. Eleanor menampilkan senyum kikuk, sementara Odette menatap cucu dan cucu menantunya bergantian dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. “Namamu siapa, cantik?” tanya Odette dengan nada hangat. “Nama saya Elara Azelie Blair, Nek. Nenek boleh panggil saya Elara atau El,” jawab Eleanor sopan, meski terdengar sedikit gugup. Sebelum berangkat ke Meredia, dia sudah mengubah identitasnya agar keluarganya tidak bisa menemukannya. Odette tersenyum lebar. “Wah, namanya secantik orangnya. Kalau begitu, El, kamu tunggu di sini dulu ya. Nenek mau bicara sebentar berdua dengan Enzo,” katanya sambil menarik sedikit ujung baju cucunya sebagai isyarat halus. “Silakan, Nek. Saya juga mau telepon teman saya untuk mengirimkan barang-barang saya ke sini,” sahut Eleanor dengan ramah sebelum beranjak. Tak lama kemudian, Enzo dan Odette berada di teras belakang. Odette memilih kursi rotan sementara Enzo berdiri di sampingnya. “Sekarang jujur, Enzo. Dari mana kamu dapat perempuan secantik itu? Dia jelas bukan peserta kencan buta yang dijadwalkan untukmu,” tanya Odette dengan nada curiga. Enzo menghela napas pelan. “Dia sendiri yang datang ke mejaku, Nek. Aku baru tahu kalau dia salah orang setelah Gabriel menelepon, waktu aku sudah di perjalanan menuju kantor catatan sipil. Sudah setengah jalan, jadi tak mungkin dibatalkan. Tolong jangan permasalahkan lagi, Nek. Yang penting sekarang aku sudah menikah. Bukankah itu yang Nenek mau?” ucapnya, terdengar agak kesal. Odette terdiam sejenak, menimbang kata-katanya. “Lalu ... apa Elara tahu kalau dia salah orang?” Enzo mengangkat bahu pelan. “Entahlah. Mungkin belum.” “Bagus. Jangan bilang dulu. Kalau dia sampai tahu dan ingin bercerai, Nenek tidak akan setuju,” ucap Odette tegas. “Nenek sudah bisa menilai dari pertemuan singkat tadi ... sikapnya sopan, anggun, dan kelihatannya dari keluarga baik-baik. Nenek suka padanya.” Setelah merasa terlalu lama meninggalkan Eleanor sendirian, keduanya akhirnya kembali masuk ke rumah. Mereka mendapati Eleanor baru saja datang dari dapur sambil membawa keranjang buah. “Duh, sayang, biar Nenek bantu,” ucap Odette sambil segera menghampiri dan menuntun Eleanor duduk di sofa. “Nenek mau makan buah apa? Biar saya bukakan,” tanya Eleanor dengan lembut. Dia mulai merasa nyaman berada di dekat Odette, kehangatan perempuan berusia enam puluh tahun itu membuatnya cepat akrab. Odette menunjuk beberapa jeruk segar di keranjang buah di atas meja. Elara segera mengambil salah satunya dan mengupas kulitnya dengan gerakan anggun. Setiap gerakannya diperhatikan oleh Odette, yang diam-diam merasa cucunya beruntung bisa menikah dengan gadis seperti Eleanor meski sebenarnya gadis itu bukan calon yang direncanakan. Sementara itu, Enzo yang sejak tadi hanya diam, berdeham pelan. Seketika, Eleanor dan Odette menoleh bersamaan ke arahnya. “Ada apa, Enzo? Cemburu ya, karena istrimu lagi sibuk melayani Nenek?” goda Odette dengan tawa kecil yang menggoda. Eleanor sontak tersipu, pipinya memerah menahan malu, sementara Enzo hanya menunduk dan berusaha terlihat tenang meski hatinya ikut berdebar. “Bukan, aku cuma haus. Di meja depan ini ada air, 'kan?” katanya berusaha mengalihkan perhatian. Eleanor, yang peka terhadap situasi, segera berdiri dan menuangkan air dari kendi kaca ke gelas kaca sedang. Dia menyerahkan gelas itu dengan hati-hati ke tangan Enzo. “Ini air minumnya, Tuan,” ucapnya sopan. Panggilan itu langsung menarik perhatian Odette. “El, jangan panggil suamimu ‘Tuan’. Kedengarannya kaku sekali. Coba deh, ganti dengan panggilan yang lebih manis,” kata Odette sambil tersenyum menggoda. Belum sempat Eleanor merespons, Enzo yang tengah minum malah tersedak dan hampir menyemburkan airnya. Untung saja Eleanor sudah duduk kembali di tempatnya. “Nenek, jangan mulai. Biarkan saja dia memanggilku sesuka hatinya. Nggak perlu dipaksa. Lagipula ... hubungan kami belum sejauh itu,” ucap Enzo cepat-cepat. Odette hanya tersenyum misterius sambil menatap keduanya bergantian. Dalam hatinya, dia sudah merencanakan sesuatu. "Belum sejauh itu, katanya. Baiklah, Nenek akan bantu supaya kalian jadi lebih dekat mulai malam ini, hehe." *** Usai makan malam dengan hidangan mewah yang tampak seperti buatan tangan seorang chef profesional, suasana di rumah sederhana itu terasa begitu hangat. Odette sempat menggoda Eleanor, memuji masakannya yang luar biasa enak. Padahal, mereka tak tahu kalau semua makanan itu sebenarnya dibeli dari restoran mahal. Eleanor hanya tersenyum malu sambil menunduk, membiarkan mereka terus berasumsi. Bagaimana pun juga, dia tak pernah menyentuh dapur seumur hidupnya. Sebagai putri bangsawan yang terbiasa dilayani, urusan masak-memasak adalah hal paling asing baginya. Setelah acara makan malam berakhir, suasana berubah ketika Odette tiba-tiba berkata, “Nenek mau menginap malam ini.” Ucapan itu langsung membuat tubuh Enzo dan Eleanor menegang bersamaan. Bagaimana tidak? Jika neneknya bermalam, otomatis mereka harus tidur sekamar. Semua pasal dalam kontrak pernikahan seolah tak berarti lagi jika akhirnya mereka benar-benar tidur dalam satu kamar. “Di rumah ini cuma ada dua kamar, Nek. Lebih baik Nenek pulang malam ini, nanti besok pagi bisa datang lagi,” saran Enzo hati-hati. Eleanor ikut mengangguk pelan, berharap Odette bersedia. Namun, Odette justru menatap mereka dengan ekspresi pura-pura tersinggung. “Jadi, kalian berdua sepakat mau mengusir Nenek, ya? Bukankah dua kamar cukup? Kamar tamu untuk Nenek, dan kamar utama untuk kalian berdua. Atau ... kalian tidak ingin tidur sekamar?” Kalimat terakhir itu sukses membuat keduanya terdiam seperti kena skakmat. Tak ada pilihan lain, mereka akhirnya mengiyakan permintaan sang nenek. Dengan perasaan kikuk, Eleanor dan Enzo masuk ke kamar. Di luar, Odette hanya tersenyum penuh arti, seolah sedang menikmati hasil dari rencana kecilnya. Di dalam kamar, suasana canggung masih terasa kental. Keduanya duduk di pinggiran sofa, menjaga jarak seolah takut salah gerak. “Kamu tenang saja,” ucap Enzo pelan, berusaha memecah keheningan. “Aku akan tidur di sofa. Aku tidak tertarik padamu. Tapi mulai sekarang, kita harus bersandiwara di depan nenek. Kamu panggil aku Enzo, dan aku akan memanggilmu Elara. Setuju?” Eleanor hendak menjawab, tapi tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Enzo menghela napas berat, sementara Eleanor berdiri dan membuka pintu. Odette muncul dengan dua gelas s**u hangat di tangannya. “Ini s**u buatan Nenek. Minumlah sebelum tidur supaya tidur kalian nyenyak,” katanya lembut. Tanpa curiga sedikit pun, Eleanor dan Enzo meminum s**u itu sampai habis. Setelahnya, Odette pamit sambil mengucapkan selamat malam. Sebelum menutup pintu, bibirnya melengkung membentuk senyum puas. Seperti seseorang yang tahu rencananya baru saja berjalan sempurna, tinggal menunggu hasilnya bekerja. Sementara itu, Enzo yang baru saja melepas kacamatanya bermaksud merebah di sofa, namun tiba-tiba dia merasa ada yang janggal dengan tubuhnya. Tanpa dia sadari, Eleanor yang sudah berbaring di ranjang pun merasakan hal serupa. "Cuaca malam ini terasa panas. Apa boleh aku menurunkan suhu AC-nya?" tanya Eleanor pelan, tangannya terulur mengambil remot. "Lakukan saja. Tak perlu izin padaku," jawab Enzo berusaha tenang, meski tubuhnya terasa semakin tidak nyaman karena sofanya terlalu sempit untuk posturnya. Menit demi menit berlalu, tapi bukannya merasa lebih baik, hawa panas itu justru makin menjadi-jadi. Eleanor akhirnya menanggalkan pakaiannya, menyisakan tank top hitam yang kontras dengan kulit pucatnya. Dia tak terlalu memikirkan hal itu, lagipula Enzo tidak bisa melihat. "Salah satu keuntungan menikah dengan pria buta," batinnya ringan. Sementara itu, Enzo bangkit dari sofa, wajahnya tampak gelisah. Dia meraba tongkatnya dan melangkah perlahan. Elara yang duduk di tepi ranjang, sibuk mengipas wajah, menatapnya diam-diam. Pandangannya terpaku pada wajah Enzo yang begitu tampan dalam remang cahaya kamar. Dia buru-buru memalingkan wajah dan pura-pura fokus pada ponsel di tangannya. "Mungkin dia mau ke kamar mandi," pikirnya dalam hati. Namun sekejap kemudian, teriakan kecil lolos dari bibir Eleanor saat tubuh Enzo tiba-tiba terjatuh menimpanya. Keduanya terperangkap di atas ranjang, begitu dekat hingga napas mereka saling menyapa. Beberapa detik terasa begitu panjang. Tubuh mereka seperti dipenuhi gelombang panas yang sulit dijelaskan. Hidung mereka bertemu dan dalam keheningan itu, seolah tak ada lagi jarak di antara keduanya. Hembusan napas Eleanor menyentuh wajah Enzo. Dia menelan ludah, sementara jantungnya berdentum tak karuan. Entah siapa yang memulainya, bibir mereka akhirnya saling menyentuh. Ragu di awal, lalu perlahan menuntun satu sama lain. Eleanor menautkan jemarinya di tengkuk Enzo, menariknya lebih dekat, memperdalam ciuman yang membuat waktu seakan berhenti berputar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN