"Loh kupikir kalian datang bersama?" tanya Chelsea terkejut. Sarah segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kami datang sendiri-sendiri dan nggak ada hubungan apa-apa, kami hanya teman. Chelsea mengangguk mencoba mengerti.
"Ooh, teman tapi mesra kali yah?" sindir Eric yang langsung disambut tawa oleh Roni tapi Chelsea langsung mencubit pinggang Eric.
"Tapi dulu kita kan pernah janjian ya Sar, lo inget nggak, tanya deh si Aji, dia kan selalu ingat," ucap Eric misterius, dia ingat apa, perasaan Sarah tiba-tiba menjadi tidak enak, Aji yang dipanggil menoleh dengan bingung.
"Ji, inget nggak dulu ada janjian kan di kelas, siapa yang terakhir belum menikah, berarti jodoh kan?" teriak Eric dengan semangat. Astaga janji kuno itu? Kenapa pria dihadapan Sarah ini bisa mengingatnya.
"Oh iya bener-bener, kalau masih sama-sama jomblo harus saling menikahi satu sama yang lain kan ya?" sambung Roni.
Semua waktu itu berpikir kalau Aji yang pendiam bakal terakhir nikah, tapi ternyata bahkan dia sudah menikah sekarang. Kini dia berubah rupa menjadi pria yang tampan. Dulu, Aji pria kurus yang tertutup, dengan rambut selalu menutupi wajahnya. Semua mata memandang Aji. Pria itu memiringkan kepalanya sambil menggaruk belakang kepalanya, untung dia tidak menjawab.
"Bener itu, janji kita dulu di kelas, siapa yang terakhir belum nikah harus menikah bersama, hohoho ternyata … Sarah dan Noah!" timpal Rina bersemangat memandang Sarah dengan mata berseri-seri. Sarah segera menatapnya dengan kesal, dasar teman tidak peka, sesalnya dalam hati.
"Jadi kapan nih?" tanya Eric lagi, memandang Noah sekarang. Pria itu kini menatap Sarah dengan tersenyum.
"Klo aku sih terserah Sarah mau kapan, aku siap kapan ajah." Sarah menoleh begitu cepat sehingga lehernya terasa sakit, dan mendelik ke arah Noah.
"Loh emang kenapa?" tanya Noah sambil tersenyum lebar, seakan-akan apa yang dia ucapkan itu tidak aneh.
"Jangan ngomong yang aneh-aneh deh," ucapnya kesal. Sarah memandang sekelilingnya, Sarah benci jadi pusat perhatian, kini semua menunggu konfirmasi nya atas ucapan Noah.
"Nggak akan aneh sayang, kita dah kenal dari kecil, keluargamu dan keluargaku dah saling kenal, akrab bahkan. Bahkan mereka yang menyuruhku segera melamar kamu." Noah menatap Sarah dengan senyum di wajahnya.
Sarah tiba-tiba bergidik, semua yang ada di situ benar-benar memperhatikannya dan menunggu jawabannya sekarang juga, dia harus menjawab apa? Noah walaupun tampan dan baik bagi Sarah, dia hanya seperti sepupu, saudara dekat hanya itu, Sarah tidak pernah sama sekali melihatnya sebagai pria, apalagi sekarang menjadi suami, astaga!
"Aku, nggak bisa menikahimu, maaf masa kita menikah hanya karena janji konyol masa SMA?" Sarah melihat kemanapun selain ke arah mata Noah. Tapi Noah menarik lengan Sarah dan menatapnya serius.
"Aku mencintaimu dari dulu sampai sekarang, aku mau menikahimu bukan karena janji itu, tapi karena memang aku menyayangimu. Aku terus menunggumu selama ini," ucapnya serius. Rina tidak dapat menahan pekikannya, dia melompat dan menutup mulutnya dengan semangat sambil memukul Roni yang tersenyum lebar.
Aish, kenapa Noah malah ngomong begini? Sarah mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, bahkan Aji yang biasa tak perduli saja sekarang menunggu jawaban Sarah, Dia harus menjawabnya, apa saja, alasan apa saja, yang penting Sarah harus menolaknya.
"A..ku sudah punya pacar!" Sarah berbohong. Aish, mengapa jadi keluar kebohongan seperti ini? Sarah menatap sekelilingnya. Mereka semua terperangah terutama Noah. Dia terdiam sebentar lalu kembali menyentuh sikut Sarah dan tertawa tidak enak.
"Jangan bohong, kalau sudah punya pacar, mana dia sekarang?" tanyanya, mendengus tidak percaya. Itulah kebohongan, sekali berbohong kamu harus terus berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
"Aku tidak bohong, buat apa aku berbohong!" tukasnya marah. Rina menggelengkan kepalanya pelan, dia jelas tahu Sarah berbohong, tapi yang lain tidak.
"Kalau begitu… mana dia?" tanya Noah dengan nada mengejek, dia menertawakannya. Sarah tak pandai berbohong, dari dulu Sarah tidak bisa membohonginya, tapi kini dia harus berkeras sekarang, Sarah punya pacar, Sarah punya pacar, ucapnya berkali-kali dalam hati mencoba menghipnotis dirinya sendiri.
"Aku punya pacar, tapi dia sedang di luar negeri," jawabnya menatap lurus ke mata Noah. Berharap dia percaya, dia memandangnya dengan ragu. Dan keadaan menjadi hening yang mencekam.
"Ah… sudahlah kan tadi cuma bercanda kenapa jadi serius begini?" Eric tertawa canggung, dia menyikut Roni yang tadi membuka mulutnya langsung ikut tertawa aneh.
"GA! kamu harus buktikan! Kalau memang kamu punya pacar kamu harus buktikan, kalau kamu bohong kamu harus menikah denganku!" seru Noah lagi dengan emosi. Lah kenapa begitu? kenapa dia jadi wajib menikah dengannya!
"SIAPA TAKUT! Aku nggak takut, emang aku punya pacar, pacar yang serius lagi!" seru Sarah terpancing emosi juga, menjadikan kebohongan Sarah menjadi keyakinan. Noah dan Sarah saling berhadapan dengan mata melotot.
"Oke! Sampai nanti kita ketemu lagi kamu nggak bisa buktikan kamu punya pacar, kita langsung ke catatan sipil!" teriak Noah semakin keras.
"Siapa takut, dan kalau aku bisa buktikan, kamu ga boleh ungkit-ungkit ini lagi!" pekik Sarah sambil mengangkat telunjuk.
Rina pelan-pelan masuk ke tengah-tengah kami sambil menurunkan jari Sarah yang menunjuk ke wajah Noah.
"Sudah-sudah, dari bercanda kok jadi serius begini, sudah. Nanti kita lihat ya, pacar Sarah, Noah sabar dulu, biar dia buktikan, oke?" ujar Rina lembut tersenyum kepada mereka, Noah menarik napas panjang, Sarah segera membuang muka.
"Aduh Pras!" teriak istri Roni berlari mendekati anaknya yang terguyur air minum dan perhatian berpindah ke anaknya Roni yang tiba-tiba menjatuhkan sebagian gelas dari meja minuman.
Noah menarik napas masih menatap Sarah lalu mundur, dia tersenyum tipis kepada yang lain.
"Maaf ya, sepertinya aku pulang duluan," Lalu dia menatap Sarah sebentar dan segera pergi sambil mendengus mengejek.