Jesica menatap Rahma nanar. Dia membuka mulutnya lebar-lebar demi memasukkan makanan yang Rahma suapkan ke mulutnya. Jika tidak mau makan, Rahma mengancam untuk tidak mau menjadi sahabatnya lagi. Jesica juga ingat ada baby di dalam perutnya. Otomatis di dalam tubuh ini ada dua jiwa dan dua raga yang harus ia jaga, dirinya dan anaknya. Jesica tak mau dia kekurangan gizi atau tumbuh tidak sempurna karena keegoisannya. Bulir-bulir air mata menggenang di kelopak matanya, siap jatuh dan mengaliri pipi mulus tersebut. “Tuhan …. Aku tak punya siapa-siapa di dunia ini.” gumamnya dalam hati, merasa dia tidak beruntung dibandingkan orang lain dan tidak memiliki siapapun. Ada adiknya Diki memang, tapi belum mengerti apa-apa, belum bisa ia ajak bicara dan belum bisa melindunginya. Ada Rahma memang

