Pacar Potensial

1096 Kata
No, please deh, hentikan semua ini. Nggak usah kirim-kirim bunga, nggak usah datang ke kantorku, kalau begini terus aku minta satpam hafalkan mukamu agar mereka mengusirmu begitu kamu menginjakkan kaki di kantor ini," geram Sarah dengan kesal. Noah menatap wanita yang dia cintai itu, semakin marah Sarah semakin senang hati Noah. "Aku hanya membuatmu ingat, kamu akan segera menjadi istriku." Pria itu berbisik dengan senyum miringnya yang membuat Sarah merinding. "Ish, jangan mimpi terus kamu." Sarah membuang tatapan matanya untuk bertemu mata lain yang terlihat marah. Terkejut, Sarah segera menurunkan wajahnya, seperti anak TK yang tertangkap memakan permen diam-diam. "Aish, kenapa dia terlihat begitu marah, apakah aku melakukan kesalahan lagi?" pikir Sarah panik sambil mengingat-ingat apa yang dia baru saja submit ke Pak Abraham. "Aku hanya sedang lagi main di daerah sini, aku ingat kamu, jadi sekalian aku mampir." Noah berbohong, dia memang sengaja datang. Bahkan dia sudah mempersiapkan semua ini dari semalam. Hatinya lagi-lagi kecewa dan sakit karena penolakan Sarah, tapi dia tidak akan menyerah, dia akan terus menempel pada sahabatnya ini, dia kali ini sudah bertekad, dia tidak akan melepaskan Sarah lagi, dia harus bisa meluluhkan hatinya, dan membuat Sarah menjadi miliknya. Tapi pandangan mata Sarah yang sombong tiba-tiba berubah menjadi cemas, dan ketika Noah mengikuti arah pandang Sarah, dia tersadar, lagi-lagi pria itu. Mengapa pria itu selalu ada di momen dia sedang mencoba mendekati Sarah? Dan mengapa Sarah selalu merasa ketakutan dengan pria itu? “Memang dia siapanya Sarah sih, bukannya dia hanya seorang bos?” pikir Noah kesal melihat reaksi Sarah menatap kedatangan pria itu. Sup iga pesanan Sarah datang dan Noah segera meminta makanan yang sama. Sarah dalam diam tidak mengomentari perbuatannya, dan tak mengusirnya lagi. Noah senang dia mendapat satu poin tambahan hari ini, dan jika beruntung, dia ingin kembali merasakan bibir Sarah lagi, walau setelah itu Noah mendapat upah tamparan, dia tak akan keberatan. Abraham sengaja duduk di meja sebelah mereka, dia tak tahu kenapa, mungkin karena dia hanya ingin. Melihat wajah Sarah langsung kaku membuat hatinya senang. Namun pria di hadapannya masih tersenyum menggodanya. Abraham tak suka, walau hanya padangan seperti itu, Abraham, tak suka. Saat pria itu ikut memesan makan, Abraham juga memesan yang sama, sehingga mereka bertiga akan makan sop iga yang sama. Dengan perasaan kikuk dan canggung, Sarah ingin menyelesaikan makannya secepat mungkin. “Mengapa Pak Abraham memilih duduk di meja persis sampingku?” sesalnya dalam hati, masih banyak meja kosong lain, kenapa dia harus memilih meja di sampingnya? Sarah masih mencoba menelan sopnya, dan seketika di malu jika harus mengangkat tulang itu dan menggerogotinya di hadapan Pak Abraham. “Aku pasti terlihat barbar sekali!” gumamnya dalam hati, sehingga walau potongan tulang iga itu sangat menggoda, Sarah dengan menyesal tidak menyentuhnya. ‘Kenapa kamu nggak makan tulang igamu?” Noah menatap bingung ke mangkuk Sarah, dia dari tadi hanya makan wortel dan kuahnya saja. Sarah suka sekali menggerogoti tulang. “Umm, gigiku sakit.” Sarah cepat berbohong. Karena gugupnya dia sampai lupa ada Noah di hadapannya, yang dia pikirkan adalah pria yang ada di sampingnya, Dia tak berani menoleh, Sarah hanya terus makan nasi dan kuah sampai nasinya habis. Dengan hati mencelos saat dia berdiri hendak kembali ke atas, ternyata pak Abraham sudah pergi entah dari kapan. Yang membuat Sarah bingung, bukan kelegan yang muncul dalam hartinya, namun kecewa. “Kenapa aku harus kecewa? konyol sekali!” hardiknya dalam hati. “Jadi pulang aku jemput ya, aku mau beli kado buat Keyla, tapi tak mengerti kado apa yang pas buat anak perempuan berumur 7 tahun.” Noah berusaha mengembalikan konsentrasi Sarah kepadanya, dari tadi wanita itu seperti mencari sesuatu… atau seseorang?” hati Noah mencelos… “Apakah dia mencari pria angkuh tadi?” “Aku beli online, jadi nggak usah ribet-ribet jemput kesini, kamu kalau bingung cari aja di online, semua ada, tinggal tulis hadiah anak perempuan berumur 7 tahun, nanti muncul deh list-nya.” Sarah berkata dengan praktis tanpa menatap Noah. “Sar, aku butuh bantuanmu,” ujar Noah sambil menarik tangan Sarah agar setidaknya wanita itu mau melihatnya. “Ish, apaan sih pakai pegang-pegang?” Sarah segera menarik tangannya seakan-akan Noah berpenyakit kusta, sakit di hati Noah sulit untuk dihiraukan, tapi dia berusaha tersenyum kepada wanita pujaan hatinya. “Aku jemput ya?” “Nggak usah, aku… lembur!” Sarah berbohong lagi, tapi dia tidak tahu juga, mungkin juga akan menjadi kenyataan, karena lembur adalah kesukaan Pak Abraham akhir-akhir ini. “Aku datang bawa makan malam kalau begitu ya?” Noah berkata dengan berusaha sabar. Hatinya melonjak ketika akhirnya Sarah menatapnya, walau setelah itu dia dijatuhkan lagi ke lantai. “Tidak perlu, Pak Abraham biasanya pesan makanan online, kan ada anggaran perusahaan? oke aku naik dulu, ingat ya No, nggak usah kirim aneh-aneh, atau datang-datang lagi ya!” Wanita itu melengos berjalan meninggalkan Noah yang merasa hatinya telah terinjak-injak lagi oleh Sarah. Sambil naik ke atas melalui lift, mata Sarah sibuk mencari kandidat pacar, melihat gelagat Noah seperti tadi, sepertinya mencari pacar akan menjadi tujuan hidupnya saat ini. “Namun mengapa dalam satu lift ini semua wanita?” Sarah mengeluh dalam hati. Pintu lift terbuka dan Sarah terdorong ke belakang. Muncul pria tadi yang dasinya tercelup sop. Pria itu sudah melepaskan dasinya dan di tangannya penuh dokumen. Benar seorang gila kerja, bukan pacar potensial juga. Sarah mendengus kesal. Lalu pintu lift terbuka lagi dan terdengar suara tarikan napas dari kaum hawa, dan desah penuh kagum. Pak Abraham masuk dengan seluruh wibawa dan aura maskulinnya. "Nah, ini baru calon pacar potensial, jika Sarah bawa pria seperti ini untuk ulang tahun Kayla, pasti semua akan dia," pikirnya dalam hati. Lalu tiba-tiba hatinya membeku. "Mengapa dia bisa-bisanya membayangkan pak Abraham menjadi pacarnya?" Rasa dingin masuk di tulang belakangnya. "Aku pasti sudah gila!" makinya dalam hati. Tapi mungkin yang mirip ada. Tiba-tiba muncul ide gila di kepalanya saat dia teringat kata-katanya kepada Noah tadi. Kalau bingung tinggal ketik saja, semua ada di online,kalau hadiah kayla ada, maka pacar pun pasti ada kan? Sudah ada yang sukses lagi, sahabatnya Dewi. Sarah segera bersemangat menemui sahabatnya itu sambil ikut memandangi punggung sempurna dari pak Abraham bersama beberapa wanita satu lift dengannya. Satu persatu penumpang lift turun, hingga tinggal mereka bertiga, Sarah, Pak Abraham dan Pria yang dasinya tercelup sop, Sarah sudah lupa namanya. Pria itu tersenyum dan berbicara mengenai beberapa dokumen kepada Pak Abraham, yang Sarah tak mau ambil pusing mendengarkannya. Pikirannya hanya ingin segera bertemu Dewi dan menjerit bersamanya, karena dia baru saja mendapat ide brilian. Namun ketika mereka berpisah menuju ke tempat duduk masing-masing, Pak Abraham kembali memanggilnya dengan amarah menyala-nyala di matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN