Enam

1072 Kata
Luna bergeming di tempatnya. Memandang Diana yang duduk di seberangnya dengan penuh rasa bersalah. Kata maaf berulang kali lolos dari bibirnya. "Mengapa kamu minta maaf terus menerus Diana?" "Sa-saya... saya salah, Bu." "Salah? Mengapa kamu baru merasa bersalah sekarang? Mengapa rasa bersalah itu baru muncul saat ini? Dimana hati nurani kamu sebagai perempuan?" cerocos Luna pahit. "Sa-sa...saya," jawab Diana terbata. Pikirannya kosong. Ia tidak menyangka jika perselingkuhannya dengan Jason akan secepat ini terungkap. "Saya minta maaf bu..." Luna menelan air liurnya dengan sulit. Dadanya terasa sesak. Seakan oksigen di dalam ruangannya mulai menipis hingga mencekiknya. "Diana..." Tiba-tiba saja pintu kaca terbuka. Di ambang pintu Jason tampak terengah-engah. Pandangan matanya memandang Luna dan Diana secara bergantian. Tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Sehingga Luna mengambil inisiatif. "Jason, kenapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" "Lun, aku yang salah. Kamu jangan menekan Diana..." Mungkin sesakit ini rasanya ditusuk berulang kali? Atau lebih menyakitkan? Sekarang pria yang dicintainya datang untuk membela selingkuhannya. Sangat menarik sekaligus menyakitkan. "Kamu boleh keluar Diana." Sedikit kebingungan dengan situasi yang ada, akhirnya wanita itu menurut dan melangkah keluar. Meski begitu Luna sempat menangkap Diana yang bertatap wajah sejenak dengan Jason. Pandangan mata pria itu seakan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja. Tanpa disadari perlahan kedua tangan Luna mengepal erat. Darahnya berdesir. Amarah mulai menguasainya. Tapi ia tetap berusaha mengontrol emosinya. Ia tak boleh terlihat kecewa dan sakit hati. Atau ia akan kalah. Sekarang hanya ada mereka berdua di ruangan ini. Maka Jason berjalan mendekati Luna. Sehingga Luna bangkit dari duduknya sehingga dapat nenatap lurus manik pria itu. Amarah tampak jelas di dalam kedua matanya. Mengapa dia marah? Bukankah aku yang seharusnya marah? "Apa yang sekarang akan kamu lakukan? Memecat Diana? Asal kamu tahu Lun semua ini terjadi karena kamu!" tuduh Jason. "Salahku?"dengus Luna dengan tenggorkan tercekat. "Jadi semua ini salahku?" "Ya! Perselingkuhan ini terjadi karena kamu! Karena kamu terus menolak ketika aku mengajakmu menikah!" Nada suara Jason semakin meninggi. "Andai saja saat itu kamu menerima lamaranku langsung, mungkin hubungan aku dan Diana tidak akan pernah ada!" Ucapan Jason bagaikan sebilah pedang yang menusuk hatinya kuat-kuat. Sangat menyakitkan... "A-aku tidak menyangka jika kamu akan berkata seperti ini," sahut Luna dengan mata memanas. "Sungguh jawaban yang bagus untuk membela hubunganmu dan Diana. Tapi sekarang aku tahu jika kamu sepicik itu," lanjutnya penuh penekanan. "Apa maksudmu!? Kamu yang terus mengundurkan pernikahan dengan alasan pekerjaan. Kebenaran yang aku lihat tidak seperti itu Luna! Kamu menjadi sombong! Dan memandangku dengan pandangan merendah! Karena aku hanyalah karyawan dimatamu! Bukan kekasih! Tetapi berbeda dengan Diana, dia memandang aku dengan hormat. Dia sangat mencintaiku. Tidak sepertimu yang memandangku rendah!" Plak! "b******k kamu Jason!!" Luna memandang sisi wajah Jason dengan hati hancur. Matanya yang berkaca-kaca menyulitkannya untuk memandang sisi wajah pria itu. "Inikah balasanmu atas cinta yang aku berikan? Tidakkah kamu menyadari betapa besar cintaku padamu sebelum kamu melakukan perselingkuhan tersebut? Tidakkah kamu ingat bagaimana kita berusaha bersama membangun tempat ini bersama ketika kamu baru saja kehilangan pekerjaan? Lalu, apa kamu lupa mobil siapa yang kamu pakai untuk menjemput selingkuhanmu?" Mobil perusahaan atau lebih jelasnya mobil Luna. Karena mobil perusahaan dibeli dengan kepemilikan atas nama Luna. Luna tahu kalimat terakhirnya berhasil memancing amarah Jason lebih banyak lagi. Tapi ia akan tetap melanjutkan. "Asal kamu tahu, aku berencana melakukan pernikahan kita segera. Karena aku memikirkan ibumu. Tapi sepertinya aku harus berubah pikiran. Beresi barangmu dan keluar hari ini. Jason, kamu aku pecat," kata Luna bak titah seorang ratu yang kecewa. Dengan dagu terangkat, dia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju tahtanya. Kembali bekerja dengan berkas-berkas diatas meja kacanya tanpa memedulikan Jason yang masih berdiri di situ. "One day, kamu akan menyesali perbuatanmu Luna." Setelah mengatakannya Jason keluar dari ruangannya dengan kasar. Setelah kepergian Jason, perlahan Luna mengangkat kepalanya. Memandang pintu kacanya yang tertutup rapat. Detik berikutnya setetes bulir cairan panas mengalir diatas pipinya disusul dengan yang lain. Kamu salah Jason. Kamulah yang akan menyesali kejadian hari ini. *** Keesokan harinya Diana menyapa atasannya dengan kikuk. Malu sekaligus merasa bersalah. Sedangkan Luna sebisa mungkin dia bersikap biasa saja. Dan Jason, mejanya telah kosong. Selanjutnya Luna berusaha untuk fokus dengan pekerjaannya. Melupakan semua kesedihan, kekecewaan dan kemarahan yang tersimpan di dalam dirinya. Karena baginya berfokus pada satu masalah saja tidak akan membuat hidupnya maju. Life must go on, right? "Siang, bu," ujar sebuah suara dari balik pintu. Luna mengangkat wajahnya dan menemukan wajah Diana di sana. "Masuk," sahut Luna sambil membuka kacamatanya. Dari balik punggungnya Diana mengeluarkan amplop putih. "Ini surat pengunduran diri saya, bu. Maaf dan terima kasih atas semuanya." "Siapa yang bilang kamu boleh mengundurkan diri?" "Saya sendiri, Bu. Rasanya tidak tahu diri sekali seandainya saya masih bekerja di sini setelah melukai hati ibu." Apa kamu memikirkan hal itu ketika memulai perselingkuhan itu? Luna menarik napas panjang. "Baiklah. Saya terima pengunduran dirimu. Tapi kamu baru bisa berhenti kerja setelah saya menemukan penggantimu dan kamu harus mengajarkan penggantimu dulu sampai bisa." "Baik bu. Terima kasih dan maaf," ucap Diana pahit. Berat sebenarnya bagi Diana untuk mengundurkan diri. Tapi perasaan malu dan rasa bersalah menghantui dirinya. Setelah kepergian Diana napas berat keluar dari bibir Luna. Kemudian dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Sepertinya ia akan membutuhkan libur panjang. Malamnya ketika Luna baru saja keluar dari kantornya, ia menemukan sosok Jason berdiri tegak di pelataran parkir. "Jason?" panggilnya pelan. Tanpa disangka Jason melangkah mendekat dan menarik kerah blazer yang digunakan Luna. "Apa yang sudah kamu lakukan!? Apa belum puas dengan memecatku sampai kamu harus memecat Diana juga?" "Apa maksudmu?" tanya Luna bingung tanpa rasa takut. "Jangan pura-pura tidak tahu! Aku tadi ke rumahnya dan menemukan dia menangis. Dan dia bilang sudah berhenti kerja! Apa kamu begitu membenciku sehingga ingin menghancurkan kami?" ujar Jason penuh penekanan dalam ucapannya. Juga mata yang dulu memandangnya penuh cinta telah berubah menjadi kebencian. Bukannya takut Luna malahan tertawa. "Jangan tertawa! Jawab aku!" bentak Jason. Saat itu juga Luna berhenti tertawa dan memandang Jason dengan pandangan meremehkan. "Aku tidak tahu kamu sebodoh ini." "Apa maksudmu!?" teriaknya sambil menarik kencang kerah milik Luna. Tapi sebelum Luna memberikan jawaban tiba-tiba saja sebuah suara muncul dari arah belakang punggung mereka. "Hey man! Seharusnya kau memperlakukan wanita dengan baik. Bukan kasar seperti itu!" Sontak Jason menoleh dan melepaskan kerah Luna dengan kasar. Saat itulah dia melihat seorang pria berdiri tegak di sebelah mobil sedan hitam keluaran terbaru dengan kedua tangan berada di dalam kantong celana jeansnya. "Lio?" bisik Luna tanpa suara. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN