Hamil?

1226 Kata
Pagi-pagi keduanya membuka mata mengumpulkan kesadaran keduanya. Gadis itu yang melihat pakaiannya tidak berada pada tubuhnya langsung mendelik. “Aaaa!!!” teriak gadis itu. Richard terkejut bukan main mendengar teriakan yang nyaris sama kerasnya dengan bel sekolah. “Dasar pria m***m, apa yang kau lakukan, bodoh!” bentak gadis itu. Richard pun akhirnya menyadari yang sudah terjadi. Astaga, dia baru saja melakukan hal terendah yang pernah ia lakukan. Richard tak bisa berkata apa-apa selain minta maaf. Mereka pun segera berbenah merapikan diri masing-masing. “Kau harus membayarku!” kata gadis itu. “Apa?” Richard mendelik. Gadis itu menatap tajam Richard “apa kau akan lari, dasar pria miskin, kau mau enaknya saja dan tidak mau membayarnya!” umpat gadis itu. “Aku bukannya terkejut karena kau meminta bayaran, tapi apa kau benar-benar menjualnya? Tampaknya kau masih sangat muda, apa kau tidak akan menyesalinya?” Gadis itu berdecak “bayar saja, tidak perlu banyak bicara!” Richard lalu mengeluarkan isi dompetnya dan mengeluarkan lembaran-lembaran uangnya. Gadis itu melirik dan sempat melihat kartu nama Richard yang menunjukkan bahwa dia seorang CEO sebuah perusahaan. Ia tersenyum melihat jumlah yang dikeluarkan Richard. “Apa ini cukup?” tanya Richard. Dengan rakus gadis itu merebut uang di tangan Richard “cukup,” jawabnya. Tiba-tiba ponsel Richard berdering. “Halo, meeting? Astaga! Baiklah, saya akan segera datang.” Richard lupa bahwa ada meeting hari ini. Ia pun segera menyalakan mobil dan menoleh ke samping. Gadis itu masih di sana. “Kenapa kau belum pergi?” Gadis itu merajuk manja “antarkan aku pulang.” Richard mendengus “kau tidak dengar tadi? Aku sedang buru-buru, cepat keluar,” suruh Richard. Dengan kesal gadis itu keluar dari mobil lalu membanting pintu. Richard lalu membuka kaca mobilnya “oh, ya, aku ingatkan padamu, kau masih sangat muda jadi jangan lakukan hal yang akan merugikan masa depanmu, paham?” “Pergilah!” bentak gadis itu kemudian pergi meninggalkan mobil Richard. *** Gadis itu berlari ke toilet dan memuntahkan sesuatu yang begumul di dalam perutnya tetapi taka da satu benda pun yang keluar dari dalam perutnya. Berusaha mengumpulkan keberanian ia kemudian membuka bungkus benda kecil yang baru saja ia beli. Beberapa menit kemudian matanya mendelik melihat hasil yang ditunjukkan benda kecil tadi. Hampir saja ia menjerit tak percaya dengan penglihatannya sendiri. “Astaga, aku hamil?” gumamnya. Tidak, tidak mungkin, alat itu pasti salah. Bagaimana dia bisa hamil, dan yang terpenting dia hamil anak siapa? “Sierra!” panggil Amerta yang tiba-tiba masuk ke toilet dan melihat Sierra sedang memegang sebuah tespack dengan mimik muka yang sepertinya tidak menginginkan hal tersebut. Amerta mendelik begitu melihat putrinya sedang memegangi tespack. Cepat-cepat ia merebut alat itu dan melihat hasilnya. “Mama, maafkan aku,” Sierra langsung memeluk kaki Amerta. “Aku sangat kecewa padamu, Sierra,” desis Amerta penuh kemarahan “siapa ayahnya?” tanyanya. Sierra menggeleng lalu meneteskan air mata “aku tidak tahu,” isaknya penuh sesal. “Bagaimana kau bisa tidak tahu?” bentak Amerta. Sierra menangis “aku tidak ingat, maafkan aku, mama.” Tak berapa lama mereka kemudian duduk dengan tegang di ruang tamu. Sierra hanya bisa menundukkan kepala sementara Amerta menatapinya dengan tajam di sofa seberang. Mereka sedang menunggu putusan dari Markus, ayahnya. Sementara Markus sedari tadi berdiri di tepi jendela sembari menggenggam tespack tadi. Ia menatap ke luar jendela mencoba mencerna kembali api yang akan ia keluarkan melalui lidahnya. “Ceritakan padaku hal yang kau ingat,” kata Markus. Sierra menggigit bibirnya mencoba mengingat-ingat dengan siapa ia melakukan hal itu. Ia memejamkan mata berusaha keras mengingat sesuatu, dan itu dia! Malam itu ia sedang merayakan kelulusannya di sebuah bar bersama teman-temannya. Ia bertemu seorang pria yang lebih dewasa darinya dan hal itu terjadi. Sierra mengingat-ingat lagi barang kali ia mengenal pria itu. Otaknya bekerja keras membongkar memori di malam itu. Tampaknya ia melihat sebuah identitas. Ya, itu dia, Sierra mengingatnya. “Namanya Richard, dia CEO di sebuah perusahaan,” jawab Sierra. Mata Marcus tampak berkaca-kaca “apakah kami tidak baik kepadamu, nak?” tanya Markus “kami memberikan segalanya untukmu dan inikah balasan yang kau beri?” tambahnya. Sierra menangis lagi “maafkan aku, papa.” “Kau lulus dengan nilai terendah saja itu sudah membuatku malu, sekarang kau bahkan mencabik-cabik mukaku, sudah kau menampar kami dengan bara sekarang kau siramkan minyak panas di wajah kami,” ratap Markus. Sierra berlari memeluk kaki Markus “ampun, papa, aku sungguh menyesal. “Aku sudah jatuh, tertimpa tangga pula,” kata Markus. “Apa maksudmu?” tanya Amerta. “Sebenarnya aku akan memberitahu bahwa kita sudah bangkrut dan dalam 7 hari kita harus mengosongkan rumah ini,” jawab Markus. “Apa!” seru Amerta dan Sierra bersamaan. “Ya, kita miskin sekarang,” ratap Markus. Amerta menelan pil pahit yang diberikan suaminya dengan d**a yang sesak. Nyaris saja ia pingsan. Benar kata Markus. Sudah jatuh ditimpa tangga pula. “Kalau begitu sekarang juga kita temui pria bernama Richard itu,” putus Amerta. “Untuk apa?” tanya Sierra. “Tentu saja supaya kau dinikahi!” jawab Amerta dengan nada tinggi. Sierra mendelik “tidak, aku tidak mau menikah, bagaimana dengan kuliah, bagaimana dengan sekolah modeling, aku bahkan sudah memilih sekolah mana yang kuinginkan,” sanggahnya. “Sudah seperti ini kau masih berani mengungkapkan keinginanmu?”Amerta berdiri menatap tajam putri satu-satunya itu. “Mamamu benar, nak,” timpal Markus “kita sudah tidak punya apa-apa, dengan keadaanmu yang seperti itu harus ada yang bisa menjamin kehidupanmu di masa depan,” lanjutnya dengan tatapan penuh arti. “Tapi kita bisa membuang janin ini,” bantah Sierra. “Kau pikir kau sedang bermain?” sergah Markus yang langsung membuat Sierra menundukkan kepala “ada manusia yang tumbuh di dalam dirimu dan kau berniat melenyapkannya, ternyata selain tidak berbakti pada orang tua kau juga tidak punya hati, terus terang saja aku sangat kecewa padamu, nak.” “Kau mau atau tidak, kita akan tetap menemui pria itu dan kalian harus menikah atau keluarga kita bukan hanya bangkrut tapi juga hancur karena hal ini dengan cepat pasti akan tercium oleh media,” sambung Amerta. *** Mereka akhirnya sampai disebuah perusahaan. Karena pengaruh Markus yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di negeri ini mereka bisa dengan mudah menemui CEO perusahaan itu yang tidak lain adalah Richard. Beruntung Richard sedang berada di kantornya. Mereka pun kini duduk berhadap-hadapan di ruangan Richard. “Bukankah Anda Tuan Markus yang terkenal itu? Ada kepentingan apa sampai membawa anak dan istri?” tanya Richard dengan sopan. “Aku ingin meminta pertanggung jawabanmu, Richard,” jawab Markus penuh penekanan. Richard mengerutkan dahi “maksud Anda?” “Putriku hamil, dan kau adalah ayah dari janin yang dikandungnya,” jawab Amerta. Richard terperangah kemudian menatap ke arah Sierra. Ia ingat gadis muda itu memang pernah tanpa sengaja berhubungan badan dengannya tetapi ia tak menyangka benihnya akan tumbuh dalam gadis itu. Tetapi Richard tak langsung percaya mengingat perangai anak gadis Markus yang lebih mirip seorang preman itu bahkan ia meminta bayaran padanya. Di tambah lagi ada desas-desus tentang kebangkrutan yang dialami Markus. Bisa saja mereka memanfaatkan keadaan untuk memeras Richard. “Maaf, Tuan Markus, bisa saja janin itu milik orang lain,” kata Richard. Sierra langsung berdiri “dasar orang tua tak tahu malu, kau sudah memanfaatkanku dan sekarang kau mau lari?” Richard menaikkan sebelah alisnya “memanfaatkanmu? Bukankah kau meminta bayaran padaku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN