"Aku benci Abang." Jesica memalingkan wajahnya. Sungguh hancur hati Biyan mendengar kata-kata benci bukan kata-kata cinta yang keluar dari mulut istrinya. Entah ada angin apa Jesica membencinya saat ini. Biyan terus berpikir positif bahwa ini adalah ngidamnya orang hamil. "Apa salah Abang?" Biyan sendiri tidak tahu letak kesalahannya dimana. Hanya tiba-tiba tidak ada kabar seharian dari Jesica. Dia bertanya agar tahu letak kesalahannya dimana. "Pergi … kalo gak pergi aku lepas paksa infusannya." Jesica malah mengusir suaminya begitu saja dengan sebuah ancaman. Biyan dari tadi khawatir, belum makan, belum minum dan terus saja berkeringat dingin. Dari tadi mondar-mandir kesana kemari mengurus pendaftaran, administrasi, obat dan lain-lain. Sekarang malah di usir. Menghadapi istri yang ham

