PELECEHAN TERHADAP FIORA

1464 Kata
Duuuuuughhhh! Punggung Fiora dihantamkan keras ke dinding kamar hotel itu. Eryon menyeringai setelah melakukan tindakan kasar pada istri pertamanya tersebut. Ia bahkan tak segan menekan kedua pundak Fiora, agar Fiora tidak bisa melarikan diri darinya. "Berani-beraninya kau datang ke pesta pernikahanku dengan membawa g1golo itu, Fiora! Bahkan kau sampai merias diri melebihi kami! Apa yang kau mau, Fiora?! Harusnya kau bisa menjaga martabatku sebagai suami, bukannya bikin malu! Kau harusnya juga sadar jika tindakanmu bisa mencemarkan nama baikmu sendiri!" omel Eryon sambil menatap nanar penuh amarah pada Fiora, yang memberikan ekspresi serupa. "Cuiiih!" Fiora meludah tepat ke wajah Eryon, membuat suaminya itu seketika membelalakkan mata. "Menjaga martabatmu sebagai suami?! Jangan bercanda, Eryon!" Eryon mengusap wajahnya yang terkena ludah Fiora dengan kasar, sementara tangan yang lain beralih ke leher Fiora. "Lancang kau, Fiora!" Fiora hampir kesulitan bernapas. Untungnya Eryon melepaskan lehernya kendati kembali menahan kedua lengannya. Tampaknya Eryon masih tak cukup nyali untuk membuat Fiora kehilangan napas. "Bukannya kau sendiri yang memancingku untuk datang, hah?!" Fiora naik pitam. "Aku sudah tidak peduli dengan pernikahanmu. Tapi kau terus membuatku kesal! Tidak hanya memakaikan gaya pakaian yang serupa denganku pada gundikmu, kau juga memanfaatkan Skyla! Kau terus berbicara aku tidak bisa menjadi ibu yang baik. Tapi, kau?! Berkacalah, Eryon! Mana ada seorang ayah yang meminta putrinya untuk membenci ibunya!" Mata Eryon mengerjap-ngerjap. Fiora sudah membaca semua yang ia rencanakan. Ya, sudah tidak aneh. Fiora memang pintar dan gesit dalam membaca setiap keadaan. Berbeda dengan Angel yang lebih lemah dan lamban. Namun, hal itu tidak bisa membuat Eryon maklum. Ia membenci sikap Fiora yang baginya tetap sok hebat. "Jangan berspekulasi macam-macam, Fiora! Aku tidak memanfaatkan Skyla!" tegas Eryon. Fiora terkekeh, meremehkan. "Tidak katamu? Lalu untuk apa kau sampai menjemput Skyla yang sudah kutitipkan pada ayahku? Oke! Jika alasanmu ingin anak itu ikut menikmati pesta pernikahanmu, itu masih wajar kendati aku akan sangat membencinya dan menentangnya. Tapi, kau bahkan memintanya untuk memanggil gundikmu sebagai bunda! Tak hanya itu, Eryon. Jika semua yang kau lakukan saling dihubungkan, termasuk ketika kau mendandani gundik itu sama sepertiku. Apakah ada alasan yang lebih tepat selain kau memang sedang memancingku, hah? Sampai pada akhirnya kau memanfaatkan Skyla, karena kau ingin aku datang ke pernikahanmu dalam keadaan marah, untuk kau permalukan, 'kan? Kau berharap aku menjadi istri pertama yang mengamuk karena kalah dari gundikmu. Iya, 'kan?!" "Imajinasimu terlalu tinggi, Fiora! Mungkin kau memang pintar, tapi jangan sok hebat dengan menyusun spekulasi aneh itu! Jika kau hanya cemburu dan ingin balas dendam dengan membawa g1golo itu, harusnya kau mengaku saja! Bukan malah berdongeng! Harusnya kau meminta maaf padaku. Memohon agar aku menemanimu daripada menjalani malam pertamaku dengan wanita yang kau sebut gundik itu!" "Apa katamu? Berdongeng?! Aku sibuk dengan semua pekerjaan karena ayahmu yang ingin menghalangiku datang ke pernikahanmu. Kau pikir aku punya waktu untuk menyusun dongeng, hah?! Satu hal yang memang harus akui, ya! Aku memang terpancing, Eryon! Dan aku nyaris gegabah datang ke pestamu dengan keadaan emosi," sahut Fiora. "Tapi, Sorry! Aku tidak sebodoh kau dan w************n itu! Justru kini telah terbukti, kaulah yang cemburu, Eryon! Kau sampai meninggalkan pestamu yang belum berakhir hanya untuk melabrakku. Membawa-bawa persoalan pengusaha hebat dari Spanyol yang kau anggap g1golo itu. Aku tahu harga dirimu terluka karena aku membawa pria yang levelnya melebihi dirimu. Pada akhirnya kau tetap kalah dariku, Eryon! Kau cemburu pada semua pencapaianku, bukan?!" tambah Fiora. Kedua tangan Eryon kian mencengkeram sekaligus menekan kedua pundak Fiora. Amarahnya semakin besar, tak ia pedulikan betapa kesakitannya istri pertamanya itu. Tak lama berselang, Eryon merenggut paksa wajah Fiora. Dengan buas, ia memberikan kecupan disertai perasaan marah sekaligus cemburu. Fiora yang tidak ingin menerima sentuhan Eryon mencoba memberontak. Sulit. Tenaga Eryon terlalu besar. Meski Fiora mengetahui beberapa teknik bela diri, tapi ia tidak terlalu menguasai. Lagi pula, suaminya adalah mantan berandal sejak masa SMA. Melawan tenaga Eryon bukan perkara yang mudah bagi wanita sekurus Fiora. "Lepas! Aku tak sudi tidur denganmu lagi, mm, Eryon! Mm... le... lepas!" ronta Fiora. Tubuhnya gemetaran. Ia hampir kehabisan tenaga. Eryon terkekeh. "Kau masih istriku. Sudah seharusnya kau melayaniku, Fiora. Kau boleh saja lebih hebat, tapi kau tetap istri alias b***k ranjangku!" Inilah cara terakhirnya untuk membungkam mulut angkuh Fiora. "Tidak! Tidak mau! Lepaskan, B4jngan! Kau lakukan saja dengan gundikmu itu, Sialan!" "Tidak. Aku sedang menginginkanmu, Fiora!" Eryon semakin tak terkendali. Ia sudah menodai leher Fiora dengan kecupan gilanya. Berusaha membuka gaun Fiora, tapi beberapa kali aksinya gagal karena pemberontakan wanita itu. "To-toloooong!" "Tak akan ada yang menolongmu, Fiora. Kita suami istri, tindakan kita bukanlah sebuah kejahatan. Tapi akan lebih baik jika kau memohon padaku, Fiora! Dan akuilah aku sebagai suami yang harus kau hormati!" Eryon mencengkeram pipi Fiora sambil menatap mata Fiora dengan nanar. Memohon? Tidak! Fiora tidak ingin menurunkan derajatnya demi memohon pada suami b4jngan macam Eryon. Sudah cukup semua usaha yang ia lakukan selama ini. Ia harus bisa melepaskan diri tanpa perlu merobek harga dirinya sendiri! Namun harus bagaimana? Eryon terlalu kuat bagi Fiora. Saat ini Fiora masih bisa berkilah. Tapi, ketika Eryon mendadak menyeretnya, Fiora sungguh tidak kuasa. Pria itu melempar tubuh Fiora di atas ranjang hotel. Dan .... Dan .... Duaggghhh!!! Suara pukulan terdengar bersamaan luruhnya tubuh Eryon di atas tubuh Fiora, tepat saat Fiora memejamkan matanya di sela pemberontakannya. "Oh s**t! Damn! You vile man!" ucap si Pemukul dengan marah meskipun Eryon sudah pingsan karena pukulannya tadi. Tak berselang lama, ia menyingkirkan tubuh Eryon dari atas tubuh Fiora, sampai Eryon tergeletak di lantai. Fiora menatap si pemukul dengan mata melebar. Tampak Zeyan Lorenzo dengan ekspresi wajah yang mengerikan. Saking emosinya, Zeyan hendak memukul wajah Eryon lagi, tapi .... "No! Stop, Mr. Lorenzo!" ucap Fiora dan seketika membangunkan dirinya. Kedua tangannya sibuk menutup bagian depan dari tubuhnya. Zeyan menatap Fiora yang tampak berantakan. Rahangnya mengeras. Amarahnya kian membesar, sampai ia harus mengepalkan kedua telapak tangannya agar tak kelepasan. "Jangan buat masalah. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Eryon, James bakal—" Ucapan Fiora terpotong. "Kau masih saja memikirkan hal yang tak penting!" omel Zeyan sambil berjalan ke arah lain. "Aku bisa membantumu bercerai dari pria gila itu, Nyonya!" Fiora menatap Zeyan yang rupanya mengambil sebuah selimut. "Mungkin bagi Anda tidak penting, tapi bagi saya—" "Ya, aku tahu." Zeyan menghampiri Fiora. Lalu menyelimuti tubuh Fiora. "Makanya aku datang ke negara ini untuk membantumu. Tapi kau masih saja tidak percaya padaku, Nyonya!" "Nyonya Fiora!" Dany, ajudan Fiora masuk ke dalam kamar. Fiora menghela napas. "Aku tidak apa-apa." "Oh, Dany. Tolong seret orang ini ke kamar lain!" titah Zeyan. "Saya perlu bicara empat mata dengan Nyonyamu." Fiora melebarkan mata, lalu menatap Zeyan bingung. Seharusnya Zeyan yang membawa Fiora pergi, tapi kenapa Eryon yang perlu diseret? "Tolong beri titah mereka untuk menghapus rekaman CCTV pada jam-jam ini, Nyonya." Zeyan meminta sesaat setelah duduk berjongkok di hadapan Fiora. "Anda ingin aman, 'kan? Jika Anda bingung, saya dapat akses kunci setelah ayah Anda memerintah salah satu staff hotel ini." Fiora tersenyum kecut pada Zeyan. "Anda bersikap formal kembali ya?" Detik berikutnya, ia lantas menatap Dany yang sudah mendekati tubuh Eryon. "Tolong hapus rekaman CCTV di sekitar kamar ini. Dan ... pastikan kondisi Eryon baik-baik saja. Minimal jangan sampai gegar otak berat." Dengan sigap Dany melaksanakan titah sang nyonya. Beberapa rekan ajudannya turut membantu. Mereka bisa merencanakan sendiri kamar mana yang cocok untuk menyimpan tubuh Eryon yang tak sadarkan diri karena pukulan di titik vital dari Zeyan. Setelah itu, tinggallah Zeyan dan Fiora di kamar kejadian tersebut. Zeyan masih duduk di hadapan Fiora, dan Fiora dengan posisi yang sama—meringkuk di dalam selimutnya. "Kenapa Anda harus sampai berbuat seperti itu?" tanya Fiora. "Sekalipun harus terjadi, Eryon tetaplah suami saya. Dia masih berhak—" "Saya tidak mau Anda disentuh oleh pria mana pun, termasuk suami Anda sendiri," sahut Zeyan, cepat. "Kenapa? Rasanya saya bukan lagi wanita ranum yang bisa Anda simpan untuk disentuh sendiri. Meski kehormatan saya, Anda yang mendapatkannya, tetap saja saya tidak lagi segar untuk Anda tiduri, Mr. Lorenzo." Zeyan berangsur menggenggam kedua telapak tangan Fiora yang masih gemetaran. Fiora terbukti ketakutan dan ingin menolak malam bersama Eryon, tapi masih saja denial dan sok tangguh di hadapan Zeyan. "Apa di mata Anda, saya tetaplah orang mesvm yang hanya mengincar malam bersama Anda? Sekalipun saya turis dari Eropa, saya bukan orang berotak kotor seperti itu, Nyonya," ucap Zeyan. Fiora menghela napas. "Tentu saja tidak. Itu sebabnya saya terus berbicara bahwa saya bukan gadis ranum yang enak dicicipi, karena saya yakin tujuan Anda bukan untuk tidur dengan saya. Tapi, saya juga cukup bingung untuk menerjemahkan kehadiran Anda saat ini, Mr. Lorenzo. Jika alasannya adalah Skyla, sudah saya katakan anak itu bukan anak Anda!" "Anda adalah wanita pintar. Skyla memang alasan penting. Tapi, harusnya Anda juga sadar. Jika Anda pun adalah orang yang sangat penting bagi saya. Sampai saya harus menjadi gila selama empat tahun ini karena Anda, Nyonya Fiora!" "Apa?" *** Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN