Satu

1208 Kata
Cinta itu sederhana. Hanya melihat permukaan tanpa tahu dasar permukaannya. Riinnnggg!! Riinggg!!! Alarm dari ponsel yang telah diaturnya semalam berbunyi. Dengan malas Luna menggerakan sebelah tangannya untuk meraba nakas. Beberapa detik berlalu tapi dia tetap saja belum menemukan benda ajaib yang berteriak itu. Sial! Di mana sih itu hp!? Akhirnya Luna membuka sedikit kelopak matanya dan tidak butuh waktu lama untuk menemukan ponselnya. Jam setengah tujuh. Waktunya dia bangun dan segera bersiap-siap untuk ke kantor. Dua puluh menit kemudian Luna sudah siap dengan dress navy dengan lengan hingga siku. Kemudian dia memoleskan make up tipis di wajahnya, lalu yang terakhir menyemprotkan parfum favoritnya beraroma cherry blossom. Setelah yakin semuanya tampak sempurna, Luna melangkah keluar apartemen mungilnya. Untunglah jalan raya ibukota pagi ini sedikit bersahabat, sehingga dia bisa tiba lebih cepat dari biasanya. "Pagi bu," sapa Diana diiringi senyum terbaiknya. "Pagi Di. Jason sudah datang belum?" tanya Luna pada Diana, karyawan yang paling dipercayanya di kantor biro jasa ini. Memang bukan kantor yang besar. Hanya sebuah ruko tiga lantai yang dibelinya dengan uang simpanan yang dimilikinya. Meski begitu Luna cukup puas dengan usaha kecilnya ini. Setidaknya setelah dua tahun berjalan usahanya ini sudah cukup terkenal. Terutama dikalangan konglomerat yang tidak mau repot mengurus surat-surat kendaraan pribadi mereka yang harganya fantastis. "Sudah bu. Tapi sekarang dia lagi beli kopi dulu di sebelah," jawab Diana. Luna mengangguk mengerti. "Langsung suruh masuk ke ruangan saya ya kalau nanti dia sudah kembali." "Baik, bu." Ruangan kerjanya tidak besar. Dinding kaca menjadi pembatas antara dirinya dan karyawan yang dimilikinya. Satu buah meja besar dan kursi kulit hitam menjadi saksi kerja kerasnya selama ini. Jumlah karyawan yang bekerja di biro jasanya berjumlah dua puluh dua. Terdiri dari satu asisten, dua admin, lima belas belas kurir, dua office boy dan dua satpam. Meski begitu Luna bersyukur karena usahanya sudah sampai sejauh ini. Awalnya memang tidak mudah dan belum punya karyawan sebanyak itu. Tapi berkat Diana dan beberapa karyawan yang begitu bekerja dengan penuh loyalitas maka sampailah usaha biro jasa Maju Terus berjalan sampai hari ini. Ketika Luna sedang terhanyut untuk mengecek proses berkas yang ada di atas mejanya, suara ketukan terdengar di telinganya. "Masuk," serunya. "Jason sudah datang, Bu," lapor Diana. "Suruh dia masuk," perinta Luna tegas. Ketegasan inilah yang membuatnya disegani karyawannya meski usianya masih terbilang muda. Diana mengangguk lalu menghilang dari balik pintu. Tak butuh waktu lama munculah sosok pria bertubuh tegap mengenakan kemeja jeans pendek dipadu celana hitam. Menampilkan kejantanannya yang mampu membuat para wanita yang melihatnya bertekuk lutut. Belum lagi rambutnya yang dipangkas rapi dan wajahnya yang bersih akibat dirawat sedemikan rupa membuat ketampanannya tampak begitu jelas. "Kamu cari aku?" tanya Jason yang langsung mengambil tempat di hadapan Luna. "Ya. Mana STNK miliki Pak Broto yang kamu urus sejak dua minggu yang lalu? Sudah selesai?" tanya Luna sambil membuka telapak tangannya. "Sudah. 'Kan katamu langsung diproses aja. Jadi langsung aku proses." Luna menarik napas panjang. "Kapan aku bilang begitu? Aku bilang tunggu sampai kita ada budget-nya. Setelah uangnya ada kita bisa urus secepatnya. Uang sembilan puluh juta bukan uang kecil," desahnya. "I know." "Kalau kamu tahu kenapa kamu nggak tanya aku dulu? Kenapa kamu langsung proses STNK Pak Broto dengan uang tabungan pernikahan kita?" "Sorry. Aku pikir kamu udah oke." Luna memijat kepalanya yang sakit. "Kamu tahu kan kalau tidak ada uang muka kita nggak akan pernah memproses surat-surat mereka. Berapa lama sih kamu kerja di sini. Kenapa kamu bisa ceroboh begitu? Sekarang mana suratnya?" "Ketinggalan di kosan aku," sesal Jason. "Sorry Lun." Luna mendesah. "Ya sudah. Besok make sure kamy bawa berkasnya. Aku akan hubungi Pak Broto." "Okay." Jason bangkit berdiri tapi sebelum ia keluar dari ruangan Luna ia membalikan tubuhnya dan memanggil atasannya itu. "Sorry babe. Aku nggak bermaksud mengecewakanmu." Luna terdiam di tempatnya lalu mengangguk diiringi senyum tipis di bibirnya sebelum akhirnya Jason berlalu dari situ. Berapa lama mereka menjalin kasih? Empat tahun. Bukan waktu yang sebentar. Awal pertemuannya sederhana. Dimulai dari pertemuan pertama mereka yang tertarik akan ketampanan dan kecantikan masing-masing berlanjut pada hubungan yang lebih serius yang sudah dijalaninya selama tiga tahun. Kemudian satu tahun yang lalu Jason mengajaknya menikah. Tapi Luna selalu menolak. Alasannya masih ingin meniti karir dimana usaha sekarang ini sedang naik daun. Jason menyetujuinya dan memberi Luna kesempatan untuk mengundurkan pernikahan mereka satu tahun lagi. Bukan hal yang mudah untuk mendapatkan kesepakatan itu tapi akhirnya Luna berhasil mendaparkan pengertian Jason dengan kesepakatan tidak akan ada penundaan lagi setelah satu tahun ini. Jam lima tepat, Luna keluar dari ruangannya. "Saya pulang duluan ya, Di. Nanti jam enam kamu langsung kunci kantor aja." "Baik bu." Sesampainya di mobil Luna menarik napas panjang. Ia membuka ponselnya dan memandang satu pesan yang tadi telah dibukanya. Sori Lun, aku nggak bisa antar kamu pulang hari ini. Ibuku sakit dan minta diantar ke dokter. Jadi tolong menyetir dengan hati-hati. Love you... Sudah satu bulan ini Luna selalu pulang sendiri. Jason selalu punya alasan untuk melarikan diri. Entah karena nggak enak badan, pertemuan reuni, sampai janji dengan rekan yang Luna sendiri tidak tahu rekan yang mana? Memang sih Jason sempat bercerita mengenai bisnis online-nya yang menjual alat-alat olahraga. Tapi sudah sejauh mana perkembangannya, Luna tidak tahu. Ditambah lagi Jason yang seakan sangat-sangat sibuk membuat ia dan Jason tidak sempat mengobrol beberapa hari terakhir ini. Akhirnya Luna hanya membalas pesan Jason sesingkat dan sesabar mungkin. Iya gpp. Salam buat ibu, semoga lekas sembuh. Selesai membalas pesan tersebut, Luna langsung mendial satu nomor dan menunggu jawaban. Hingga ketika nada tunggu ke-empat berbunyi, seseorang menjawab panggilannya. "Ne, sibuk gak? Mampir yuk ke Visit me. Drinks on me!" Luna terdiam sejenak. "Okay! Gue otewe sekarang. See you soon!" Setelah mengakhiri percakapan, tanpa menunggu lama lagi, Luna langsung menyalakan mesin mobilnya dan meluncur ke jalan raya ibu kota. Dua puluh menit kemudian Luna sampai di salah satu kafe Visit Me. Kafe dengan nuansa modern ini sangat nyaman. Dengan meja bar di sisi kanan yang memiliki panjang hampir sepanjang ruangan yang terbuat dari kayu dihiasi beberapa bar stool dibaliknya. Ditambah dindingnya yang memperlihatkan tumpukan batu-bata yang dicat putih memberikan kesan alam. Belum lagi musik classic yang mengalun merdu ditelinga membuat beberapa pengunjung dibuat betah. Ketika Luna masuk ke dalam ruangan, harum coffee langsung menyambut indera penciumannya. Diedarkan pandangan matanya dan disalah satu bar stool, seorang perempuan dengan model pixie hair melambaikan sebelah tangannya. Luna tersenyum dan langsung melangkah mendekat kemudian mengambil duduk di sebelah perempuan itu. "Americano satu ya, Bud." Barista bernama Budi itu mengangguk dan langsung melakukan keahliannya. "Kenapa lagi nih?" tembak Olla langsung ketika melihat wajah kusut Luna. Maklumlah sudah lima tahun mereka berteman jadi tak heran jika mereka sudah saling mengenal dengan baik. Luna menarik napas panjang sebelum membuka suaranya. "Pusing. Selalu aja ada masalah setiap hari. Bingung gue!" "Bagus pusing sama kerjaan. Daripada pusing gara-gara laki selingkuh, double pusing lo!" jawab Olla enteng. Tapi nggak lama kemudian matanya fokus ke arah tamu yang baru saja masuk ke dalam kafe. "Loh..bukannya itu Jason, kok dia peluk-peluk cewek?" Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Olla sukses membuat Luna memutar lehernya cepat. Dan detik berikutnya darahnya berdesir disusul dengan jarum-jarum yang menusuk hatinya bertubi-tubi. Di sana, Jason tampak asyik bercanda tawa dengan seorang perempuan yang sedang berada di dalam pelukannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN