"Anda sehat, bu? Anda masih Luna, kan? Bukan roh halus yang masuk me tubuh sahabat saya? Kalau nggak saya akan meminta bantuan Roy Kiyoshi untuk mengusir anda dari tubuh sahabat saya," cerocos Olla yang langsung menggerakan bibirnya seakan sedang membaca mantra.
"Sehat banget." Luna tertawa geli melihat tingkah laku Olla yang masih duduk disisinya di sofa panjang putih gading miliknya. "Tenang, itu baru rencana. Karena selanjutnya gue nggak tahu mesti gimana buat ngajak Lionel selingkuh."
"Syukurlah. Anda masih sehat. Terus jelasin siapa Lionel ini!"
Jadi berceritalah Luna mengenai pertemuan pertama mereka sampai pertemuan mereka siang ini. "Memang sih dia nggak berbeda banget dari ingatan gue. Cuma lebih dewasa dan matang."
"Lo pikir mangga apa mateng," potong Olla cepat.
Alhasil Luna berdecak tapi ia kembali melanjutkan. "Dan dia bersikap seakan nggak ada apa-apa diantara kita. Even, our first kiss!"
"Um... Jadi CLBK nih?"
"Ih..nggak kok. Gue cuma mikir. Apa dia inget sama janjinya."
"Gue yakin dia inget. Kalau dia lupa mungkin itu karena dia amnesia atau pikun. Tapi karena dia masih ngenalin lo, jadi gue rasa dia pura-pura lupa," jelas Olla.
"Mahen kali pura-pura lupa!!" Alhasil keduanya tertawa bersama. Setidaknya hati Luna sedikit lega. Kemarahan yang selama ini mengumpul di dalam hatinya mulai memudar. Tergantikan ketenangan. Meski begitu sakit hatinya masih ada. Sedihnya pun masih ada. Hanya saja Luna yakin, semua rasa itu akan berlalu beriringnya waktu. Hanya saja bagaimana kita menghadapinya.
Malamnya setelah melakukan maskeran dengan Olla dan makan steik bersama, sahabatnya itu pamit karena harus bekerja besok hari. Biasanya jika libur Olla akan menginap. Tapi tidak dengan malam ini.
Setelah mengganti pakaian dengan daster favoritnya, ponsel Luna berbunyi. Diambilnya benda kotak otu dan dipandang layarnya. Detik berikutnya kening Luna bertautan. Nomor tidak dikenal tertera di sana, akhirnya ia menolak untuk menjawab. Sayangnya si penelepon tidak menyerah. Ponsek itu kembali berdering hingga tiga kali. Maka untuk ketiga kaliponselnya kembali berdering. Akhirnya Luna memutuskan untuk menjawab.
"Halo..."
"Halo Lun! Ini aku Lio!"
Lio? Bagaimana bisa pria itu mengingat bagaimana cara Luna memanggil namanya dulu?
"I-iya. Ada apa ya?"
"Kok ada apa sih? By the way, kamu kaku banget kaya besi," kata Lionel di seberang sana sambil tertawa. "Makan apa selama ini sampai kaku begitu?"
Luna memutar kedua bola matanya. "Langsung aja ke intinya. Kamu mau apa telepon aku malam-malam begini?"
"Rumahmu dimana?"
Hah? Rumah?
"Maksudku sekarang kamu tinggal di mana? Aku otewe ke tempatmu sekarang," ralat Lionel cepat.
"Tu-tunggu!! Kenapa kamu mau ke tempatku?" Luna melirik jam dinding di ruang tv. Jam sembilan malam.
"Loh memangnya aku nggak boleh datang? Salah ya jika teman lama mau bertamu? Baiklah jika kamu tidak mau bertemu denganku, aku akan meminum Bond Estate-Vecina ini sendirian!"
What!? Bagaimana bisa dia tahu wine kesukaanku?
Bond Estate!
"Um...wait!" Akhirnya Luna menyebutkan alamat apartemennya. Memang wine selalu mampu mengalahkannya dalam situasi apapun! Sial!
Tidak butuh waktu lama karena lima belas menit kemudian suara bel berbunyi. Ketika Luna membuka pintu, wajah tampan Lionel tampak dihadapannya. Senyum merekah lebar di bibirnya.
"Hai," sapanya sambil memamerkan botol Bond Estata dalam genggamannya.
"Um...hai juga," balas Luna kikuk kemudian memiringkan badannya. Memberi space untuk Lionel masuk ke dalam apartemennya. Jujur saja Luna merasa sedikit heran, bagaimana bisa Lionel bersikap seakan mereka adalah teman yang tidak berjumpa beberapa bulan. Bukan beberapa tahun.
"Wow!" seru Lionel terkagum-kagum. "Apartemenmu bagus juga. Ciri khas cewek ya," lanjutnya sambil meletakkan botol wine ke atas kitchen island bernuansa putih milik Luna. Di belakangnya Luna memandang semua gerak-gerik Lionel dalam kebingungan.
"Thanks." Hanya itu akhirnya yang bisa diucapkan Luna.
"No problem. Cuma satu botol. By the way, di mana gelasnya?"
"Biar aku ambilkan." Setelah meletakkan dua gelas wine dihadapan Lionel yang duduk tampak nyaman di kitchen island, pria itu langsung menuangkan wine tersebut ke dalamnya.
"Untuk merayakan pertemuan kita setelah tiga belas tahun berlalu," ujar Lionel bersemangat sambil menyodorkan gelas miliknya ke udara.
Dihadapannya Luna tersenyum kecil lalu menyambut gelas Lionel sebelum akhirnya menenggak habis wine tersebut secara bersamaan.
"Lagi?" tawar Lionel.
"Boleh," jawab Luna singkat.
"Jadi, kenapa kamu seperti bukan Luna yang aku kenal tiga belas tahun yang lalu?"
"Time goes by, you know. Lagipula aku bukan lagi Luna kecil yang akan menangis kalau kamu isengin."
Lionel tertawa mendengar jawaban yang diberikan Luna. "Kamu bener juga. Jujur awalnya aku sempet ragu pas lihat kamu, tapi t**i lalat di dagumu itu yang buat aku yakin kalau kamu adalah Luna Bellewood!"
"Jadi hanya t**i lalat ini yang kamu ingat?"
Sekali lagi Lionel tertawa lepas. "Nggak juga. Aku juga inget bagaimana wajahmu kalau lagi nangis, terus juga tawamu yang nggak tahu malu. Pokoknya aku masih ingat dirimu!"
Mendengar jawaban Lionel entah kenapa sempat menimbulkan kelegaan di hati Luna. Setidaknya bukankah artinya selama ini pria itu tidak melupakannya. Tapi bagaimana dengan janjinya? Masih ingatkah dia?
"Syukurlah kalau kamu masih ingat dengan semua dosa yang sudah kamu lakuin ke aku," ejek Luna yang disambut tawa Lionel. "Lalu kenapa kamu baru pulang sekarang?"
Pertanyaan Luna berhasil menghentikan tawa Lionel. Dia meletakan gelas wine miliknya dan memandang lurus mata Luna. "Well, ceritanya panjang. Tapi aku akan mengatakan intinya saja. Aku bertemu dengan teman kuliahku di London. Terus dia ngajak aku untuk bisnis bersama. Jadi di sinilah aku sekarang," jelasnya.
"Bisnis apa?" tanya Luna ingin tahu.
"Um...dia pengen buat hotel dan butuh arsitek untuk merancang hotelnya. Konsepnya ingin lebih seperti villa gitu deh. Jadi aku di sini untuk survei lokasi." Luna mengangguk-angguk mengerti. "Kalau kamu bagaimana?"
"Aku?" Lionel mengangguk sekali. "Aku cuma buka usaha kecil-kecilan di bidang biro jasa."
"Wow! Aku nggak tahu kamu sehebat itu!" ejek Lionel.
"Mungkin karena kamu pergi terlalu cepat," balas Luna pelan namun mampu membuat Lionel bungkam. Kemudian untuk sesaat mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Lalu ketika hendak membuka bersama keduanya bersuara bersamaan. Alhasil mereka tertawa kecil.
"Kamu aja dulu," ujar Lionel.
"Um...okay. Aku mau tanya kapan kamu pulang. Ini udah malem. Aku nggak mau nanti kamu mabuk di sini dan aku harus urusin kamu ya."
"Whoa! Anda tuan rumah yang sangat jujur dan to the point ya!?" seru Lionel tidak percaya. "Tapi, kamu benar. Aku sudah hampir mabuk jika kamu tidak mengingatkan. Sebelum itu aku akan pergi jika kamu menjawab pertanyaanku."
"Baiklah. Apa pertanyaanmu itu?" jawab Luna seraya melipat kedua tangannya diatas d**a kemudian memandang Lionel dalam diam.
"Apa kamu masih menyimpan kalung yang kuberikan kepadamu?"
Hening.
Luna tak dapat langsung menjawab pertanyaan Lionel. Tapi hati kecilnya bersorak. Dimana ia sangat senang jika Lionel ternyata masih mengingat kejadian itu! Hanya saja di sisi lain hati kecilnya seolah-olah memberi alarm untuk berhati-hati dalam memberikan jawaban?
Kenapa?
***