“Ah…, mobil saya di basement.” Dia mengikuti arah pandang Sarah dan mengerti mengapa dia tiba-tiba berubah pikiran. Pria tak tahu malu itu datang lagi. Abraham segera meletakkan tangan Sarah di lengannya dan membawanya yang masih tertatih-tatih ke lift menuju lantai bawah tanah.
Setelah berhasil melarikan diri dari Noah, Sarah merasa terperangkap dengan Abraham. “Konyol sekali, mengapa tadi dia bisa berpikiran untuk pulang bersama Abraham?” sesalnya dalam hati. Lydia menatap Abraham yang sedang serius menyetir di sampingnya.
“Maaf pak saya merepotkan, diantar di halte juga tidak apa-apa pak? Nanti saya pakai taxi online,” ucapnya memecahkan kesunyian. Pria itu seperti baru terbangun dari lamunannya dan tersenyum kepadanya. Jantung Sarah seketika berdebar lebih cepat kembali.
“Tidak apa-apa, celaka tidak dapat diprediksi,” balas Abraham dengan suaranya yang berat. Tapi dia tidak mengomentari apa-apa tentang menurunkan Sarah di halte.
“Eh, Pak saya turun disini saja,” ucap Sarah tiba-tiba saat melihat ada halte di sebelah kiri.
“Kenapa? rumahmu memang disini?” tanya Abraham bingung.
“Bukan, saya naik taxi online saja, kaki saya sudah tidak apa-apa.” Sarah berbohong kakinya masih agak ngilu jika digerakkan. Abraham menoleh sambil mengerutkan keningnya.
“Jangan konyol, saya akan mengantar kamu sampai di rumah.” Dia lalu menekan gas lebih kencang sehingga Sarah terdiam.
“Rumahmu dimana?” Sarah memajukan bibirnya sedikit tanpa menyadarinya. Dia agak kesal karena Abraham yang memaksa.
“Di Perumahan Lestari Indah blok PJW no 24 Binturi.” Sarah mengucapkan alamatnya sambil menghela napas. Dalam hati, dia mengutuk pria berdasi sup tadi. Jika pria itu berjalan hati-hati, dia tak akan perlu diantar sampai ke rumah begini, dan handphone-nya yang malang tidak akan pecah.
Jalan ke Perumahan Sarah terkenal akan macetnya, dan hari ini luar biasa macetnya karena ditambah adanya galian telepon di sebelah kiri. Sarah menatap Abraham dengan tidak enak, pria ini jadi terlambat pulang karenanya.
“Maaf Pak, jalan rumah saya selalu macet.” Dia berkata dengan lirih karena malu.
Pria itu diam hanya menatap ke jalan, dia semakin tak enak. Hening seperti ini rasanya menyesakkan. Sarah merasa dia harus mengucapkan sesuatu.
Setelah berhasil menunjukan jalan, Sarah seketika merasa letih. Bukan karena menunjukkan jalannya tapi karena ketegangan memberikan petunjuk jalan. Padahal Abraham sebenarnya santai saja. Saat dia parkir di depan rumah, Sarah segera hendak turun dari mobil tanpa melepasnya sabuk pengaman.
Dia segera tertarik kembali ke kursi. Lalu dengan pelan dan senyum tipis, Abraham mendekatinya dan membukakan sabuk pengaman Sarah.
Canggung… ini canggung sekali, dan dia sangat malu. Dia tidak berani menatap ke arah bosnya dan segera namun tak terburu-buru membuka pintu. Dia menoleh bermaksud untuk permisi, namun Abraham tiba-tiba sudah turun, berlari berputar untuk membantunya berdiri.
"Astaga… aku tidak apa-apa, kenapa gayanya seakan kakiku patah saja?" pikir Sarah malu, namun ternyata kakinya memang masih sakit. Dan dia butuh dipapah untuk berjalan masuk.
Seperti biasa suratnya berantakan di depan pintu masuk rumahnya, dan saat Sarah mencari kunci rumah yang tiba-tiba menghilang, Abraham memungut satu persatu surat itu.
Malu, dia lagi-lagi merasa malu. Akhirnya Sarah mendapat kuncinya dan segera membuka pintu.
"Baik pak,-" Abraham tiba-tiba memegang tangannya lagi dan memapahnya masuk.
Jantungnya kembali berdebar dengan menyebalkannya.
Sarah menyalakan lampu, dan betapa malunya ketika dalam sekejap terlihat rumahnya yang berantakan. Sarah menatap wajah tampan Abraham yang terlihat terkejut. Bagaimana tidak, Abraham adalah seorang yang sangat teratur, rumahnya rapi presisi, sama seperti ruang kantornya.
Melihat banyaknya tisu di lantai, handuk bekas pakai, dan banyak bungkusan bekas makanan di lantai, benar-benar pemandangan baru baginya.
"Tadi... saya terburu-buru pak, saya takut terlambat." Sarah segera melepaskan dirinya dari pegangan Abraham dan mengangkat handuk bekasnya yang kini membuat bekas gelap di atas sofa.
Abraham hanya berdiri terkesima, saat Sarah separuh menyeret dirinya untuk pembersihan tiba-tiba secepat mungkin.
"Umm, Sar?" ucap Abraham memecahkan konsentrasi Sarah untuk membersihkan rumah. Karena Sarah memaksa menggunakan kakinya, seketika kakinya menjadi lebih baik.
"Ya pak?" Dia berhenti menatap Abraham yang berdiri di tengah-tengah sisa bungkus kacang.
"Saya boleh pinjam toiletnya?"
"Oh, boleh pak sebelah sini," dia segera menunjukkan pintu kamar mandinya. Abraham segera masuk. Dalam hati Sarah bersyukur, dia baru membersihkan toiletnya kemarin. Tiba-tiba dia baru teringat, astaga dia mencuci pakaian dalamnya sekalian kemarin. "Aish, kenapa aku menggantungnya di dalam kamar mandi!" pekiknya dalam hati. Saat Abraham keluar dari kamar mandi, wajah Sarah memerah karena malu.
Pria itu berdiri dengan canggung. Lalu tiba-tiba dia menatapnya sambil tersenyum.
"Mau makan?"
Sarah menatapnya dengan bingung, "ini maksudnya dia mengajakku makan? Atau dia memintaku untuk mentraktirnya makan sebagai imbalan telah mengantarkanku pulang?" pikir Sarah bingung.
"Oh…, baik pak saya akan segera memasak." jawab Sarah lalu mengambil celemek dan segera mulai memasak.
Abraham menatap wanita itu dengan bingung. Maksudnya dia mau mengajaknya makan malam, tapi dia malah langsung menuju dapurnya yang kecil dan mulai memasak. Tapi Abraham senang dia mendekatinya dan memperhatikan wanita itu memasak.
"Maaf pak, saya tidak pandai masak, paling bisa tumis dan goreng." Dia mengambil sayuran hijau dan mulai memotongnya.
"Tidak apa-apa." Abraham tiba-tiba senang akan makan masakan rumah.
"Tunggu sebentar ya pak, duduk di sofa dulu," ucapnya pelan sambil menunjuk ke arah sofanya. Abraham tersenyum dan mengangguk setuju.
Setelah pria itu menuju sofa, Sarah baru bisa bernapas dengan benar. Entah kenapa, dia menjadi lebih gugup dari pada biasanya di kantor. Dia melirik Abraham yang duduk kaku di sofanya.
"Aish, apa yang telah lakukan, bisa-bisanya kini dia malah memasak buat pria itu?" pikirnya kesal. Tapi akhirnya Sarah berkonsentrasi untuk memasak dan setelah beberapa lama dia sudah menghidangkan masakannya di meja depan sofanya, karena Sarah tidak memiliki meja makan.
Dengan terpana dia menyadari kalau rumahnya sudah rapi. Pria itu sekarang sedang membersihkan lemari bukunya yang memang sudah mulai berdebu.
"Waduh, Pak nggak usah, jangan repot-repot." Dia mendekati Abraham yang sedang mengusap atas lemari dengan tisu.
"Sebentar lagi selesai," gumamnya sambil mengusapnya dengan semangat. Sarah menatap ke atas ikut melihat dengan malu lemarinya yang penuh debu.
"Akh!" Mata Sarah terkena debu yang dikibaskan Abraham. Dia segera menutup matanya sambil mengusap matanya, sakitnya sampai air matanya mengalir.
Namun yang lebih mengejutkannya adalah, Abraham segera membersihkan tangannya, dan meletakkan tangannya di kedua pipi Sarah begitu cepat sampai Sarah tak sempat berkata apa-apa.
“Kamu tak apa-apa, maafkan aku.” Pria itu memegang wajahnya dengan begitu erat dan mendekatkan wajahnya. Abraham begitu dekat sampai Sarah dapat merasa desah napas pria itu di wajahnya. Matanya yang tadi terasa perih tiba-tiba terlupakan. Sarah malah sibuk memperhatikan bibir tebalnya yang sangat dekat. Jantung Sarah berdebar kencang sekali.
"Aku tak apa-apa," gumam Sarah pelan lebih berupa desahan.
"Oh…, baguslah kalau begitu." Namun Abraham tidak melepaskan cakupan tangannya. Mereka saling pandang mungkin hanya beberapa detik, tapi bagi Sarah terasa satu tahun. Tiba-tiba Abraham mengusap bibir Sarah dengan begitu lembut menggunakan ibu jarinya. Dan Jantung Sarah terasa berhenti.
"Jadi makan apa kita?" Seketika dia melepaskan tangannya dan menuju sofa.