Di waktu yang sama Luna memandang berkas di hadapannya dengan tatapan kosong. Padahal dia sudah datang pagi-pagi ke kantor dengan harapan untuk melupakan kejadian kemarin. Nyatanya tidak berhasil. Bayangan akan kejadian kemarin masih tampak jelas di dalam benaknya. Bahkan kecupan singkat dikeningnya pun masih terasa hingga saat ini. Dalam kesendiriannya Luna menarik napas panjang. Mengapa aku seperti anak remaja yang polos? Mungkin saja pelukan dan kecupan itu hanyalah tindakan sebagai seorang sahabat. Hal seperti itu sangatlah biasa di luar negeri. Bukan begitu? "Bu!" Suara Putri berhasil menarik kesadarannya. "I-iya. Kenapa Put?" tanya Luna terkejut. "Ada tamu yang ingin bertemu. Namanya Hendrawan." Kening Luna bertautan. Rasanya dia tidak memiliki kenalan dengan nama itu. "Suruh

