"Kalau bukan dia pacarmu, jadi siapa pacarmu itu?" tanya Noah memecahkan lamunan Sarah. Mereka akhirnya berada di mobilnya dalam perjalanan pulang ke rumah kontrakan Sarah.
"Bukan urusanmu," jawab Sarah Ketus, sambil menatap hujan yang jatuh dengan derasnya. Mengapa saat dia bersikeras mencari taksi sendiri malah turun hujan? Kini dia terpaksa harus diantar Noah pulang.
"Jelas urusanku. Kamu tidak pura-pura lupa kan dengan taruhan kita. Ulang tahun Keyla sebentar lagi. 'Pacarmu' harus bersiap datang," ucap Noah menyebalkan sambil tersenyum lebar. Sarah melirik pria itu lalu teringat akan taruhan mereka lagi.
"Kamu tenang saja, pacarku bilang dia bisa datang kok," balasnya berusaha terlihat santai walau sebenarnya jantung Sarah berdebar kencang. Karena Pak Abraham rencananya mencari pacar gagal. Besok dia tak boleh lengah lagi, dia harus mendapatkan pacar!
Keesokan paginya, Sarah sudah muncul di kantor dengan semangat 45, dia membereskan pekerjaannya sebisa mungkin lalu mulai melihat pacar potensial di kantor. Saat pak Abraham muncul, tatapan matanya terlihat aneh. "Biarkan saja, toh Sarah hari ini tidak terlambat." pikirnya sambil melirik bagian akunting.
"Kenapa hanya ada satu pria di bagian akunting, dan dilihat dari penampilannya sepertinya masih muda sekali. Nanti Sarah dipikir tante girang lagi. Lalu dia berjalan mengintip bagian finance. Ternyata di bagian itu malah semuanya wanita.
Sepertinya artikel yang dia pernah baca itu benar, pria dan wanita jumlahnya berbanding mengerikan, 1:5, jadi dari 5 wanita hanya ada 1 pria, dan bayangkan kalau pria itu gay? Pantas saja Sarah susah dapat pacar.
"Lo ngapain sih Sar, dari tadi mondar-mandir, bos lo ngeliatin tuh dari tadi," tegur Dewi yang baru datang. Dia terlambat, namun tak ada yang berani memarahi ibu hamil besar sepertinya.
Peluh ada di wajahnya. Selama hamil ini, Dewi yang dulunya berkulit putih bersih menjadi kusam dan mudah berkeringat.
"Cari pacar potensial," jawab Sarah sambil melirik ke bagian legal. "Biasanya bagian legal banyak laki-laki kan?" pikirnya dalam hati hendak melangkah ke bagian legal, saat tiba-tiba teleponnya berbunyi.
"Aish, pasti Pak Abraham sudah menemukan kesalahanya yang lain." Sarah mendengus lalu mengangkat teleponnya.
Namun ternyata salah, telepon itu dari resepsionis yang mengatakan ada paket di depan. Dengan bingung Sarah ke depan menuju meja resepsionis. Ada rangkaian bunga mungil cantik di situ. Wajah resepsionis tersenyum penuh arti, Sarah menjadi malu dan segera mengambil pot bunga mungil itu dan kembali masuk.
Dengan segera, Sarah menjadi pusat perhatian, ketika kembali ke ruangannya. Dewi menjerit bersemangat melihat pot bunga mungil itu.
"Katanya cari pacar potensial, itu dah ada yang kirim bunga?" tanya Dewi langsung mencari kartu di bunga tersebut. Sarah juga baru terpikir, tadi karena dia terlalu malu, dia bahkan tak sempat bertanya siapa pengirimnya.
"Aku ga tahu siapa yang kirim." Sarah juga bersemangat mencari kartu. Tapi yang menemukan duluan adalah Dewi. Dia menarik kartu itu dengan penuh semangat dan membacanya dengan lantang.
"Aku serius, dan tidak menerima kata tidak!, No." baca Dewi dengan kebingungan.
"No? Itu nama orang? Kata tidak…, Sarah kamu udah dilamar?" Dewi membelalakkan matanya yang bulat, wanita itu langsung meraih tubuh Sarah dan memeluknya.
"Selamat ya sayang, duh nggak sabar aku, kapan tanggalnya, Kalau bisa jangan dekat-dekat aku lahiran ya, aku mau datang ke kawinanmu," pinta Dewi langsung salah sangka.
"Ish, bukan, kalau aku dah mo kawin buat apa aku minta pacar kemarin?" hardik Sarah kesal ketika menyadari siapa pengirim bunga.
"Lho, jadi ini siapa?" Ibu hamil itu menatapnya dengan bingung.
"Jadi aku ada sahabat dari kecil namanya Noah,-"
"Oh, No, itu dari Noah ya?" potong Dewi bersemangat. Sarah memicingkan matanya menatap Dewi dengan kesal karena memotong ceritanya. Wanita itu tersenyum meminta maaf.
"Oke, sori, maap, lanjutin ceritanya."
"Jadi, dia dari dulu emang ngejar-ngejar aku, tapi aku tuh nggak suka, dia tuh dah ke sodara, dah kek kakak beradik kita itu, aku benar-benar ga ada perasaan sama dia." Mata berbinar-binar mendengarkan cerita Sarah.
"Kemarin aku ketemu lagi pas kawinan, eh dia malah ngelamar aku dong di depan teman-teman yang lain, malu banget kan?" tanya Sarah meminta dukungan untuk membenci Noah. Tapi Dewi malah terpincut dengan karakter Noah yang pantang menyerah.
"Aaaah romantisnya…," gumannya mendesah. Sarah mendelik karena kesal.
"Ish, nggak ada romantisnya deh, dia tuh maksa banget, aku dah bilang nggak ada feeling dia ga percaya."
"Memangnya jelek ya? Wajahnya?" tanya Dewi sambil menatap bunga cantik yang ada di meja Sarah.
"Hmm, nggak juga sih, wajahnya lumayan. Itu yang aku bingung, kenapa juga dia harus terus keukeh sama aku?" tanya Sarah sebal.
"Lah, kalau dia wajahnya nggak jelek, terus kamu dah kenal dari kecil, terus kenapa kamu sampai tidak mau menikah dengannya? Dia pengangguran?" selidik Dewi lagi, Sarah menggeleng.
"Dia pialang saham, sepertinya cukup sukses sih, sering muncul di majalah." jawab Sarah mengingat-ingat. Dewi tiba-tiba memukulnya.
"Ish, dasar ga bersyukur, dah tampan, sahabat dari kecil, dan kaya? So what? Kamu mau apa lagi?" tanya Dewi bingung. Sarah sendiri juga bingung, secara gamblang diucapkan semua kelebihan Noah. Dia sempurna, terlalu sempurna malah. Dia baik, sopan, dan sayang pada keluarganya. Tapi mengapa tidak bisa Sarah menyukainya? "Dasar bodoh!" pikirnya kesal.
"Nggak tau, ngga ngerti juga. Yang pasti aku nggak pernah ngerasa apa-apa sama dia. Bagiku dia hanya teman," Tegas Sarah menepis rambutnya yang panjang sambil melihat bunga yang diberikan Noah. "Dia juga romantis," pikir Sarah dalam hati. Benar- benar sempurna. Tapi tanpa sengaja Sarah melirik ke arah bosnya di dalam ruangannya yang rapi. Dia bagaikan foto model yang sedang mau di foto. Tiba-tiba pria itu menoleh dan pandangan mereka bertemu. Hatinya mencelos dan dia segera duduk di kursinya. "Aish, pasti dalam beberapa detik dia akan memanggilku," pikirnya mengutuk dalam hati. Dan benar saja dalam beberapa detik Pak Abraham memanggilnya melalui telepon.
Wanita konyol itu mendapat bunga. Kekasihnya romantis sekali, apa dia takut karena bertemu mereka semalam, atau itu sebagai ucapan damai karena mereka bertengkar? Abraham merasa kesal karena pikirannya malah bercabang ke arah yang tak jelas. Dia tak ada hubungannya dengan mereka, mengapa sekarang Abraham malah penasaran, mau tahu tentang hubungan Sarah dan pacarnya?
Tiba-tiba pandangan mereka bertemu, dan perasaan Abraham seketika jadi aneh. Mungkin karena Sarah kembali melakukan kesalahan di dokumen yang lain. Dia segera mengangkat telepon dan memanggil wanita itu.
Sarah hari itu mengenakan gaun dengan motif floral dilengkapi dengan cardigan warna senada. Biasanya Sarah merasa kedinginan, namun kini di bawah pandangan Pak Abraham dia merasa gerah. Lagi-lagi dia merasa sedang dinilai.
"Lihat ini, kamu salah memasukkan kode perusahaan, disini kamu salah memasukkan nama, disini kamu juga salah memberikan kode warna, saya heran bagaimana kamu bisa lulus dari tes HRD, kenapa kamu bisa begitu bodoh!" Tiba-tiba amarah Abraham memuncak. Dokumen itu dibanting ke lantai. Dan Sarah tahu dia memang keterlaluan salahnya. Tapi dia tidak terima dimarahi seperti itu. Dia menggigit bibirnya menahan tangis.
"Ambil itu, dan bikin ulang, saya tunggu segera." Pria itu menatapnya tajam. "Dasar mony*t! Mungkin kelakuannya yang seperti ini membuat panggilannya monyet. Dengan mendongkol, Sarah menggertakkan giginya lalu menunduk untuk mengambil dokumen di lantai. Keterlaluan, Sarah tak pernah merasa sehina itu. Dia keluar tanpa bicara apa-apa. Dia melempar dokumen itu di mejanya lalu berlari ke toilet, dia terlalu kesal sehingga air matanya mau terjatuh