Markus dan Amerta terperangah mendengar hal itu kemudian kedunya melirik Sierra penuh kemarahan sementara Sierra tampak tak menyangka Richard akan mengatakan hal tersebut.
“Tapi ini memang anakmu, biarpun aku meminta bayaran padamu tapi kau satu-satunya pria yang menanamkan benih ditubuhku, kau pikir aku asal saja datang pada orang tua sepertimu, kau pikir aku buta dan tidak bisa memilih,” cibir Sierra.
“Begini saja, jika kau memang meragukan anak ini kau bisa tinggalkan anakku, tapi aku sangat berharap kau akan menikahi anakku sekarang,” tawar Markus dengan nade memohon “kau bisa buktikan setelah anak ini lahir, bukan,” tambahnya.
Richard diam sejenak sembari sesekali memandangi mimik muka ketiganya yang tampak serius. Ia memang senang mendengar ia akan memiliki anak tetapi tetap saja ia tidak bisa langsung percaya begitu saja.
“Baiklah, aku akan menikahi putrimu, tetapi untuk sementara aku tidak akan mendaftarkan pernikahan ini secara hukum, setelah bisa dibuktikan kalau janin itu memang milikku baru aku akan mendaftarkan pernikahan ini secara hukum, bagaimana?” putus Richard.
Amerta dan Markus langsung mengembangkan senyum lega “syukurlah,” ucap keduanya
Tetapi lain dengan Sierra yang malah menunjukkan wajah tidak senang “aku akan menikah hanya bila aku bisa mendaftarkan diri di sekolah modeling,” ujarnya.
Markus mendelik mendengar hal itu “apa kau sudah gila, Sierra, sudah beruntung Richard mau menikahimu kau dengan entengnya mengatakan hal yang bukan-bukan.”
“Ya, sudah kalau begitu akan gugurkan janin ini tidak peduli jika risikonya aku harus mati,” celetuk Sierra.
“Apa kau serius, kau berani mengambil risiko seperti itu?” tanya Richard.
“Asal kalian tahu saja, aku bahkan tidak menginginkan anak ini,” ungkap Sierra dengan nada kejam.
“Bagaimana jika aku yang menginginkannya?”
“Terserah saja,” ketus Sierra.
“Baiklah, kau akan dapatkan sekolah modelingmu tapi setelah anak itu lahir,” putus Richard.
Sierra menatap Richard dalam-dalam “kau serius?”
“Janin itu bahkan belum terbukti milikku.”
***
Akhirnya pernikahan berlangsung dengan persiapan yang serba mendadak. Meski begitu semuanya dipersiapkan dengan baik oleh Richard.
Mereka menikah di gereja kecil tak jauh dari batas kota. Mereka sengaja memilih gereja kecil itu untuk menghindari endusan media yang mulai curiga dengan gerak-gerik keluarga Markus.
Pernikahan itu tak berlangsung lama dan hanya dihadiri anggota keluarga inti saja. Teman-teman Sierra bahkan hanya beberapa orang saja yang tahu ia akan menikah. Mereka juga yang pergi ke bar bersamanya malam itu.
Cincin sudah melingkar di jari Sierra dan ia sudah resmi menjadi istri Richard. Ia tidak tahu apakah ia harus mensyukuri hal itu atau menyesalinya tetapi ia merasa hidupnya akan tidak mudah mulai saat itu.
Sierra lalu di bawa ke rumah Richard-rumah yang dulu ia tinggali bersama Caren. Ia membawakan koper besar Sierra dan menunjukkan kamar yang akan mereka tempati. Tentu saja kamar itu bukan kamar yang sama yang dulu di tempati Caren.
Setelah berpisah rumah itu sudah mengalami banyak renovasi. Tentunya bangunan rumah itu menjadi lebih besar dan mewah menyesuaikan citra Richard yang kini makin bersinar di dunia bisnis.
Kamar yang akan mereka tempati berada di lantai satu dan menghadap langsung ke kolam renang cukup luas di sampan rumah.
“Jadi, di sini aku akan tidur?” tanya Sierra.
“Ya,” jawab Richard.
“Lalu kau di mana?” tanya Sierra lagi.
“Di sini.”
“Apa, kita akan tidur sekamar?” Sierra terkejut.
“Seranjang,” ralat Richard “memangnya kenapa, kau tidak suka, mau menolaknya?”
Sierra tersenyum canggung “ti-tidak, aku hanya terkejut soalnya aku tidak pernah seranjang dengan seorang pria,” jawabnya sambil garuk-garuk kepala.
Richard terkekeh “kau sudah hamil begini dan masih bilang tak pernah tidur dengan seorang pria? Memangnya apa yang kita lakukan malam itu?”
“Aku bilang seranjang sedangkan kita melakukannya di dalam mobil, jelas saja itu berbeda,” bantah Sierra.
“Besok aku sudah harus pergi ke kantor, kalau kau butuh apa-apa bilang saja pada para pelayan di sini,” kata Richard.
Sierra mendelik “kita tidak pergi bulan madu?” tanyanya dengan wajah lugu.
Richard tersenyum sinis “buktikan dulu kalau janin itu memang milikku,” ketusnya kemudian melenggang meninggalkan Sierra di dalam kamar.
“Ini memang anakmu!” seru Sierra tetapi Richard tetap melenggang pergi meninggalkannya seolah bersikap tak peduli.
Ia kemudian mendekat ke pintu geser yang menjadi pembatas antara kamar dan kolam itu. Sierra membuka pintu yang lebih tinggi darinya dengan susah payah. Tetapi belum sempat pintu itu Richard kembali ke kamar. Ia lalu mengambil remot di nakas dan menekan tombol untuk membuka pintu itu. “Pakai remot ini kalau kau ingin membuka pintu itu,” kata Richard sambil melemparkan remot itu kepada Sierra.
Sierra menangkap remot itu “bagus juga rumahmu,” gumamnya.
Richard terkekeh “ini kamar tuan rumah tentu keamanannya harus ketat,” katanya kemudian kembali pergi.
***
Sierra membuka matanya dan menggeliat dibalik selimut tebalnya. Kamar itu sangat nyaman hingga membuatnya tidur sangat nyenyak. ia menoleh ke samping dan Richard sudah tidak ada di sana. Ia kemudian melirik jam di nakas yang menunjukkan pukul 10 pagi.
Sierra mengingat-ingat lagi semalam tak terjadi apa-apa yang artinya tak ada malam pertama dalam pernikahannya. Ya, sudahlah, ia tak perlu repot-repot melayani pak tua itu.
Sierra pun keluar dari kamar dan melihat dua orang pelayang yang sedang membersihkan rumah. “Richard di mana?” tanya Sierra.
“Tuan sudah pergi ke kantor sejak jam 7 pagi tadi, nyonya,” jawab salah seorang dari mereka.
Sierra mengedikkan bahu kemudian melenggang ke meja makan. Seorang pelayan yang melihat Sierra berada di meja makan segera menyiapkan sarapan untuk Sierra.
“Siapkan air mandi untukku,” suruh Sierra pada pelayan yang sedang menuangkan minuman di depannya.
Pelayan itu melirik Sierra lalu menundukkan kepala “baik, nyonya.”
“Taburkan mawar ke dalam bak mandinya dan sesuaikan suhu airnya, aku tidak mau airnya terlalu panas atau terlalu dingin,” tambah Sierra.
“Baik,” jawab pelayan itu kemudian bergegas melaksanakan perintah Sierra.
Sierra mengambil garpu dan menusuk pasta di piring. Tetapi belum sempat ia melahap pasta itu hidungnya yang mencium aroma keju malah membawa rasa mual yang tak tertahankan. Cepat-cepat ia berlari ke wastafel di dapur dan memuntahkan euforia di dalam perutnya.
Saat sudah selesai seorang pelayan paruh baya menghampiri Sierra dengan wajah cemas “nyonya baik-baik saja?” tanyanya.
Sierra melirik tajam ke wajah pelayan itu “apa kau yang memasak sarapanku?”
Pelayan itu mengangguk “ya, nyonya,” jawabnya.
“Apa kau sedang berusaha meracuniku?” bentak Sierra hingga membuat para pelayan di ruangan lain menoleh kea rah dapur.
“Ti-tidak, nyonya,” jawab pelayan itu dengan muka menyesal.
“Kau tidak lihat aku bahkan ingin muntah saat memakan makananmu!” seru Sierra.
“Maafkan saya, nyonya, kalau makanannya tidak enak, tapi rasa mual itu memang wajar terjadi saat masih hamil muda,” kata pelayan itu.
“Kau berani membantah, kau pikir kau siapa, dasar pelayan tidak tahu malu!” bentak Sierra lagi kemudian berlalu dengan menghentak-hentakkan kaki.
Sierra lalu bergegas mandi dengan air bertabur mawar yang sudah disiapkan pelayan lain. Ia menenangkan diri dalam bak mandi. Jika tidak menikah seharusnya hari ini ia sedang bersenang-senang dengan teman-temannya. Sebelumnya mereka sudah mengatur jadwal untuk pergi berlibur ke Pulau Bali. Dasar, nasibnya memang tidak beruntung!
***
Jam 5 sore Richard sampai di rumah. Ia baru akan memarkirkan mobilnya tetapi matanya menemukan seorang pria seumuran Sierra di teras tampak sedang berbicara dengan Sierra.