Noah

1199 Kata
Sarah memandang punggung Noah yang menjauh, lalu tatapan tidak enak dari teman-teman yang lain. Seketika udara terasa lebih dingin, Chelsea mengelus pundak Sarah sambil memberikan dia minum. Sarah tersenyum berterima kasih kepadanya dan menarik napas panjang dan segera minum. Wanita ini perhatian sekali. Roni segera berlari menuju anaknya mencoba menyelamatkan sisa gelas diatas meja. Istrinya menaruh tangan di pinggang dan langsung memarahi anak malang itu. Aji dan istrinya maju, dan memeluk Pras, yang menangis. Semua kembali berjalan normal, seakan tadi tidak ada peristiwa apapun terjadi. "Noah… sepertinya serius loh Sar." Rina mendekat sambil menepuk punggung Sarah, mengalihkan perhatian Sarah kepadanya. "Aish, dia itu harus belajar menerima kenyataan. Dari dulu Sarah hanya menganggapnya sebagai teman, seperti saudara, mengapa sekarang dia mulai seperti ini lagi?" Sarah menghela napas mengeluh dalam hati. Dia menaruh piring makan yang belum disentuh, hatinya merasa sayang makanan sebanyak ini terbuang, tapi Sarah sudah kehilangan nafsu makan. Sebaiknya dia juga pulang. "Gue… sebaiknya pulang juga, dah nggak semangat makan gue," ujar Sarah menatap sahabatnya yang cantik, di bawah matanya terlihat gelap walau samar-samar tanda dia kurang tidur. "Wah, jangan dong, gue kan masih mau kangen-kangenan sama elo," jawab Rina memegang tangannya. Eric dan Chelsea segera berjalan mendekati kelompok di belakang yang sibuk membela anak kecil yang separuh basah itu. Sehingga Sarah dan Rina dapat berbicara lebih leluasa. "Aish, seperti kita nggak ngobrol setiap hari ajah?" ucap Sarah menatap Rina, yang langsung tertawa tapi tiba-tiba memandangnya dengan serius. "Sar, pacar lo yang mana? Kok lo ga pernah cerita?" Sepertinya Rina malah percaya akan kebohongan Sarah. Matanya menatap Sarah dengan penasaran sehingga dia bimbang, haruskah dia jujur atau berbohong kepadanya? Padahal Sarah berpikir kalau Rina langsung tahu dia berbohong. "Hmm, dia ada tapi di luar negeri jadi nggak berasa pacarannya," jawab Sarah semakin banyak mengarang kebohongan. Rina mengerutkan keningnya, dan memajukan bibirnya. "Kok nggak pernah cerita, kan gue kepo, mau tau dong ceritanya," ujarnya membujuk Sarah. Dia tercekat, belum ada perbekalan kebohongan, dia tidak bisa secepat itu mengarang cerita. Tapi untuk sementara dia terselamatkan dengan panggilan dari panggung untuk acara pelemparan buket bunga pengantin. Sarah melihat ke arah panggung dan teringat akan janjinya pada Sita tadi. Sahabatnya itu melambai memanggil teman-temannya yang masih lajang. Mengapa dia tadi berjanji untuk ikut mengambil bagian dalam acara ini? Sebaiknya dia cepat melarikan diri. "Gue cabut dulu yah, sampai ketemu lagi." Sarah segera melarikan diri. "Eh, nanti harus telepon, lo harus cerita ya, gue pokoknya mau tahu, cerita dari a sampai z nya!" teriak Rina masih belum rela melepaskan Sarah, tapi dia segera melambai pada yang lain. Teman-temannya segera melambai kembali dan tersenyum padanya, tapi yang Sarah rasakan adalah mereka pasti membicarakannya tentang kejadian tadi, "ish dia malu sekali," batinnya dalam hati. Udara dingin dan angin menyambut Sarah saat keluar dari halaman hotel, Keadaan tidak begitu ramai, pembuka pintu hanya duduk santai ketika dia lewat. Sarah baru saja hendak memanggil taksi online ketika tiba-tiba tangannya ditarik dan didorong menuju mobil. "Aku antar kamu pulang," ucap Noah mendorongnya dengan paksa masuk ke mobil. "Noah, please deh, gue bisa pulang sendiri!" Sarah menahan dirinya sekuat tenaga, tapi dia terus mendorongnya, sampai banyak mata yang memandang ke arah mereka. Bahkan satpam melihatnya terpaksa mengikuti Noah, tapi pria berseragam itu hanya diam saja. Sarah akhirnya terpaksa masuk ke dalam mobil Noah. "Ada apa dengan masyarakat jaman sekarang? Mengapa mereka begitu tidak peduli, bagaimana jika tadi dia diculik?" pikirnya dalam geram. Di dalam mobil, Sarah hanya menatap keluar dengan kesal. Pria ini menyebalkan sekali, sudah membuatnya harus berbohong kini memaksa untuk mengantarkan dia pulang. Jalan kota Jakarta hari ini lancar, mobil dengan santai mengikuti jalan yang sepi. Hanya dengung bunyi mesin yang terdengar, Sarah malas berbicara dengannya. "Kamu mau makan apa?" tanyanya memecah kesunyian. Sarah masih menatap keluar dengan kesal. "Tidak perlu, kamu katanya mau mengantar aku pulang." Dia tidak mau menatap mata Noah yang ramah. Dia masih memandang ke luar melalui jendela. "Kamu pasti tidak makan kan? Kamu tadi keluar tak lama dari aku," ucapnya lembut. "Mau aku makan, mau aku tidak makan itu bukan urusanmu! Berhentilah mengurusku," ucap Sarah dengan emosi. Sarah kembali mengajaknya bertengkar. "Mari kita bertengkar, kini sudah tidak ada orang lain yang akan mendengar cerita kita." batinnya masih kesal dengan kelakuan teman kecilnya itu. Tapi pria di sebelahnya malah tersenyum tipis dengan menyebalkan. "Tentu saja kamu urusanku, kamu kan calon istriku." "Ish, masih saja dia memaksakan kehendaknya." Sarah berpikir sambil terus memandang keluar jendela. "Aku tidak akan menikah denganmu, Noah, kamu jangan berharap. Aku sudah punya pacar," jawab Sarah cepat, memulai kebohongannya yang kini seakan menjadi keyakinan barunya. "Cih, aku kenal kamu dari kita bayi Sarah, aku tahu kamu berbohong, jangan berbohong, itu membuatmu terlihat menyedihkan," balas Noah melirik Sarah. "Yang menyedihkan itu kamu! Kamu yang memaksakan kehendakmu," ucapnya kesal, dan lebih menyebalkannya Noah malah tertawa. "Kamu semakin cantik kalau marah begitu," jawabnya menatap Sarah dengan geli. Tiba-tiba saja dia berbelok ke sebuah restoran cepat saji ala jepang. "Yuk makan," ucapnya lalu turun dari mobil. "Aish, aku kesal sekali." pikir Sarah sangat emosional. Noah berjalan berputar membukakan pintu mobil untuk Sarah dan karena dia masih tetap melipat tangan, Noah lalu menarik tangannya. "Hayo Ara, jangan macem-macem deh!" ucapnya menggunakan panggilan kecil kami, kalimat itu sering sekali dia dengar dulu, ketika mereka bermain bersama. Sarah menoleh kepadanya dan menghela napas dan turun dari mobil. Noah berusaha menggandeng tangan Sarah tapi dia langsung kembali melipat tangannya. Noah tersenyum lalu membukakan pintu restoran itu untuknya. Restoran itu agak ramai, mungkin karena posisinya ada di dekat jalan raya yang ramai. Riuh suara anak-anak dan orang mengobrol langsung memenuhi pendengaran. Mereka berdua diperhatikan beberapa pasang mata ketika masuk, karena pakaian mereka yang formal. Noah mendorong sikunya agar masuk ke dalam antrian dengan lembut. Setelah selesai memesan, Noah segera memberi kartunya untuk membayar, disaat Sarah mencoba mencari dompet, lupa kalau dia sedang memakai kebaya. Sarah lalu segera berjalan menuju meja yang kosong dan Noah mengikuti Sarah. "Sudah makan, aku tahu kamu lapar," ucapnya sambil membukakan sumpit untukku. Sarah mengambil sumpit dari tangannya dengan cepat. "Aku bisa sendiri," ucap Sarah ketus lalu mulai makan. Noah mendengus tersenyum lalu memulai makan juga. Aku menatap ke sekeliling restoran kemana saja asal tak usah melihat mata Noah yang terus memperhatikannya. Ada pasangan kekasih yang malu-malu makan, muncul perasaan geli saat melihatnya. Ada keluarga kecil yang terlihat riuh, ibu yang sedang sibuk menyuapi anaknya yang malas makan, sedangkan sang suami menggendong yang bayi yang menangis, perasaan Sarah campur aduk melihatnya. "Kenapa, kamu mau punya bayi?" tanya Noah mengikuti arah pandangnya, Sarah segera kembali menatap makananya, tidak menjawab. "Ayo kita langsung buat bayi, pasti akan cantik sepertimu," ucapnya. Sarah tidak bisa tahan lagi. Senyumnya langsung memudar ketika dia mendesis kencang. "Aku tak mau punya bayi!" "Kenapa?" balasnya terkejut, keningnya berkerut seperti tidak menyangka Sarah akan menjawab itu. "Aku salah ikut denganmu, seharusnya aku pergi dari tadi," seru Sarah kesal menaruh sumpitnya dengan kasar, lalu berdiri. Tapi Noah segera menahannya. "Maaf, jangan pergi Ara, aku janji tidak akan menggodamu lagi. Tapi tiba-tiba Sarah menyadari, ada wajah yang dia kenal berjalan mendekati mereka karena posisi meja kami yang dekat dengan antrian makanan. Pria itu juga menatap Sarah, lalu ke Noah yang sedang memegang tangannya. "Selamat malam Pak," ucap Sarah kaku saat pandangan mata mereka bertemu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN