Setelah berulang kali melihat bayangannya di cermin toilet hotel, akhirnya Sarah yakin penampilannya cukup baik. Dengan memakai kebaya model kekinian, dan kain yang dijahit menjadi rok, penampilannya menjadi beda daripada yang lain. Dia melirik kepada bayangannya di cermin dan tersenyum.
Smile, itu senjata andalannya, jika ada pertanyaan yang tidak mau dijawab, senyum adalah jawaban paling pas. Dia melangkah dengan yakin di marmer dingin hotel itu. Rambutnya sudah di tata dengan seapik mungkin di salon langganannya dari siang, lalu dilanjutkan dengan make-upnya yang khusus sehingga Sarah harap dia terlihat cantik.
"Onti Sarah!" teriak anak kecil yang berlari mendekatinya sambil mengangkat kedua tangan mungilnya. Wajah cantiknya belepotan dengan kuah kacang dari sate ayam.
"Aduh ponakan Onti makan apa?" tanya Sarah mau memeluk Kayla namun ragu karena kalau noda kacang itu sampai menempel di bajunya, akan menambah biaya dry clean nanti.
"Makan sate ayam, Onti mau?" tanya Kayla dengan polos.
"Mau, Kayla ambil dari mana?" tanya Sarah ikut bermain dengan Kayla. Anak itu menunjuk ke suatu booth yang ramai.
"Itu, tapi rame, Mama aja tadi lamaaaa antrinya," dia menunjuk ke arah mamanya yang sedang membersihkan kotoran di baju Ruben adiknya. Sarah dapat melihat temannya itu sedang frustasi membersihkan kotoran di baju Ruben, sedangkan suaminya hanya berdiri di sampingnya sibuk makan. Sarah segera meraih tangan Kayla dan menggandengnya, dia segera mengarahkan Sarah mendekati mama papanya.
"Kenapa lagi dia?" tanya Sarah setelah sampai di sebelah Rina. Toni menatapnya dan mengangkat tangan dengan masih sibuk makan, Sarah hanya tersenyum tipis kepadanya.
"Kayla, apa Mama bilang tadi, nggak boleh lari-larian sendiri, nanti kalau ada Om jahat ajak Kayla pergi gimana, Mama kan nggak tau Kayla kemana!" hardik Rina kepada anaknya dengan kesal, dia lalu menatap Sarah dengan mata lelah.
"ini, si Ruben menumpahkan kuah puding ke jaketnya, lengket semua! Aish belum apa-apa gue dah keringatan!" lanjutnya dengan geram.
Sarah melihat anak malang itu, sepertinya sudah habis terkena semprot omelan mamanya, dia menatapnya meminta bantuan, matanya yang bulat memohon Sarah agar menenangkan mamanya tanpa kata-kata.
"Namanya juga anak kecil Rin," ucap Sarah sudah terkena mantera Ruben, menarik Ruben dalam pelukannya, dry clean here i come (aku datang dry clean) noda coklat menempel di roknya, tapi dia tak peduli, anak malang ini tampak begitu sedih.
"Ish, jangan di belain terus, nanti ga ngerti-ngerti dia kalau dia salah!" Rina berdiri dengan susah payah karena rok kainnya, begitu dia berhasil berdiri, suaminya dengan seenaknya memberikan piring kosongnya kepadanya.
"Aku mau ambil siomay, kamu mau ga?" Dan tanpa menunggu jawaban Toni berjalan menuju booth siomay.
Sarah mendengus kesal melihat kelakuan Toni barusan yang begitu tidak peduli dengan Rina dan anak-anaknya. Rina meletakkan piring itu ke tempat piring kotor di sebelahnya.
"Padahal tempat piring kotor ada di sebelahnya, kenapa dia nggak taruh sendiri disitu?" tanya Sarah ikut kesal. Rina menarik napas panjang dan melepaskannya pelan-pelan lalu menatapnya.
"Karena ada aku yang melakukannya untuk dia." Sarah memicingkan matanya, aish Sarah tidak akan menikah, itu suatu kepastian!
"Hai Sar." Sarah langsung mengenali suaranya, sebenarnya dia ingin menghindari bertemu dengannya, tapi pastilah mereka akan bertemu disini, itu seperti sudah suatu kepastian, maka Sarah memutar tubuhnya dan menatapnya.
Dia mengenakan setelan jas berwarna biru tua, dengan kaos leher tinggi di dalamnya berwarna abu-abu, dia tersenyum kepada Sarah dan terlihat tampan.
"Hai, Noah, sendirian aja?" tanya Sarah berharap melihat kali ini dia siapa tahu sudah membawa kisah baru. Dia melihat ke sekitar Sarah sebelum menjawab.
"Sepertinya sama dengan kamu, sendirian," jawabnya menatap Sarah sedemikian rupa sehingga dia merasa jengah.
"Ah…" Dia mencoba mencari bantuan, tapi ternyata Rina sudah berjalan menuju suaminya sambil menggandeng Kayla dan Ruben di kedua tangannya. Walau enggan mengakuinya, tapi melihat mereka itu seperti melihat foto keluarga bahagia. Toni langsung menggendong Ruben yang tertawa. Kayla memegang kue, sibuk makan, dan Toni yang melirik ke istrinya dengan tatapan penuh cinta. Hmph...
"Sudah lama Sar?" tanya Noah mengembalikan konsentrasi Sarah kepadanya, wanita berambut panjang itu menatapnya kembali, sambil berpikir bagaimana cara bisa melarikan diri darinya.
"Baru aja sampai," jawabnya cepat.
"Ah, aku belum salaman, aku salaman dulu deh." Ide yang bagus Sarah, tidak aneh kan kalau mau salaman dengan pengantin, Sarah baru mau melangkah saat Noah tiba-tiba sudah di sampingnya.
"Ayo sama-sama, aku juga belum," ucapnya lembut tersenyum kepada Sarah sehingga dia terpaksa berjalan bersamanya.
"Aku senang bertemu denganmu lagi Sar," ucapnya saat kami berbaris menunggu giliran kami untuk salaman. Cih kalau berduaan dengannya seperti ini, nanti pasti semua berpikir kalau kami datang berdua, pikir Sarah dalam hati.
"Eh… iya," jawab Sarah singkat saat dia menatapnya menunggu jawaban.
"Jadi gimana sekarang kabarmu, terakhir ketemu kita…. saat nikahannya Aji ya?" tanyanya memancing bahan pembicaraan.
"Ah… iya, sepertinya terakhirnya disitu," jawab Sarah pelan, dia menatap sebentar mata Noah yang ramah. Dia tampan, dan baik, pekerjaannya pun mapan, tapi mengapa dia masih melajang? pikir Sarah dalam hati. Sekilas bayangan sahabat kecilnya ini memanjat pembatas rumah mereka hanya untuk memberikanmya bunga rumput yang dia temukan di jalan.
"Sepertinya kalau aku nggak salah Bella sudah hamil sekarang," ucapnya memberikan informasi tak penting kepada Sarah. Dia hanya mengangguk menerima informasi itu, saat mereka harus naik ke tangga panggung, dia langsung memegang tangan Sarah untuk membantunya naik, karena dia kesulitan dengan rok kainnya.
"Terima kasih," ucap Sarah segera melepaskan pegangan tangannya. Tanpa dia mau, Sarah jadi membandingkan Toni tadi yang membiarkan Rina berdiri dengan susah payah tadi, yah setidaknya Noah lebih perhatian, pikirnya dalam hatinya lagi.
Ketika kami sudah mendekati Sita si pengantin ungu, punggungnya kembali ditarik dengan lembut oleh Noah agar mendekat kepadanya.
"Selamat ya Sit, bahagia selalu sampai kakek nenek!" ucap Noah sambil menyalami Sita yang terlihat sangat bahagia.
"Ah makasih ya Noah, Sarah!" teriaknya lalu menariknya dalam pelukannya.
"Makasih ya berdua dah mau datang." Tuh kan benar pikir Sarah tadi, pasti Sita berpikir Sarah dan Noah datang bersama, Sarah menjadi gusar sendiri.
"Nanti ada lempar buket, ikutan ya, ada hadiah spesialnya loh!" seru Sita bersemangat, Sarah mengangguk setuju untuk menyenangkan hatinya.
"Benar ya!" pintanya serius melihat Sarah, dia kembali mengangguk sambil tertawa.
"Iyaaah, nanti gue ikut!" teriaknya mencoba mengalahkan suara soundsystem lalu menyalami suami Sita, Raka yang mengangguk sambil tersenyum kaku. Sarah hanya bertemu Raka beberapa kali, dia memang sangat pendiam orangnya. Saat Sarah hendak turun dari panggung, lagi-lagi Noah di sebelahnya untuk membantunya turun.
"Mau makan apa?" tanya Noah mendekati meja panganan, eh… apakah mereka akan berdua terus malam ini, teman-teman yang lain kemana sih? Sarah segera mengedarkan pandangannya melihat sekeliling mencoba mencari teman-temannya, tapi Sarah baru tersadar mereka semua sudah sibuk sendiri, mereka berdiri bersama keluarga dan anak-anaknya, seperti Rina tadi. Dan pada akhirnya pandangan Sarah kembali bertemu dengan Noah yang menunggunya.
"Eh aku ambil sendiri saja," ucap Sarah mendekatinya. Dia tersenyum lalu memberikan piring kosong kepada Sarah. Dia meraihnya lalu menyendok nasi goreng, dan bergeser cepat, memilih makanannya yang lain, tapi Noah selalu menempel padanya sehingga Sarah merasa risih.
Setelah selesai memilih makanannya, Sarah segera menuju Rina dan keluarganya, dia sudah bersama Aji dan istrinya Bella, yang sedang hamil. Ada Roni, idola satu sekolah dulu, juga bersama istrinya yang cantik yang sedang menyuapi anak laki-lakinya yang kira-kira seumuran dengan Ruben. Dan ada Eric dan bersama istrinya juga yang ramah. Dia tersenyum kepada Sarah. Astaga mengapa mereka sudah menikah semua? pikir Sarah dalam hati.
"Hai Sar!" panggil Rina melambai kepadaku, lalu melirik penuh arti ke Noah yang berjalan di sampingnya.
"Halo, Sarah apa kabar? Masih di … advertising ya? tanya Eric seperti biasa dengan gaya angkuhnya, kenalin istriku Chelsea. Sarah menyalami wanita cantik yang ramah di sebelahnya.
"Kenalkan aku Chelsea," ucapnya lembut.
"Loh kok tiba-tiba istri?" tanya Noah dari sebelah Sarah. Mengapa orang ini terus menempel sih? pikiran mulai kesal
"Hehehe, things happens, jadi daripada ribet mending kita married di luar, you know my mom kan?" jawab Eric cepat memberi kode-kode kepada Noah. Sarah mengingat kalau Eric anak konglongmerat, pasti ada masalah disitu, romantis sekali mereka kawin lari.
"Selamat ya," ucap Sarah turut senang, lalu mulai makan, sedangkan Noah masih terus menempel padanya. Ruben dan anak dari Roni berlarian bersama-sama saling kejar-kejaran.
"Pras, hati-hati jatuh!" teriak Roni, dan tepat selesai dia bicara Pras terjatuh dan ditabrak oleh Ruben yang tak siap menghentikan larinya, sehingga menimpa Pras, kepala mereka beradu. Seketika ada paduan suara tangisan anak-anak dalam sekejap. Istri Roni dan Rina segera mengambil anaknya yang menangis. Untuk sementara semua perhatian kepada tertuju kepada mereka berdua.
Sebenarnya dulu Sarah sempat suka dengan Roni, sayang pria itu selalu menutup dirinya, melihatnya sudah menikah dan memiliki anak seperti ini membuat Sarah merasa tertinggal. Roni menarik anak itu dari pelukan mamanya, lalu mengecup kepalanya yang terantuk tadi, dalam sekejap Pras tertawa lalu meminta turun dari pelukan ayahnya dan segera bermain kembali dengan Ruben.
"Dasar anak-anak, hai Sarah, kabar baik?" tanya Roni dengan senyum khasnya.
"Kabar baik," jawab Sarah pelan.
"Hai Ron, gimana kabar terkini? kagetan lo, lama menghilang tiba-tiba muncul dah ada bocah?" Lagi-lagi Noah disamping Sarah bertindak sebagai pasangannya.
"Yah, gitu deh, gue benar-benar bersyukur bertemu Alisa di waktu yang tepat, daripada direbut orang lain, mending langsung nikah." jawabnya dengan anehnya sambil melirik Eric. Pria yang dilirik tertawa, sambil memeluk Chelsea yang tersenyum tipis.
"Ah its all in the past my man!" (Ah, semua itu masa lalu, temanku) ucap Eric menatap istrinya, ada cerita apa di belakang ini? Sarah menjadi penasaran, tapi Eric menatap mereka berdua.
"Yang penting kalian ini lho, jadi kapan?" tanya Eric langsung, Roni langsung ikut menyimak. Noah tertawa kecil, Sarah langsung menggeleng.
"Eh apa? Kita ga ada apa-apa kok!" jawabnya sambil menunjuk ke Noah yang langsung menghapus senyumannya.