"Jadi, rencananya kapan Anda akan kembali ke Spanyol, Mr. Lorenzo?" tanya James sembari berjalan di lobi hotel.
Zeyan tersenyum sambil terus membersamai langkah ayah mertua Fiora tersebut. "Mungkin tiga bulan lagi. Menyesuaikan masa berlaku visa yang saya gunakan, Mr. James. Rasanya masih belum puas dalam mengeksplor keadaan kota ini dan mencari sumber materinya. Lagi lupa Nyonya Fiora sudah menjanjikan keuntungan besar untuk kita semua. Haha."
James turut tertawa. "Yang namanya pengusaha memang tidak jauh dari kata mencari keuntungan ya. Semoga kerja sama kita nanti bisa terlaksana dengan baik."
Dari cara Zeyan berbicara, dan begitu fasih berbahasa negara ini, James mulai membuat kesimpulan. Pria muda itu semakin ia yakini 'Zeyan Lorenzo murni sedang mencari keuntungan ke negeri dengan triliyun penduduk ini'. Indonesia memang sering menjadi target pasar para pengusaha dunia. Pasar Indonesia akan memberikan keuntungan besar jika branding dilakukan dengan benar.
Jadi, apa pun yang Fiora tawarkan pada Zeyan, tampaknya James bisa lebih mengungguli tawaran menantunya tersebut. Mudah saja untuk melobi manusia yang tahunya hanya duit dan keuntungan.
Lalu di belakang Zeyan dan James, Fiora tampak berjalan sembari menggendong Skyla yang tertidur di pelukannya. Ada Ratna di sisinya, membersamai langkahnya. Mereka bertiga turut disertai beberapa staff pengaman Fiora yang sejak tadi ikut hadir. Kendati begitu, para staff tetap menjaga jarak mereka demi melindungi privasi para atasannya.
"Biar Ibu yang membawa Skyla, Sayang. Nanti Ibu menginap di rumah kamu saja. Sepertinya urusan pekerjaanmu belum selesai, 'kan?" ucap Ratna berinisiatif.
Fiora tidak menjawab. Sebab membenarkan ucapan ibu mertuanya. Masih ada beberapa pekerjaan terbengkalai karena agenda dadakan hari ini. Dan apa boleh buat, Skyla juga tengah tertidur lelap. Anak itu pasti lelah sekali karena harus menjadi bahan rebutan.
Dengan terpaksa, Fiora menyerahkan tubuh Skyla pada Ratna. Membiarkan ibu mertuanya memasuki mobil bersama putrinya, sekaligus James. Yah, mereka tidak akan tega memperalat Skyla layaknya Eryon. Fiora tahu betul, seberapa besar kasih sayang kedua mertuanya pada putrinya, kendati James sendiri menyimpan segudang kepicikan terhadap dirinya.
Lagi pula jika Fiora menolak tawaran Ratna, hal itu justru akan menimbulkan spekulasi di hati kedua mertuanya. Ia tidak boleh terlalu kelihatan sedang berusaha bertarung melawan pihak mereka, meski secara diam-diam.
Untuk James sendiri, sesungguhnya ia ragu membiarkan Fiora bersama Zeyan lebih lama. Khawatir rencananya untuk melobi Zeyan menjadi gagal. Namun apa boleh buat. Sama seperti Fiora, ia tidak ingin menunjukkan keraguan dan serangan gerilyanya demi menahan Fiora agar tetap berada di bawah kendalinya.
Kedua mertua Fiora akhirnya bergegas pergi. Hanya ada Zeyan dan Fiora, termasuk para staff yang menjaga mereka.
Zeyan menoleh, menatap Fiora. Ada senyuman yang ia berikan pada wanita itu. Namun Fiora tidak memberikan balasan serupa. Hawa dingin kembali menyelimuti diri wanita itu. Wanita yang yang hari ini sukses membuatnya begitu terpukau.
"Nyonya, Anda hebat sekali," ucap Zeyan usai berada di hadapan Fiora dengan jarak yang begitu dekat.
Fiora menghela napas. "Terima kasih atas bantuannya hari ini. Setelah ini kita hanya perlu bertemu demi urusan pekerjaan," sahutnya datar.
"Kenapa harus begitu?" Zeyan merasa tidak terima. "Kita masih punya urusan pribadi yang belum selesai."
"Soal apa lagi? Skyla? Bukankah Anda melihat sendiri kemiripannya dengan Eryon? Meski Eryon begitu b4jngan, pada kenyataannya Skyla tetaplah anak Eryon. Dan mereka saling menyayangi!"
"Hanya tes DNA yang bisa membuktikan ucapan Anda."
Fiora kembali dibuat kesal. Sayangnya ia tetap harus tenang dan terus menahan diri seperti biasanya. "Dia bukan putri Anda, Mr. Lorenzo. Saya jamin soal itu. Saya yang mengandung Skyla, dan saya sudah memperhitungkan semuanya. Baik masa subur saya di empat tahun lalu, perhitungan masa hamil saya, dan kelahirannya."
"Anda bisa memanipulasi semua itu dari saya, Nyonya." Zeyan menatap tajam.
Fiora menghela napas lagi. "Terserah! Tapi, saya tetap menolak tes apa pun itu. Dan Anda harus ingat, Anda tidak boleh menyentuh putri saya!"
"Anda lebih ingin Skyla diasuh oleh istri kedua suami Anda? Dan membiarkan Skyla diperalat mereka agar mereka bisa mengendalikan Anda terus?"
"Mr. Lorenzo." Fiora maju selangkah. "Tolong jangan melewati batas. Anda pun bisa melakukan hal itu, maksud saya soal memperalat Skyka. Tidak ada satu pun dari kalian yang bisa saya percaya. Jadi jangan bersikap seolah-olah Anda berbeda dengan mereka. Saat ini pun Anda terus berusaha menekan saya menggunakan Skyla!"
Zeyan terdiam. Sibuk menatap manik mata cokelat milik Fiora. Netra yang jernih dan cantik itu terbingkai bulu mata lentik, meskipun sang pemilik sedang menatap nanar dan penuh intimidasi.
Bagaimana bisa wanita Asia ini begitu memesona? Pikir Zeyan. Padahal di Eropa banyak sekali wanita bak boneka Barbie. Namun mengapa harus Fiora yang membuatnya terobsesi selama empat tahun ini? Benarkah karena Skyla yang ia pikir adalah anaknya? Atau karena wanita itu adalah Fiora yang memang sejak awal membuatnya sangat penasaran?
"Fiora!"
Di tengah ketegangan tatapan mata Fiora dan Zeyan, mendadak terdengar suara seseorang hingga membuyarkan keheningan mereka berdua. Tampak dari arah elevator hotel, Eryon muncul dengan napas tersengal-sengal. Pria itu kembali berlari menuju Fiora dan Zeyan.
"Ikut aku! Kita perlu bicara!" ucap Eryon sambil menarik tangan Fiora.
Zeyan menahan lengan Eryon, agar Eryon tidak berhasil membawa Fiora. "Tuan, apa yang akan Anda lakukan pada wanita secantik ini dalam keadaan yang tampak marah begitu?"
"Kau tidak ada urusan dengan kami, jadi jangan mencoba menghalangi!" Eryon menyahut ketus dan menyingkirkan tangan Zeyan. "Lepaskan atau Kuhajar kau sampai mampus! Dasarnya g1g0lo!"
Fiora tahu apa yang akan Eryon lakukan. Tentu suaminya itu hendak membuat perhitungan dengannya. Namun cukup mengejutkan ketika Eryon sampai rela meninggalkan sang istri kedua di pesta yang belum berakhir, hanya demi mengejar Fiora.
"Mr. Lorenzo, tidak apa-apa," ucap Fiora sesaat setelah memutuskan. Sebab ia sudah lelah dengan segala keributan, meskipun ia sendiri yang mendalangi semua kehebohan hari ini. "Saya pun perlu bicara empat mata dengan suami saya."
"Dengar tuh! Kau itu hanya pria bayaran rendahan! Masa sewa istriku terhadapmu sudah habis!" Semakin ketus, Eryon menghujat Zeyan.
Rahang Zeyan mengeras. Ia membenci situasi yang tidak dapat ia atur sendiri, sebab Fiora justru memilih sang suami. Ia ingin tetap nekat mempertahankan Fiora. Karena hati kecilnya pun mengatakan akan lebih baik jika Fiora tetap berada di sisinya. Namun Zeyan berhak atas apa? Bahkan Fiora sendiri malah menolak inisiatifnya untuk mencegah Eryon membawa wanita itu sendiri.
Merasa tidak memiliki kekuasaan penuh atas Fiora, Zeyan terpaksa melepaskan lengan Eryon. Membiarkan Eryon menyeret Fiora dengan kasar. Dan entah apa yang akan Eryon lakukan terhadap sang istri pertama. Seharusnya hal yang akan terjadi nanti bukanlah urusan Zeyan. Namun Zeyan yang sudah kadung terobsesi pada Fiora, merasa harus melakukan sesuatu!
***
Bersambung....