"Mati aku, aish… kira-kira dia dengar semua yang aku omongin nggak?" tanya Sarah berbisik secara percuma karena Pak Abraham sudah jauh pergi kembali ke ruangannya. Dewi memandangnya dengan prihatin.
"Sepertinya dia mendengar semua, kalau tidak wajahnya tidak seperti itu. Otot rahangnya seksi sekali kalau dia lagi menahan marah," ucap sahabatnya salah fokus. "Ish, bagaimana Sarah bisa bertemu dengan Pak Abraham lagi kalau begini jadinya. Aish!" batinnya ingin masuk ke dalam tanah karena malu.
"Nggak ada seksinya deh itu, mateng deh aku, kenapa bisa dia tiba-tiba ada di belakangku sih!" Sarah mencari dokumen yang diminta oleh Pak Abraham, sambil mengutuk dalam hati. Akhirnya dia menemukan dokumen itu dan dengan berat hati dia menyeret tubuhnya kembali masuk ke ruangan pak Abraham.
Dia masuk saat pria itu tak ada di ruangan, aneh tadi sepertinya dia masih ada si dalam, Sarah masuk dan meletakkan dokumennya di meja Pak Abraham yang rapi presisi. "Ish dasar pria aneh, masa meja kerja seperti meja display toko furniture." pikirnya dalam hati. Dia menunduk memperhatikan semua barang yang ada di meja bosnya itu.
"Kamu tahu kesalahanmu dimana?" Sarah terlonjak kaget segera berputar ke arah suara yang ternyata berdiri terlalu dekat sehingga wajahnya mengenai d**a pria itu. Sarah terpekik tertahan terkejut menatap Abraham yang memegang tangannya agar dia tidak terjatuh.
"Maaf saya tak ada maksud mengintip." Napasnya terengah-engah, tapi rasa pegangan tangannya terasa hangat, dan wanginya tak terlalu buruk, dia wangi. "Astaga… apa yang barusan dia pikirkan? Sarah menunduk dengan perasaan campur aduk. Dia segera mundur dan Abraham melepaskan tangannya.
"Jadi sudahkah kamu tahu kesalahanmu di dokumen PT Milkas?" Abraham mengulang pertanyaannya dengan dingin.
Sarah kembali menguasai dirinya.
"Tidak ada yang salah pak." Sarah tidak memeriksa lagi, hanya yakin dengan hasil pekerjaannya kemarin, dia memutar kakinya karena gugup. Pria itu lalu duduk di kursinya sambil terus menatap Sarah.
"Wanita itu, benar-benar keterlaluan bodohnya, masa kesalahan nomor rekening dia tidak tahu?" Abraham berpikir sambil menatap wanita itu. Dia berdandan simpel hari ini, hanya memakai gaun katun sederhana dengan blazer senada dengan gaunnya. Tapi entah kenapa wanita ini amat menarik perhatiannya.
"Kamu sudah periksa?" Jacob masih memberikan kesempatan kepada Sarah untuk memperbaiki kesalahannya, tapi wanita keras kepala itu masih menatapnya menantang.
"Tidak ada salah pak." Sarah berkata dengan yakin. Dia sudah memeriksa dokumen itu berkali-kali hari Jum'at lalu, saat mereka hanya berdua lembur menyelesaikan dokumen itu. Dia hanya tinggal mengganti nomor rekening bank PT. Milkas yang lama dengan yang baru… "Astaga itu yang dia lupa lakukan, aish, dokumen itu sekarang berada di depan
Pak Abraham." pikir Sarah dengan panik.
"Umm," ucapnya pelan, Pak Abraham menoleh dan menatapnya, seakan menunggu agar dia mengakui kesalahannya.
"Ya?"
"Aish, pria menyebalkan ini benar-benar menunggu dia mengakui kesalahannya," pikirnya kesal menatap kertas yang sekarang ada di tangan Pak Abraham. "Maaf pak saya lupa ganti bank-nya." Abraham mendengus senang karena akhirnya wanita itu menyadari kesalahannya.
"Ganti cepat!"
Sarah dengan kesal segera kembali ke kubikelnya, lalu mengerjakan ulang dokumen itu. Hanya beberapa menit dia sudah selesai dan segera masuk ke ruangan Abraham lagi. Dia mengetuk pelan dan membawa dokumen itu. Pak Abraham sedang berdiri di telepon, dan tertawa. Sarah menunggunya sambil memperhatikan pria itu.
Tampan, memang dia tampan. Alisnya tebal, hidung ramping namun tinggi, bibir tebal dengan bulu wajah yang kentara. Biasanya Sarah tak suka dengan bulu wajah laki-laki, namun entah kenapa di wajah Abraham, bulu halus itu terlihat pas saja. Dengan lesung pipi di kanan kirinya kalau tersenyum, Sarah dengan enggan mengakui, Abraham ganteng.
"Sayang, kelakuannya minus sekali," batinnya sambil melihat betapa proporsional tubuh atasannya itu, dia langsung berkesimpulan kalau Pak Abraham rajin olahraga.
"Taruh saja disitu, buat apa kamu berdiri-berdiri liatin saya, kerjaan kamu masih banyak!" Tiba-tiba mata teduh yang sedang menelepon itu, kini menatapnya dengan tatapan penuh tuduhan. Sarah tersentak kaget karena ketahuan memperhatikan pria itu langsung memaki dalam hati.
"Aish, ge-er banget dia!" katanya kesal dalam hati lalu segera meninggalkan ruangan Pak Abraham dibelakangnya.
Sepanjang hari Sarah mengerjakan tugas setumpuk yang diberikan oleh Pak Abraham. Baru selesai satu tugas muncul tugas berikutnya. Pria itu sedang bersemangat sekali, sehingga memiliki lusinan ide, yang sialnya mengakibatkan Sarah kewalahan.
Saat istirahat siang, dia sudah merasa kepalanya berasap dan dia terkapar dengan berlebihan sehingga Dewi, temannya tertawa geli melihatnya.
"Separah itukah Pak Abraham?" Dewi duduk sambil mengelus-elus perutnya yang sudah semakin membesar.
"Lebih parah!" dengus Sarah kesal. Wanita cantik itu tertawa lagi.
"Yang sebelum kamu juga kewalahan, makanya hanya dalam waktu 3 bulan, saat mau diangkat jadi pegawai tetap, dia malah mengundurkan diri," tutur Dewi menjelaskan. Sarah merenggut mendengar penjelasan Dewi. HRD waktu itu menjelaskan kalau dia harus sabar menghadapi atasan langsungnya, namun dia tidak berpikir dia akan diperas seperti ini oleh Pak Abraham. "Pantas saja, pendahulunya langsung kabur setelah 3 bulan," keluhnya dalam hati.
"Dah makan lom, sana makan dulu, kamu butuh energi lagi buat menghadapi sisa hari dengan si ganteng." Dewi mengeluarkan kotak makanannya yang terlihat sangat lezat.
"Wah, kapan aku bisa ada yang masakan makanan seenak dan secantik itu?" gumam Sarah iri.
"Cari di aplikasi." Dewi tertawa geli, mengingatkan Sarah kalau, Dewi temannya itu bertemu suaminya dari aplikasi perjodohan. Dia selalu merasa itu sangat romantis, 'Jodoh Nggak Akan Kemana', quote itu lagi-lagi membuktikan kesaktiannya.
"Itu karena kamu lagi hoki aja, gimana klo ketemu orang aneh, aish serem ah," timpal Sarah sambil berdiri, melambai ke arah temannya menuju kantin di bawah, sebenarnya waktu istirahatnya sudah tinggal sebentar lagi, mungkin dia hanya sempat minum jus lalu kembali ke kubikel tercintanya.
"Aish, semua karena Pak Abraham yang perfeksionis." umpatnya dalam hati.
Dia baru sempat duduk setelah memesan jus alpukat sebagai makan siangnya, saat matanya menangkap sosok berkemeja biru, dia juga baru turun makan ternyata. Tatapan mata wanita di kantin langsung tertuju kepada wajahnya yang tampan, walau sepertinya dia tidak menyadari, keningnya berkerut, seakan siap menerkam seseorang, yakni Sarah. Pandangan mata mereka bertemu dan Abraham segera menghampiri wanita itu dengan gusar.
"Sarah, kamu baca nggak sih dokumen yang kamu berikan kepada saya?" desis Abraham langsung duduk di hadapan Sarah tanpa permisi. "Aish, kenapa dia jadi duduk disitu?" batin Sarah kesal.
"Sudah pak," jawab Sarah yakin.
"Saya sudah mengganti nomor rekening bank-nya." Abang jus mengantarkan jus alpukat kepada Sarah, dan Sarah tersenyum kepada abang jus, berterima kasih.
Abraham mendengus kasar karena kesal.
"Dari pada senyum-senyum manja gitu lebih baik kamu cepat makan siangnya, lalu perbaiki dokumen itu, saya heran sama kamu sibuk senyum-senyum ke sana ke mari, kerjaan belum ada yang beres!" ujar Abraham kesal melihat senyum Sarah. Wanita di hadapannya terlihat marah tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya segera minum jusnya.
Saat dia mau berdiri, Abraham menahannya.
"Kamu mau kemana?"
"Jus saya sudah habis pak, jadi saya mau balik ke atas memeriksa ulang dokumennya," jelasnya dengan kesal. Abraham menatapnya serius
"Duduk, makan dulu, nanti jadi alasan kamu bilang nggak sempat makan karena saya!"