Tujuh

982 Kata
"Siapa kau!?" teriak Jason. "Aku? Aku hanya manusia biasa. Jadi kamu nggak usah takut," jawab Lio santai. Cengkeraman Jason semakin kuat. Kilat-kilat api kemarahan tampak jelas di dalam kedua matanya. "Kenapa kamu lakukan ini Lun? Andai saja kamu menungguku sebentar lagi, mungkin kita bisa bersama," ujarnya penuh penekanan. Luna bergeming. Dia memandang Jason dengan perasaaan marah, iba dan kecewa. Dia marah karena Jason dengan seenaknya berkata seperti itu. Lalu apa arti dirinya dan Diana bagi Jason? Sungguh ia merasa iba karena ia tidak menyangka jika pria itu akan hancur seperti ini. Kecewa, ia kecewa karena ternyata cinta Jason kepadanya tidaklah sebesar yang ia miliki kepadanya. Tapi semua itu hanyalah perasaan. Ia tidak akan mengasihani Jason setelah apa yang terjadi malam ini. Dia bukanlah perempuan bodoh! "Sudah tidak ada 'kita" diantara kamu dan aku. Semua sudah berakhir ketika kamu berselingkuh dengan Diana," jelas Luna tegas tanpa rasa takut. "Itu hanyalah keisengan semata karena aku muak denganmu yang lebih mementingkan pekerjaan daripada aku!" teriak Jason. "Hey!" sergah Lio hendak melangkah maju. Namun Luna menggeleng pelan. Memberi isyarat untuk membiarkan dirinya menyelesaikan masalahnya sendiri. "Keisengan semata?" dengus Luna. "Bagaimana jika akulah yang selingkuh dan kamu tidak? Apa kamu masih bisa mengatakan keisengan semata?" "Kamu bukan perempuan seperti itu," ejek Jason. "Nyalimu terlalu kecil untuk melakukan hal itu." "Oh ya? Kalau begitu mari kita buktikan!" Sekuat tenaga Luna menepis cengkaraman Jason dan ketika terlepas dia berjalan mendekati tempat Lionel berdiri. Dan tanpa memint izin atau bertanya, Luna menarik kemeja yang dikenakan Lionel lalu tanpa diduga menyatukan bibir mereka. Di tempatnya berdiri kedua mata Jason terbuka lebar-lebar. Bibirnya terbuka namun dengan cepat segera ia tutup kembali. Kedua tangan di sisinya terkepal erat. Amarah makin menguasai dirinya. "b******k! Suatu hari kamu akan menyesali kejadian hari ini!!" teriaknya lalu beranjak dari situ. Setelah memastikan Jason pergi, perlahan Luna menarik wajahnya dan memandang Lio dengan perasaan bersalah. "Sori.. membuatmu melihat semua ini dan maaf atas ciumannya." "Well, kalau itu bisa menyelamatkanmu dari si b******k itu, nggak masalah." Ucapan Lionel berhasil membuat Luna tersenyum kecil. Setidaknya hatinya sedikit lebih baik. "Thanks dan sekali lagi maaf." "No problem." Meski dilanda rasa penasaran tapi Lionel mencoba untuk tidak bertanya. Karena dia tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya dan biarkan waktu yang menjawab nanti. "Terus kenapa kamu bisa ada di sini?" "Ah, soal itu tadinya aku mau mengajakmu makan malam." "Sori. Tapi setelah apa yang kamu lihat tadi, bagaimana kalau lain kali? Aku akan menghubungimu." "Okay. No problem." Setelah pamit tanpa menunggu lebih lama lagi Luna langsung beranjak dari situ. Hatinya hancur berkeping-keping. Rasa sakit yang ditorehkan Jason sangatlah dalam. Bagaimana bisa seseorang yang penuh cinta berubah menjadi penuh kebencian? Benarkah cinta dan benci hanya dibatasi oleh sehelai benang tipis? *** "Seharusnya lo hajar si Jason! Cowok macam apa yang berani mengancam cewek! Gue jamin nyalinya segede anunya!" omel Olla sambil menyerahkan secangkir cokelat panas kepada Luna yang duduk di sofa panjang cokelat rumahnya. Tadi ketika dalam perjalanan menuju rumahnya, rasanya dia tak sanggup jika hanya seorang diri malam inim akhirnya Luna merubah rute dengan menuju ke rumah Olla. Syukurlah sahabatnya itu ada di rumah seorang diri. Biasanya ada kakaknya Ollie, tapi kebetulan malam itu Ollie ada urusan jadilah waktu yang tepat bagi Luna mencurahkan isi hatinya. Karena seorang diri di saat seperti ini sepertinya bukan ide yang baik. "Lo tau kan kalau gue nggak bisa karate," canda Luna. Setidaknya untuk menghibur dirinya sendiri. "Tapi gue jadi penasaran sama sahabat kecil lo. Siapa namanya? Gue lupa," kata Olla bersemangat. "Lionel." Luna menyeruput cokelat panas miliknya yang langsung memberikan rasa panas ke dalam tubuhnya. "Ya! Lionel! Dia nggak marah lo maen nyosor kayak bebek begitu?" selidik Olla. "Ih..gila ya lo, nyamain gue sama bebek," omel Luna tapi sedetik kemudian kedua pipinya memerah mengingat ciuman nekat yang baru saja dilakukannya. Sungguh dia sendiri tidak menyangka memiliki keberanian seperti itu. Jika dipikir ulang, masih adakah keberanian untuk menemui Lionel? Ah, Jason benar-benar membuat dirinya melakukan hal yang tidak rasional! "Dia sih nggak marah atau gimana-gimana gitu. Lagian gue juga udah minta maaf dan dia maafin gue. Tapi sekarang gue mesti bersikap gimana kalau ketemu dia lagi?" "Gampang! Sosor lagi aja!" ejek Olla yang selanjutnya berhasil mendapatkan pukulan bantal sofa dari Luna. "Serius nek! Aduh...kenapa juga sih gue senekat itu," sesal Luna. "Oke, oke... sekarang gini aja. Nanti kalau seandainya lo ketemu lagi sama Lio itu, lo bersikap biasa aja. Seakan ciuman itu hal yang wajar buat lo. Kayak blonde-blonde di luar sana," usul Olla meski jawabannya sepertinya tidak banyak membantu Luna dilihat dari raut wajahnya yang masih ragu. "I'm trying my best," desahnya. "Good." Senyum tercetak di bibir Olla. "Terus apa yang akan lo lakuin seandainya Jason balik lagi?" Luna menarik napas panjang. "Apa lo punya ide?" "Tentu aja! Lo minta si Lio itu buat ngejemput lo tiap hari aja. Sampai si manusia laknat Jason itu nggak berani menemui lo lagi!" usul Olla lagi. Memang ide yang bagus. Tapi bagaimana mau minta jemput. Lionel kan bukan bodyguardnya. Rasanya tidak akan semudah itu. "Not a good idea," jawab Luna pasrah. "Soal Jason gue pikirin lagi nanti. Gue capek. Sekarang lebih baik kita nonton aja yuk!" "Ayok! At least sekarang perasaan lo udah lebih baik, kan?" Luna mengangguk lalu memeluk tubuh Olla. "Thanks, nek! Lo emang sahabat terbaik yang gue punya!" "Your welcome. Tapi konsultasinya nggak gratis loh!" "Ah, sialan lo! Gue tarik deh pujian gue tadi." "Jangan dong!" Alhasil keduanya tertawa bersamaan. Karena nyatanya mengeluarkan isi hatinya kepada Olla selalu berhasil memperbaiki suasana hatinya. Amarah dan sakit hati yang tadi sempat memenuhi hatinya perlahan memudar. Tergantikan dengan perasaan hangat dari seorang sahabat. Meski begitu tetap saja kilatan ingatan ciumannya dengan Lionel selalu berhasil mengganggu pikirannya. C'mon Luna itu hanya ciuman palsu dan bukan ciuman pertama kalian! Meski begitu mengapa ciuman itu terasa lembut dan membuat hatinya berdebar-debar? *** Dont forget to give ♡ if u like my story. :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN