Sarah mengikuti pria itu dalam diam. Rasanya janggal berada di lift berdua saja dengannya, dan canggung ketika bersama di mobil. Sarah hanya mengikuti jalan dengan sibuk berpikir sendiri, tanpa tahu mau dibawa kemana. Pak Abraham hanya menyetir tanpa memberitahukan mereka mau makan dimana.
Dalam hati, Sarah mulai menyesal. Seharusnya tadi dia menolak. Rasa canggung ini mulai menyesakkan dadanya. Hubungan mereka tak seakrab ini. Bahkan untuk membuka pembicaraan saja, Sarah bingung harus berbicara apa, namun keheningan diantara mereka terasa sangat janggal.
Mobil terus berjalan membelah kota Jakarta, dan mulai macet, Sarah mengutuk kesal dalam hati. "Seharusnya aku menolak, sekarang harus ngomong apa?" makinya dalam hati.
"Kemarin kamu suka makanan jepang kan?" Tiba-tiba Pak Abraham memecahkan kesunyian. Pria itu tak menatapnya, tapi jantung Sarah langsung berdebar cepat. "Apa, makanan Jepang? Oh dia bermaksud makan bersama Noah? Makanan cepat saji ala Jepang itu siapa yang tak suka, dia mu mengajakku makan itu?"pikirnya cepat.
"Iya pak."
"Kita hanya berdua, panggil nama saya saya langsung." ucap Abraham tanpa berpikir. Seketika menyesali apa yang dia katakan. "Memangnya kenapa kalau mereka hanya berdua? Itu tak merubah apa-apa kan?" batinnya. Sarah seperti yang Abraham perkirakan, dia menatap Abraham terkejut. Tapi sudah terlambat untuk memperbaiki kesalahannya, Abraham harus pura-pura melanjutkan pikirannya.
"Rasanya aneh, lagi pula kita sudah diluar jam kerja." lanjut Abraham, membuat suasana semakin aneh.
Sarah kembali mengutuk dalam hati. " Seharusnya ga ikut, seharusnya tadi ditolak saja, sekarang malah minta panggil hanya nama, aduh…," jeritnya dalam hati.
"Baik pak," Tapi dengan bodohnya dia malah mengucapkan 'Pak' lagi, karena gugup, semua ini karena perutnya yang tak tahu diri. Abraham menatapnya karena kekonyolan itu.
"Maksud saya, baik A..bra...ham," ucapnya perlahan mengucapkan nama pria itu. "Sudah namanya panjang, susah pula panggilnya, klo nama dia Joko, atau Budi kan gampang potongnya, tinggal Jok, atu Bud? Kalau Abraham potongnya bagaimana?" Keluhnya dalam hati.
Abraham anehnya merasa geli namanya dipanggil seperti itu oleh Sarah, memang namanya panjang, dan membingungkan, saat kecil guru bahasa Inggrisnya yang akhirnya bisa memotong namanya dengan baik, sehingga Abraham memiliki panggilan kecil.
"Panggil Abe." Sarah berdebar kencang? "Serius dia minta dipanggil Ape? Itu kan orang utan, monyet?" Dengan horor, dia menoleh menatap mata Abraham.
"Ape?". Abraham mengangguk dengan semangat.
"Abe." Sarah mengerutkan keningnya sangat dalam "Baru kali ini ada orang yang meminta dipanggil monyet?" pikirnya dalam hati lalu mengangguk dalam diam.
"Wajahnya tampan, sama sekali tidak terlihat seperti monyet, mengapa panggilannya monyet?" pikir Sarah ketika akhirnya mobil berbelok dan memarkir di suatu restoran. Karena dia terlalu sibuk memikirkan kenapa bosnya dipanggil monyet, dia tak menyadari dia sudah sampai di restoran mewah ala Jepang.
"Kamu suka sushi kan?" Sarah suka, suka sekali, namun harganya dia tak suka. Hanya dalam hitungan jari dia bisa memakan hidangan ini. Dia mengangguk ketika mereka dipersilahkan masuk dan duduk di bangku di samping sushi yang berjalan. Entah kenapa, Sarah sangat bersemangat, melihat sushi kondisi hatinya langsung membaik. "Perbaikan gizi," ujarnya dalam hati sambil menatap sushi yang berkeliling otomatis di atas rel
"Oke, kamu mau sushi apa?"
Sarah menatap sushi yang berkeliling, lalu mengalihkan matanya ke Abraham yang terlihat ramah, seketika hatinya bergetar, "Eh… ini aneh, kenapa aku rasanya seperti sedang berkencan?" pikirnya takut dalam hati.
"Umm… terserah bapak saja," jawabnya mengulang kesalahan tadi, Sarah merasa tak enak harus memanggil bosnya monyet.
"Abe, Sarah."
"Umm, terserah Ape, saja." Dia berkata sambil menunduk malu. Abraham bingung dengan perubahan sikap Sarah yang malu-malu. "Wanita ini pasti mulai berpikir macam-macam lagi?" batin Abraham sambil mengambil sushi yang sedang lewat disampingnya.
"Salmon suka kan? Saya suka salmon." Wanita di hadapannya langsung mengangguk cepat dan tersenyum malu-malu.
"Ambil saja yang kamu mau," ujar Abraham salah tingkah melihat senyum tipis Sarah. "Apakah makan malam kantor ini jadi berubah makna, nenurutnya?" pikir Abraham, mendengus lalu kembali ke sushinya.
Sarah mengikuti Abraham, setiap pria itu mengambil sushi, dia mengikutinya. Karena dia takut dikira rakus. Namun akhirnya dia kekenyangan saat Abraham kembali mengambil piring sushi lagi.
"Pria itu makan banyak sekali, aku sudah kenyang." Dia menyerah lalu menyesap teh hijau panasnya dengan nikmat. Makan malamnya enak sekali. Terakhir dia dapat menikmati sushi adalah saat sita, si pengantin baru itu ulang tahun, dan itu tahun lalu. "Aaah nikmatnya sushi," batinnya tanpa sadar dia senyum-senyum sendiri.
Abraham memakan piring terakhir yang dia ambil. Akhirnya wanita itu berhenti makan, makannya banyak juga, Abraham terus mengambil karena wanita itu tampak belum puas juga makan. Abraham bingung terhadap reaksi dirinya yang merasa harus memuaskan Sarah. Mungkin kasihan, dia terlihat sangat menyukai sushi.
Wanita itu kini senyum-senyum sendiri dihadapannya, "Lucu…, ternyata Sarah lucu juga," pikir Abraham lalu ikut menyesap teh hijau miliknya. Rasa hangatnya membakar tenggorokannya, perutnya terasa hangat dan nyaman, senyum puas terbit di wajahnya, dan Sarah tertegun menatap wajah Abraham yang tampan di hadapannya.
"Benar, dia memang tampan, pantas saja banyak fansnya di kantor," pikirnya mengagumi ketampanan pria di hadapannya.
"Sar?" Dia terlonjak kaget melihat Noah yang tiba-tiba muncul disampingnya.
"Noah?"
Abraham merasa terusik melihat kedatangan pacar Sarah. Dia merasa terganggu, walau wajar jika Sarah menghubungi pria itu untuk minta dijemput.
"Kamu ngapain disini?" Noah menatap Abraham, dan mengenali wajah pria itu, ini pria kemarin yang mereka ketemu di restoran juga? "Ini pacar Sarah? Kemarin gayanya bukan seperti pacar, tapi hari ini kenapa suasananya berbeda?" batin Noah menatap mereka berdua.
"Sarah saya undang makan karena sudah lembur." Jawab Abraham tegas. Pria itu berdiri dan menatap Sarah yang masih terkejut.
"Saya bayar dulu, kamu bisa pulang bersama pacarmu kan?" Lalu pria itu melengos pergi.
"Aish, siapa bilang dia pacarku, dia hanya stalker, pria yang menempel dengan tidak tahu diri," umpatnya dalam hati. Dengan kesal dia menatap Noah yang terlihat marah.
"Kamu ngapain makan berduaan sama dia, kamu suka sama dia? Gayanya aja arogan banget, nggak pantas dia untukmu, Ara!" dengus pria itu. Dengan kesal dia membanting bokongnya di kursi bekas Abraham tadi. Hatinya marah penuh dengan emosi yang menggebu-gebu. Wanita pujaannya sedang berkencan dengan pria lain. Bahkan mereka saling tatap dan tersenyum seperti tadi. Untung saja dia melihat Sarah tadi.
"Cih, apaan sih. Kamu nggak denger kata dia barusan? Ini hanya makan malam kantor karena kami habis lembur, lagi pula kenapa juga aku harus menjelaskan ini semua sama kamu, memang kamu siapa?" Sarah mendengus kesal. Mood-nya yang tadi baik seketika rusak dengan kedatangan Noah.
"Aku calon suamimu, aku pantas tahu!" seru Noah tak mau kalah. Tapi perhatian Sarah teralihkan oleh bahu bidang yang meninggalkan restoran. "Dia bahkan belum sempat mengatakan terima kasih atas makan malamnya." batinnya lalu menghela napas menatap lurus ke pria tak tahu diri di hadapannya.
"Kamu, jangan mimpi!" jawab Sarah dengan kesal.