Sierra sedang menikmati waktu sorenya di tepi kolam sambil mendengarkan music-musik kesukaannya dan beberapa buah-buahan yang disajikan. Rasanya ia akan jadi ratu di rumah itu.
Tetapi waktu sorenya yang tak lama itu tiba-tiba saja terganggu oleh seseorang yang datang tanpa diundang. Tak berapa lama seorang pelayan datang menghampiri Sierra.
“Nyonya, ada tamu mencari nyonya,” kata pelayan itu.
“Siapa?” tanya Sierra.
“Namanya David, nyonya.”
Sierra yang sedang menikmati jusnya tiba-tiba tersedak “dasar pria bodoh, mau apa dia jauh-jauh datang ke sini?” gerutunya.
Sierra berdiri dan cepat-cepat menemui David yang masih di teras. Begitu melihat wujud si David mulutnya langsung menyembur “dasar pria bodoh, ada apa kau datang ke sini?”
David tiba-tiba meraih jemari Sierra dan menggenggamnya “itu anakku kan, Sierra?”
Sierra tak habis pikir, ia terkekeh geli “apa kau bermimpi, memangnya aku pernah tidur denganmu? Berhentilah berhalusinasi!” omelnya.
David tampak kalah “baiklah, tapi kenapa kau harus menikah dengan pria itu, dia bahkan lebih cocok jadi kakak atau bahkan pamanmu, Sierra.”
“Karena memang janin ini miliknya,” jelas Sierra “sudahlah, kau pulang saja, untuk apa kau jauh-jauh ke sini, mengganggu saja!” omelnya lagi.
“Sierra, kenapa kau tidak menikah denganku saja, aku cinta padamu,” sanggah David.
Sierra terkekeh lagi “kau bercanda? Membeli bunga untukku saja kau masih minta uang pada ayahmu, sekarang kau ingin aku menikah denganmu?”
David kalah lagi, tak tahu harus berkata apa lagi untuk membujuk Sierra.
“Kumohon, Sierra, di sekolah aku selalu membuntutimu, hanya kau yang paling aku suka, kenapa sekarang kau malah menikah dengan orang tua itu,” David sedikit merengek.
Tiba-tiba Richard datang dengan tatapan tajamnya ke arah David “apa kau tuli? Dia sudah mengusirmu, kenapa masih di sini?”
David merasa ciut, terlebih ukuran tubuh Richard lebih besar darinya tetapi ia mencoba berani “hei, paman, kau ada kelainan, ya? Kau tidak lihat jarak usiamu dengan Sierra, lagi pula memangnya kau yakin janin itu milikmu?”
Richard memicingkan matanya “janin itu milikku dan wanita ini adalah istriku, kau hanya daun yang seharusnya tidak jatuh di sini karena aku akan membakarmu di halaman belakang rumahku,” tandasnya.
Mendengar ancaman penuh penekanan seperti itu David semakin ciut dan hanya bisa menelan ludahnya. Dia sudah kalah telak.
“Ya, sudah, Sierra, selamat atas pernikahanmu, maaf kalau aku mengganggu,” ucap David lirih kemudian angkat kaki dari rumah itu.
Sementara Sierra hanya melipat kedua tangannya memandangi langkah lemah David “cih, dasar bodoh!” gumamnya kemudian tanpa rasa peduli masuk ke dalam rumah disusul oleh Richard.
“Jadi janin itu benar-benar milikku?” tanya Richard.
Sierra membalikkan badan “apa aku harus mengatakannya 100 kali supaya kau percaya?” bentaknya “kalau orangtuaku tidak buru-buru menemuimu atau janin ini bukan milikmu aku juga tidak akan mau menikahi pria tua sepertimu,” tambahnya dengan nada kasar kemudian meninggalkan Richard begitu saja.
***
Pagi-pagi Sierra bangun dari tidurnya. Matanya melirik jam di dinding yang masih menunjuk ke angka 6. Ia merasa heran karena sebelumnya ia tak pernah bangun sepagi ini.
Tiba-tiba perutnya terasa mual. Cepat-cepat ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Richard yang mendengar Sierra pun menggeliat dan terbangun.
Tak berapa lama sierra keluar dari kamar mandi, melangkah lemas kembali ke ranjang hendak tidur lagi tapi ia sudah terlanjur terjaga. Rasa mual itu datng lagi dan mau tidak mau Sierra harus kembali ke kamar mandi.
Richard yang melihat kejadian itu membuka ponselnya dan menghubungi seseorang. Tak berapa lama Sierra kembali lagi. Lebih lemas dari mual yang pertama.
“Apa semual itu?” tanya Richard.
Sierra memegangi perutnya “rasanya ususku sudah mau ikut keluar,” keluhnya.
“Bersiaplah, kita akan ke dokter kandungan,” kata Richard.
“Untuk apa?” tanya Sierra dengan bodohnya.
“Tentu saja memeriksakan kandunganmu,” jawab Richard.
Sierra dengan wajah dungunya tertegun dan baru ingat bahwa ia sedang hamil dan sudah seharusnya orang hamil pergi ke dokter kandungan.
Richard sudah mengatur janji dengan dokter kandungannya. Dokter itu adalah dokter yang sama saat dulu ia berkonsultasi masalah kehamilan dengan Caren. Jam 08.30 mereka bertemu dokter Moza tanpa harus mengantri seperti orang lain karena Richard sudah cukup akrab dengan dokter Moza.
Mereka duduk berdampingan dan dokter Moza menyambuut mereka dengan senyumnya yang ramah. Dalam senyuman itu terselip ekspresi terkejut yang kemudian dengan cepat ia sembunyikan.
“Halo, dokter Moza, bagaimana kabarmu?” sapa Richard.
“Sangat baik, lama tidak bertemu, tuan Richard,” jawab dokter Moza “jadi, ini istri barumu, wah , rupanya kau tidak pandang bulu juga?” lanjutnya dengan nada menggoda.
Richard tersenyum sipu sementara Sierra tampak terkejut tetapi ia memendamnya karena ia akan menanyakan maksud dokter Moza nanti setelah sampai di rumah.
Dokter Moza pun menyuruh Sierra berbaring di ranjang dan memeriksa kandungan Sierra. Tak berapa lama mereka kembali duduk.
“Usia kandungannya sudah enam minggu dan janinnya sehat, jika merasa mual dan muntah di pagi hari itu wajar terjadi pada usia kehamilan trimester pertama bahkan ada yang merasakan mual hingga trimester ke-tiga, selama hal itu tidak terjadi secara ekstrem itu masih normal, aku akan berikan obat untuk mengurangi rasa mual itu dan menambahkan vitamin untuk menjaga kondisi janinnya,” papar dokter Moza yang akhirnya menghadirkan perasaan lega bagi Richard.
Selepas dari klinik dokter Moza Richard sengaja mampir ke sebuah supermarket kecil tak jauh dari klinik dokter Moza. Sierra dengan rasa penasaran mengekor di belakang Richard, ingin tahu apa yang ingin dibeli pria itu.
Richard mengambil keranjang kemudian berjalan terus. Walau baru berjalan beberapa langkah yang dirasakan Sierra sangatlah lama saking penasarannya dia. Tetapi kemudian matanya mendelik begitu melihat Richard mengambil dua dus s**u untuk ibu hamil.
“Untuk apa itu?” tanya Sierra.
“Ini untukmu,” jawab Richard.
“Aku tidak suka s**u, aku lebih suka wine,” seloroh Sierra.
“Mulai hari ini kau minum s**u dan tidak minum wine,” putus Richard.
“Apa?” Sierra terperangah.
“Apa kau ingin meracuni anakku dengan memberinya wine?”
Sierra merengut merasa kesal dengan keputusan Richard.
“Kalau begitu apa aku boleh minta sesuatu?” tanya Sierra sambil memainkan jarinya.
“Karena sekarang kau istriku tentu saja boleh, memangnya kau ingin apa, ambil saja,”
Dalam sekejap keranjang yang dibawa Richard penuh dengan produk kosmetik. Mulutnya sampai menganga melihat banyaknya barang yang ingin dibeli Sierra. Dari bedak, lipstick, serum, masker dan masih banyak lagi semuanya komplit.
“Untuk apa membeli semua ini?” tanya Richard heran.
“Tentu saja supaya aku cantik,” jawab Sierra santai.
“Kau masih 18 tahun, tidak perlu membeli barang sebanyak ini, terlalu berlebihan, lagi pula memangnya produk ini aman untuk kandunganmu?” tegur Richard.
Sierra menoleh “apa kau sedang bersikap pelit padaku, tadi kau bilang aku ambil saja apa yang kuinginkan?” omelnya.
“Ya, kau boleh ambil apa yang kau inginkan tapi tidak dengan barang tidak terlalu penting seperti ini,” sanggah Richard.
“Itu tidak penting bagimu tapi penting bagiku!” tegas Sierra kemudian bernagsur ke kasir “sudah, kurasa tidak ada lagi yang ingin kubeli,” pungkasnya dengan dagu yang terangkat.
Richard menghela napas berusaha melapangkan dadanya menghadapi istrinya yang masih kekanak-kanakan. Ia lalu mengikuti Sierra yang sudah menunggu di depan kasir dan membayar semua barang belanjaan yang tidak ia tahu apa gunanya itu.
Setelah itu mereka pun pulang. Begitu sampai di rumah Sierra langsung duduk di sofa dengan angkuh “Aku ingin bertanya padamu.”