“Sudah, dia laki-laki,” jawab Richard. Caren mendelik “benarkah, selamat, ya, kenapa tidak menghubungiku?” “Maafkan aku, aku tidak sengaja menghilangkan kartu nama yang kau berikan, jadi…” Richard melanjutkan kata-katanya dengan mengedikkan bahu. Caren mengangguk-angguk pelan tampak bersikap maklum “tak masalah, kalau begitu bagaimana jika sore ini aku jenguk anakmu?” tanyanya. “Boleh juga,” jawab Richard. “Oh, ya, omong-omong bagaimana bisa kau meninggalkan pekerjaanmu, bukankah kau sangat mencintainya?” tanya Caren. Richard melirik Caren merasa perempuan itu masih perhatian padanya. Ia pun terkekeh, “ternyata kau masih mengingat hal itu,” katanya. Caren tertawa. Namun dibalik tawanya ia juga menyadari kenapa ia masih saja perhatian pada pria yang adalah mantan suaminya itu. Ah, m

