Delapan

962 Kata
"Apa!?" Bibir Luna terbuka sedikit sebel akhirnya menutup kembali. "Bisa kamu ulangi?" "Baik bu. Setelah diselidiki ternyata Jason telah menggunakan uang kantor sebesar sepuluh juta rupiah dengan alasan atas perintah Ibu Luna," ulang Andi bagian keuangan. "Bagaimana bisa kamu memberitahu saya hal ini sekarang? Kenapa kamu tidak memberitahu saya sejak awal?" tanya Luna heran. Dahinya mulai berdenyut nyeri. Akhir-akhir ini jika nama Jason disebut selalu berhasil membuat kepalanya sakit. "Ma-maaf Bu. Soalnya Pak Jason selalu memastikan saya jika memang ibu yang menyuruhnya dan meminta saya untuk mempercayainya," ujar Andi gugup. Takut jika karena masalah ini riwayat kerjanya di kantor ini bisa tamat. "Atasan kamu itu saya atau Jason?" Luna memandang karyawannya dengan jengkel. "Ya sudah kamu boleh kembali. Dan tolong panggil Diana." Andi mengangguk lalu berjalan keluar ruangan. Selang beberapa menit pintu diketuk dan Diana muncul di sana. "Ibu panggil saya?" tanyanya hati-hati. Luna mengangguk. "Duduk," perintahnya. Mendengar perintah tegas atasannya Diana langsung menurut bak robot. Meski diam tapi tidak dengan hatinya. Jantung Diana berdetak cepat. Apa yang akan dibicarakan oleh Ibu Luna saat ini? "Apa yang sudah kamu katakan pada Jason? Saya yang memecatmu atau kamu yang mengundurkan diri?" tembak Luna langsung. "So-soal itu, saya tidak bilang bu. Saya hanya bilang kalau saya telah berhenti bekerja," jawab Diana tergagap. Luna menatap Diana lurus. Pandangannya sulit untuk diartikan tapi cukup membuat jantung Diana berdegup kencang karena dipenuhi rasa khawatir. "Bagaimana perkembangan karyawan baru yang akan menggantikanmu?" "Putri cukup pintar, Bu. Sehingga dia dengan mudah menguasai semuanya lebih cepat dari yang saya duga." "Baiklah. Kamu ajari lebih cepat lebih baik. Sehingga kamu bisa segera berhenti. Bukan begitu yang kamu mau?" Nada sinis terdengar dalam suara Luna. "I-ya Bu." "Dan satu hal lagi, bisakah kamu membantu saya?" "Bantu apa, Bu?" "Tolong kamu sampaikan pada Jason jika saya ingin bertemu dengannya besok jam sebelas siang." "Ba-baik, Bu." Meski banyak pertanyaan di dalam benaknya tapi Diana berusaha untuk menyimpannya di dalam hati. Perihal apa lagi kali ini? Pembicaraan berakhir dengan ponsel Luna yang berbunyi nyaring. Siapa sangka jika si penelepon adalah Lionel. Awalnya Luna sedikit ragu untuk menjawab telepon tersebut mengingat akhir dari pertemuan mereka sebelumnya. Namun, mengingat ucapan Olla akhirnya Luna memutuskan untuk menjawab. Toh ia sudah minta maaf dan pria itu pun sudah memaafkannya bukan? Habis perkara! "Ya Lio, ada apa?" "Sori, apa aku ganggu kamu?" "Oh, nggak kok." "Syukur deh. Aku kira aku menghubungimu diwaktu yang kurang tepat." Tawa renyah terdengar di seberang sana. "Aku ingin mengajakmu lunch bareng. Bagaimana? Apa kamu bisa?" "Um..." Luna tampak berpikir sejenak. Menimbang-nimbang haruskah ia menerima ajakan lunch tersebut atau tidak. Jika ia menyanggupinya, sudah siapkah hatinya bertemu dengan Lionel? "Okay. Di mana?" Lionel menyebutkan nama sebuah restoran yang cukup terkenal di ibukota. "See you there!" Apakah semuanya akan baik-baik saja? tanya Luna dalam hati. *** Suasana restoran Jepang siang itu cukup ramai. Kebetulan sekali Luna sedang malas makan nasi jadi pas sekali ajakan makan siang kali ini. "Aku tidak tahu jika harus melakukan reservasi untuk makan di restoran Jepang ini," celetuk Luna. Untungnya ketika tadi untuk pertama kalinya bertemu dengan pria itu setelah ciuman yang mereka lakukan. Lionel bersikap biasa saja. Seakan ciuman itu tak memiliki makna berarti baginya. Layaknya ciuman salam antara sahabat yang sering dilakukan oleh warga di luar negeri sana. Maka Luna pun mengontrol emosinya dan mencoba untuk bersikap biasa saja. Sama seperti yang dilakukan Lionel. "Aku diberitahu sahabatku," kekehnya. Setelah duduk dan memesan beberapa makanan yang direkomendasikan, untuk beberapa detik mereka sedikit sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Lionel hati-hati. Dia tidak ingin menimbulkan luka di hati Luna. "As you can see, aku baik-baik saja bukan?" jawab Luna enteng. Seakan dia memang baik-baik saja. Tapi semua itu hanya topeng. Hatinya masih sakit. "Kelihatannya saja dari luar. Tapi yang aku tanyakan adalah hatimu. Apakah hatimu baik-baik saja?" jawab Lio dengan wajah serius yang berhasil membuat Luna tertegun. "Bisa kita bicara hal lain?" Alih-alih menjawab Luna memilih untuk mengelak. Menceritakan masalahnya kepada Lio yang baru saja ditemuinya setelah sekian lama berpisah rasanya bukan pilihan yang tepat. "Tentu saja," desah Lio mencoba mengerti karena tak lama kemudian pelayan wanita membawakan makan siang yang mereka pesan. Setidaknya setelah ketegangan mulai mencair sedikit demi sedikit ketika Lionel membahas makanan dan pekerjaannya. "Lun," panggil Lionel pelan setelah membersihkan bibirnya dengan tisu. Luna yang merasa namanya dipanggil mengangkat wajahnya dari piringnya. "Sebelumnya aku ingin minta maaf," lanjut Lionel. "Mengapa kamu minta maaf?" jawab Luna datar. "Aku minta maaf karena aku tidak menepati janjiku untuk datang lebih cepat." Jawaban itu berhasil membuat Luna terdiam. Luna membersihkan bibirnya dan memandang Lionel lurus. "Aku terima maafmu. Tapi kedatanganmu lebih cepat atau tidak, tidak akan mengubah apapun. Karena apa yang terjadi diantara kita hanyalah keisengan anak remaja. Janji yang kita buat hanyalah janji kosong. Jadi, aku rasa kamu nggak perlu memikirkannya lagi." Untuk sesaat Lionel terdiam. Berusaha mencerna ucapan Luna. Keisengan anak remaja? Mendengarnya membuat Lionel tertawa renyah. "Baiklah jika memang itu maumu. Tapi tidak denganku. Aku adalah seorang pria dewasa. Maka janji tetaplah janji." Luna memandang Lionel dengan pandangan tidak percaya. "Janji apa maksudmu? Kita tidak pernah membuat janji apapun Lio! Janjimu itu hanya untuk kembali padaku. Dan sekarang kamu sudah kembali. Selesai." "Kamu benar. Tapi apa kamu lupa aku adalah sahabatmu. Dan tugas seorang sahabat adalah berada di sisi sahabatnya kapanpun diperlukan," kilah Lionel. "Okay. Let's say kalau memang seperti itu. Lalu sekarang apa maumu?" tanya Luna dengan kedua alis terangkat. "Bagaimana jika kita melanjutkan kisah diantara kita?" tawar Lionel dengan senyum menghiasi bibirnya. "Kamu yakin jika kamu sadar dengan ucapanmu itu? Aku baru saja putus dengan kekasihku, Lio." "Aku sadar dan kenapa tidak? Kamu single dan begitu juga dengan aku. Lagipula kamu sudah menciumku. Jadi apa kamu punya alasan lain untuk menolakku?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN