Lima

1149 Kata
Dengan bermodalkan lampu nakas yang menyala, Luna menarik laci bercat putih dihadapannya. Pandangan matanya langsung menemukan sebuah kotak kecil. Perlahan diangkat dan dibuka kotak tersebut. Sebuah kalung perak dengan lionton bulan masih tersimpan rapi di dalam sana. Membuat ingatan Luna melayang pada percakapannya dengan Lionel tadi. "Masih," jawab Luna lalu menenggak habis wine miliknya. Entah kenapa tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. "Syukurlah. Artinya aku nggak salah memilih orang," kata Lionel diiringi senyum kelegaan. "Apa maksudmu?" "Aku takut kamu marah sama aku karena aku nggak menepati janjiku untuk segera pulang lalu kamu membuang kalung itu ke sungai. Seperti di film-film drama." Luna terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia marah dan menuntut penjelasan? Tidak. Memangnya siapa dia? Tak ada janji maupun ikatan diantara mereka. Hanya kata-kata yang terucap dan sebuah kecupan manis. Tapi sekarang mereka sudah dewasa. Semua itu tak lagi berarti. Seperti yang dilihat Luna dalam manik cokelat milik Lionel. Mereka hanya teman lama yang tidak berjumpa. Tidak lebih. Lagipula bukankah dia sudah memiliki Jason? Jason. Haruskah ia melakukan balas dendam pada pria b******k itu? Ah... ingin rasanya Luna berteriak sekeras mungkin. Perselingkuhan Jason benar-benar menghancurkan rencana hidup yang telah dibuatnya sesempurna mungkin. Dan sekarang haruskah ia membalas perselingkuhan itu dengan berselingkuh? Bisa saja dia mengeluarkan sikap liarnya dengan menghampiri Lionel lalu melumat bibir yang menggoda itu layaknya seorang b***h. Setelah itu, akankah hatinya merasa puas? Rasanya tidak. Semua rencana itu hanyalah rencana bodoh! Untunglah otaknya yang masih waras masih berfungsi dengan baik! "Kamu kebanyakan nonton drama," dengus Luna. Sedangkan Lionel terkekeh pelan. "Baiklah. Terima kasih untuk waktumu. Sepertinya sudah waktunya aku pulang." Dalam diam Luna mengantar Lionel sampai ke pintu. Namun sebelum pria itu pergi ia membuka suara, "Kamu boleh main kapan aja kamu mau." Bibir Lionel membentuk senyum. "Thanks. Aku pasti akan datang lagi." Setelah itu Lionel pamit dan menghilang di balik pintu lift di sebelah kanan apartemennya yang perlahan mulai menutup. Bunyi ponsel menyadarkan Luna dari lamunannya. Diraihnya ponsel miliknya dan membuka pesan yang masuk. Lionel : Cobalah untuk lebih banyak tersenyum. Aku tidak mau nanti kamu terlihat lebih tua dari aku. ;) Dia tidak berubah. Tetap humoris seperti dulu. Sikapnya inilah yang akhirnya membuat Luna merasa nyaman dan tidak merasa kikuk lagi di depan Lionel. Luna : Terima kasih untuk nasihatnya. Akan aku simpan di dalam hati. Btw, apa kamu mau mengambil kalung mamamu? Lionel : Tidak untuk sekarang. Tidurlah. Sudah malam. Nite Luna. Luna memandang layar ponselnya sesaat sebelum akhirnya bangkit dan merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Pandangan matanya memandang lurus langit-langit kamarnya. Apa yang harus dilakukannya pada Jason? Haruskah ia mengakhirinya atau mempertahankannya? *** "Malam ini kamu ada waktu?" tanya Jason disela makan siang mereka. "Aku selalu ada waktu. Bukannya kamu yang selama ini nggak ada waktu buat aku?" dengus Luna tanpa mengalihkan pandangan matanya dari soto mie di depannya. Siang hari yang panas ditambah kedai soto mie ini yang kecil tapi sangat ramai karena terkenal akan rasanya yang mantap membuat udara semakin bertambah panas. Belum lagi Jason yang bertanya seakan Luna-lah yang tak memiliki waktu luang. Semakin panaslah udara di sekitarnya. "Mama mau ketemu kamu," kata Jason singkat tapi berhasil membuat Luna mengangkat wajahnya. "Untuk apa?" tanya Luna dengan dahi menyatu. "Kok kamu malahan nanya untuk apa? Ya untuk membicarakan hubungan kita ini." Dari raut wajahnya Jason terlihat jengkel tapi detik berikutnya ia meraih jemari Luna dan memandang kedua matanya lekat-lekat. "Mamaku sakit Lun. Dia mau pernikahan kita dilakukan lebih cepat." Untuk sesaat waktu disekitar Luna seakan berhenti. Apa katanya? Dipercepat? Bagaimana bisa? Bahkan saat ini Luna sedang mempertimbangkan kelanjutan hubungan ini? Dan sekarang, tiba-tiba saja Jason mengatakan ingin mempercepat pernikahan mereka? Lalu bagaimana dengan Diana? Apakah Jason akan memutuskan Diana semudah itu? "Tunggu dulu," sela Luna. "Tidak bisakah ibumu menunggu sebentar lagi?" Bahu Jason melunglai lalu melepaskan genggamannya. Kecewa tampak jelas didalam matanya. "Adakah orang sakit yang bisa minta diperpanjang hidupnya?" "Maksudku..." Belum selesai Luna menjepaskan Jason sudah lebih dulu bangkit dari duduknya. "Aku bayar dulu..." Di tempatnya Luna terdiam. Apa yang harus dilakukannya? Memikirkan masalah ini sungguh membuat kepalanya sakit. Sebaiknya dia minum obat lalu menenangkan kepalanya sejenak sebelum akhirnya mencari jawaban atas semua ini! *** Setelah kejadian siang itu Jason seakan menyibukkan dirinya sendiri. Sikapnya yang biasa saja. Seakan kejadian makan siang itu tak pernah terjadi. Sebaliknya dia semakin terang-terangan dengan menghabiskan waktu untuk canda dan tawa bersama Diana di depan Luna. Sakit hati? Sudah pasti. Tapi akan datang waktu yang tepat untuk mengakhiri semua ini. Sehingga malam itu ketika untuk kesekian kalinya Luna membuntuti Jason tanpa sepengetahuan pria itu, hatinya kembali hancur ketika melihat Jason melemparkan senyum terbaiknya untuk Diana. Membukakan pintu bagi wanita itu. Dan memeluk hangat tubuh Diana seakan tidak ingin melepaskannya lagi. Hati Luna menangis. Sakit! Mengapa Jason setega ini kepadanya? Ke manakah rasa cinta yang dulu sering diucapkan untuknya? Ke mana gairah cinta Jason yang dulu begitu meletup-letup? Juga mengapa semudah itu hatinya berpaling? Tidakkah ia memiliki hati nurani dan memikirkan perasaan Luna sedikit saja!? Sesampainya di apartemen Luna langsung meletakkan goody bagnya di atas meja kitchen islandnya. Kemudian mengeluarkan satu kaleng bir yang tadi dibelinya di minimarket lalu menenggaknya sampai habis. Denhan harapan minuman ini mampu menghilangkan rasa sakit di dalam dadanya. Tapi meski sudah kaleng bir ke dua, hatinya tetap sakit dan juga... sesak. Perlahan Luna menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Matanya memanas lalu setetes buliran air mengalir di atas pipinya. Disusul tetes demi tetes yang lain. Luna tak kuasa menahan perasaannya lagi hingga akhirnya menangis seorang diri dalam kesepian dan gelapnya ruangan apartemennya. Seorang diri sampai akhirnya jatuh terlelap akibat kelelahan menangis. *** Beberapa hari kemudian berlalu tanpa terjadi apa-apa. Termasuk Luna yang sudah beberapa hari hanya berhubungan dengan Jason bila ada hubungan pekerjaan saja. Selain itu tak ada komunikasi diantara mereka. Sampai sore hari, Luna memanggil Diana masuk ke dalam ruangannya. Dan sekarang mereka duduk berhadapan di sofa single hitam yang terletak disudut ruangan Luna. Yang memang disediakan untuk para tamu biro jasa yang datang berkunjung. Untuk sesaat keheningan menyelimuti mereka. Saat itulah Luna memandang Diana dalam diam. Kelebihan apa yang kamu miliki hingga Jason mengkhianatiku? Wajah Diana sangatlah standar. Tidak cantik dan juga tidak jelek. Kulitnya sawo matang. Wajahnya memiliki bintik-bintik jerawat di sisi pipinya. Tubuhnya kurus. Bahkan lebih kurus dari Luna yang beratnya empat puluh enam kilogram. Tapi bagaimana bisa perempuan seperti Diana berhasil menggoda Jason? Atau sebaliknya? "Um..ada apa ibu memanggil saya?" tanya Diana hati-hati. "Ya...ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan," sahut Luna. Diana mengangguk sekali. "Soal apa ya Bu?" Perasaan dia tidak melakukan salah atau membuat masalah dalam bulan ini. "Soal kamu yang memiliki hubungan rahasia dengan Jason di belakang saya." Detik berikutnya Luna dapat melihat raut terkejut sekaligus ketakutan di dalam matanya. Bibirnya terbuka setengah kemudian tertutup kembali. "Ma-maafkan saya Bu! Maafkan saya!" seru Diana sambil menyatukan kedua telapak tangannya. Namun, jika minta maaf akan semudah ini mengapa harus ada pengadilan untuk menyelesaikan masalah? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN