Sarah terkejut ketika mendengar ucapan Pak Abraham. “Dasar plin plan, tadi suruh koreksi, sekarang dia malah menyuruhnya makan.” geramnya dalam hati.
"Memang karena dia kok aku tak sempat makan," pikirnya lagi. Tapi pria itu terus menatapnya, sampai dia akhirnya menurut dan duduk kembali. Setelah dia duduk, pria itu bertanya dengan santainya.
"Mau makan apa?"
"Cih, dah bergaya menyebalkan, sekarang malah sok nanya mau makan apa, mpret ah!" batinnya kesal dalam hati. Pria ganteng di hadapannya menatap sekeliling, lalu matanya melihat kedai makan soto, lalu matanya tiba-tiba menatap Sarah kembali.
"Kita makan soto aja, pesankan dua buat kamu juga." Sarah terkejut mendengar perintahnya, lalu berdiri dengan dongkol.
"Dia pikir aku sekretarisnya kali? Bisa-bisanya dia menyuruhku memesankan makanan buat dia, cih dasar bos terhormat nan ganteng!" maki Sarah dalam hati.
Abraham mendengus menatap punggung Sarah yang pergi menjauhinya. Kenapa dia malah menyuruhnya makan bersamanya? Mulutnya kadang memang lebih cepat dari kepalanya, Abraham menjadi kesal sendiri. Tapi saat dia melihat wanita itu kembali sambil membawa dua piring nasi dan soto, Abraham merasa senang, hari ini dia tidak makan siang sendirian.
Sarah terlihat lucu dengan wajah seriusnya. Bibirnya yang mungil tanpa dia sadari telah maju beberapa sentimeter karena dia terlalu fokus membawa mangkuk panas. Dia terlihat lega ketika sampai di meja. Abraham langsung pura-pura membuka handphonenya dan membaca email.
“Sudah siap pak, mari makan.” Abraham pura-pura baru melihat kedatangan Sarah.
“Oh, oke mari makan.” Dalam hati, Sarah kembali memaki, “Dasar, dah nyuruh nggak ada terima kasihnya.”
Mereka makan dalam diam, Abraham makan dengan cepat, hanya dalam waktu singkat, pria itu sudah selesai makan. Namun tidak bagi Sarah, dia memang selalu lambat makannya, dia makan untuk dinikmati dan tak suka diburu-buru. Dia masih asyik meniup sotonya saat merasakan pandangan mata dari Abraham. Pria itu hanya diam menatapnya tanpa berkata apapun, membuat Sarah menjadi jengah, jantungnya pun mulai berdebar kencang, “Apa dia melakukan kesalahan yang lain?” pikirnya dalam hati, meruntun apa saja yang tadi dia lakukan, dia tidak merasa melakukan hal yang salah. “Apa dia masih mau makan soto, apa dia mau makan sotoku juga?” pikirnya lagi.
“Bapak masih mau soto? mau saya pesankan lagi pak? atau mau makan soto saya, masuh banyak pak?” tanya Sarah dengan polosnya. Pria itu terkejut mendengar pertanyaan Sarah, dia baru sadar dari tadi dia memperhatikan bibir kemerahan Sarah yang sibuk meniup soto.
“Saya sudah kenyang, dan kalau saya masih mau soto, saya akan pesan baru, buat apa saya makan soto sisa punya kamu!” ucapnya dengan nada marah, yang sebenarnya amarah itu ditujukan pada dirinya sendiri, Abraham kesal karena pikirannya yang tidak jelas tadi.
Sarah kaget akan sentakan dari Abraham, dia segera kembali makan sambil mendongkol. “Sudah bagus ditanya, malah begitu jawabnya, dasar menyebalkan!” serunya dalam hati.
“Ayo cepat makannya, lama sekali, kamu memang senang lembur ya? kamu sudah asisten manager, sudah tidak dapat jatah lemburan.” lanjut Abraham semakin mengesalkan hati Sarah. “Siapa juga yang mau lembur, berduaan sama dia lagi, cih!” umpat Sarah dalam hati, tapi dia mempercepat makannya, dan karena terburu-buru dia tersedak telur, sehingga dia terbatuk-batuk.
“Dasar makan saja nggak bener.” Abraham meletakkan botol air mineralnya di hadapannya. Wanita itu tanpa sadar mengambil botol itu dan segera meminumnya. Jacob tertegun melihat botolnya diminum seenaknya oleh Sarah. Wanita itu dengan santainya kembali makan dengan cepat.
“Astaga, apa yang baru saja kulakukan? bagaimana bisa aku tadi mengambil botol air mineralnya dan meminumnya begitu saja, dasar Sarah bodoh!” sesalnya dalam hati, walau dia terus bergaya seakan tidak ada apa-apa, tapi sebenarnya dia ingin tanah segera terbuka dan menyerapnya masuk ke bumi.
Mereka kembali ke lantai mereka bekerja, Sarah terpaksa berjalan dengan janggal bersebelahan dengan Pak Abraham. Dia merasakan panasnya pandangan wanita lain yang menilainya. “Dia bukan pacarku, hanya bosku yang menyebalkan,” jeritnya dalam hati. Dia merasa malu sekali sampai salah minum botol tadi, Pak Abraham untungnya tak berkata apa-apa. Dia melirik pria tersebut yang berdiri di sampingnya di dalam lift.
Saat kembali ke dalam kantor mereka, pria itu masih tetap diam, dan Sarah merasa bingung. “Tadi dia bawel sekali, kenapa dia sekarang jadi diam?” pikirnya sambil kembali duduk di kursinya. Dewi menatapnya dengan tatapan curiga.
“Makan berduaan dengan bos?” Sarah mendengus kesal, entah dari mana sahabatnya di kantor bisa mengetahui cerita terbarunya.
“Dia suruh aku buru-buru, saat tahu aku hanya minum jus buat makan siang, dia malah maksa suruh makan, dasar bos plin plan!” keluh Sarah pelan sambil melirik ke kanan dan ke kiri, takut kalau tiba-tiba bosnya muncul di belakangnya seperti tadi.
“Hmm, dia takut kali kamu sakit maag, jadi dipaksa makan, aish baiknya bosmu itu,“ ujar wanita hamil yang kelewat romantis itu. Sarah menatap temannya sambil mendengus, sepertinya Pak Abraham tidak seperti itu, dia pasti takut dia sakit lalu minta ijin pulang cepat, kerjaan Sarah yan menggunung siapa yang mengerjakan?
Tapi anehnya, setelah peristiwa salah minum tadi, Pak Abraham sama sekali tidak bicara padanya, botol itu langsung dia buang, “Cih, apakah bekas mulut Sarah segitu menjijikannya?” batinnya kesal ujarnya sambil melirik kantor Abraham yang terletak di depan matanya. Namun pria itu tak terlihat.
Sore menjelang pulang, pekerjaan Sarah akhirnya sedikit demi sedikit selesai. Dia hanya tinggal menunggu approval dari Pak Abraham, setelah itu dia bisa pulang. Sarah meregangkan tubuhnya dengan nikmat. “Akhirnya aku bisa pulang cepat!” serunya senang.
Sambil menunggu titah dari Pak Abraham, Sarah membuka emailnya. Satu persatu dia baca emailnya yang lama tak tersentuh. Dengan panik dia membaca ada undangan ulang tahun Kayla, anak dari sahabatnya Rina. “Aish, ulang tahun Kayla yang ke-7, bagaimana dia bisa lupa, dia belum membelikan hadiah.” pikirnya dalam hati. Namun, masih ada waktu 2 minggu lagi untuk mencari hadiah, Sarah masih bisa bersantai. Namun tiba-tiba masuk pesan instan di handphone-nya.
“Sudah lihat undangannya?” tanya Rina sahabatnya, Sarah tersenyum sambil langsung membalas mengetik.
“Sudah, tenang, gue akan kasih hadiah yang paling keren buat ponakan tersayang.” Dia segera berselancar di internet melihat hadiah yang paling pas buat anak perempuan berusia 7 tahun namun bergaya 17 tahun itu.
“Umm, bukan masalah itu, Noah juga akan datang.” Sarah mendelik saat membacanya, dia segera menuju kamar mandi untuk menelepon sahabatnya.
“Aish, kenapa juga lo undang dia Rin, ah be-te ah gue!” tanya Sarah kesal tanpa mengucapkan halo saat Rina mengangkat teleponnya.
“Sory, laki gue yang ngundang, mau gimana lagi? Kemarin pas jalan ke mall ketemu Noah. Gue belom bilang apa-apa, laki gue malah langsung nyerocos undang dia datang, sorry Sar.” Suara Rina terdengar memelas memohon ampun pada temannya. Sarah mendengus kesal, dia tak mungkin tak datang, tapi bagaimana nanti caranya menghindari Noah?
“Yah, lo tinggal video call aja sama pacar lo. Sebentar aja, asal Noah lihat pacar lo kan? Sekalian kenalin gue, asli kepo banget gue tau!” Seketika Sarah panik teringat taruhan yang dia lakukan bersama Noah, dia sama sekali lupa. “Aduh, bagaimana caranya dia bisa mendapatkan pacar ideal dalam waktu 2 Minggu?