Entah kenapa, pandangan Pak Abraham selalu membuat Sarah jengah, dia selalu merasa sedang diperiksa, diperhatikan dan dipelajari, jika dipandang oleh pria itu. Noah melepaskan pegangan tangannya lalu menatap pria itu.
Mereka berdiri bersebelahan sehingga terlihat Noah lebih pendek sekitar 5 sentimeter dari Abraham. Noah mendongak sedikit untuk melihat siapa yang membuat Sarah tergagap.
"Malam," jawab Abraham dengan suara dalam.
"Siapa?" Seorang wanita cantik muncul di sampingnya. Dia menempel manja kepada Abraham.
"Ada… anak buah," jawab Abraham dengan cara meremehkan. Sarah mendengus kesal, "Kenapa dia harus bertemu makhluk ini," pikir Sarah kesal.
"Mau pulang Sar?" Abraham menatap Sarah sambil memperhatikan penampilannya, lagi-lagi Sarah merasa sedang dinilai.
"Iya, habis dari pernikahan teman." Dalam hati, Sarah mengutuk, mengapa dia harus laporan dia habis dari mana, Pak Abraham juga tidak bertanya.
"Hmm, oke, jangan sampai telat besok." Sarah kembali merasa panas karena emosi. Sejak kapan Sarah pernah telat, malah pak Abraham yang sering datang seenaknya.
Sarah mendengus kesal saat pria itu pergi. Entah kenapa setiap melihat pria itu emosinya selalu memuncak. Matanya lalu bertemu dengan tatapan penuh tanya Noah.
"Bos kamu?" tanyanya, tapi Sarah segera meninggalkannya keluar dari restoran, pria itu langsung mengikutinya.
"Mau kemana?"
"Pulang."
"Aku antar," Noah segera bergegas ke mobilnya lalu membuka pintu untuk Sarah. Tanpa dia kehendaki, matanya melirik pak Abraham yang duduk di kursi dekat jendela, wanita yang bersamanya bercerita lalu tertawa bersamanya. "Cih, kalau lagi sama pacar bisa tertawa seperti itu, kalau di kantor, boro-boro dia tertawa, senyum saja sepertinya Sarah tak pernah lihat." pikir Sarah sambil lalu.
"Aku antar masuk ya?" pinta Noah saat parkir di halaman rumah Sarah.
"Nggak perlu, nggak sampai 2 meter dah sampai pintu." Sarah memakai tasnya lalu mau turun, tapi tiba-tiba tangannya diraih Noah.
"Ara, aku serius sama yang aku omongin tadi, aku mohon, pikirkan dahulu. Aku tahu kamu juga sayang aku, aku akan menunggu sampai kamu juga mencintai aku." Matanya yang hitam berkilat-kilat menatapnya serius.
"Aish, No, kamu…, aku,-" Sarah menghela napas bingung menyusun kata bagaimana agar tidak menyakiti hati sahabatnya itu.
"No, aku hanya menganggapmu teman, saudara," desahnya.
"Walaupun aku begini?" Tiba-tiba Noah menarik tangan Sarah dan segera menciumnya dengan paksa. Bibirnya dengan pasti menempel dan memaksanya untuk menyerah, Sarah segera memberontak, namun Noah menahannya dan terus memaksa masuk, Sarah lalu mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"Noah!" Dia menampar pipi Noah segera setelah Sarah berhasil melepaskan diri. Dia menatap penuh amarah kepada pria itu.
"Tidak, aku ga ada rasa apa-apa dengan ciumanmu,maaf. Thanks buat tumpangannya. Selamat tinggal." Sarah lalu masuk sambil membanting pintu.
Jantungnya berdebar kencang karena kaget, bisa-bisanya Noah menciumnya seperti itu. Dia segera membuka pintu rumahnya dengan tergesa-gesa sampai kunci rumahnya jatuh, takut Noah mengejarnya lagi. Saat dia berhasil masuk, Sarah mendengar deru mobil Noah yang menjauh. Sarah menghela napas panjang membenci dirinya yang berhasil diperdaya Noah tadi.
…
Abraham dapat melihat wajahnya dari jauh, wanita yang selalu menarik perhatiannya karena ketololannya yang hakiki. Kadang Abraham berpikir, bagaimana makhluk seperti ini bisa lolos dari HRD, di perusahaan internasional seperti perusahaan mereka, seharusnya mereka mempunyai standar tinggi untuk memilih karyawan, seharusnya karyawan seperti Sarah, tidak bisa masuk jadi karyawan tetap, apalagi di tempatkan jadi bawahannya.
Tapi mungkin,... dia melirik ke arah Sarah lagi sekilas, dia memandang ke arah bayi di sebelahnya lalu tanpa sadar tersenyum, Abraham harus mengakui, wanita itu cantik sekali. Dengan hidung tinggi, alis bagai terpahat yang melindungi mata oval sempurna berwarna coklat muda, sudah pantas pacarnya menatapnya dengan terpesona seperti itu.
Sarah baru sadar kehadirannya saat mereka bertemu mata, dan seperti biasanya dia langsung bersikap konyol, dan menantang. Pacarnya langsung bersikap protektif. "Cih sampai kapan pun Abraham tak akan pernah bisa menyukai perempuan model Sarah." janjinya dalam hati. Saat pulang, wanita itu juga bertingkah sangat manja. Pacarnya seperti pelayan dibuatnya, untuk membuka pintu mobil pun dia tak mau. "Cih, cantik tapi terlalu menyusahkan." pikir Abraham lagi.
Keesokan paginya, Sarah untuk pertama kalinya bangun terlambat, dia segera berlari ke kamar mandi, membersihkan dirinya lalu bersiap-siap, dan untuk melengkapi kesialannya, dia tidak bisa mendapatkan taxi online, sehingga dia harus dengan terpaksa menggunakan ojek online.
Sesampainya di kantor, Sarah sudah terlambat 45 menit. Dan saat dia sampai di kubikelnya, Pak Abraham sudah ada di mejanya menatapnya dengan geram. *Aish, mengapa pertanyaannya kemarin malah menjadi kenyataan?" batin Sarah kesal.
Seperti yang dia prediksi, Sarah terlambat. Abraham melihatnya berlari terbirit-b***t percuma karena Abraham sudah menunggunya dari pagi.
"Sarah, ayo ke ruangan saya." Sarah yang penuh peluh membasahi wajahnya, menghela napas panjang. Dia berusaha agar napasnya kembali normal setelah menghenyakkan tubuh di kursinya. Namun, mendengus kesal saat telepon mejanya berdering hanya untuk mendengar suara dingin pak Abraham.
Sarah berdiri dengan gontai menatap Dewi sahabatnya di kantor, meminta tolong. Wanita yang sedang hamil itu tersenyum menyemangatinya.
"Hwaiting!" Dia mengepalkan tangannya sambil berbisik pelan, yang dibalas dengan dengusan kasar oleh Sarah. "Aish, sarapan nasi belum, malah sarapan omelan pak Abraham." keluhnya dalam hati sambil masuk ke ruangan pak Abraham.
"Seperti yang saya prediksi, kamu terlambat." Sarah mendengar suara dingin Abraham yang duduk menghadap ke jendela. Pria itu lalu memutar tubuhnya dan menatapnya dengan keji, seperti memang menunggu Sarah membuat kesalahan.
"Maaf pak, saya tadi tidak dapat taxi online, tadi akhirnya saya naik ojek online," ucapnya masih terengah-engah.
"Tidak ada alasan, terlambat tetap terlambat." matanya yang hitam pekat kembali menusuk ke hati Sarah.
"Maaf pak." Dia menunduk walau kesal memang kali ini dia salah. Sebenarnya seharusnya dia tidak terlambat jika tidak dicium Noah brengs*k itu. Karena terlalu kesal, Sarah makan es krim 1 kotak semalam. Lalu karena merasa berdosa, dia segera berolahraga untuk menghabiskan kalori es krim itu tanpa sadar, sampai jam 2 pagi, alhasil dia jadi terlambat bangun dan ke kantor.
"Saya harap, tidak terulang lagi, … pacaran ada waktunya."
"Aish, kenapa dia jadi sok menasehati, mau Sarah pacaran mau Sarah jungkir balik nggak ada urusannya sama dia. Kenapa dia malah bawa-bawa pacar segala!" pikir Sarah tetap diam tidak menjawab, karena terlalu kesal.
"Sekarang bawa dokumen PT. Milkas saya rasa ada yang perlu ditambahkan."
"Baik." Sarah keluar dengan kepala tertunduk. Lalu duduk di kursinya dengan merana.
"Gimana, sarapan paginya enak kan? Berduaan sama cowok terganteng di gedung ini?" tanya Dewi langsung menempelkan kursinya ke kursi Sarah.
"Aish, ganteng dari mana, muka brewokkan seperti beruang begitu, baju norak, belom juga parfumnya yang mo bikin muntah?" Sarah meregangkan otot-otot tubuhnya yang pegal karena olahraga berlebihan semalam, tapi wajah temannya bukannya tertawa malah seperti melihat hantu. "Aish…. Jangan bilang dia…" pikir Sarah takut-takut.
"Hmm, saya juga minta dokumen PT. Schuberg, sebagai perbandingan." Pria itu kembali membersihkan tenggorokannya lalu pergi keluar. Hati Sarah mencelos, seketika jari-jarinya terasa dingin.