Tiga

1004 Kata
Lionel Adytiadirga. Cowok nyebelin dengan gigi depannya yang ompong. Jika ditanya perihal hobi sama guru, jawabannya pasti 'ngisengin Luna'. Aneh memang, tapi memang begitu kenyataannya. Meski begitu Luna dan Lionel berteman dengan sangat baik. Pergi mancing bersama, kejar layangan bersama, sampai ketika Luna ingin main menjadi mama, Lionel siap jadi papanya. Intinya mereka sangat dekat. Bagaikan es krim dan stiknya. Begitu juga keluarga mereka. Bagaimana tidak? Mereka tinggal sebelahan. Jadi harus bertetangga dengan baik bukan? Sayangnya persahabatan mereka harus berakhir ketika Om Andy, papanya Lionel di dinaskan di London. Sehingga ketika usia mereka lima belas tahun persahabatan mereka harus berakhir. Padahal saat itu entah kenapa Lionel ingin terus berada di sisi Luna. Namun di usia muda seperti itu, Lionel belum ingin dikutuk jadi batu. Maka dia pun pergi bersama papanya. Meninggalkan Luna dalam kesedihan. Sampai akhirnya Lionel memberikan kalung yang membuat Luna terperangah dibuatnya. Liontin dengan bulan sabit dihiasi batu permata disekelilingnya membuat mata Luna berbinar-binar. Belum lagi, Luna tahu dengan baik jika kalung itu adalah peninggalan mamanya Lionel. "Aku pasti akan kembali. Jadi tolong jaga kalung ini untukku," janjinya di dalam rumah pohon, markas rahasia mereka. "Karena adalah buktu janjiku padamu bahwa aku akan kembali untukmu Lun." Luna mengangguk menurut. Tidak diberi waktu untuk menolak. Kemudian wajah Lio mendekat lalu menyatukan bibir mereka. Disitulah janji mereka dibentuk. Janji yang membuat Luna berharap banyak pada Lionel. Tapi tahun demi tahun berganti, Lionel tak kunjung kembali. Perlahan Luna mulai jenuh dan memasukan kalung tersebut ke dalam kotak perhiasan berukir mawar. Setelah itu Luna menyimpan kotak itu di dalam laci meja riasnya. Pikirnya, mungkin kisah mereka hanya sampai disitu. Hingga siang ini takdir mempertemukan mereka kembali. Tanpa terduga. Bahkan setelah empat belas tahun berlalu. Waktu yang cukup lama bagi mereka berpisah. "Lio?" tebak Luna hati-hati. "Keren. Kamu masih inget aku!" seru Lionel bersemangat. "Apa kabarnya?" Well, awalnya Luna tidak yakin jika itu Lionel. Wajahnya yang dulu lucu karena dua lubang angin menghiasi giginya sudah tidak ada lagi. Digantikan wajah maskulin dengan sepasang alis hitam yang menghiasi matanya yang memiliki tatapan tajam. Hidung mancung yang tetap sama dan bibir sedikit tebal dari yang diingatnya. Rahangnya tampak begitu kokoh. Rambut hitamnya disisir rapi tertata rapi, hasil salon ternama. Kemeja biru tergulung hingga siku menampakkan dadanya yang bidang. Celana bahan hitam menutupi kakinya yang panjang. Lihatlah betapa tingginya Lionel dilihat dari Luna yang harus mengangkat kepalanya untuk menatap wajah pria itu. Sangat berbeda dengan dirinya ketika mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu. Tinggi Lio tidak terlalu jauh. Hanya terpaut sekitar lima sentimeter. Tapi sekarang sepertinya lebih dari sepuluh sentimeter. "Baik. Kamu?" "Aku juga baik. Seperti yang kamu lihat." Luna mengangguk tersenyum. "Kamu masih tinggal situ?" "Udah nggak. Tapi bunda masih di situ kok. By the way, kapan kamu balik?" "Baru seminggu. Cuma kerjaan udah nyita waktu aku. Jadi aku belum sempet mengunjungi rumahmu," jelas Lionel. Luna mengangguk mengerti. "Ya udh, seneng bisa ketemu kamu lagi. Aku duluan ya." Lionel mengangguk mengerti. "Tunggu! Tapi bagaimana aku menghubungi kamu lagi? Aku masih ingin berbicara denganmu." Mendengar ucapan Lionel akhirnya Luna mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya. "Ini kartu nama aku. Kamu bisa menghubungi aku kapan aja kamu mau." "Thanks. Kamu tidak berubah. Masih mengenal aku dengan baik," puji Lionel tulus. Luna tersenyum lalu pamit. Di belakangnya Lionel memandang punggung sahabatnya sejenak. Hatinya bertanya-tanya, mengapa Luna tidak tampak antusias? Mengapa reaksi Luna seakan mereka hanya rekan lama yang tidak berjumpa cukup lama. Bukan sahabat lama yang berpisah? Memang sih empat belas tahun telah berlalu dan bukan waktu yang sebentar. Lionel memandang kartu nama yang dipegangnya. Sepertinya dia akan memerlukan nomor yang tertera suatu hari nanti. Akhirnya Lionel membalikkan tubuhnya dan kembali melanjutkan tujuan utamanya sebelum bertemu dengan Luna. "Siapa pria itu?" Adalah pertanyaan pertama yang dilontarkan Jason ketika Luna baru saja mendaratkan bokongnya dihadapannya. Luna memandang wajah Jason. Cemburukah Jason melihat dia berbicara dengan pria lain? "Teman lama," jawabnya singkat. "Teman lama yang mana? Aku baru lihat," sindir Jason. "Kamu nggak akan kenal." Jujur Luna sedikit kesal mendengar nada sindir di dalam perkataan pria itu. Terdengar seperti pria baik-baik yang begitu protektif. Memikirkannya saja membuat Luna mual. Apalagi kilatan akan Jason memeluk pinggang Diana muncul begitu saja. "Kamu bisa mengenalkan aku padanya," kilah Jason penasaran. Luna menarik napas panjang dan memandang wajah Jason. Dadanya kembang kepis menahan amarah. "Dia hanya teman kecil yang bahkan aku sendiri sudah tidak terlalu ingat. Jika dia tadi tidak memanggil namaku, mungkin aku akan berlalu begitu saja. Jadi, bisakah kita melanjutkan makan siang kita?" Setelah mendengar penjelasan Luna ada perasaan lega di hati Jason. Sehingga dia menurut dan melanjutkan makan siang yang sudah tidak terasa lezat lagi. *** "Kalau bukan gila, lo pasti nggak waras," celetuk Olla sambil menyodorkan secangkir s**u panas yang dibalas ucapan terima kasih. Pulang kerja seperti biasa Jason memiliki alasan ada meeting dengan rekan. Rekan yang selama ini ditunggunya di mini market seberang kantor. Yaitu Diana. Luna baru mengetahui hal itu setelah ia meminta bantuan Olla untuk memata-matai Jason. Tapi nyatanya sangat mudah membututi mereka. Setelah mendapatkan gambar yang bagus, Olla langsung membanting setirnya untuk menjemput Luna. Dan berakhir di sinilah mereka sekarang, apartemen mungil Luna. "Sabar banget ya gue," canda Luna pahit. "Bukan sabar. Tapi bodoh! Kalau gue jadi lo, udah gue samperin mereka terus gue cakar wajah si pelakor dan gue tendang sekuat tenaga bola pingpong si Jason!" "Terus gue dilaporin ke polisi. Itu mau lo?" "Lah nggak juga." "Di zaman sekarang ini, ada gores satu centi aja lo bisa masuk penjara. Jadi pakai otak lo yang cerdas itu buat bas mereka." Olla mengangguk setuju. "Pinter juga lo! Memang lo punya rencana apa?" Luna tersenyum tipis. "Lionel." "Lionel? Lionel mana nih?" "Sahabat gue," jawab Luna singkat sambil menyesap s**u cokelatnya. "Lah, terus gue sapa?" tanya Olla tidak terima dengan bibir maju beberapa inci. "Lo juga sahabat gue, nek! Dan Lionel itu sahabat kecil gue," jelas Luna cepat diiringi tawa. "Okayy...terus apa rencana lo?" Luna memandang Olla dengan sebelah sudut bibir naik ke atas yang sukses membuat Olla merinding ngeri. "Gue akan selingkuh sama Lionel." "What!?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN