Sarah tak pernah menyangka kalau dia bisa menangis karena seorang pria, terlebih dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang bos brengs*k yang hanya suka menghina. “Dasar bos gila!” makinya dalam hati sambil menghapus air matanya.
“Sar?... Sarah, kamu di mana Sar?” panggil Dewi, sepertinya dia sadar ada sesuatu yang tak benar dan segera menyusulnya ke toilet. Sarah membuka pintu toiletnya dan menumpahkan air mata kekesalannya ke Dewi.
“Astaga Sarah, ada apa sih? Pak Abraham lagi?’’ tanya Dewi sambil memeluk wanita yang terisak-isak itu.
“Memang aku melakukan kesalahan-kesalahan, tapi bisa-bisanya dia mengatakan aku bodoh lalu membanting kertas ke lantai. Aku tak tahan lagi. Aku mau berhenti aja dari pekerjaan konyol ini. Dia tak akan bisa memiliki bawahan yang setia jika dia terus begitu Dew.”
“Hah serius dia bilang begitu?” Dewi tak percaya sambil memberikan tisu kepada Sarah. Wanita itu mengambilnya dan mulai membersihkan wajahnya.
"Kamu serius mau berhenti Sar?” tanya Dewi terkejut.
“Cari kerjaan lain dulu, sekarang cari-cari, jangan terlalu emosi. Nanti kalau dapat kerjaan, baru yang ini dilepas,” saran Dewi bijaksana. Sarah menghela napas panjang. Memikirkan gajian, memang bijaknya kalau dia sudah ada pekerjaan baru baru berhenti tapi kalau harus berhadapan dengan Abraham tiap hari, sepertinya Sarah bisa bertambah tua 10 tahun tiap harinya.
“Kata-katanya itu lho nyakitin banget!” Sarah menatap matanya yang memerah di cermin. Wajahnya jadi hancur begini karena pria itu.
“Alihkan pikiranmu, pikirkan saja Abang Noah yang sedang menunggu kata ‘ya” darimu,” ujar Dewi tersenyum menggoda.
“Aish dia lagi, bikin pikiran,” ujar Sarah cepat, teringat akan misi mencari pacarnya.
“Jadi gimana Dew ada calon nggak buat aku? kenalin donk?” Sarah menyisir rambutnya dengan jari.
“Hmm, William dari bagian legal gimana?” Sarah tidak mengingat wajah dengan bernama William di kepalanya. “Yang mana ya orangnya?” pikirnya dalam hati.
“Astaga, jangan bilang kamu nggak tahu, makanya gaul donk, sekarang, susah kan cari pacar.”
“Ish, soale, aku tuh nggak punya pacar juga nggak apa-apa, nggak penting juga. Ini karena aku taruhan saja sama si Noah menyebalkan itu, jadi aku harus memiliki pacar duluan sebelum harus pacaran sama dia.”
“Biasanya yang dihindari itu adalah jodoh yang sebenarnya lho!”
“Ish, aku nggak akan bisa Dew, ya udah kenalin donk sama William itu?”
Sarah dan Dewi keluar dari toilet sambil bercanda, lalu tiba-tiba keluar juga Pak Abraham dari toilet Pria. Wajahnya masam dan tegang.
“Aish apakah dia mendengar seluruh pembicaraan mereka ya?” pikir Sarah dalam hati saat pria itu membuang muka lalu berjalan cepat mendahului mereka.
Sarah dan Dewi terlonjak kaget ketika pria itu tiba-tiba berbalik dan menatap Sarah langsung.
“Sar, harap jangan sibuk dengan permasalahan pribadi ya, ingat ini kantor. Lebih baik revisi pekerjaanmu yang salah semua tadi.” Pria itu mendengus kembali lalu kembali berjalan cepat menuju kantornya.
Sarah dan Dewi yang tadi seperti terpaku pada lantai mulai bisa menguasai dirinya sendiri. mereka saling pandang dan akhirnya saling menertawakan karena ketakutan terlihat di wajah mereka.
“Astaga Sarah, pantas kamu nggak betah ya, dingin sekali dia!” gumam Dewi kaget merasakan untuk pertama kalinya amarah Abraham.
"Hmm, aku aja sampai bingung bagaimana aku bisa bertahan selama ini, pokoknya dalam bulan-bulan kedepan misiku adalah mendapat pacar baru dan pekerjaan baru." Sarah duduk di kursinya dengan semangat. Dewi menatapnya, lalu tersenyum.
"Semangat sista, kamu pasti bisa, aku mendukungmu!" Lalu mereka tertawa berdua.
Abraham menggigit bibir bawahnya dengan penuh penyesalan, entah mengapa jika berkaitan dengan Sarah, emosinya begitu terpancing. Anak buahnya itu seperti berlian yang belum diasah, jika dia sedikit mau lebih berkonsentrasi dan mendengarkan apa yang Abraham ucapkan, pasti dia tak akan melakukan kesalahan yang berulang-ulang. Dia melirik wanita itu segera berlari ke toilet. Hatinya mencelos, dan dia segera mengejarnya ke toilet.
Namun saat dia mendekat, Abraham malah mendengar kalau dia sedang dibicarakan. Dia mengatakan yang sebenarnya, namun cara membicarakannya, membuat emosi Abraham kembali tersulut. Tapi saat dia mau menyangkal semua itu, dia malah mendapat informasi baru. Pria yang dia pikir adalah pacar Sarah ternyata bukan, dan dia malah mencari pacar baru. Entah kenapa potongan informasi itu tiba-tiba terasa penting baginya. Terlebih saat dia mendengar Sarah akan mencari pekerjaan baru. Dia harus melakukan sesuatu, Sarah tidak boleh keluar dari pekerjaan ini.
Abraham mendengus saat melihat kedua wanita itu tertawa, secepat itukah moodnya berubah. Sedangkan Abraham masih sibuk berpikir. Konyol sekali mengapa dia malah terlalu sibuk mengurus karyawan ini, disaat pekerjaannya yang masih menumpuk. “Kerja Abraham, bukannya sibuk memperhatikan wanita tidak jelas itu.” omelnya dalam hati.
Tapi pikirannya terus menuju ke wanita itu, sehingga saat Sarah masuk ke ruangannya untuk mengembalikan hasil revisinya, Abraham begitu terkejut.
“Oh… letakkan saja disana, kamu boleh istirahat dulu.” jawabnya sedingin mungkin bersembunyi di balik layar laptopnya, sehingga membuat Sarah bingung. Dia meletakkan dokumen itu dengan canggung lalu pelan-pelan keluar dari ruangan.
“Aneh...pria itu tadi marah-marah seperti kebakaran jenggot, sekarang tiba-tiba malah diam sedingin es,” pikir Sarah dalam hati lalu duduk di kursinya kembali, sebentar lagi memang sudah jam istirahat tapi, biasanya dia selalu lupa kalau Sarah butuh istirahat, biasanya pria itu terus-terusan memberinya tugas sampai dia tak bisa istirahat.
“Bagaimana tadi? Dewi mendekati Sarah yang kebingungan. Sarah mengangkat bahu dengan heran lalu mulai mengerjakan yang lain. Saat istirahat, Dewi ikut turun karena ingin minum jus. Sambil berangkulan Sarah dan Dewi turun menuju kantin. Dewi lalu melihat William yang hendak dia jodohkan ke Sarah, Pria itu duduk sendiri sambil mengerjakan dokumen di sampingnya, sampai tak sadar ujung dasinya sudah ikut mencicipi soto ayamnya.
“Aish, sepertinya sifatnya mirip Pak Abraham, gila kerja!” Dewi lalu tertawa bersama Sarah yang langsung menolak.
“Ah, Adrian bagian Audit, ganteng banget, seperti model rambut tebal agak pirang, mata coklat muda. Asli aku tukar suamiku aja mau!” canda Dewi sambil memukul Sarah dengan gemas.
“Wuish, ganteng begitu mau nggak sama aku?” Sarah merendah atau benar-benar tak mengerti, Dewi tidak tahu, karena dia dikagetkan oleh kedatangan pria tampan berambut hitam tebal dengan bibir tipis yang tiba-tiba duduk disamping Sarah.
“Ara, kenapa kamu nggak angkat teleponku?” Pria itu tersenyum kepada Dewi yang terpesona menatap wajahnya yang tampan.
“Noah! kamu ngapain ada disini, Sarah langsung mundur menjauhi pria itu.” Dewi langsung tersenyum penuh pengertian. “Sarah memang tidak tahu diri, pria seganteng ini ditolaknya,” pikirnya dalam hati lalu beranjak berdiri.
“Sar, aku lupa aku kan ada bekal dari rumah, aku ke atas duluan yah.” Sarah segera memelototi temannya itu, yang tertawa dalam hati. ‘Lagian pria ganteng kek gini disia-siakan.” Sarah menahan tangannya dengan segera.
“Jus… jusmu belum datang, bertepatan dengan abang jus mengantarkan jus Dewi. Dengan kesal Sarah melepaskan tangan Dewi.
“Daah.” Dewi melambai dengan ceria tapi kembali kaku saat bertemu Abraham yang menatap ke arah mereka dengan tatapan aneh. Pria itu bahkan sepertinya tak sadar kalau Dewi tersenyum ke arahnya.
“Hmm, mencurigakan.”