"Kamu sudah tidak waras," sahut Luna mengakhiri pembicaraan. Lalu dia bangkit berdiri meninggalkan Lionel.
Melihat hal itu, Lionel langsung menyusul langkah Luna. "Aku masih waras. Kalau tidak waras seharusnya aku ada di rumah sakit jiwa. Bukan di sini bersamamu," canda Lionel setelah selesai melakukan pembayaran.
Alhasil ucapannya itu sukses membuat Luna jengkel. Satu hal menyadarkannya saat ini. Setelah tiga belas tahun mereka berpisah, nyatanya Lionel tidam banyak berubah. Dia tetap Lionel yang suka menjahilinya. Seperti sekarang ini.
"Jadi, apa jawabanmu?" Lionel kembali membuka percakapan di sela-sela kegiatannya menyetir untuk mengantarkan Luna kembali ke kantornya.
"Aku tidak punya jawaban untuk diberikan kepadamu." Singkat tapi jelas.
"Baiklah. Aku akan memberimu waktu. Mungkin aku yang terlalu tidak sabaran," putus Lionel. "Tapi ingatlah akan satu hal, aku sahabatmu. Kapanpun kamu membutuhkan aku. Aku selalu ada dan siap untukmu."
Perkataan Lionel membuat Luna tertegun. Ada perasaan hangat yang timbul di dalam hatinya. Ternyata diantara orang-orang di dekatnya, masih ada yang peduli padanya. Bukan hanya memiliki tujuan untuk menyakitinya. Seperti yang dilakukan Jason dan Diana. "Aku akan simpan ucapanmu itu. Terima kasih."
Sesampainya di kantor, Luna dikejutkan dengan kedatangan tante Widia, ibu Jason. Wanita paruh baya itu sedang duduk seorang diri di sofa tamu di luar ruangan kerjanya. Melihat atasannya datang, lantas Diana dan Putri langsung bangkit berdiri. Begitu juga dengan Tante Widia, beliau langsung menoleh ke arahnya. "Ibu Widia sudah menunggu anda sekitar dua puluh menit, Bu. Katanya ingin bertemu dengan anda. Padahal saya sudah jelaskan jika saat ini anda sedang makan siang di luar," jelas Diana tanpa diminta.
"Silahkan ikut dengan saya, tante," ajak Luna diiringi senyum tipis.
"Terima kasih," ucap tante Widia yang telah duduk berhadapan dengan Luna di dalam ruangannya. Dua cangkir kopi mengepul dihadapan mereka.
"Bagaimana kabar tante?"
"Baik. Tante sudah lebih baik. Terima kasih kepadamu yang membiayai pengobatan tante."
"Sama-sama tante." Luna mengambil cangkirnya dan menyesap kopi miliknya.
"Sejujurnya Jason tidak tahu jika tante datang ke sini untuk menemuimu. Karena tujuan tante ke sini untuk minta maaf atas perbuatan Jason kepadamu."
Kedua alis Luna terangkat. Ia meletakkan cangkirnya dan memandang wanita yang hampir menjadi ibu mertuanya itu. "Minta maaf untuk apa? Saya rasa tante tidak punya salah apapun pada saya."
"Tante salah Luna. Tante salah karena tidak bisa mendidik Jason dengan baik," lirihnya.
Luna tercengang. Ia tidak menyangka jika Tante Widia akan mendatanginya untuk mewakili Jason. "Tolong maafkan dia atas perbuatannya dan izinkan dia kembali bekerja Luna. Sejak dia kehilangan pekerjaan, kerjanya hanya mabuk. Tante khawatir dia rusak dan melakukan hal-hal di luar akal sehat," mohonnya.
Ya, dia bahkan pernah hampir melukaiku! Masih adakah pintu maaf baginya!?
"Um... begini Tante Widia. Hubungan antara aku dan Jason sudah berakhir. Dan alasan hubungan ini berakhir karena Jason. Bukan karena keinginan saya sendiri. Kemungkinan kami untuk kembali itu... tidak ada sama sekali. Jadi, saya harap tante bisa mengerti?" jelas Luna hati-hati. Bagaimanapun ia tidak ingin melukai hati wanita paruh baya itu. Meski kesalahan utamanya diperbuat oleh anaknya sendiri.
"Ja-jangan begitu Luna. Tante mohon kembalilah dengan Jason," mohon Tante Widia. "Kalau kamu ingin tante berlutut sebagai ganti maaf atas perbuatan Jason padamu, tante rela melakukannya!"
Luna tertegun. Mengapa Tante Widia melakukan itu?
"Jangan lakukan itu, Tante. Ingatlah jika tante tidak pantas melakukan hal itu atas perbuatan yang dilakukan Jason," tegur Luna pelan. "Mungkin saya dan Jason tidak berjodoh di kehidupan ini," lanjut Luna pahit.
"T-tapi... Tante benar-benar menyukaimu. Begitu juga Jason. Tolong pikirkan sekali lagi... tante mohon..."
"Baiklah. Akan saya pikirkan lagi..." dustanya.
Setelah berhasil membujuk Tante Widia, wanita paruh baya itu pun pamit undur diri. Menyisakan sakit kepala bagi Luna. Satu masalah belum selesai, mengapa sudah datang lagi yang lain? Apa salahnya hingga harus mengalami masalah bertubi-tubi seperti ini?
***
Jam sebelas tepat Jason datang menemui Luna sesuai permintaannya. Untuk sesaat pria itu memandang mantan kekasihnya dengan berbagai makna. Amarah dan rindu sekaligus melebur menjadi satu.
"Apa kamu tahu alasan aku memanggilmu saat ini?" tanya Luna membuka suara.
"Kamu menyesal dan ingin kembali bersamaku," dengus Jason.
Luna melemparkan berkas-berkas keterkaitan Jason dalam penggelapan uang sebesar sepuluh juta. "Kamu ke manakan uang sepuluh juta ini?" ujar Luna mengabaikan jawaban yang diberikan Jason.
"Hanya sepuluh juta sampai kamu ingin bertemu denganku," ejek Jason. "Aku kira uang sepuluh juta tidak ada artinya buat kamu yang seorang bos besar."
"Jawab saja."
"Jika aku menolak untuk menjawab?"
"Kamu akan berurusan dengan yang berwajib."
"Kamu mengancamku?"
"Tidak. Asal kamu tahu, andai Tante Widia tidak datang menemuiku mungkin aku sudah melaporkanmu kepada yang berwajib sejak pertama aku tahu apa yang kamu perbuat. Sekarang jawab pertanyaanku atau kamu mendekam di dalam penjara?"
"Aku yakin kamu tidak setega itu," jawab Jason santai. Tak ada rasa takut di dalam kedua matanya.
"Aku beri kamu waktu tiga bulan untuk mengembalikan dana perusahaan atau kamu harus berurusan dengan yang berwajib," putus Luna.
"Kamu tidak bisa melakukan itu Luna!!" bentak Jason dengan rahang mengeras. Kilat-kilat api kemarahan tampak jelas di dalam matanya.
"Keluar dari ruanganku," balas Luna cepat lalu bangkit berdiri. Siapa sangka Jason langsung menangkap lengan Luna. "Lepaskan tanganku!"
"Tidak! Sebelum kamu menarik kata-katamu!" ancamnya.
"Kamu memang b******k! Sudah selingkuh dan mencuri uang perusahaan, sekarang kamu juga mengancamku!? Apa kamu tidak punya malu!?"
"Aku akan bayar uang sepuluh juta itu. Dengan satu syarat kamu kembali padaku. Aku mau kita kembali bersama. Aku menyesal Lun. Nyatanya aku sangat mencintaimu..."
Luna mendelik. Memandang Jason dengan pandangan tidak percaya. Apakah seperti ini sifar asli Jason? Bagaimana dia bisa mencintai laki-laki seperti ini?
"Tidak Jas. Kamu dan aku nggak akan pernah bisa kembali. Layaknya cermin yang pecah tidak dapat disatukan kembali. Itulah kamu dan aku. Sekarang lepaskan tanganku atau aku akan berteriak!"
Perlahan cengkeraman Jason mengendur. Wajahnya datar. Sehingga sulit bagi Luna untuk menebak isi hati pria itu. "Maaf, aku menyakitimu. Mungkin saat ini kamu masih emosi dan marah atas kesalahanku. Maka dari itu aku akan memberi kamu waktu. Siapa tahu ketika nanti kita bertemu kembali, kamu menyadari jika perpisahan kita adalah sebuah kesalahan dan kamu mau kita kembali bersama sampai..."
"Berhenti bicara," potong Luna cepat. "Segera keluar atau aku akan memanggil security?"
"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi ingat, aku juga akan kembali lagi," janji Jason.
"Aku harap kamu kembali dengan membawa uang perusahaan," tantang Luna. "Dan jangan pernah berharap kalau kita bisa bersama. Karena aku aku akan segera menikah!"
***