Sarah berjalan masuk ke ruangan Pak Abraham seperti domba masuk ke ruangan penyembelihan. Dengan menunduk dia masuk ke dalam.
"Sarah coba lihat, semua yang kamu revisi salah semua, bukankah saya sudah bilang pakai contoh di folder ANZ. Kenapa ini masih sama saja?" tanyanya dengan amarah menggebu-gebu. Tapi tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu lalu dia segera memelankan suaranya.
"Kerjakan ulang. Jangan langsung submit, untung saya cek dulu tadi, email ke saya dulu baru kirim, sudah begitu saja!" Dia lalu berbalik dan menatap ke jendela.
Entah apa yang ada dipikirannya mengapa suaranya tiba-tiba memelan dan tak memarahi Sarah seperti biasanya, sarah melihat ke arah Pak Abraham yang membelakangi cahaya, sehingga terlihat siluet tubuhnya yang sempurna.
"Jika dia tak segalak itu, mungkin dia sudah menikah, sayang mulutnya seperti itu sehingga tak ada yang tahan bersamanya!" pikir Sarah sambil menutup pintu.
Abraham mendengar suara pintu tertutup dan menghela napas hampir saja dia kelewat batas lagi. Entah kenapa, jika Sarah melakukan kesalahan dia menjadi begitu marah. Dia bisa mengeluarkan kata-kata yang dia tak pernah pikirkan.
Terlebih tadi, dan karenanya Sarah akan berhenti kerja. Dia tak boleh berhenti kerja, Abraham tidak mau mengajari lagi karyawan bodoh lainnya untuk melakukan tugas-tugasnya. Seandainya wanita itu mau belajar pasti dia sanggup mengerjakan semua tugasnya sesuai standar Abraham.
Namun, melihat wanita itu bersama pacarnya… bukan, bukan pacarnya, ternyata pria itu hanya pria yang terus-menerus nenerornya. ada kelegaan tak jelas muncul di hatin Abraham. Kelegaan yang konyol. "Mengapa dia harus merasa lega jika Sarah tak ada hubungan apa-apa dengan pria itu?" Hatinya bergetar, perasaan apa ini?
Sarah menatap dokumen yang di hadapannya dan melihat folder PT. ANZ dan mencocokan datanya. Semua sudah sama. Namun perasaannya tak tenang pasti nanti ada salahnya. Dia terus menerus menatap dokumen itu sampai matanya terasa sakit.
"Kamu ngapain sih say? Sampai melotot-melotot begitu?" tanya Dewi setelah kembali dari toilet. Wanita itu semakin sering ke belakang setelah perutnya semakin besar.
Dia meregangkan tubuhnya dan mencoba mengambil pensil yang terjatuh karena tersenggol tangannya, namun karena tertahan perut, dia menjerit frustasi ingin mengambil pensil. Sarah menunduk dan mengambil itu dan memberikannya pada Dewi.
"Thanks say, itu dokumen buat Pak Abraham ya?" tanyanya dengan terengah-engah.
"Ho'oh, cuma aku takut, pastinya nanti ada yang salah lagi, namun sampai juling aku mencari, aku tak dapat melihat adanya kesalahan. Apa aku langsung submit saja ya?" tanya Sarah memandang Dewi yang sedang asik membuka buah jeruk.
"Hmm kalau menurutmu dah benar ya udah kirim aja," jawab Dewi mulai .enakan jeruk. Sepertinya enak sekali menjadi Dewi, walau dia sedang hamil 7bulan, wajahnya tetap cantik, tetap tirus hanya perut yang membuncit saja yang membuat dia terlihat hamil. Jika dilihat dari belakang, Tak ada yang tahu kau dia sedang mengandung. Kulitnya masih mulus putih sempurna.
Suami Dewi tampan dan pandai memasak karena seorang chef. Pria itu sangat mencintai istrinya, Sarah mengetahui dari semua makan siang yang disiapkan buat Dewi. Semua tak hanya lezat tapi juga cantik, tertata dengan indahnya.
Dan hebatnya semua itu Dewi dapatkan secara online. Sarah harus ikut situs yang sama, siapa tahu dia benar beruntung dan mendapatkan kekasih bukan hanya untuk melewati ulang tahun Kayla, tapi juga untuk seumur hidupnya
"Aku sudah betul, aku submit saja!" Sudah seharusnya pria menyebalkan di dalam itu mempercayai dirinya. Dia lulusan perguruan tinggi negeri, dengan nilai IPK nyaris sempurna. Maka mengisi dokumen seperti itu pasti bisa dan benar.
Dengan penuh percaya diri Sarah menekan tombol submit. Sekarang tugasnya selesai dia bisa mencari pacar.
Jadi sekarang dia bisa bebas mencari pacar.
"Dew, ajarin donk buat akun jodoh itu?". Wanita yang sedang memakan jeruk itu menoleh dengan geli.
"Akun jodoh tuh apa nak?" Wanita itu tertawa terbahak-bahak. Dewi juga menyenangkan, hanya sedikit guyon dia juga mudah tertawa. Apa karena itu dia memperoleh suami yang sempurna?
"Yang seperti punyamu itu yang bisa ketemu suamimu, aku juga mau."
"Dating site?"
"Ho'oh" wanita itu membuka sebuah situs perjodohan dan memasukan akunnya. Lalu layar menunjukan berbagai foto-foto berbagai pria dalam berbagai bentuk.
"Sebenarnya foto ini patut dipertanyakan karena ini online, nanti kalau sudah akrab minta foto aja atau video call," ujar Dewi lalu menatap Sarah.
"Tapi Sar, lo yakin nggak mau coba sama si Noah, gila kamu ya, ganteng gitu disia-siakan." Dewi mulai membuat akun baru sambil menggerutu.
"Ish, dah dibilang nggak ada rasa, nggak akan bisa dipaksa." Sarah mendengus kesal.
"Okelah, foto mana kirim ke emailku, kita buat akun baru untukmu."
Setelah beberapa lama, akun baru mencari jodoh telah siap, dan Sarah sangat bersemangat. Dengan mengeliminasi berbagai nama mes*m yang disarankan oleh Dewi, Sarah memilih nama Schubert karena kesukaannya dengan musik klasik, yang sebenarnya sangat ditentang oleh Dewi.
“Schubert, namanya seperti nama laki-laki membosankan, ngga ada komposer lain yang kamu suka? Bethoveen misalnya?” protes Dewi memasang foto Sarah yang tersenyum dengan cantiknya.
“Eh fotonya harus yang asli ya?”
“Iya donk,” jawab Dewi mendengus, “Kalau nggak siapa yang mau masuk ke akun kamu?” sambungnya lagi.
“Cobain aja, aku gambarnya piano aja. Aku nggak mau sebar foto,” ungkap Sarah jujur.
“Aish, katanya mau cepet cari pacar, ini kok malah dipersulit?” tanya Dewi dengan kesal. Sarah tertawa lalu memeluk temannya.
“Ish, anggap saja langkah iman.” Dia tertawa lagi, temannya mendengus tapi setelah itu ikut tertawa.
Mereka berdua menatap akun baru Sarah atau Schubert yang bergambar piano.
“Akun cowo jadi-jadian ini, kalau dalam tiga hari sepi, ganti akun ya, ikut semua yang aku ajarin okeh?” Sarah mengangguk dengan serius. “Semoga, jika Tuhan mengabulkan, dia bisa bertemu jodohnya dengan cara seperti ini.” Sarah berharap dalam hati sambil menatap akunnya yang baru jadi dan tersenyum.
Abraham menatap wanita yang tak bisa serius dan sedang tersenyum itu. Rambutnya yang panjang bergoyang saat dia tertawa. Muncul perasaan itu lagi. “Benarkah itu? apakah dia sudah gila? tapi apalagi jika bukan itu?” pikirnya kesal. Dia masih menatap senyum Sarah yang sangat cantik, hatinya kembali bergetar. “Mungkin aku menganggapnya hanya sebagai tanggung jawabku, sehingga aku memperhatikannya lebih dari pada yang lain?” ucap Abraham dalam hati.
Tapi itu tak menjelaskan betapa marahnya dia tadi saat melihat dia sedang duduk dengan pria lain, dan perasaannya yang tak menentu saat mengetahui dia berencana mencari pekerjaan baru? Itu di luar perasaan bos dan bawahan. Itu seperti perasaan pria kepada wanita. Dia kembali duduk saat melihat tawa Sarah dan Dewi, dan menyadari kalau dia sudah gila menyukai bawahannya sendiri.