"Sar, dipanggil Pak Abraham tuh, Sar…, Sarah?" panggil Dewi mengagetkan lamunan Sarah, dia tersadar dan menatap Dewi dengan protes
"Apaan sih?"
"Ish, itu kamu dipanggil Pak Abraham," ujar temannnya itu sambil menopang dagu. Sarah melirik ke arah jam di atas jendela kantornya. Sudah pukul 4.45. "Aish, mengapa pria itu selalu memanggilnya saat sudah dekat waktu pulang. Kalau begini terus hampir tiap hari dia akan lembur, kenapa tidak tadi pada saat dia lengang," pikir Sarah kesal. Ia menyesakkan kakinya ke sepatu tingginya.
Dia memang selalu memakai sandal jepit saat berkeliling di kantor, namun kembali mengenakan sepatu tinggi jika keluar. Dewi melihatnya dengan wajah kantuk dan memberikan dia semangat. Namun Sarah rasanya ingin berteriak, disaat dia harus mencari pacar, malah harus lembur.
"Nanti aku mau ngomong, aku telepon ya, penting." Sarah menepis rambutnya yang panjang coklat lalu berdiri.
"Apaan? Misterius amat!" balas Dewi dengan wajah tertarik, dia butuh hal yang membuat hari-harinya menjadi hidup. Pekerjaannya dikurangi karena dia sedang hamil, sehingga pekerjaannya sudah selesai dari kemarin. Dia bosan. Maka saat Sarah begitu misterius, Dewi langsung semangat.
Bola mata Sarah yang kecoklatan memandangnya sambil mengambil dokumen.
"Pacar, aku butuh pacar, ada kenalan nggak?" Wanita itu tampak sangat putus asa. Bibirnya yang kemerahan melengkung ke bawah, memohon bantuan Dewi, dengan sangat. Dewi langsung memutar otak, siapa yang pantas dia jodohkan untuk Sarah yang cantik?
“Ada apa, kenapa tiba-tiba mencari pacar?” Sarah yang ditanya mendengus kesal.
“Nanti aku cerita deh, semoga Bapak menyebalkan didalam tidak mengajakku lembur lagi malam ini, jadi nanti aku bisa cerita langsung. Tapi kalau nggak keburu, ntar aku telepon ya?” ujar Sarah segera berjalan membawa semua dokumen yang dia kerjakan sedari siang tadi.
“oke, aku tunggu ya, penisirin banget nih!” ujar Dewi dengan suara sengaja dibuar seperti anak-anak. Sarah tertawa pelan lalu masuk ke ruang dingin Pak Abraham.
Pria itu langsung menatapnya begitu dia masuk, rasa canggung tadi muncul lagi, karena Sarah teringat insiden botol air mineral tadi. Pria itu membanting dokumen yang Sarah sudah periksa berkali-kali tadi. Air muka pria itu seakan mau memakannya, Matanya yang gelap menusuk langsung ke jantung Sarah. “Aish kesalahan apa lagi sekarang?” gumamnya dalam hati.
Sarah biasanya sangat teliti, dan jaran melakukan kesalahan, namun sejak bekerja dengan pria galak di hadapannya, entah kenapa dia selalu membuat kesalahan-kesalahan kecil yang lalu langsung di gembor-gemborkan oleh Pak Abraham.
Seperti saat ini, paling kesalahannya hanya lupa menambahkan titik atau koma, tapi marahnya seperti dia menggagalkan semua penawaran mereka.
“Lihat baik-baik!” Dan itu juga yang membuat Sarah kesal. Pria itu selalu saja tidak memberitahukan bagian mana yang dia lakukan salah, sehingga Sarah harus kembali berpikir keras untuk mengoreksi pekerjaannya sendiri. Jika dia tahu letak kesalahannya, dia tak akan memberikannya langsung kepada Pak Abraham, dia pasti sudah mengoreksinya.
Pekerjaannya sudah sempurna, tapi dengan mendongkol dia mengambil kertas kontrak tadi dari meja.
“Coba pikirkan, gunakan kepala dan , matamu baik-baik, seharian mengerjakan satu kontrak saja tak becus!” umpat Abraham marah. Dia tidak habis pikir mengapa wanita ini terus melakukan kesalahan konyol, saat test masuk dan masa percobaan kinerjanya bagus, namun mengapa saat dia sudah diangkat jadi pegawai tetap, performanya terus menurun.
Wanita itu melotot memandangi kontrak yang dia buat, dari atas lalu ke bawah, dia mengulanginya sampai tiga kali, sehingga habis kesabaran Pak Abraham.
“Sarah, apakah kamu sedang menghafalkan isi kontrak? kenapa sampai 30 menit kamu belum juga menemukan dimana letak kesalahanmu?” Jantung Sarah mulai bergetar karena amarah.
“Ya itu, karena pekerjaanku sudah sempurna, apalagi salahku, dokumen ini sudah sempurna,” keluhnya dalam hati. Berulang kali dokumen ini, dibaca ulang. Sarah masih belum menemukan kesalahannya. Dewi pasti sudah pulang, melalui jendela di belakang Pak Abraham, Sarah tahu kalau sekarang pasti sudah menuju jam 6 malam. Dia ingin pulang dan segera mencari pacar. Hatinya risau membayangkan celaan yang akan diterima jika dia sampai datang tanpa pacar.
Pak Abraham menepis rambutnya yang tiba-tiba menjadi panjang dalam 30 menit, wanita ini benar-benar menguji kesabarannya. Melihat wanita itu memajukan bibirnya saat serius membaca membuat dia sangat terganggu. Bibirnya yang kecil namun tebal itu berwarna merah alami, membuat mata Abraham terus menatapnya.
“Saya menyerah pak, saya tak tahu kesalahan saya dimana?” ujar Sarah lemas. sebaiknya dia mengaku salah agar Pak Abraham memberi tahu kesalahannya apa lalu dia bisa membetulkannya dan mereka bisa pulang.
“Haduh Sarah, kamu…, apakah kamu lapar sehingga kepalamu tidak bisa berfungsi dengan baik?” Sarah segera meliriknya dengan kesal, lupa kalau dia berhadapan dengan atasannya. Dia memegang perutnya, apakah tadi perutnya sudah berbunyi tanpa dia ketahui? Abraham tidak bergeming, dan tanpak serius.
“Saya kenyang pak.” Lalu perutnya berbunyi.
“Aish,...perut kutu kupr*t, bikin malu saja!” maki Sarah dalam hati, dia menatap tajam ke arah Pak Abraham dengan cepat. Pria itu tak bergeming, apa dia tak mendengar? Syukurlah, Sarah segera menghela napas panjang.
“Kamu salah memakai kertas, ini kontrak, kamu harus menggunakan kop surat, Sarah.“ Tiba-tiba bosnya yang tampan menyerah dan langsung memberitahu kesalahannya secara cuma-cuma. Sarah memperhatikan dokumen yang dia kerjakan dan wajahnya memerah menyadari kesalahan konyolnya.
Dia segera menunduk, permisi dan mencetak ulang dokumen itu dengan kop surat perusahaan, lalu segera kembali. Perutnya kembali bergetar. Karena tadi makan siang dengan Pak Abraham, Sarah makan dengan hati-hati sekali dan tidak menyelesaikannya. Pria itu makan dengan cepat sekali, karena tak enak atasannya menunggu terlalu lama, Sarah berkilah sudah kenyang. Kini, dia tiba-tiba menjadi lapar sekali.
Saat dia masuk, Pak Abraham sudah berdiri , dan memakai jasnya. Tampil rapi seperti ini, dia terlihat tampan layaknya seorang model di majalah, pantaslah dia menjadi bujangan idola di kantor. Dia mengambil kertas yang Sarah letakkan di mejanya.
“Oke, ini sudah benar.” Sarah menghela napas, akhirnya dia bisa pulang. Gagal mencari pacar, tapi setidaknya dia bisa mandi air panas lalu melanjutkan drama Koreanya.
“Ayo!” ujar Pak Abraham langsung berjalan menuju pintu kantornya. Sarah menatapnya heran.
“Kemana pak?”
“Makan, perutmu yang berbunyi membuat saya merasa harus bertanggung jawab setidaknya membelikanmu makan malam.” Lalu pria bertubuh tinggi itu keluar sambil mematikan lampu kantornya. Sarah bisa gila dengan orang itu, “Seenaknya saja dia. Tahu darimana kalau dia tak punya rencana?” Sarah mendengus dalam hati. Namun memang kehidupannya begitu menyedihkan, dia memang tak punya janji dengan siapa-siapa. Dengan kesal dia melangkah keluar dari kantor yang sudah gelap mengejar Bos menyebalkannya itu.