Hari itu, Pak Abraham secara ajaib tidak memanggil Sarah saat mendekati jam pulang kantor. Rasanya bagaikan mimpi, pulang kerja di jam yang normal. Sarah turun dengan Dewi sambil membayangkan kira-kira seperti apa jodoh yang akan ditemukan oleh aplikasi itu untuk Sarah. Kegembiraannya berganti menjadi iri saat melihat suami Dewi yang menjemput.
Pria itu tampan, dengan tubuh tinggi besar, berbanding terbalik dengan Dewi yang bertubuh mungil. Temannya itu hanya setengah d**a suaminya. Tetapi pria itu memperlakukan Dewi seperti gelas kristal. Dia menyambutnya dengan senyuman lebar dan mengelus lembut perut Dewi yang membuncit. Temannya itu segera melambai dan meninggalkan Sarah yang ikut tersenyum lebar melihat keromantisan mereka berdua.
Sarah sedang membuka handphone-nya untuk mencari taxi online saat Pak Abraham muncul dari arah lobi.
Dia menghela napas, untuk sementara mengagumi perwujudan fisik pria itu yang sempurna. Sayang sekali sifatnya jelek. Pria itu berjalan cepat melewatinya tanpa sadar Sarah berdiri di dekat pilar pualam yang tinggi mengamatinya.
Dia bertemu dengan seorang wanita muda yang waktu itu Sarah pernah liat di restoran cepat saji . Bosnya itu tersenyum lebar menyambut wanita itu dan langsung merangkulnya tanpa canggung. Wah seperti ini kah, pacar Pak Abraham? Sarah mau tak mau langsung menilai wanita itu.
Tidak ada yang spesial dengan wanita itu. Tubuhnya biasa, kurus kecil dan rata depan belakang. Tipe wanita yang bisa memakai baju apa saja dengan cantik. Berbeda dengan Sarah yang penuh depan belakang, sehingga perlu berpikir berbagai sisi jika hendak memilih baju. Rambutnya lurus kecoklatan sebahu. “Pasti di cat, tidak mungkin itu warna asli?” dengus Sarah dalam hati.
Dia selalu iri dengan wanita yang memiliki rambut lurus alami, rambutnya tebal dan bergelombang. Jika dia bisa mengatur gelombangnya dengan rapi itu akan menjadi suatu aset, namun gelombangnya seperti memiliki jalan pikiran sendiri sehingga, jika sedang kesal, Sarah hanya mengikat rambutnya menjadi satu ke belakang.
Namun saat wanita itu membalas senyum Pak Abraham, wanita itu terlihat ramah dan lembut sehingga dia terlihat sangat cantik, mungkin karena itu. Pak Abraham jatuh hati. Sarah tidak mengerti kenapa hatinya tiba-tiba terasa panas melihat Pak Abraham memiliki pacar. Dia menjadi tak suka dengan wanita itu.
“Wajar sih dia punya pacar, dengan wajah tampan seperti itu, semua wanita pasti akan bertekuk lutut di hadapannya, jika belum tahu sifat aslinya,” pikir Sarah geli sendiri dengan pikirannya, lalu kembali hendak memesan taxi onlinenya. Tiba-tiba ada yang mendorong dari belakang, sehingga dia jatuh tersungkur ke depan, dan handphonenya meluncur ke kaki Pak Abraham.
“Aish malunya!” pikir Sarah pertama kali saat dia tiba-tiba tersadar sudah terkapar di lantai. Pria yang dasinya tercelup sop itu tanpa sengaja mendorongnya dengan tebalnya dokumen di depannya. Karena terlalu penuh, dia sampai tak melihat ada Sarah di hadapannya. Walau Sarah hanya memekik pelan, sepertinya suaranya terdengar oleh Pak Abraham karena pria itu langsung menghampiri dan membantunya berdiri.
Abraham menatap kesal pria bagian Legal itu, yang selalu bertindak asalan. Dari baju yang berantakan sampai kini menabrak Sarah karena tidak melihat jalannya dengan benar.
“Maaf, kamu nggak kelihatan tadi.” ujar pria itu dengan tersenyum memperlihatkan giginya yang kuning. “Astaga Dewi, dia nggak salah menjodohkan dirinya dengan pria model begini?” pikir Sarah dalam hati, tapi yang mengejutkan adalah ketika dia menoleh dia melihat wajah Pak Abraham yang marah.
“Kamu nggak bisa begitu Will, perhatikan kalau sedang jalan dong, Sarah ini wanita,” tegur Abraham dengan kalimat yang aneh. Bukan bermaksud seksis, tapi memangnya kenapa kalau dia wanita? memang wanita tidak boleh jatuh? Memangnya menjadi wanita adalah sesuatu yang patut dimaklumi? Sarah adalah wanita yang kuat dan mandiri. Dengan kesal Sarah mencoba berdiri, tapi tiba-tiba ada sakit menyengat di kakinya sehingga dia mau terjatuh.
Dengan sigap Pak Abraham merangkulnya dan memegangnya. Entah kenapa… dan Sarah merasa ini konyol, jantungnya berdebar kencang sekali. Dia dipeluk Abraham dengan erat sehingga Sarah bisa menghirup lagi parfumnya. Tapi anehnya lagi, kemarin, dia membenci parfum itu, kini Sarah menyukainya. Something went wrong, and this is not good.” (sesuatu kesalahan telah terjadi, dan bukan sesuatu yang bagus)
“Maaf ya,” ucap William agak kesal karena ditegur begitu. Namun karena yang menegurnya seorang manajer, dia hanya bisa diam dan menerima teguran itu.
“Nggak apa-apa.” Sarah mencoba berdiri, namun sepertinya dia tadi terjatuh dengan posisi kaki yang salah sehingga kini terasa nyeri saat dia melangkah. “Aish aku kesal sekali, disaat aku bisa pulang cepat malah pakai acara terkilir segala,” gumamnya dalam hati, mengutuk nasib sialnya.
“Ini handphone kamu,” ucap wanita itu sambil memberikan Sarah handphone-nya. Wajahnya terlihat sedih, sehingga Sarah langsung melihat handphonenya, yang ternyata layarnya sudah pecah.
"Yah pecah…" Sarah mengeluh saat menerima handphone-nya. Tanpa sadar dia terus memegang lengan Abraham.
"Aduh… maaf ya," ucap William sambil menggaruk rambutnya yang licin berketombe. "Tapi aku harus mengejar klien, nanti aku bantu service." Lalu pria jangkung itu pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Sangat bertanggung jawab," guman wanita itu menepuk pundak Sarah. Sarah mendengus geli. Walau tadinya Sarah tidak menyukai wanita itu karena dia adalah pacar bosnya, kini Sarah menyukainya. Wanita itu terasa bagaikan sahabat lama yang baru bertemu kembali.
"Oke Bang, jadi bagaimana ini?” Wanita itu menatap Abraham dan melirik ke pegangan tangan Sarah yang erat di lengan Abraham, tiba-tiba Sarah baru tersadar dan segera melepaskan tangannya.
"Oh iya, kenalin dulu, Ev ini anak buahku Sarah.” Wanita itu tersenyum manis dan memberikan tangannya yang lembut.
“Sarah, ini Evelyn.” Sarah menunggu sebagai siapakah Evelyn ini bagi bosnya, tapi pria itu malah diam. Dengan terpaksa Sarah memberikan tangannya dan menyalami Evelyn yang menunggu.
“Hai Sarah, aku Evelyn, adik bosmu yang galak.” Evelyn memperjelas statusnya bagi Sarah sambil tersenyum. “Adik… oh dia adik. Dia hanya adiknya.” Entah mengapa penjelasan itu sangat melegakan di hati Sarah. Dia tertawa kecil mendengar kata galak muncul di permukaan, Pria itu bukan hanya galak, tapi dia mematikan.
“Oke Bang, sepertinya Sarah membutuhkan tumpangan pulang. Jadi makan baksonya next time saja ya.” Wanita itu dengan cepat melambai dan meninggalkan Sarah.
“Eh aku nggak apa-apa, sungguh!” pekiknya segera tapi Evelyn tetap melambai meninggalkan Sarah dan Abraham yang berdiri dengan canggung. Tapi, tiba-tiba ada sesosok yang familiar di pintu lobi. Noah! Pria itu menepati janjinya tadi untuk menjemputnya pulang. Pria itu sedang menaiki tangga sebelum pintu sorong otomatis lobi. Sarah harus segera melarikan diri.
“Mobil bapak dimana?” tanya Sarah tanpa pikir lagi. Abraham menatap Sarah dengan bingung karena perubahan emosinya yang cepat. Tadi dia terlihat enggan kini tiba-tiba seperti segera ingin menyeret Abraham pergi.