Naya “NAY!” teriak Abi kencang membuatku langsung mendekatkan diri pada Abi. “KENAPA?” “COBA TERIAK DEH, KATANYA KALAU TERIAK SEMUA MASALAH HATI BAKALAN BERKURANG!” teriak Abi membuatku menggelengkan kepala. “TIDAK MAU! MALU!” “MALU? KAMU UDAH TERIAK DARI TADI NAY. LUPA? TERIAK AJA, APA MAU TERIAK SAMA-SAMA” Ucapan Abi tidak ada salahnya, karena memang mereka dari tadi berbicara sambil berteriak kencang, “AAAAAAAAAAAAAA” “AAAAAAAAAAAAA’ Aku dan Abi saling berteriak bergantian, benar apa yang dikatakan Abi semuanya terasa sedikit lebih ringan sekarang. Kepalaku yang tadinya sedikit pusing sekarang sudah sedikit lebih baik, dan juga masalah hatiku sedikit terangkat sekarang. “GIMANA? LEGA?” “IYA, LEGA BANGET!” “NAY, HUJAN. KITA BERTEDU SEBENTAR YA?” “JANGAN! SAYA SUKA HUJAN” jaw

